SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Tangan siapa?


__ADS_3

Kereta kuda Sani berjalan secepat mungkin menerobos jalan setapak sepanjang jalanan hutan. Pak Giman, si abdi ndalem yang bertugas mengemudikan kereta kuda itu, nampak lihai dan sangat terlatih membawa kereta kudanya.


Sani merasa perjalanan yang mereka tempuh seakan terasa lebih lama dibandingkan saat ia menempuhnya bersama Mada dan Kerta. Ia sendiri tak tahu pasti apa penyebabnya?


Entah itu karena beban dari kereta yang di tarik oleh kedua kuda ini, atau karena pikirannya yang sejak tadi terus mencemaskan Kerta? Sani hanya merasa bahwa perjalanan pulangnya ini terasa lebih panjang dari saat ia berangkat.


"Den putri, sebentar lagi kita akan segera sampai." Ucap pak Giman memberitahu tentang posisi keberadaan mereka sekarang.


Namun tak ada sahutan dari dalam bilik kereta. Sani tak begitu mendengarkan ucapan pak Giman kepadanya.


Ia merasa cemas dan terlalu sibuk memikirkan keadaan Kerta saat ini. Sejak mendapatkan kabar tentang kondisi laki-laki itu, entah mengapa pikirannya terus merasa gelisah tak menentu?


Secepatnya, ia selalu berusaha menepis segala pikiran tentang kemungkinan terburuk yang terjadi pada suaminya. Sani hanya terus berharap semoga kondisi Kerta tidak seserius bayangannya.


Setelah beberapa lama kemudian, Pak Giman sudah menggiring kudanya memasuki halaman rumah Kerta yang besar dan luas. Dengan cekatakan ia membawa kereta itu menepi di bagian paling ujung halaman.


Dengan pelan pak Giman menarik tali kekang kudanya untuk menghentikan laju kereta. Kedua kuda yang sedari tadi sudah berlari sampai ngos-ngosan itu mulai melambat, dan akhirnya berhenti mengikuti instruksi si pengemudi.


Pak Giman baru saja turun dari tempat kemudinya saat melihat Sani tergesa-gesa membuka pintu kereta. Ia turun dari sana dengan cepat, dan meninggalkan pak Giman yang nampak kaget ketika pintu itu terbanting dengan sangat keras.


Lalu secepatnya, ia segera berlari menyusuri halaman rumah yang besar dan luas. Sani bergegas menerobos masuk ke dalam rumah, begitu ia sampai di depan pintunya yang dibiarkan terbuka.


Sani melihat bibik Gandari yang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya sesampainya ia dalam. Bibik terlihat cemas dengan wajah yang kusut dan gelisah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Sani segera bergegas mendekat dan menghampiri bibik yang belum menyadari kedatangan-nya.


"Bik... Dimana mas Kerta?"


Bibik tampak terkejut mendapati Sani yang tiba-tiba berdiri di depannya. Bibik masih terdiam sambil bengong tanpa menjawab pertanyaan Sani.


"Bik?!" panggil Sani pada bibik yang hanya melongo memandanginya.


"Bibik....?"


"Dddee... Ddden putri?" ucap bibik dengan ekspresi wajah yang masih terlihat kebingungan.


"Kkaaa... Kaaapan Den putri datang? Kok bibik tidak tahu?" sambung bibik kemudian.


"Baru saja! Dimana mas Kerta, bik?"


"Anu, Den Kerta masih berada di dalam kamar. Den putri tenang saja, para tabib sudah di dalam untuk memeriksa dan menangani keadaan den Kerta."


"Sebenarnya ada apa ini, bik? Kenapa tiba-tiba saja mas Kerta jadi seperti ini? Tolong bibik jelaskan pada saya tentang apa yang terjadi pada mas Kerta selama saya tidak di rumah. "


"Maafkan saya, tapi saya juga tidak tahu tentang kejadian rincinya, den putri. Setiap hari den Kerta hanya sibuk melatih para calon prajurit pasukan khusus seperti biasa. Tapi pagi ini, tau-tau saya sudah melihat tubuh den Kerta yang bersimbah darah digotong oleh beberapa orang dari pasukan kompi-nya. Den Kerta dalam kondisi tak sadarkan diri saat dibawa pulang ke rumah."

__ADS_1


"Kalau begitu, yang mengirim utusan untuk menjemput saya adalah,.... "


"Iya, den putri. Saya yang menyuruh pak Giman untuk menjemput den putri langsung saat itu juga. Maaf kalau saya lancang mengambil keputusan itu sendiri. Saya hanya berpikir bahwa mungkin saja den putri harus tahu kabar ini secepatnya." Tutur bibik dengan nada suara yang terdengar sudah agak tenang.


"Tidak bik! Justru saya bersyukur bibik segera mengabari saya secepatnya. Saya sangat berterimakasih pada bibik." Sahut Sani kemudian.


Bibik hanya mengangguk tanpa memberikan banyak komentar seperti biasa. Nampaknya bibik juga terlihat sedang mengkhawatirkan Kerta, sama seperti dirinya saat ini.


"Bik, saya mau menemui mas Kerta dulu, ya?" Pamit Asih pada bibik.


"Eemmm, anu den putri... Sebaiknya kita tunggu saja di sini sebentar. Kita tunggu saja sampai tabibnya selesai memeriksa dan keluar." Sahut bibik memberi usul pada Sani.


"Tapi saya mau tahu keadaan mas Kerta, bik! Saya terus mengkhawatirkan kondisi mas Kerta sepanjang perjalanan pulang tadi."


