SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Di ujung cambuk


__ADS_3

"Tidaaakk! Lepaskan aku!" pekik Sani sambil terus meronta-ronta dari tindihan tubuh si laki-laki mesum itu.


Bukannya menurut, namun laki-laki itu semakin menjadi dan mulai bertindak lebih agresif untuk 'menyerang' Sani. Tanpa permisi ia mulai memainkan lidahnya naik-turun di sekujur leher jenjang Sani yang mulus.


Sani mulai merasakan sengatan-sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya. Perlakuan laki-laki itu membuat Sani merasakan sensasi 'setrum' yang membuatnya merasa semakin jijik.


"Aawh! Hhhh... Lee... Llepaskan aaku, " gumam Sani terbata-bata.


Permainan lidah yang semula teratur itu kini mulai berubah menjadi semakin beringas dan kasar. Ia tak segan-segan menggigit di beberapa bagian saat Sani terus memberontak dari tubuh besarnya.


Puas dengan gigitan-gigitan kecil itu, bibirnya mulai turun untuk 'menjarah' dua gundukan Sani yang membusung di atas dada. Laki-laki itu lalu menciumi hamparan gunung kembar yang masih terbungkus rapi di balik baju kebaya-nya.


"Aaaapp... Aapa yang kau lakukan? Dasar kurang aj... "


Pllaakk! Tamparan kasar mendarat sempurna di atas pipi Sani yang halus. Tamparan itu meninggalkan bekas lebam dengan darah yang merembes dari sudut bibirnya yang merah.


"Dasar perempuan si*l*n! Beraninya kau mengumpatku?!" geram si laki-laki kurang ajar dengan nada bicara yang tinggi.


"Biadab! Kau pikir aku ini perempuan yang bagaimana, heh? Seenaknya saja kau berusaha melecehkanku dengan nafsu bejadmu itu! Kau pikir aku akan diam sa... Jj... Khhekk, hheekk... "


Suara Sani langsung terputus saat tangan besar laki-laki kurang ajar itu tiba-tiba saja 'mencekik' lehernya. Rasa sesak mulai memenuhi seluruh rongga dadanya yang kehabisan oksigen. Sedang tubuhnya terus berusaha untuk lolos dengan kedua tangan yang sesekali mencakari punggung laki-laki besar itu.


"Dasar perempuan sampah! Beraninya kau berbicara kasar dengan orang yang berusaha membantumu?" umpatnya pada Sani dengan mata melotot tajam.


"Tto... Tollo.. Ng, lepa.. Sskkaa... Khekk... Kheek..."


"Sekarang kau baru minta tolong, ha? Padahal sejak tadi kau sangat sombong dengan sikapmu yang sok jual mahal itu! Tapi aku sudah tak peduli, aku akan menghabisimu sekarang juga!"


"Kkhheek... Khhekk... "


"Hahahahaha.... Aku senang sekali bisa mendapatkan kesempatan untuk menghabisimu nyimas! Lagipula sebentar lagi suamimu itu juga akan segera menyusul, bukan? Jadi terima saja ajalmu dengan tena..."


Jjlleebb!!


Cairan merah langsung merembes setelah sebuah benda tajam berhasil merobek permukaan kulit dengan 'hujaman'-nya yang mematikan. Benda itu menancap lurus tepat di atas jantung yang menjadi sasaran empuk, jika ingin menghabisi nyawa seseorang dengan cepat.


Sani merasakan tangannya gemetar dengan darah hitam yang mengalir deras di kedua tangannya. Lidahnya terasa kelu dan dingin dengan bibir pucat yang bergetar hebat.


"Kkaa... Kkaauu, bbaa... Bgaimana mung... Kkin?" bisik suara berat itu dengan dadanya yang terlihat basah oleh darah.


Tubuhnya di dorong dengan kasar setelah ia mengalami kejang karena mulai kehabisan darah. Nafasnya tersengal-sengal dan mulai hilang di ikuti dengan mata yang perlahan mulai terpejam rapat.


"Maa... Maafkan aku! Taa... Tapi aku terpaksa melakukannya... " Balas Sani gugup dengan rasa bersalah yang terbaca dari nada bicaranya.

__ADS_1


Sulit di percaya bahwa dirinya baru saja menghabisi nyawa seseorang yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak punya cara lain untuk membebaskan nyawanya sendiri selain menghujamkan keris kecil pemberian Sena itu.


Setelah cukup waktu baginya untuk menenangkan diri, Sani memulai lagi misi pentingnya meski dengan tubuh gemetar. Ia tak boleh buang-buang waktu lagi. Ia harus berhasil dan membuat rencananya berjalan lancar.


Dan Sani, pun mulai mengendap-endap lagi meninggalkan jasad si laki-laki besar yang kini tak akan bisa lagi menghalangi rencananya.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Tunggu kacung, apakah ada hal atau pesan yang ingin kau bicarakan denganku? Karena sepertinya, aku mendengar kau menggumam tak jelas sejak tadi." Hardik ki Marja dengan nada bicara yang terdengar di buat-buat.


