SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Dengan satu syarat


__ADS_3

Kerta kini menatap Sani dengan mata nakal-nya. Bibirnya tersenyum, memerkan deretan gigi yang bersih dan rapi.


"Apa sih senyum-senyum? Cepat katakan syaratnya sekarang." Ucap Sani yang sudah tak sabar.


"Benar, kau mau menerima syaratnya?"


"Iya... Iya! Cepat, sekarang katakan syarat itu!"


"Kaki-mu sudah sembuh, kan?"


"Iya... Sudah! πŸ˜‘Kenapa?


"Bagus... "


"Apanya yang bag.... "


Kerta tak memberi kesempatan pada Sani untuk menyelesaikan kalimatnya. Secepat kilat, bibirnya sudah berkelana menyambar bibir merah Sani.


Dengan halus, Kerta ******* rakus bibir penuh itu. Sesekali ia juga mulai menyesap-nyesap seluruh bagian bibir Sani.


Semula Sani tersentak kaget saat Kerta tiba-tiba menyerangnya dengan sebuah ciuman yang tidak ia duga. Namun begitu paham situasi-nya, Sani pun mulai membalas cumbuan itu. Sesekali juga, Sani nampak memainkan kumis tipis Kerta dengan ujung hidungnya.


Dan terjadi lagi, adegan bercumbu yang panas antara Kerta dan Sani. Entah berapa lama bibir mereka saling menempel dan saling memainkan lidah di dalam sana. Kepala mereka maju-mundur nampak bergerak mengikuti irama.


Beberapa saat kemudian, Kerta mulai melepaskan ciumannya dari bibir Sani. Di pandanginya wajah merah Sani yang kini menatap lembut ke dalam matanya.


"San, kau cantik sekali!"


Kerta memuji Sani, dengan mata yang masih mengawasi wajah cantik itu.


"Bukannya perempuan yang kau bela tadi pagi lebih cantik?" πŸ˜‘


"Siapa maksudmu?"


"Siapa lagi memang? Itu, perempuan centil yang memanggil-manggil mas dengan sebutan, Akang?!"πŸ˜’


"Ah... Kau cemburu pada Dasimah? Jadi itu alasan kau mengunci kamarmu seharian, hm?"


"Iih... Cemburu apanya? Kenapa juga aku harus cemburu pada perempuan gila seperti dia."


"Hahaha... Lagipula buat apa kau cemburu pada Imah? Dia hanya teman yang sudah mas anggap adik sendiri... "


"Terserah... πŸ˜’"


"Jangan cemburu padanya, ya?"


"πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘"


"Lihat mas, sekarang... "


"Hhmmm? "


"Sani? Ayolah, lihat kesini sebentar saja..."


"Sudahlah mas, ngomong saja langsung. Tidak di lihat juga tidak masalah, kan?"


"Sani.... Sebentaaaar saja! Lihat ke arah mas, ya?"


"Hmmmm... πŸ˜’"


Kerta menarik dagu Sani mendekat. Ia melakukannya supaya bisa melihat sesuatu pada mata Sani lebih dalam .


"Aku suka kau cemburu. Tapi sepertinya itu tidak perlu! Apalagi jika harus cemburu pada Imah, itu menggelikan... "πŸ˜‚


"Memangnya kenapa bisa geli?"


"Ah... Kau ini.πŸ˜„πŸ˜„ Masak begitu saja tidak paham?"

__ADS_1


"Sudahlah mas... Bicara saja sekarang! Jangan terbelit-belit dari tadi!"


"Kau belum paham juga dari tadi ya? hm? " ucapnya lembut, dengan sedikit penegasan.


"Sani.... Bagaimana mungkin, aku akan melirik perempuan lain lagi? Di sisiku sudah ada kau, kan? Dan, tak mungkin lagi aku bisa mencintai perempuan lain selain dirimu... " Pungkasnya mantap.


Blussshhh....


😳😳😳😳😳


Tiba-tiba Sani merasa panas di kedua pipinya!


Apakah laki-laki ini, baru saja membual padanya?


"Entah berapa kali aku sudah jatuh cinta padamu, San! Setiap hari yang kulalui denganmu adalah... "


"Benarkah?" potong Sani


Ia sengaja memotong kalimat Kerta sambil memasang ekspresi seolah tak percaya.


"Apa mas terlihat seperti sedang berbohong,


sekarang? "


Sani mengedik-kan kedua bahunya seolah berkata 'entahlah?'


"Mas tak tahu harus bagaimana untuk membuatmu percaya..."


