
"Heh, Imah? Kenapa tiba-tiba bicaramu jadi gugup begitu?"
"Aakk... Aakuu? Ttti... Tidak kok!"
"Tapi aku lihat tadi kau... "
Sena terpaksa menghentikan kalimatnya saat melihat seorang pelayan berjalan pelan ke arah meja mereka. Pelayan itu membawa sebuah baki besar berisi makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Permisi den, ini pesanannya sudah siap!" ucap si pelayan sembari meletakkan isi bakinya satu per-satu dan menatanya di atas meja.
"Terimakasih,"
"Sama-sama den Kerta! Selamat menikmati."
Kerta hanya menganggukkan kepalanya di ikuti senyum kecil si pelayan sebelum akhirnya berlalu dan meninggalkan meja mereka. Sementara Dasimah masih mematung di tempatnya berdiri, Sena dan Kerta justru sudah siap bertempur dengan makanan yang nampak menggunggah selera itu. Perut mereka seakan meronta-ronta dan menuntut untuk di berikan jatahnya saat itu juga.
"Imah, kau mau terus berdiri atau ikut duduk bergabung bersama kami disini?"
"Hah, oh... Eh iya kang!"
Dasimah segera mengambil tempat untuknya duduk tepat di samping Kerta yang sudah mulai menyantap makanannya dengan lahap. Satu porsi ayam bakar utuh di atas cobek yang penuh dengan sambal itu langsung menjadi bulan-bulanan di mulutnya sekarang. Kerta dan Sena terlihat sangat menikmati hidangan yang sudah pelayan sajikan sesuai dengan pesanan mereka.
Lalapan yang berupa aneka sayuran hijau seperti daun kemangi, kacang panjang dan mentimun juga ikut memeriahkan acara makan siang mereka kali ini. Keringat yang juga turut berlomba-lomba untuk turun itu seolah bisa menggambarkan seberapa nikmat makanan yang tengah mereka santap!
Sesekali mereka juga nampak menyeruput wedang sereh* yang sudah di rebus bersama dengan gula aren yang digunakan sebagai pemanisnya. Tak salah lagi jika minuman ini menjadi minuman yang terlaris di warung ini. Paduan rasa segar sekaligus harum dari batang sereh yang di hasilkan dari air rebusannya membuat minuman ini memiliki rasa unik yang menyegarkan.
*Wedang sereh: Minuman tradisional yang terbuat dari rebusan batang sereh yang di percaya sangat baik untuk menurunkan kolesterol. Di samping itu, minuman ini juga memiliki rasa yang unik dengan aroma jamu yang lembut dan segar.
"Imah, apa kau sudah memesan makanan?"
"Ah, tidak kang. Imah sudah makan tadi."
"Oh begitu?"
"Kwwallau swwodah mwakan bbwuat apwwa kwwau dwaatang kwemari, bwwodoh?!" (Kalau sudah makan buat apa kau datang kemari, bodoh?!) sahut Sena tak acuh dengan mulut penuh makanan.
"Iiihh... Memangnya apa urusanmu? Tentu saja aku kemari karena aku melihat kang Kerta ada di sini. Kau pikir aku datang kemari hanya untuk melihatmu makan seperti orang kelaparan? Dasar!"
"Lwagiwpuwla swiapwa ywang mwenywuruhmu uwtwuk mwelihatkwu mwakan? Dwwaswaar pwerempwwuan swiinting! Ywangg nwamanya warwwung mwakan iwtuu twempwatnya owrang mwakan. Bwukwan twempwat bwagi pwerempwuan ywang ingwin twebwuar pweswona swepwwrtimwu?" (Lagipula siapa yang menyuruhmu melihatku makan? Dasar perempuan sinting! Yang namanya warung makan itu tempatnya orang makan. Bukan tempat bagi perempuan yang ingin tebar pesona sepertimu?)
"Apa kau bilang? Aku? Tebar pesona?"
"Ywwa tweruws awpa lwagi kawlau buwkan tebwar pewsowna? Mawuu mewnggowda mwilwik owrang rwupawnyaw?" (Ya terus apalagi kalau bukan tebar pesona? Mau menggoda milik orang rupanya?)
"Sena! Berani-beraninya kau? Lagipula, siapa yang menggoda milik orang?"
"Twentwu swajwa kwau! Mewmwangnywa swiapwwa lwagie? (Tentu saja kau! Memangnya siapa lagi?)"
"Oh, begitu ya? Tapi dari kabar yang aku dengar belakangan ini, katanya kau mulai bermain api lagi ya Sena? Seorang ahli ndalemku pernah tanpa sengaja memergokimu tengah bermesraan dengan nyim.... "
"Uuhhuukk... Uuhhuukk... "
Sena langsung menenggak habis minumannya setelah beberapa lama terbatuk-batuk karena makanan yang tiba-tiba masuk ke dalam saluran pernafasannya itu. Pemuda putih ini tersedak makanannya sendiri begitu mendengar Dasimah bicara panjang lebar tentang sesuatu yang,...
"Ya ampun Sena, kau sampai tersedak makananmu sendiri? Atau jangan-jangan, berita itu bukan sekedar rumor saja ya? Jadi benar, kau sudah berbuat sero.... "
"Sudah, cukup! Jangan membuat keributan di sini." Potong Kerta menghentikan kalimat Dasimah.
