
Sani tengah duduk di meja makan sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan pandangan kosong ke depan. Pagi ini ia tidak bisa menikmati menu sarapan yang sudah di siapkan bibik, dengan sangat baik itu. Pikirannya masih saja terfokus pada penjelasan dan rencana Sena tadi.
Sena memilih taman di depan rumah yang ukurannya tidak terlalu luas itu untuk membahas rencananya. Ia mengajak Sani berjalan pelan mengitari taman sambil membicarakan banyak hal yang belum Sani ketahui.
Sani merekam setiap ucapan Sena dengan baik dan memahami semuanya tanpa ada yang terlewatkan.
"Jadi, nyimas... Orang yang membuat kondisi kang Kerta jadi seperti ini bukanlah lawan yang bisa di remehkan begitu saja... " Kata Sena memulai penjelasannya.
"Tolong jelaskan padaku dengan baik, Sena!" sahut Sani kemudian.
"Sebenarnya saya ragu untuk menceritakan masalah ini pada nyimas! Saya tidak pantas mengungkit kembali apa yang sudah kang Kerta simpan dengan baik."
"Katakan, Sena... Aku yakin mas Kerta nanti akan mengerti saat tahu alasan mengapa kau menceritakan ini padaku?"
"Entahlah... Saya hanya merasa tidak enak jika harus membuka aib keluarga ini."
"Tenanglah Sena... Kau hanya perlu menceritakan kejadiannya saja padaku. Lagipula aku juga bukan orang asing disini. Aku juga bagian dari keluarga ini, bukan?" bujuk Sani memburu.
Akhirnya Sena mengangguk, menyerah pada bujukan Sani padanya. Dengan mata yang menerawang jauh ke atas awan, ia terlihat tengah serius mengingat sesuatu sebelum memberikan penjelasan kepada Sani.
"Dulu, *romo kang Kerta adalah seorang *senopati agung kerajaan yang sangat di andalkan oleh yang mulia raja. Romo kang Kerta ialah orang yang mengurus dan bertanggung jawab atas semua urusan keamanan keluarga kerajaan. Tapi... " Sena menggantung kalimatnya, dan membuat Sani penasaran.
****Romo: Panggilan ayah untuk masyarakat jawa.
*Senopati: Senapati atau senopati adalah istilah yang digunakan untuk menyebut jabatan panglima dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Istilah ini merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu sena yang bermakna "tentara" dan pati yang bermakna "pemimpin***".
"Tapi kenapa, Sena?" tanya Sani penasaran.
"Tapi ternyata jabatan itulah yang membuat beliau kini mendekam di dalam penjara istana."
Sani langsung tertegun begitu mendengar kalimat terakhir Sena. Mulutnya membulat, dengan mata yang terbuka lebar setelah ia tahu sebuah kebenaran tentang keluarga ini.
"Dddii... Dddii dalam penjara?" ulang Sani terbata-bata seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Kkee... Kkeenapa tiba-tiba seperti itu? Sebenarnya... Apakah kesalahan yang telah di lakukannya sampai berakhir di dalam penjara begitu?" tanya Sani penasaran.
"Dari cerita yang beredar di tentara kerajaan, alasan beliau di jebloskan ke dalam penjara karena tindakan asusila juga pembunuhan yang telah di lakukan."
"Tindakan asusila?" ulang Sani tak percaya.
"Benar! Beliau di sebut-sebut telah memperkosa seorang istri bangsawan lalu kemudian membunuhnya secara kejam. Prajurit memergoki beliau di tempat kejadian perkara saat posisinya tengah menindih tubuh korban yang hampir telanjang itu. Di tangannya ter-acung sebuah keris miliknya yang sudah bersimbah darah, dan di duga itu adalah darah milik perempuan tersebut."
Sani makin tercengang mendengar penjelasan Sena.
__ADS_1
"Dan apakah nyimas tahu, apa yang lebih miris dari kejadian malam itu?" lanjut Sena kemudian
Sani langsung menggeleng dengan mata yang membulat.
"Perempuan yang terbunuh malam itu adalah istri dari patih Marjo yang tidak lain adalah sahabat karibnya sendiri. Dan kabarnya, perempuan itu tengah mengandung saat ia di habisi malam itu." Pungkas Sena pada ceritanya.
Sani tak bisa berkata apa-apa mendengar cerita Sena yang membuatnya semakin tercengang. Ia tak tahu harus bicara apa untuk menanggapi kalimat-kalimat Sena yang terdengar ngeri di telinganya.
"Sena... Apakah semua cerita itu benar?" tanya Sani kemudian.
Sena tak segera menjawab pertanyaan Sani yang masih terlihat shok dengan penjelasannya. Ia hanya menggelengkan pelan kepalanya dengan mata yang masih lurus menatap ke arah Sani.
