
Sesosok bayangan menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar yang cahaynya remang-remang. Kamar itu hanya di terangi sebuah lampu teplok yang di gantung di salah satu tiang kamar.
Sosok itu berjalan pelan mendekati Sani yang tertidur dengan posisi duduk di sisi Kerta. Ia berjalan se-tenang mungkin agar tidak menimbulkan suara yang nantinya bisa membangunkan perempuan cantik itu.
Sosok itu kini berdiri tepat di samping Sani. Matanya terlihat serius memandangi Sani yang terlelap di dalam mimpinya.
Perlahan tangannya mulai turun untuk mengusap kepala Sani yang terkulai di sisi ranjang. Ia mengusuk sayang kepala itu dengan lembut, berusaha agar tidak membangunkan Sani yang nampak kelelahan.
Tangan yang semula memainkan rambut panjang Sani, kini mulai turun mengusap pipi halus Sani dengan tenang.
Ia belai pipi cantik Sani naik turun berkali-kali. Sesekali tangannya berhenti sebentar untuk menghangatkan kulit pipi yang terasa dingin itu.
"Hai.... Apa kabarmu? Tidak-kah kau merindukan saat-saat kita bersama?" bisiknya lirih dengan volume suara sekecil mungkin.
Wajahnya di tundukkan, mendekat ke arah pipi merona Sani. Cuuupp! Sosok itu mengecup kilas di sana.
Malam sudah semakin larut dan sepi. Namun ia masih berdiri kokoh di sana, memandangi Sani tanpa bosan.
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sani terbangun begitu mendengar suara sesuatu yang jatuh di belakang punggungnya. Seketika ia refleks menoleh untuk memastikan benda apakah yang baru saja jatuh melewatinya?
"Hah?"
Namun Sani justru terkejut begitu melihat sesosok bayangan yang sedang berjongkok di belakangnya.
Itu adalah sosok seorang laki-laki yang tengah memungut sendok kayu di atas lantai. Sani hampir memekik kaget melihat laki-laki itu sudah di sana saat ia bangun.
"Sena?" sebutnya lirih.
"Maaf! Saya jadi membangunkan nyimas, ya?" sahut Sena dengan tatapannya yang terlihat merasa bersalah.
"Tidak apa! Aku hanya terkejut karena kukira kau sudah pulang dengan bibik tadi." Sahut Sani kemudian.
__ADS_1
"Biyung sudah pulang sejak tadi! Namun saya sudah mendapatkan izin untuk tidak jadi ikut pulang bersama beliau. "
"Kenapa kau tidak ikut pulang bersama bibik, Sena? Hari sudah malam dan kau tega membiarkan ibumu pulang sendirian tadi?" tanya Sani sedikit menggunakan nada yang tinggi.
"Nyimas tenang saja. Biyung tadi sudah pulang dengan kereta kuda pak Giman dan dua orang pengawal bersamanya. Saya terpaksa tak bisa mengantar beliau karena harus tetap tinggal disini untuk berjaga selama beberapa hari." Jelas Sena lembut dan santai padanya.
Sani hanya manggut-manggut, sebagai tanda ia mengerti penjelasan Sena dengan baik.
"Sena, kau bawa apa? Aku mencium aroma lezat masakan dari mangkuk itu." Ucapnya sambil menunjuk ke arah mangkuk mengepul yang berada di atas meja.
"Oh, saya hampir lupa. Ini, saya bawakan makanan untuk nyimas! Saya tadi meminta biyung untuk membuatkan masakan ini sebelum beliau pulang." Sahut Sena sambil mempersilahkan tempat makan untuk Sani.
"Ah, aku jadi merepotkan kalian berdua ya?" ucap Sani sungkan
"Nyimas ini bicara apa? Kami senang bisa membantu apapun yang di butuhkan disini. Lagipula saya tahu, bahwa nyimas sudah menahan lapar sejak tadi, kan?"
Sani hanya meng-iyakan ucapan Sena dengan sebuah senyuman yang di paksakan. Ia merasa malu, mengakui kebenaran tentang rasa lapar yang sudah meronta-ronta sejak tadi.
Sementara Sena menyalakan lampu teplok yang lain, Sani bergegas meraih mangkuk berisi masakan bibik untuknya.
Bau sedap masakan mulai memenuhi indra penciumannya. Bumbu yang diracik dengan komposisi yang pas, membuat setiap masakan bibik selalu menggoda untuk di nikmati.
Sedikit demi sedikit, Sani mulai menyendokkan makanannya ke dalam mulut. Pelan-pelan ia mengunyahnya ke dalam mulut, supaya ia bisa merasakan kelezatan maksimal masakan bibik.
