SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Benda bersinar


__ADS_3

Sepanjang perjalan pulang, Sani tak bisa berhenti memikirkan kata-kata perempuan di pasar tadi. Setiap di pikirkan, justru semakin membuat rasa penasarannya semakin besar.


Begitu sampai rumah, Asih langsung masuk dan mengembalikan peralatan yang selesai di gunakan ke tempatnya.


Tak lama kemudian, Asih keluar membawa makanan yang di beli-nya saat perjalanan pulang! Ia bergabung, menghampiri Sani yang tengah duduk santai di amben depan rumah.


Satu per-satu, ia meletakkan makanan yang di bungkus dengan daun pisang itu di atas piring mereka masing-masing.


"San? Ini, makananmu sudah aku siapkan!" Ucap Asih sambil menyodorkan makanan milik Sani.


Pelan Asih mulai memasukkan makanan ke dalam mulut-nya, menikmati hasil jerih payahnya hari ini. Ia mengunyah-ngunyah makanan dalam mulutnya itu sebentar, sebelum menelannya kemudian!


"Hei... San, ayo cepat makan. Kau tidak lapar?" Asih menegur Sani yang masih mendiamkan makanannya.


Padahal biasanya Sani adalah orang yang tak pernah terlambat, jika berurusan dengan makanan! Benar-benar tidak biasanya...!


"Sani... Apa kau tak suka dengan makanannya?" tegur Asih sebal.


Namun lagi-lagi masih tak ada tanda-tanda reaksi dari Sani. Ah.. Sudah cukup! Asih sudah sangat gemas melihat Sani yang dari tadi hanya diam mematung!


"Sannni!"


"Haa? Aa.. Ada apaa?" sahut Sani tergagap-gagap.


"Kau melamun, ya"


"Ti... Tiddak kok!"


"Lalu kenapa ekspresimu kaget begitu?"


"Ah... aku hanya kaget karena kau membentakku!"


"Aku tidak membentakmu! Tapi kau yang tidak mendengarku!"


"Hhaa? Benarkah? Maafkan aku Asih"


"Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?"


"Bukan apa-apa. Tadi aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja... "


"Kau serius? Lalu apa bedanya dengan melamun?"


"Hahahaha, aku kira itu berbeda...?"


"Sejak tadi, kuperhatikan kau nampak sibuk dengan dirimu sendiri! Ada apa sebenarnya? Jangan cemberut begitu! Kau terlihat jelek saat cemberut. Bicara saja apa yang kau pikirkan?! "


"Ahh... Sebenarnya bukan sesuatu yang serius,kok! Hanya saja, entah kenapa aku terus kepikiran ucapan perempuan tadi."


"Nyimas di pasar tadi, maksudmu?"


"Iya."


"Halaah... Kau ini ada-ada saja! Sudahlah, kita makan dulu sekarang... "


"Tidak bisa, Asih! Aku terus merasa aneh setiap mendengar mereka mengatakan tentang kondisiku sebelumnya. Memangnya kondisiku dulu separah apa?"


"Sangat parah,,, sampai kau tak pernah keluar dari rumah... "


"Asih? Kau juga tahu tentang kondisiku?"


"Ya, begitulah kondisimu dari kabar yang kudengar."


"Tunggu...! Apa itu berarti kau juga tak melihat kondisi-ku secara langsung?"


Asih mengangguk dengan lesu!


"Ah? Tapi kenapa kau tidak datang menjenguk?"


"Uuumm... Bagaimana ya...? Sebenarnya bukan karena aku tidak khawatir mendengar kabarmu disana. Tapi sampai saat ini, aku hanya bisa terus mengkhawatirkan-mu tanpa pernah bisa menjengukmu... "


"Kenapa tidak?"


"Meski aku sangat menginginkannya... Tapi bagaimana cara aku pergi ke sana? Kau kan tahu, bagaimana keadaanku di sini?"


