
Sani melotot jengkel melihat siapakah sosok tamu tak di undang yang kini juga membalas pelototannya dengan tajam. Sani di buat geram dengan perlakuan kasarnya saat tamu itu melempar piring bibik yang masih penuh dengan makanan.
"Jadi, inikah kelakuan bibik yang sebenarnya? Saya sungguh tak menyangka bibik berani melakukan hal semacam ini saat kang Kerta sedang tak di rumah. Dimana sopan santun bibik, hah?" cerocos tamu tak di undang itu dengan nada tinggi.
"Mma... Maafkan saya... " sahut bibik sambil menundukkan kepala ke bawah dengan suara bergetar menahan tangis.
Seorang perempuan cantik dengan rambut panjang tergerai tengah berkacak pinggang di depannya. Terlihat dengan jelas, ia adalah perempuan judas dengan bibir tipisnya.
"Bibik benar-benar tidak tahu malu. Mentang-mentang kang Kerta sedang tidak ada, bibik merasa bebas berbuat sesuka hati? Dasaar... " cecarnya ketus dengan tangan terangkat, bersiap untuk melayangkannya ke arah bibik.
"Hei... Hentikan!" seru Sani seketika seraya menahan tangan perempuan itu sebelum mendarat di pipi bibik.
"Kauu... " Dan perempuan itu kini beralih menatap Sani dengan mata menyala-nyala.
"Beraninya kau menghentikanku?"
"Iya, aku berani! Lagipula siapa yang kau bilang tak punya sopan santun di sini? Bukannya kau yang sudah tak sopan karena masuk rumah orang sembarangan?"
"Heh Sani, kau pikir dirimu siapa melarang-larangku masuk ke rumah ini? Aku-lah orang yang lebih dulu sering keluar-masuk rumah ini sebelum kau!"
"Ooh benarkah? Tapi setahuku ini rumah suamiku. Maka sekarang aku punya hak untuk berbuat apapun di dalam rumahku sebagai istrinya . Terserah, apa yang ingin aku lakukan. Kenapa kau yang repot?" bela Sani tak mau kalah.
"Aaapp... Aapa? Kurang ajar kau..." Sahut perempuan cantik itu dengan tangan kembali terangkat.
Plaaakkkk!!
"Hhwaaa!" pekik si perempuan histeris.
Sani berhasil menangkis dan balik menampar pipi perempuan itu dengan keras! Sani melakukannya degan cepat sebelum perempuan itu berhasil menampar pipi Sani terlebih dulu.
"Aawh... " Perempuan itu meringis kesakitan.
"Uuuuh... Sepertinya itu sakit? Mau aku tambah lagi?" tantang Sani gigih.
"Oo... Jadi sekarang kau berani juga melawanku ya?"
"Aku merasa tidak sedang melawanmu! Kau tahu, aku hanya membela diri sebelum kau berhasil menamparku tadi. Tidak salah, kan? "
Dengan mata merah perempuan itu tiba-tiba menyerang Sani seperti orang tak waras.
Ia menjambak rambut Sani dengan tangan yang mencengkeram kuat lengan Sani.
Rupanya Sani juga tak mau kalah. Ia kini menyerang balik dengan menjambak kuat rambut perempuan itu juga. Ia obrak-abrik rambut lawannya itu hingga menyerupai rambut seekor singa.
"Rasakan ini... Hm, rasakaaaan... "
"Tidak, kau yang rasakan ini, dasar perempuan gila... " Sani terus balik menyerang lawannya tanpa ampun.
"Aaawhh, rambutku! Dasar kau perempuan pungut kurang ajar. Berani-beraninya kau padaku? "
"Siapa yang kau sebut perempuan pungut kurang ajar, heh?! Sini kau... "
Dan keduanya-pun semakin bersemangat melakukan kompetisi 'penarikan rambut lawan' dengan semangatnya.
Sani dan perempuan itu masih terus beradu jambak tak ada yang mau kalah. Bibik yang mencoba melerai mereka berdua, justru malah jatuh terduduk di samping kaki meja makan yang mulai berantakan. Mereka terlalu asyik dengan adegan saling jambak hingga tak menyadari.....
"Berhenti, ada apa ini?" tegur suara bariton itu langsung membuat aktivitas mereka terhenti.
__ADS_1
Di ambang pintu ruang makan telah berdiri sosok gagah Kerta dengan raut heran menyaksika mereka berkelahi. Ia mematung memandangi mereka berdua yang sudah tak karu-karuan lagi rupa dan juga penampilannya. Baik Sani dan perempuan itu, kini mereka hanya saling melempar pandang penuh kebencian satu sama lain.
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀
Bibik membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran di bawah meja. Tangannya dengan lincah membereskan kekacauan di ruang makan itu. Sementara itu, Sani dan perempuan yang menjadi sumber permasalahan ini tepah di dudukkan oleh Kerta di ruang tamu.
