SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Tertangkap!


__ADS_3

Dap... Dap... Dap...


Sekelebat bayangan terlihat melesat di antara kegelapan malam. Sosok itu memakai setelan baju kebaya lengkap dengan sanggul kecil yang melengkung di atas kepalanya.


"Sedikit lagi.... " Bisik sosok itu di sela-sela nafasnya yang mulai terengah.


Ia terus berlari sekencang angin menembus semak-semak yang dingin di sepanjang jalan yang ia lewati. Sesekali ia menolehkan kepalanya untuk memeriksa apakah para komplotan bertopeng itu masih terus mengejar di belakangnya?


"Hei, itu dia disana!" seru salah satu anggota bertopeng tiba-tiba dari arah belakang.


Terlihat di sana seorang laki-laki kurus yang menunjuk ke arahnya di ikuti dengan lima belas orang lainnya. Mereka semua beramai-ramai melakukan pengejaran dengan tangan di atas, mengacungkan clurit tajam ke arahnya. Tanpa pikir panjang lagi ia semakin memperlebar jangka kakinya dan menjauh secepat angin dan menghilang di balik pepohonan yang besar.


"Kurang ajar! Perempuan itu larinya kencang juga. Aku sampai ngos-ngosan seperti ini hanya karena mengejarnya." Dengus pemimpin komplotan kesal karena targetnya lolos dari pandangan.


"Kau benar! Ternyata Kerta tak pernah main-main saat memilih seorang istri. Aku sudah tak sabar untuk segera menangkapnya sekarang juga!"


Dua orang yang sejak tadi memimpin di depan itu kini mulai kembali melanjutkan pengejaran di ikuti yang lainnya di belakang. Mereka juga ikut menerobos pepohonan besar yang telah meninggalkan jejak sosok perempuan yang mereka lihat tadi.


Dap... Dap... Dap....! Mereka masih berkejaran seperti kawanan singa lapar yang tengah memburu seekor rusa yang gesit. Keduanya sama-sama tak ingin menyerah untuk memperoleh tujuan masing-masing.


Namun berlari di antara kegelapan malam bukanlah sesuatu yang mudah. Selain jarak pandangan yang terbatas, sosok perempuan yang mereka kejar itu mempunyai seni berlari yang amat unik.


Kakinya sangat lincah saat melambung tinggi di antara jarik sepanjang lututnya yang ketat. Gerakan tangan yang ia pilih nampak sangat berbobot untuk menambah kecepatan larinya menjadi maksimal.


Ia berlari secepat angin seolah tubuhnya bisa membelah dedaunan lebat di sekitarnya. Langkahnya terlihat sangat ringan seolah tubuh itu kini sedang melayang, bukannya berlari.


Kecepatannya tak mungkin tertandingi oleh kelompok bertopeng itu. Pemimpin komplotan mulai menyadari bahwa ia dan komplotannya tak mungkin berhasil untuk menyusul. Ia tak punya cara lain selain menggunakan senjata yang ia punya, dan berinisiatif untuk melemparkan clurit itu pada sasarannya.


Ia mencari waktu dan celah yang tepat untuk melancarkan serangannya. Begitu ia mendapatkan peluang itu, ia mulai mengambil ancang-ancang untuk bersiap membidik targetnya tanpa meleset.


Dengan gusar ia ayunkan clurit di tangannya sebelum berakhir menancap di atas betis sosok perempuan di depannya. Seketika tubuh itu tersungkur menghantam tanah begitu darah segar memuncrat dari balik jarik yang ia kenakan.


"Haa... Haa... Haa... Akhirnya nyimas menyerah juga, kan?" tawa pemimpin komplotan itu menggema dalam kegelapan malam.


"Nyimas sudah membuat kami semua repot dengan main kejar-kejaran sejak tadi. Saya sangat tersanjung ternyata si Kerta memiliki istri yang sangat lincah dan bisa berlari secepat angin begini. Benar-benar mengejutkan!" sambungnya dengan nada mengejek.


Orang yang sejak tadi bertindak sebagai kepala pemimpin komplotan itu mulai maju mendekati lawannya yang sudah tak berkutik di hadapannya. Orang itu tersenyum puas ketika melihat darah yang bercucuran deras dari kaki sosok yang masih nampak tenang di depannya.

__ADS_1


Perlahan sang pemimpin maju mendekat ke arah buruannya di ikuti oleh semua koloni yang ia bawa. Ia ingin segera meringkus sosok perempuan di depannya itu supaya ia bisa menyelesaikan pengejaran ini secepatnya.


Tangannya kini mulai menggapai bahu kurus si pemilik langkah secepat angin itu. Di cengkeramnya kuat bahu itu lalu menarik dengan keras ke belakang supaya ia bisa melihat wajah kesakitan darinya.