"Iya den putri, saya tahu. Saya juga khawatir dan ingin tahu bagaimana dengan keadaan den Kerta sekarang? Tapi masalahnya, sekarang ini di dalam kamar, ada...."


"Saya tetap mau masuk, bik! Saya merasa bersalah, karena tidak berada di rumah saat kejadiannya berlangsung. Sebagai gantinya, saya akan menemani mas Kerta sekarang." Potong Sani tak mau mendengarkan penjelasan bibik.


"Iya, saya mengerti maksud den putri. Tapi yang menjadi masalah, saat ini di dalam kamar ada si Dasi.... "


Gggrredeek.....


Tiba-tiba saja seseorang keluar dari dalam kamar sebelum bibik menyelesaikan ucapannya.


Pandangan mereka saling bertemu dalam satu titik. Mata mereka nampak menyiratkan kebencian satu sama lain dalam tatapan itu.


"Mau apa kau disini, jalang?" ucap Sani lantang dengan nada yang meninggi.


Saat ini di depan Sani telah berdiri seorang perempuan cantik, dengan rambut panjang yang tergerai ke belakang. Perempuan itu berkacak pinggang, sambil menyudutkan ujung bibirnya, dan berhasil membentuk senyum sinis yang membuat Sani semakin jengah padanya.


"Terserah padaku mau apa aku datang kemari. Memangnya apa urusanmu, heh?" jawab perperempuan itu tak kalah sinis.


"Hei Dasimah.... Kau jangan lupa! Aku adalah istri dari pemilik rumah ini. Sejak menjadi istri mas Kerta, sudah menjadi urusanku untuk mengurus orang asing yang masuk ke dalam rumah. Karena itu berarti rumah ini juga rumahku, sekarang!"


"Rumahku katamu? Hahahahaha.... Kau lucu sekali..... "


Sani semakin terbakar melihat Dasimah yang terang-terangan mengejeknya dengan kalimat itu. Sani tak habis pikir, bagaimana bisa ada seorang perempuan bermuka tebal begini? Sudah bukan siapa-siapa, tapi sok menjadi segalanya! Huh!


"Kenapa tertawa? Nyatanya aku ini memang istri mas Kerta, kan?"


"Oh, benarkah? Istri macam apa yang keluyuran selama tiga hari dan membiarkan suaminya celaka tanpa perawatannya, heh?"


"Kalau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam saja. Kau pikir kau ini sehebat apa sampai kau berani menuduhku keluyuran?"

__ADS_1


"Aku sangat hebat, sampai aku bisa menilaimu sebagai istri yang tidak becus! Sampai kapan kau akan menyadari, bahwa kau tidak akan pernah pantas menjadi istri kang Ker... "


"Kalau memang aku tidak becus, dan juga tidak pantas untuk menjadi istri mas Kerta, lalu siapa yang pantas? Kau?" sahut Sani, memotong ucapan Dasimah dengan nada tinggi.


Dasimah melotot, tak bisa menjawab pertanyaan Sani yang dilempar langsung padanya. Ia merasa bahwa ucapan Sani tepat mengenari sasaran. Ia terdiam, tak bisa lagi berkata-kata setelah Sani memotong kalimatnya.


Mata Dasimah mulai terlihat merah seakan ada kilatan api yang menyala-nyala di dalamnya. Mata itu lurus menatap ke arah Sani yang telah berhasil membuat sesuatu di dalam hatinya terasa terbakar.


"Mengapa kau menanyakannya, Sani? Mengapa kau tanya sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya?" sahut Dasimah yang mulai meninggikan nada bicaranya.


Dasimah mengucapkan kalimatnya dengan wajah yang sudah berubah merah padam! Ia nampak berapi-api seolah sebentar lagi akan terjadi ledakan hebat dari dalam dirinya.


"Ah, begitu ya? Jadi menurutmu, selama ini hanya kau yang berhak untuk menjadi istrinya? Begitu maksudmu?"


"Apa kau bodoh, heh? Mengapa kau tidak segera menyadari bahwa hanya aku yang pantas ada di sisinya selama ini? Mengapa kau harus datang dalam hidupnya, lalu merusak hubungan yang sudah berlangsung lama di antara kami? Kenapa kau merebutnya dariku?"


"Hei, jalang.... Aku tidak pernah merebut apapun dari siapapun. Bukan salahku jika mas Kerta lebih memilih aku daripada kau yang gila begini."


"Aaapa? Kau sebut aku gila?"


"Iya! Kau adalah perempuan gila yang sangat menyebalkan!"


"Oh, baiklah! Lebih baik disebut gila, daripada aku menjadi pel*cur sepertimu? Kau mendekati kang Kerta dengan kecantikanmu hanya untuk mendapatkan hartanya, kan?"


Plaaakk!!


Sebuah tamparan keras tiba-tiba saja mendarat mantap di pipi Dasimah. Tamparan itu langsung meninggalkan bekas kemerahan yang nyata di pipi mulusnya. Dilihat dari bekasnya, terlihat jelas bahwa pelakunya memiliki ukuran tangan yang besar.


Sani dan Dasimah lantas menoleh bersamaan untuk memastikan siapakah pemilik tangan besar itu. Keduanya terperangah, saat tahu bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki yang tengah melotot marah pada Dasimah!


"Sena?" pekik Dasimah terkejut, di ikuti dengan suaranya yang terdengar bergetar.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2