
"*Tidak masalah jika kau punya wajah jelek atau miskin, sekalipun! Asal kau bisa menjaga mulut dan sikapmu, maka hal itu tak akan pernah menyulitkanmu di manapun!"
(Bayu Pawana, SANSEKERTA 1401*).
Dduagh...!!
Bayu langsung meloloskan tendangannya tepat di atas dada pemimpin komplotan yang kini terkapar. Di sudut bibirnya terlihat bekas muntahan darah yang menandakan seberapa kerasnya tendangan yang baru saja ia dapatkan.
"Jjuh!" si pemimpin komplotan baru saja meludahkan darah yang merembes dari sudut bibirnya.
Sedangkan para anggota komplotannya hanya diam tak berkutik saat melihat pemimpin mereka terkapar. Mereka semua takut untuk menolong pemimpinnya begitu mengingat jumlah pasukan yang masih mengepung.
"Hah! Ternyata hanya sebatas itu saja kemampuanmu!" ejek Bayu sambil berjalan mendekat.
Si pemimpin komplotan mulai mengumpulkan segenap tenaganya dan berusaha untuk bangkit kembali. Ia melakukannya sambil terus memegang pangkal dadanya yang masih terasa sesak. Sesekali ia nampak mengusap bibirnya yang masih basah dengan percikan darah.
"Dasar bocah kurang ajar! Beraninya kau menyerangku di saat posisiku sedang lengah?!" bentaknya geram.
"Oooh... Jadi kau mau mengelak bahwa tadi itu kau belum siap, begitu?"
Si pemimpin komplotan hanya diam di tempatnya sambil memandangi Bayu Pawana dengan geram.
"Hahaha... Kau ini memang orang yang lucu sekali. Memangnya sejak kapan orang yang duel harus meminta izin dulu untuk menyerang, heh? Kau pintar melawak juga ternyata?"
Si pemimpin komplotan makin geram mendengar ucapan Bayu yang di nilainya sebagai hinaan.
"Wah, tapi sayang sekali kau langsung tumbang pada tendangan pertamaku, ya?"
"Memangnya kenapa, ha? Dasar kau sok jago!" gerutu pemimpin komplotan pelan.
"Ah kau ini, padahal aku tadi melakukan tendangan pelan itu hanya sebagai pemanasannya saja. Bahkan aku belum masuk pada gerakan intinya. Jadi bagaimana? Apa kau mau melihat serangan intinya?"
Wwhhuus... Whhuuttz... Benar-benar secepat angin, pemuda itu kini sudah berdiri tepat di samping tubuh bongsor si pemimpin pasukan. Ia melakukannya seperti bayangan yang menyelinap sekejap di dalam sebuah kegelapan.
Bayu mulai meringkus kedua tangan pemimpin komplotan ke belakang punggung gempal itu. Sebenarnya postur tubuh Bayu sendiri memang hanya separuh dari besarnya tubuh gempal si pemimpin komplotan itu. Namun bagaimana mungkin Bayu bisa mengunci kedua tangan berotot itu sampai terlihat tak berkutik?
"Setelah ku pikir-pikir, sepertinya aku tidak perlu menggunakan gerakan inti untuk mengakhiri semua ini dengan cepat!"
"Hei lepas! Lepaskan aku, bodoh! Dasar kau pendekar sinting!" Racau pemimpin komplotan sambil berusaha memberontak dari kokohnya ringkusan Bayu.
__ADS_1
"Kau diam saja! Lagipula aku janji ini tak akan lama." Sahut Bayu dengan senyuman sinis yang ia bubuhkan pada kalimatnya.
"Katakan apa yang akan kau lakukan padaku?!"
"Ada apa, besar? Aku hanya mau pamer gerakan penutup setelah pemanasan tadi. Apa kau takut?"
"Gobl*kkk!" umpat pemimpin komplotan geram.
i
ilustrasi foto Bayu Pawana
Bayu hanya menjawab umpatan lawannya dengan memulai melakukan gerakan lembut dari jemari tangan kanannya. Jari lentiknya membentuk sebuah gerakan yang lebih terlihat gemulai untuk di lakukan oleh seorang laki-laki. Dari ujung jemari lentiknya tampaklah gulungan angin puyuh kecil yang berputar-putar mengerucut di atasnya.
Keringat dingin mulai berlomba di balik baju pemimpin komplotan yang terlihat panik dengan gulungan angin kecil itu. Tubuhnya gemetar di iringi rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyembul dari dalam benaknya. Ia belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Pemuda ini benar-benar...