Namun ternyata dugaannya meleset! Sosok yang telah ia lumpuhkan itu tidak sedang meringis kesakitan atau memasang wajah takut seperti dugaannya. Di sana ia hanya melihat seringai dari sosok yang...


"Aaapp.... Appaaa? Ini tidak mungkin..."


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Brakkkk!!! Brakkk!!


Setelah semua persiapannya lengkap kini ia berjalan mendekat ke arah ranjang tempat tubuh Kerta terbaring. Kakinya di tekuk untuk berjongkok di sisi ranjang itu sambil menunduk dan merapal sesuatu. Terlihat mulutnya sedang komat-kamit membaca doa dalam logat bahasa jawa yang kental dan kuno.


"Sing bejo sing kuoso. Mugo fengeran ngirim bolo tenogo kang digdoyo. Mugo fengeran paring kamenangan marang sopo wonge kang becik lakune." Pungkasnya di akhir doa yang ia rapal.


*Yang beruntung yang berkuasa. Semoga tuhan mengirimkan bantuan tenaga yang maha dahsyat dan sakti. Semoga tuhan memberikan kemenangan pada mereka yang baik.


Setelah menyelesaikan doa singkatnya itu Sena segera bangkit dan mulai mematikan lampu-lampu teplok satu-persatu. Seketika ia membuat suasana dalam kamar itu menjadi mencekam karena kegelapan.


"Brrruuuaakkkkkk!"


Suara keras dari gebrakan pintu kayu itu berhasil merobohkan lemari yang menjadi penahannya. Para penyerang itu berhasil mendobrak pintu dan menerobos masuk ke dalam kamar yang gelap tanpa penerangan sedikitpun.


Dalam kegelapan itu enam sosok laki-laki bertopeng masuk mengendap-endap menjelajah setiap sudut kamar. Mereka semua sama sekali tak menyadari bahwa sepasang mata telah memerhatikan gerak-gerik mereka sejak tadi.


Pemilik sepasang mata itu lalu mengendap-endap menyelinap di balik tirai jendela yang panjang menjuntai. Ia berdiri menyembunyikan dirinya disana sambil menunggu peluang yang tepat untuk mengambil langkah selanjutnya.

__ADS_1


Seorang laki-laki yang bertubuh paling kekar nampak maju mendekat ke arah ranjang tempat Kerta di baringkan. Di depan tubuh Kerta yang hanya diam itu ia berkacak pinggang sambil memasang seringai pada Kerta.


"Tak ku sangka ternyata ketangguhanmu yang terkenal itu hanya sebatas ini saja. Bisa-bisanya kau tumbang sampai sedemikian parah hanya dengan satu kali duel denganku, hahahahaha... " Ejek sosok itu di iringi dengan tawa keras yang bergaung di seisi kamar.


Lima orang sisanya-pun ikut terbahak keras mendengar ejekan yang terlontar untuk Kerta. Mereka semua seakan setuju dengan pernyataan yang mereka dengar atas kekalahan orang yang ilmu bela dirinya tersohor di segala penjuru itu.


"Sekarang, semua dendamku akan terpenuhi dengan kematianmu dan istrimu. Aku akan memutus tali keturunan dari orang yang telah menghabisi keluargaku! Aku tak akan buang-buang waktu dan kesempatan lagi sekarang. Karena malam ini, aku akan.... "


"Bbuugghh!! Bbbuhhggg!! Bbuughh!!"


Sosok kekar itu langsung gusar begitu mendengar suara gaduh dari belakang. Suara-suara itu sangat mengganggu sampai ia harus memotong kalimatnya yang sedang berapi-api.


"Buughhh! Buughhh! Buugh!" suara gaduh itu kembali terden


"Kurang ajar! Kenapa kalian berisik sekali di belakang sana, heh?!!" teriaknya lantang tanpa membalikkan badannya sedikitpun.


"Kenapa diam saja?! Ayo cepat jawab! Siapa tadi yang membuat keributan di sana?"


Namun sedikitpun tak ada sahutan ataupun jawaban dari komplotan yang berdiri di belakangnya. Ia hanya mendengar suaranya sendiri yang masih bergaung di dalam kamar itu.


"Kalian mau mati, heh! Ayo jawab siapa pela.... "


Dan ia-pun terkejut saat mendapati empat orang temannya sudah tergeletak di atas lantai begitu ia membalikkan badannya. Mereka semua tak sadarkan diri kecuali seorang temannya yang masih berdiri dengan ujung keris di depan lehernya.


Temannya itu berdiri dengan sosok seorang laki-laki yang meringkus badannya dan mengarahkan ujung keris pada leher temannya. Topeng kayu yang sejak tadi ia pakai juga sudah terlepas dan menampakkan guratan wajah takut yang jelas.


"Aku!!! Akulah orang yang membuat semua kekacauan ini!" seringai Sena sambil menggenggam erat keris tajamnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2