Dengan kasar ki Marja membalikkan tubuh Sena yang mulai rapuh, lalu berjongkok di atasnya. Ia tersenyum puas dan terlihat sedang asyik mengamati wajah Sena dengan seksama.


"Ternyata kau memiliki wajah yang tampan, ya? Hhmm... Sayang sekali! Padahal kalau kau tidak terlalu lancang ikut campur dalam urusanku, kau bisa saja mendapatkan para gadis bangsawan untuk membuatmu menjadi kaya. Bahkan tidak hanya satu, kurasa kau bisa memilih mereka semua dan menggilirnya sesuka hatimu, hahahhaha... "


"Bukan main? Sudah mau mati sekalipun kau masih bersikap sok, ya? Lumayan juga keberanianmu itu. Baiklah kalau begitu, tapi untuk yang terakhir kalinya aku ingin menawarkan kesempatan itu lagi padamu! Jadi, apakah kau mau bergabung dan ikut denganku? Jika tetap disini, kau akan selamanya menjadi kacungnya si Kerta yang payah itu. Namun jika kau ikut denganku... "


Ki Marja sengaja menghentikan kalimatnya untuk memeriksa ekspresi wajah Sena. Ia masih berharap agar Sena mau menerima tawarannya dan menjadi orang yang bisa di andalkan.


"Aku bisa memberimu kekuasaan dan membuatmu menjadi pendekar hebat!" pungkas ki Marja mantap.


Satu...


Dua...


Tiga...


"Hhaaahhaaa... Haahaaahaha... "


Diluar dugaan, Sena justru membalas tawaran ki Marja yang menggiurkan dengan tawa keras yang pecah. Tawanya seakan memberi arti bahwa dirinya sama sekali tak tertarik dengan kemurahan hati ki Marja.


"Kau sombong juga, ternyata? Yaaahhh... Sayang sekali! Baiklah kalau mau-mu begitu. Aku tak punya pilihan lain selain mengabulkannya, bukan?


Jpllaaasshhh!

__ADS_1


Suara cambuk ki Marja yang menggelegar baru saja berdengung di seluruh ruangan. Dalam genggaman tangan besarnya yang kokoh itu ia terus mengarahkan ujung cambuknya di atas tubuh Sena yang mulai kehabisan tenaga.


"Maafkan aku, kang! Aku tak bisa menepati janji yang telah kubuat sendiri... " Gumamnya lirih, di sela suara cambuk yang masih 'menyebet' kulitnya.


Terbayang beberapa kilasan peristiwa yang samar-samar memenuhi ingatannya tentang kebersamaannya bersama Kerta. Bagaimana mungkin ia bisa berkhianat pada orang yang sudah sangat berjasa di dalam hidupnya itu?


Sosok Kerta di matanya adalah seorang sahabat sekaligus kakak terbaik yang pernah ia miliki. Kerta selalu menjadi penyelamat pada setiap masalah hidup yang di alaminya. Selama ini ia merasa tak bisa membalas semua kebaikan itu selain dengan kesetiaannya. Dan sampai kapanpun ia tak akan pernah sudi untuk menukar hal tersebut pada siapapun.


Demikianlah janji dan sumpah yang telah ia buat sendiri sebagai balasan ketulusannya pada Kerta. Sena rela mempertaruhkan semua yang di milikinya, termasuk nyawa dan cinta pertamanya sekalipun.


"Dduuaaghh! Bughh!" bunyi debam tubuh Sena setelah ki Marja melentangkan posisinya dengan tendangan keras.


"Bagaimana? Apa kau sudah berubah pikiran?" tawar ki Marja untuk yang ke-sekian kalinya pada Sena yang hampir sekarat itu.


"Tidak akan! Aku tidak akan pernah melakukannya!" sahut Sena tak gentar dengan bibir yang di bentuk menjadi senyuman sinis.


"Hah! Dasar keras kepala! Baiklah, kalau itu memang mau-mu. Tapi itu berarti kau harus menerima ajal yang telah kau buang sia-sia ini sekarang juga."


"Lakukan! Aku akan menerimanya dengan sukacita."


Sena melihat sosok garang ki Marja sudah bersiap menghabisi nyawanya dengan tangan mengacungkan cambuk. Ia tak akan menyesal jika hidupnya harus berakhir seperti ini. Perlahan ia memejamkan matanya setelah menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Ya, inilah saatnya ia harus berpisah dengan kehidupan di dunia fana ini.


"Lakukan sekarang! Aku sudah siap!" ucapnya tenang.


Tapi suasana tiba-tiba menjadi hening tanpa ada suara ataupun serangan mendadak untuknya. Dan hal ini membuatnya menjadi penasaran lalu memeriksa keadaan sekitar dengan membuka matanya kembali.


"Ha?"


Sena terkejut saat mendapati tali cambuk ki Marja tengah melilit lehernya sendiri. Seorang laki-laki bertubuh kekar nampak menahan tubuh ki Marja beserta cambuk yang masih melilitnya. Dan sosok itu masih melakukan gerakan mengunci tubuh lawannya dengan kuat dan kokoh. Samar, Sena lihat sosok dengan kumis tipis itu tersenyum ke arahnya.


"Kang Kerta?" gumam Sena tak percaya.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2