"Entahlah, nyi... Saya sendiri juga tidak tahu apakah berita yang tersebar itu sesuai kebenaran atau tidak? Namun karena kejadian inilah yang akhirnya membuat kang Kerta mempunyai seorang musuh abadi, yang selalu berusaha untuk menghabisi kang Kerta kapan saja!"
"Apakah orang itu adalah patih Marjo?" tebak Sani mantap.
Sena mengangguk!
"Benar nyimas! Patih Marjo-lah orang yang berhasil mencelakai kang Kerta sampai seperti ini. Dia memiliki dendam pada keluarga ini semenjak kejadian nahas itu menimpa istrinya." Jawab Sena kemudian.
"Ya tuhan? Apakah selama ini patih Marjo selalu hidup di dalam dendam yang sia-sia seperti itu? Kenapa ia melakukan itu pada masuk Kerta? Bukankah pelaku kejahatannya sudah di penjarakan?"
"Ya, itu memang benar! Namun dari yang saya dengar, jabatannya sebagai seorang patih juga di copot setelah ia tertangkap melakukan percobaan pembunuhan. Ki Marjo juga di jebloskan ke dalam penjara dan hidupnya jadi berantakan setelah itu. Lalu... "
"Iya! Percobaan pembunuhan!" jawab Sena tegas.
"Pada siapa?"
"Nyi Ageng Lastri! Biyung kang Kerta!"
Sani segera menutup mulutnya sendiri saat suara pekikan-nya hampir terdengar. Ia tak menyangka jika keluarga ini memiliki masalah yang serius dan se-rumit ini.
"Lalu? Bagaimana dengan biyung kang Kerta? Maksudku, bagaimana keadaannya setelah semua kejadian yang datang berturut-turut itu?" pertanyaan Sani kembali memburu.
"Kasihan, nasibnya..."
Deg!
Dada Sani bergemuruh, tak bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Ia menatap guratan rasa iba di wajah Sena yang masih terdiam menggantung kalimatnya.
"Setelah mendapat kabar tentang tindakan asusila dan pembunuhan itu, beliau sangat terkejut hingga tak sadarkan diri selama beberapa hari. Jadi ketika ki Marjo melakukan percobaan pembunuhan itu, beliau hanya terbaring tak berdaya tanpa tahu apa-apa. Justru biyung-lah yang berteriak memanggil para penjaga, saat ia lihat sosok laki-laki bertopeng yang mengacungkan cluritnya sedang menyelinap masuk dari jendela kamar!"
"Bibik?"
__ADS_1
"Iya! Malam itu biyung berniat mengecek keadaan beliau sebelum pulang. Namun tiba-tiba saja para penjaga mendengar teriakan keras biyung yang tengah meminta pertolongan! Mereka datang tepat ketika biyung hampir kehabisan nafas karena cekikan ki Marjo! Orang itu melakukannya karena kesal dengan biyung yang mencegahnya untuk mencelakai nyi Ageng." Jelas Sena kemudian.
"Jadi Sena, bagaimana keadaan beliau sekarang?"
"Siapa yang nyimas maksud? Ki Marjo?"
"Bukan!"
"Nyi Ageng?"
Sani mengangguk!
"Beliau sudah meninggal tiga tahun yang lalu!"
"Hah? Meninggal?" pekik Sani tak mampu menahan ke-terkejutannya.
"Sejak suaminya di masukkan ke dalam penjara, beliau terus sakit-sakitan tanpa ada yang tahu apa penyebabnya. Beliau meninggal begitu saja setelah sakit berbulan-bulan lamanya."
"Lalu mas Kerta?"
"Setelah nyi Ageng meninggal, kang Kerta kabur meninggalkan rumah. Kang Kerta sangat terpukul dengan keadaan keluarganya yang tiba-tiba hancur dan terberai. Kang Kerta sendiri juga membuat hidupnya berantakan dengan meninggalkan ndalem. Ia terus menerus menyalahkan romo-nya dan menolak untuk menjenguk, atau menanyakan kabar beliau di penjara."
Sani masih serius menyimak penjelasan Sena.
"Saya terus mencari dan tak henti-hentinya saya selalu berusaha untuk membujuknya pulang, dan juga melupakan semua yang telah terjadi. Namun sekeras apapun usaha saya, hal itu tidak pernah membuahkan hasil sampai..." Sena memberi jeda pada kalimatnya dan terlihat sedang menunggu ekspresi Sani selanjutnya.
"Sampai apa, Sena?" tanya Sani penasaran.
Sena nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sani. Ia melakukannya seolah jawaban yang ia berikan nanti adalah sebuah beban bagi dirinya.
"Sampai akhirnya kalian bertemu..." jawabnya lesu!
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀.
__ADS_1