
"Aap... Apaa? Tapi ini tidak mungkin?" Pekik si pemimpin komplotan geram.
Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya setelah mengetahui kenyataan mengejutkan tentang sosok perempuan di depannya itu. Mulutnya terperangah mendapati seorang laki-laki dengan setelan kebaya tengah menyeringai padanya!
Sosok itu tidak menunjukkan raut kesakitan atau gurat ketakutan sedikitpun. Ia justru tersenyum sambil menyunggingkan sebelah bibirnya yang membuatny semakin terlihat menjengkelkan saja. Jelas sekali, sosok itu sekarang sedang mengejeknya!
"Ttaap... Taapi," ucap si pemimpin komplotan terbata-bata masih tak percaya.
"Kenapa? Apa kau salah buruan?" jawab si lelaki dengan santai-nya.
"Jadi, sejak tadi kami semua berlari mati-matian hanya untuk mengejarmu?"
"Hahahaha..." Tawa lelaki itu terdengar nyaring!
"Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" keluh si pemimpin komplotan yang nampak kebingungan.
"Hei, bukannya tadi kau lihat perempuan itu kabur dari dalam rumah? Kau juga yang mengusulkan untuk menangkapnya hingga kita semua mengejarnya sampai sejauh ini, heh?" tegur temannya merasa di bodohi.
"Ya, kau benar! Tadi aku sungguh melihat perempuan itu berlari tergopoh-gopoh." Jawab si pemimpin komplotan makin bingung.
"Haaahh... Ini semua salahmu! Sekarang kau bisa lihat sendiri siapa orang yang kita kejar sejak tadi? Atau mungkin sejak awal kau memang sudah salah mengenali buruan?"
"Mustahil! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat istri Kerta berlari keluar dari rumah itu. Aku tidak salah mengenali! Aku bahkan bisa melihat dengan jelas wajah panik perempuan itu saat kabur tadi!"
"Wah, jangan-jangan matamu itu sudah rabun!" sahut si lelaki berbaju kebaya dengan nada mengejek.
"Kurang ajar! Beraninya kau... "
Anggota komplotan yang merasa di pojokkan itu merasa tersinggung saat mendengar ejekan yang di tujukan padanya. Tangan besarnya membentuk kepalan yang siap di layangkan sesuai kehendaknya.
Dengan sigap lelaki itu berhasil menangkap bogem mentah yang di tujukan ke arahnya. Ia melihat mata merah si anggota komplotan itu di balik topeng yang masih menutupi wajahnya.
"Tunggu dulu, sebaiknya kau simpan tenagamu yang payah itu untuk nanti! Jangan terburu-buru, karena aku masih punya satu lagi kejutan besar untukmu!" sambut si lelaki dengan santainya.
"Apa maksudmu?" sahut pemimpin komplotan kampak geram.
Bukannya menjawab, lelaki itu hanya semakin melebarkan senyumnya di depan pemimpin komplotan. Sebentar kemudian ia menyiulkan ujung bibirnya dengan keras dan lantang.
Seperti sebuah keajaiban saja, siulan itu kini membuat dedaunan di sekitar mereka saling bergoyang. Di dalam kegelapan semak yang rimbun itu samar-samar mereka mulai mendengar bunyi sesuatu dari daun-daun yang bergoyong.
Pemimpin komplotan beserta anak buahnya segera mengambil posisi siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Mereka semua berkumpul dan menduga-duga tentang situasi yang seketika berubah di luar rencana.
.
.
__ADS_1
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Bughhh!
Sena membekuk tengkuk tahanannya dengan ujung siku yang kokoh dan berbobot. Hal itu mampu membuat lawannya tak sadarkan diri hanya dalam hitungan detik. Dan sosok besar di depannya itu masih terus mengawasi gerak-geriknya di balik topeng yang menutup wajahnya.
Sebenarnya sosok tersebut agak terkejut saat mendapatkan perlawanan yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Ia sedikit kesal melihat orang-orangnya telah berhasil Sena lumpuhkan dalam waktu singkat.
"Siapa kau sebenarnya? Sebaiknya kau jangan ikut campur dengan sesuatu yang tidak kau pahami. Pergilah, aku tak ada urusan denganmu!" Sergah sosok besar yang kini membelakangi Kerta.
"Aku memang tak punya urusan apapun denganmu. Tapi kalau kau datang kemari dengan tujuan untuk mencelakai kang Kerta, maka sekarang hal itu telah berubah menjadi urusanku!" Jawab Sena mantap.