"Dasar pembohong... πŸ˜„"


"Kau mau bukti? "


"Heem, mungkin.... πŸ˜†"


Setelah lama menatap kedua mata Sani, kini Kerta sudah menempatkan tangannya pada kedua bahu Sani. Pelan, ia mulai mendorong tubuh Sani mundur ke atas ranjang. Matanya tak pernah lepas, terus saja memandangi wajah cantik di depannya itu.


Satu per-satu, Kerta mulai membuka kancing pada baju yang Sani kenakan. Sesekali mereka saling memagut di antara suara nafas yang saling memburu.


Setelah melakukan pemanasan yang cukup, kini Kerta mulai intens melakukan penyerangan! Pakaian yang mereka kenakan-pun sudah bertebaran di mana-mana.


Mereka sudah siap untuk bertempur!


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sani terbangun setelah mendengar suara kokok ayam yang saling bersahutan. Matanya menatap wajah tampan Kerta yang terlelap sambil memeluk hangat tubuhnya.


Tubuhnya terasa lengket dan....


Awwh! 😨


Hampir saja ia memekik kaget. Sani mendapati dirinya terbangun tanpa sehelai benang-pun yang menutupi tubuhnya.


Dasar Gila!


Apa saja yang sudah ku lakukan semalam?


Sani mengingat adegan panas semalam yang telah ia lewati bersama Kerta. Ia merasa malu setiap ingat akan desahan panjangnya. Merasa geli, membayangkan setiap tubuh mereka saling bersatu dan bergerak naik turun.


Bisa-bisanya, ia melakukan hal itu dengan laki-laki yang baru di kenalnya beberapa hari saja? Ya...meskipun secara teknis, laki-laki itu adalah suaminya.


Tapi tetap saja... berhubungan badan dengan laki-laki yang belum di cintainya? Oh, tidak! Hal itu adalah sesuatu yang sangat aneh bagi dirinya.


Ia akui, Kerta adalah sosok seorang suami yang sangat baik. Dia perhatian, pengertian, mempunyai status sosial yang baik, dan Kerta juga... Tampan!


Ya, ketampanan adalah pilihan yang tak pernah luput di penilaian mata para perempuan.


Tapi jika di tanya apakah Sani mencintainya?

__ADS_1


Entahlah... Itu sedikit rumit untuk saat ini.


"Hai... Kau sudah bangun?"


Sani terlalu lama melamun, sampai tak sadar bahwa sosok tampan yang mendekapnya sudah terbangun dan sedang memandanginya.


"Aah... Kkaau.. Eh maksudku, sejak kapan mas sudah bangun?"😧


"Emm... Baru saja"


"Lalu, tunggu apalagi? Cepat singkirkan tangan berat ini... "


"Hehehe, tangan mas berat ya?"


Sani mengangguk.


"Tapi mas masih mau lagi. "


"Aap... Aapaa? Mau apa? "


"Yaa... itu! Emmmm, melakukan seperti yang semalam lagi. Boleh, ya?"


"Tidak! πŸ˜„ Ini sudah pagi, mas!"


"Yaaaaah, sekali lagi ya?"


"Tidak, Aku mau mandi... "πŸ˜“


"Sebentar saja, oke? "


"Tidak mau! Sana minggir..."


Sani berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Kerta. Tangannya yang kecil nampak kesulitan memindahkan tangan kekar Kerta yang penuh otot.


Ggrruueelll!


Aaahhh? 😱😱😰


Sani tak sengaja membuat tangan kekar itu menyerempet kedua gunung di dadanya!


Seperti di berikan sebuah sinyal, Kerta segera bertindak aktif pada kedua benda itu. Dengan pelan, kedua tangannya mulai bermain di atasnya.


"Awh, apa yang mas lakukan?"


"Bukan apa-apa! Hanya sedang membangunkan singa betina... "


"Hah?"


😱


😱


😱


Bibir mereka kembali bertemu untuk beberapa saat. Dan ciuman demi ciuman-pun kembali di bubuhkan di mana-mana.


Sani yang sudah ketagihan, kini tak lagi malu-malu untuk melanjutkan permainan yang di mulai Kerta. Dengan cepat, ia memutar posisi dan bertindak sebagai pemimpin.


"Sekarang mas harus bertanggung jawab! Beraninya, mas membangunkan singa betina yang sedang tidur, heh?!"


Kerta tersenyum menang, merasa berhasil membuat singa betina-nya kembali siap bertarung!


"Okee.... Siapa takut?" Tantangnya mantap!


Dan mereka pun mulai bertarung kembali! Mengulang pertarungan heboh semalam, yang berjalan dengan sengitnya!


Saling peluk, saling cumbu, hingga mereka sama-sama ambruk, dengan tubuh yang menyatu!

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2