"Hhah? Aapp... Apaa itu?" ucap pemimpin komplotan tergagap-gagap saat menyaksikan sesuatu yang mulai terlihat aneh .
"Hahahaha... Apalagi memangnya? Tentu saja ini adalah bakat istimewa yang belum sempat aku bicarakan tadi. Itu salahmu sendiri karena memotong penjelasan yang kuberikan!" sahut Bayu yang masih santai memainkan gulungan angin kecil di ujung jarinya.
"Sssii... Ssiiaapa kau sebb... Sebenarnyaa?"
Bayu memberikan jeda sebentar pada kalimatnya. Setelah itu ia mulai menempatkan ujung jari ber'angin' itu tepat di depan mulut pemimpin komplotan.
"Perkenalkan, ini Pawana. Dia adalah peliharaan kesayanganku!"
Pemimpin komplotan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena rasa heran pada pemuda 'aneh' ini. Bagaimana mungkin ia memilih gulungan angin ini sebagai sebuah peliharaan? Kenapa ia tidak memilih kelinci lucu atau kuda tangguh saja sebagai peliharaannya?
Wwhuutz, whuutz... Tiba-tiba saja Bayu sudah menindih tubuh si pemimpin komplotan dengan kaki kanannya yang ramping. Ia memaksa mulut laki-laki besar itu untuk terbuka dengan menginjakkan kakinya di pangkal leher pemimpin komplotan.
"Nah, sekarang rasakan ini dasar kau orang jahat!"
Sslleepp!
Bayu memasukkan gulungan kecil angin puyuh di jarinya ke dalam mulut si pemimpin pasukan begitu saja. Ia memandang lawannya yang kini nampak gelagapan itu dengan seringai geram yang khas.
Pemuda itu hanya tersenyum puas saat melihat laki-laki di depannya mulai menggeliat tak menentu saat ia merasakan angin itu mulai turun menuju perutnya. Di sana si angin terus berputar dan menari-nari manja di dalam lambung pemimpin komplotan yang mulai mual.
__ADS_1
"Bbaa... Jjing..." Ucapnya terputus-putus di tengah rasa mual yang kian mengganggu.
"Ha, apa? Kau mau bicara? Maaf tapi aku tak dengar apa yang ingin kau katakan. Bicaralah lebih keras!" sahut Bayu puas dengan ujung telunjuk yang masih di gerakkan memutar di udara.
Ia tahu, pasti si 'puyuh kecil' itu sedang mengaduk-aduk semua isi perut pemimpin komplotan. Biasanya, seluruh bagian perut si korban akan di sapu tanpa tersisa sampai...
"Hhuueeekk! Hhuueekk!" muntahlah semua 'isi' dari perut besar si pemimpin komplotan.
Laki-laki besar itu merasakan kepalanya mulai berputar-putar di iringi rasa mual yang kian mendera. Ia terus m*ntah sambil terus memegangi perut besarnya tanpa ia lepas, barang sebentar.
"Nah, sekarang masuk angin juga, kan? Itu balasan untuk orang yang punya mulut 'rusak' sepertimu!" ejek Bayu dengan rasa puas penuh kemenangan.
"Hhueek, hhwek... Hhweeek!"
"Hanya segini saja kau sudah mabok! Dasar laki-laki lembek! Sekarang katakan, siapa yang pantas di sebut 'banci' hah?!"
Pemimpin komplotan mulai merasakan pandangannya berkunang-kunang. Sedikit demi sedikit rasa mual di perutnya mulai berkurang berganti dengan rasa sakit di ulu hatinya. Laki-laki besar itu nampaknya mulai kehilangan kesadaran karena lemas.
Satu...
Dua....
Tigg....
"Bbrruukkk!" tubuh pemimpin komplotan ambruk dalam hitungan detik.
Bayu tersenyum sinis melihat laki-laki besar itu terkulai di atas 'isi' perutnya sendiri. Iiisshh... Itu menjijikkan!
Perhatian Bayu kini mulai ter-alih pada sekumpulan komplotan yang masih menjadi penonton 'setia' di belakangnya. Ia bisa merasakan ketakutan mereka meski wajah-wajah itu masih tertutup topeng kayu dengan rapi. Bayu bisa membaca rasa takut itu dari sorotan mata yang tak mungkin bisa mereka sembunyikan.
"Pasukan, ringkus mereka semua!" perintahnya kemudian sambil memerkan seringai yang khas.
.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🌻