"Ah... Iya Asih. Maaf, aku lupa tentang itu!"


"Aku, yang seharusnya minta maaf padamu Sani... Seharusnya aku berusaha lebih keras lagi. Seharusnya aku bisa mengumpulkan dan menjual sayur lebih banyak lagi, supaya aku bisa mengumpulkan uang lebih, dan... "


Asih menggantung kata-katanya dengan mata yang mulai terlihat berkaca-kaca.


"Dan?"


"Dan apa lagi? Ya tentu saja, supaya aku bisa menyewa kereta kuda, untuk mengantarku pergi menjengukmu. "


"Hahahaha.... Iya iya, aku percaya kau adalah teman yang baik Asih."


"Nah, itu kau tahu?"


"Hahahaha... Tapi sekarang aku sudah di sini, kan? Ayo, bilanglah kau menyesal karena tidak pergi menjengukku." Goda Sani pada Asih yang hampir 'mewek'.

__ADS_1


"Ternyata dari tadi kau hanya mempermainkan aku ya? Awas kau!"


"Hahahaa... Sekarang kau marah?! Kau cepat sekali merubah suasana hatimu ya?"


"Yaaaa..... Terserah kau saja!"


"Sekarang cepat habiskan makananmu, sebelum kita pergi mandi!"


"Di sungai?"


"Jangan mulai lagi...Makan saja dengan cepat...!" jawabnya galak.


"Iya... Iya, ini aku makan...."


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sani berjalan pelan-pelan mengikuti Asih yang berjalan terlebih dulu untuk memandu-nya.


Mereka tak bisa berjalan dengan cepat, karena jalan yang mereka lalui sejak tadi sedikit berkelok-kelok dan juga licin.


Sani tak bisa membayangkan betapa capeknya, seorang Asih setiap hari. Mulai dari memanen sayur, pergi ke pasar, lalu untuk mandi saja ia harus menempuh jalanan yang sesulit ini? Kasihan Asih.


.


.


.


.


"Wah lihat... Tau-tau sudah ramai saja, San?!"


Sani melihat tangan Asih yang menunjuk ke arah Sungai. Nampak sudah banyak para perempuan lain yang sudah berendam atau hanya mencuci baju di sana. Mereka semua memakai kain jarik yang di lilitkan menutup bagian dada hingga lutut.


Tak butuh waktu lama untuk Sani dan Asih akhirnya bergabung bersama mereka.


"Eh... Asih...!" kata salah seorang perempuan yang mandi, menyapa.


"Siapa itu? Temanmu?"


"Ini Sani...! Kalian lupa?"


Yang lain juga mulai menengok dan memerhatikan mereka berdua.


"Loh, ini Sani yang.... "


"Iya, betul! Sani yang itu!" sahut Asih tegas.


"Ohhhalaaah... Kukira kau tadi siapa, San?"


"Ah, iya... Ini saya!" ucap Sani malu-malu menyahuti mereka.


"Bagaimana kabar-mu? Sudah baikan ya?"


Sani mengangguk, seperti tahu kemana arah pembicaraan yang mereka maksudkan! Pasti, tentang kondisinya lagi?


"Waahh... Kamu makin cantik sekarang, San?


Aku sampai pangling loh?"


"Ya jelas pangling, lah sekarang ia tambah cantik, kan? Lah wong, hidupnya sekarang kan, sudah seperti tuan putri? Iya kan, San?" sahut perempuan yang lain mulai menimpali.


Sani jadi canggung dan tak tahu harus menjawab apa?


"Sudah... Sudah! Lihat, kalian hanya membuat Sani jadi merasa tidak nyaman saja... " Ucap Asih begitu menyadari perubahan raut wajah Sani.


"Maaf San, kami hanya bercanda kok!"


Sani hanya mengangguk dan tersenyum, tak tahu harus bicara apa.


.


.


.


.