"Tapi kang, Sena duluan yang... "
"Pertengkaran kalian bisa membuat selera makanku hilang! Lagipula tidak baik bertengkar di depan makanan seperti itu. Sena, teruskan saja makan-mu dengan tenang. Jangan lagi makan sambil berbicara!"
__ADS_1
"Baik kang!"
"Hhhuuh!" sungut Dasimah kesal.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Cccuupp!
Sani hampir terlonjak kaget saat tiba-tiba sebuah kecupan lembut mendarat sempurna di pipi mulusnya. Tengkuknya kini juga mulai terasa hangat oleh lembut nafas yang teratur dan aroma tubuh yang khas. Di ikuti dengan sepasang tangan kokoh yang dilingkarkan pada pinggangnya yang langsing, Sani tahu siapa pemilik pelukan ini?
"Mas sudah pulang? Kok Sani tidak lihat?"
Kerta hanya membalas pertanyaan Sani dengan kecupan kilas di tengkuk istrinya yang harum.
"Mau makan? Ayuuk, Sani temani."
"Tidak, mas masih kenyang."
"Kenyang?"
"Iya, mas dan Sena sudah makan di warung sebelum pulang tadi."
"Oh, begitu? Kalau begitu Sani siapkan air dulu untuk mas mandi, ya?"
"Tidak perlu San, mas tidak mau apa-apa. Mas cuma mau begini saja sebentar lagi. Boleh, kan? " Bisik Kerta pelan di ikuti dekapan tangannya yang semakin erat.
"Tumben sekali mas begini? Ada apa, hm?"
"Tidak ada apa-apa. Mas hanya ingin memelukmu saja."
"Jangan bohong, Sani yakin mas sedang menyembunyikan sesuatu, kan?"
"Lalu?"
"Sudahlah, jangan bicara apa-apa lagi. Berbaliklah! Tiba-tiba saja mas ingin kau yang peluk sekarang."
Sani hanya menuruti keinginan suaminya untuk berbalik badan dan jatuh ke dalam pelukan Kerta yang hangat. Ia menyandarkan kepalanya tepat di atas dada Kerta yang terdengar bergemuruh tak seperti biasanya.
"Mas?"
"Hmm... "
"Mas kenapa?"
"Bukan apa-apa. Mas hanya merasa takut."
"Takut?"
"Iya."
"Sebenarnya apa yang mas takut-kan?"
"Entahlah, rasanya mas tidak akan siap jika sampai tahu kebenarannya. Mas takut milik mas yang paling berharga akan hilang."
"Sebenarnya mas ngomong apa, sih? Jangan membuat Sani bingung."
"Mas tidak mau di tinggalkan lagi untuk yang ke sekian kalinya. Mas ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milik mas sampai kapanpun. Apa itu salah?"
"Tentu saja itu tidak salah. Kita memang harus mempertahankan apa yang menjadi milik kita sampai akhir, bukan?"
"Ya, kau benar!"
__ADS_1
"Kalau begitu sekarang coba mas katakan, sebenarnya siapa orang yang akan meninggalkan mas kali ini, hm?"
"Itu...."
"Siapa mas?"
"Mmm.... Itu kau, Sani."
"Loh, kok Sani?"
"Mmmhhh... " Kerta hanya membalas pertanyaan itu dengan lenguhan manja seraya menyusupkan kepalanya di leher jenjang Sani.
"Memangnya apa yang membuat mas sampai punya pemikiran seperti itu?"
"Entahlah, mungkin kau akan pergi untuk orang lain?"
Deg,
Dada Sani seakan berhenti berdegup saat Kerta menyahuti kalimatnya dengan singkat dan suara yang berat. Entah mengapa rasanya kalimat itu terang-terangan Kerta tujukan untuknya. Apakah pembicaraan ini tentang kedekatannya dengan Sena belakangan ini? Mungkinkah...
"Maksud mas?"
"Ah tidak, lupakan!" Sahut Kerta cepat di ikuti dekapan tangannya yang semakin erat.
"Mas jangan membuat Sani penasaran. Coba sekarang mas katakan kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?"
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Mas hanya terlalu mencintaimu sampai takut jika harus kehilanganmu."
"Tapi, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Sebenarnya ada ap..."
Ccuuupp. Kerta segera memotong ucapan Sani dengan bibirnya yang tipis dan basah. Pelan sekali ia ******* bibir merekah Sani dengan lembut, sambil sesekali di sesap-sesapnya seakan ia sedang menghisap madu dari kelopak bunga yang mekar. Sani hanya menurut saja saat Kerta mulai menggiring cumbuannya yang semula santai, kini berubah menjadi lebih panas dan intens.
Sani, bahkan sampai merasakan sesuatu di balik bajunya kini mulai mengejang dengan ujung yang mengeras. Ya, kedua gunung miliknya seakan meronta ingin di rema....
"Uummh.... " Lenguh Sani kilas, saat Kerta tiba-tiba menghentikan pagutannya.
"Sepertinya kau bersemangat sekali?"
"Aap... Apa? Tti.. Tidak kok!"
"Hahaha, jangan bohong. Kalau tidak, kenapa dadamu terlihat lebih membusung begitu?"
"Hah?"
"Jangan malu begitu, mas bisa melanjutkannya sekarang kalau kau mau."
"Apa sih, mas!"
"Jadi, mau kita lanjutkan sekarang?"
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1