"Hoo... Ternyata hanya kacung*!" sahut sosok itu mengejek.
*Kacung: Pesuruh atau sebutan untuk orang yang melakukan apa saja untuk menuruti perintah majikannya.
"Aku tak peduli, terserah kau sebut apa aku ini? Karena selama ada aku disini, jangan harap kau bisa menyentuh barang sejengkal tubuh kang Kerta!"
"Tentu! Kapanpun aku akan siap untuk melayani pengecut sepertimu!"
"Dasar bedebah!"
Dengan geram sosok itu kini maju berbekal pecut panjang yang mengkilap tertimpa sorot rembulan.
Pecut itu di gerakkan ke kanan dan kiri bergantian sebelum bidikannya ia luncurkan.
Sena sendiri terlihat was-was dan siaga dari ujung pecut yang siap untuk membuat dirinya cukup kesulitan nanti. Matanya terus mengincar benda itu dan bertekad untuk menjauhkannya dari pemiliknya secepatnya.
"Wwhuushhh.... Bllashh!"
Bidikan pertama berhasil Sena hindari dengan baik dan cepat.
"Wwhhusssh.... Klaap!"
Ekspresi sosok besar itu sedikit terkejut saat serangannya justru berhasil ditangkis oleh Sena secara tak terduga. Pecut di tangannya langsung terlempar jauh ke bawah ranjang tanpa bisa di jangkau.
Sena tak buang-buang waktu lagi saat mendapat kesempatan yang bagus untuk menyerang balik lawannya. Dengan lincah ia mulai berusaha melumpuhkan lawannya dengan tendangan keras di pinggang kanan sosok besar di depannya.
Seakan bisa membaca gerakan Sena, sosok itu mundur beberapa langkah dan berhasil menghindar dari serangan. Senyum ejekannya terlempar kepada Sena yang masih mencoba mempelajari gerakan lawannya.
__ADS_1
"Ada apa, kacung? Kau pikir akan semudah itu untuk membuat aku tumbang?" ulasnya tajam.
"Tidak, bukan itu yang ada dalam pikiranku sekarang!" jawab Sena tegas.
"Hah! Terserah... Hyyaattt..."
Lagi-lagi sosok besar itu mengerahkan serangan secara mendadak kepada Sena. Kali ini dengan tangan kosong ia melancarkan tinju besarnya tepat di ujung hidung Sena.
Secepat mungkin Sena segera menghindar sambil menangkap kepalan tangan itu dan menahannya agar tidak lolos dari genggamannya. Dengan kuat ia pelintir tangan besar itu agar pemiliknya merasa kesakitan seperti perkiraannya.
Sosok itu ternyata masih bisa memutar balikkan keadaan dengan menghentakkan tangannya dengan keras untuk membebaskan dirinya dari serangan Sena. Ia berhasil memanfaatkan otot-ototnya yang besar untuk membuat Sena terpental bersama dengan keris di tangannya.
Sosok itu menatap Sena yang masih terjerembab dengan sorot mata kemenangan. Ia nampak semakin bersemangat saat berhasil mendapatkan kesempatan menghujani Sena dengan serangan lainnya.
Sosok bertopeng itu mulai mengambil ancang-ancang untuk melancarkan aksinya kembali. Kedua tangan besarnya membentuk sebuah tinju yang siap di lemparkan ke arah Sena yang masih berusaha mengumpulkan tenaganya kembali.
"Rasakan ini! Hyyeaaatt... "
Buugghh!
"Guoobl*kkk! Hhuaahhhh..." Teriaknya keras setelah tinjunya berhasil mendarat sempurna.
Sepertinya sosok besar itu kesakitan setelah kepalan tangannya mendarat keras di atas permukaan lantai. Serangannya berakhir salah sasaran saat Sena segera menghindar begitu ia berhasil membaca gerakan lawannya.
Sena yang sudah siaga dengan kuda-kudanya tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia langsung menendang kuat kepala si besar yang masih tertunduk karena kesakitan.
"Brruuakk!"
Tendangan spontan itu berhasil membuat lawannya tumbang dengan posisi tubuh menghantam kaki ranjang. Topeng kayu yang di kenakannya terlepas begitu saja dan menampakkan wajah geram penuh amarah!
Dengan cepat Sena segera menyambar keris miliknya yang terpental tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia langsung mengarahkan ujung kerisnya tepat di depan leher si besar saat dilihatnya sosok itu mencoba untuk bangun dari posisinya.
"Berhenti! Kau sudah kalah... " Gertak Sena dengan tegas!
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1