Asih dan Sani mulai merendam tubuh sambil sesekali menggosok-gosoknya. Sani yang sudah terbiasa mandi dengan bantuan bibik, terlihat kesulitan saat menggosok bagian belakang tubuhnya.

__ADS_1


"San, mau ku bantu menggosok punggungmu?"


"Ah, boleh...!"


"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali. "


Asih memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam air beberapa saat, lalu muncul kembali membawa sebuah batu sebesar kepalan tangan balita.


"Batu?"


Asih mengangguk!


"Tapi, itu untuk apa?"


"Aahh... kau ini! Cepat kemari... "


Pelan, Asih mulai menggosok punggung Sani dengan batu yang di dapatnya.


Wah, ajaib...?


Kotoran dan daki di punggungnya bisa berjatuhan seperti saat sedang memakai lulur saja? Sedangkan gosokan pelan batu-nya terasa seperti pijatan rileksasi di atas punggungnya. Benar-benar luar biasa?


Naik-turun, Asih menggosokkan batu-nya dengan sangat baik. Sani baru tahu, bahwa sebuah batu-pun bisa di jadikan alat untuk membersihkan diri? Wah... Hebat!


"Aduuhhh!"


"Eeh,... Aaa... Aduh Sani. Maaf ya? Aku tidak sengaja... "


Asih panik, karena Sani tiba-tiba memekik kesakitan!


"Itu tadi... Apa yang kau lakukan?!"


"Haa? Aku tidak melakukan apa-apa kok! Sungguh!" jawab Asih merasa bersalah.


"Tapi leherku terasa panas, saat kau menggosoknya... "


"Aaa... Apa? Tapi itu tidak mungkin? Sungguh Sani, dari tadi aku hanya menggosok punggungmu dan tanpa sengaja menyerempet rantai kalung-mu. Aku benar-benar tak tahu apa alasan lehermu sakit?" sesal Asih semakin merasa bersalah.


"Aneh sekali, padahal hanya menyerempet saja? Tapi kenapa leherku terasa terbakar, panas?" gumam Sani pelan.


"Sani, aku sungguh minta maaf! Tapi aku benar-benar tak melakukan apa-apa selain membersihkan punggung-mu dengan batu ini." Sambung Asih yang masih terlihat sangat menyesal.


"Iya Asih, aku percaya kok!"


"Apa lehermu sekarang masih sakit?"


"Tidak! Untung saja rasa sakitnya hanya sekilas, tadi."


"Aahh... Aneh juga?"


Klaapp! Klaapp!


"Eh... Apa itu?"


Samar-samar Sani melihat ada benda yang bersinar terang berwarna ungu di dasar air.


"Apa Sani? Kau lihat apa?"


"Itu, yang berkelap-kelip disana.... Kau tak melihatnya, Asih?"


Asih hanya menggeleng, menatap Sani dengan heran. Namun lagi-lagi, klapp! Klapp! Ah, benda itu makin bersinar terang.


"Asih, tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambilnya untukmu."


"Agghh... Tidak perlu! Mungkin saja itu berbahaya...!"


"Tidak! Tunggu sebentar!"


"Sani....! Tunggu,.. Hei...!"


Sani yang sudah sangat penasaran, segera saja masuk ke dalam air untuk memastikan benda apa yang di lihatnya.


Benda itu terlihat semakin bersinar, begitu jarak Sani mulai dekat! Tangan Sani sudah berhasil meraih benda itu, saat tiba-tiba ia merasa pusaran air yang menggulung tubuhnya!


Sani terus berenang berusaha keluar dari pusaran air yang semakin kuat menelan tubuhnya!


'Aghhh, Tidak...! Asih, tolong aku...! '


Mulutnya berteriak, tapi tak ada suara yang keluar sama sekali.


Pusaran air itu terus membesar dan berputar di sekitrnya! Sani sudah tak bisa bertahan dan membiarkan air itu menggulung dan menelan tubuhnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2