Matanya tak bisa lepas, memandangi Sani yang makan dengan lahapnya. Sesekali ia menahan tawa saat melihat bibir merah merekah Sani yang mengerucut, karena meniup-niup makanannya yang masih panas.
Sani yang merasa di awasi oleh Sena sejak tadi, terpaksa membuat dirinya menghentikan aktifitasnya saat ini. Ia semakin salah tingkah, saat sadar bahwa sejak tadi Sena terus melempar senyum padanya.
"Hei, kau sedang menertawakan apa?" tegur Sani jengah.
"Ah, Maaf maaf... Saya tidak bermaksud menertawakan nyimas." Sahut Sena sambil menahan tawa.
"Nah, lihat! Lagi-lagi kau menertawakan aku, Sena... " Sungut Sani yang mulai kesal.
"Baiklah, sekarang lebih baik nyimas lanjutkan makan dan jangan menghiraukan saya."
"Huh! Yang benar saja? Mana mungkin aku tak menghiraukanmu sekarang? Kurasa kau sengaja membuatku malu dengan senyummu yang misterius itu, kan?" tuduh Sani ketus.
Sena menggeleng pelan, lalu kembali menatap Sani dengan serius. Bibirnya di tarik menyudut, membentuk sebuah senyum mematikan yang selalu di hindari Sani.
Bicara tentang senyum maut Sena, membuat Sani teringat akan pertengkarannya dengan Dasimah tadi siang. Hal ini menjadi pemicu rasa jengkelnya terhadap sosok itu kembali.
"Oh ya, Sena? Bolehakah aku menanyakan sesuatu tentang Dasimah padamu?" tanya Sani kemudian.
__ADS_1
"Tentu, nyimas!" sahut Sena tanggap!
"Bisakah kau jelaskan padaku, tentang seberapa dekat hubungan mas Kerta dengan perempuan itu? Karena dia selalu saja membuatku kesal dengan sikap dan perilakunya saat berada di depanku." Urai Sani jengkel.
Sani menghentikan sebentar ucapannya sambil menyendokkan kembali makanan itu ke dalam mulut.
"Aku jadi semakin penasaran, apakah memang dari dulu sikapnya sudah buruk begitu?atau hanya karena aku istri mas Kerta, sikapnya jadi aneh dan menyebalkan seperti itu?" lanjut Sani dengan mulut menggelembung yang dipenuhi makanan.
"Begini, nyimas... Seingat saya, si Imah dan kang Kerta itu memang sudah dekat sejak mereka kecil. Antara keluarga kang Kerta dan keluarganya memang memiliki hubungan baik satu sama lain."
"Ya, aku pernah mendengar soal itu dari bibik. Namun yang membuatku tak habis pikir adalah, tentang sikapnya yang seolah sangat terobsesi pada sosok mas Kerta... Padahal mereka hanya sebatas teman masa kecil saja, bukan?" sahut Sani bersungut-sungut.
"Tapi justru itulah masalah sebenarnya, nyimas... "
Mata Sani membulat begitu mendengar Sena mengucapkan kata 'masalah' padanya. Sejauh ini ia masih belum tahu tentang kesalahan apa yang telah ia lakukan pada perempuan gila itu?
"Maksudmu?" tanya Sani tak sabar.
"Ehm... Saya minta maaf sebelumnya! Namun dari yang saya dengar dari kang Kerta, bahwa kedekatan mereka semenjak kecil bukannya tanpa alasan, nyimas... "
"Hah? Lalu? "
"Kedekatan mereka ternyata sudah di rancang oleh keluarga mereka berdua. Bahkan dari yang saya dengar, mereka berdua sudah di jodohkan sejak masih kecil.... "
"Aapp... Apa kau bilang?" sahut Sani dengan suara bergetar.
Sani terkejut begitu mendengar tentang perjodohan di antara perempuan gila itu dengan suaminya. Kini ia tahu mengapa Dasimah memperlakukannya dengan sensitif selama ini.
"Tttaa... Tapi, Sena.... "
Klontaaaang! Klontang! Tataaaang! Tiba-tiba saja terdengar suara berisik di luar kamar. Suaranya terdengar seperti alat dapur yang berjatuhan bersamaan sehingga menimbulkan suara gaduh tak beraturan.
Pembicaraan keduanya langsung terhenti, begitu mereka mendengar suara derap langkah dari beberapa orang di luar sana. Sepertinya lebih dari tiga orang berjalan bersamaan di depan kamarnya.
Seketika suasana di dalam kamar berubah menjadi mencekam dan tak menentu. Sani dan Sena sama-sama menunjukkan ketegangan di raut wajah mereka. Jangan-jangan, di luar sana....?
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