"Sani, bisa kau jelaskan pada mas apa yang terjadi tadi?" ucap Kerta menuntut penjelasan.
Sani mengangguk lalu memulai ceritanya.
"Jadi mas, tadi saat aku dan bibik sedang menikmati mak... "
"Hikks... Hikss... Tadi istrimu kasar sekali padaku kang!! Padahal aku tak tahu salahku apa, tapi tiba-tiba dia menyerangku dengan agresif seperti yang kau lihat tadi.... Hikks... Hikss... " Potong si perempuan menyela cerita Sani.
Belum sempat Sani menyelesaikan kalimatnya. Perempuan itu justru menyela waktu bicaranya sambil menangis mencoba merebut simpati Kerta.
"Tapi mas, aku ta... "
"Tapi kang, karena Sani menarik rambutku dengan kuat, aku jadi membela diri dengan balik menarik rambutnya. Aku tak salah, kan? Hiks.... Hiks... "
"Hai, kau.... Bicaralah yang benar! Kau mau memutar-balikkan fakta ya?" bentak Sani jadi geram di buatnya.
"Kau lihat sendiri, kang? Dia bahkan membentak-bentak aku di depanmu? Hiks... Hiks... Aku sangat takut kang,... " sahut perempuan itu sambil pindah dari tempatnya semula dan berjalan mendekat pada tempat Kerta duduk. Ia meraih lengan Kerta, ber-akting seolah takut pada Sani.
Kerta segera melepaskan tangan perempuan itu, sebelum akhirnya pindah dan duduk di samping Sani. Dengan lembut Kerta mengusuk pelan punggung tangan Sani untuk menyalurkan perasaannya. Kerta sedikit memberi kesan bahwa:
Dirinya adalah laki-laki milik Sani, bukan milik perempuan itu.
Sani menoleh, memandangi Kerta yang duduk dan tersenyum tampan di sampingnya. Sani mengangguk seolah menjawab,
'ya... Aku tau...'
"Kang... kau jangan hanya diam saja. Cepat lakukanlah sesuatu sekarang...!"
"Imah dengar, karena aku sudah tau masalahnya, sekarang kau pulanglah dulu. Nanti aku akan berbicara pada Sani. "
"Aku tak mau pulang sebelum istrimu itu meminta maaf padaku kang! Karena disini, aku adalah pihak yang dirugikan.... "
Perempuan itu menuntut permintaan maaf Sani dengan memasang wajah cemberut.
"Baiklah kalau itu mau-mu. Sebagai suami Sani aku mewakilinya untuk meminta maaf padamu. Belakangan ini, Sani memang bersikap tak seperti biasanya. "
"Oh, benarkah? Apa sekarang Sani sudah menunujukkan sifat aslinya yang buruk, misalnya?"
Perempuan itu pura-pura menanyakannya, namun dengan memasang ekspresi yang menjengkelkan di mata Sani.
"Tidak Imah, bukan seperti itu. Jadi, saat ini ingatan Sani sedang bermasalah. Dan mungkin saja sikapnya hari ini adalah sesuatu yang tidak ia sengaja! Jadi, kuharap kau mengerti, Imah."
__ADS_1
Kerta sedikit berusaha menjadi penengah antara mereka berdua.
Sebenarnya Sani merasa dongkol mendengar suaminya meminta maaf! Namun ia mencoba menahan emosinya agar masalah ini cepat selesai dan perempuan itu segera pergi.
Menyebalkan!
"Sebenarnya aku prihatin mendengar kondisi istri akang! Tapi menurutku, hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk sikapnya tadi. "
"Lalu maumu sekarang bagaimana Imah?"
"Karena yang bersalah adalah Sani, kenapa harus akang yang meminta maaf padaku? Aku tak akan pernah menerima permintaan maaf yang tidak berasal dari si pemilik kesalahan... "
Perempuan itu menjawabnya dengan sinis.
"Kau pikir aku mau, heh? Jangan harap aku akan meminta maaf padamu! " Sani yang mencoba mengendalikan emosinya malah terpancing lagi.
"Kau lihat kang? Istri-mu itu? Sudah seperti orang yang tidak tahu sopan santun saja. Ucapannya sangat tidak pantas sebagai istri dari orang terpandang seperti akang."
"Imah, bicaramu keterlaluan....! "
"Ah akang, Imah ini hanya mengatakan yang sebenarnya. Sekarang saja istrimu sudah bersikap tak sopan padaku. Tunggu saja, nanti pasti dia akan berani berbuat kurang ajar pada akang juga."
Plaaakk!
Sani yang sudah tak sabar akhirnya berdiri dan menampar keras pipi perempuan itu.
"Kalau kau terus bicara omong kosong, jangan katakan di depanku! Kau tahu, aku bisa saja mencabikmu sekarang juga!"
"Ayo, cabik aku sekarang juga! Kau pikir aku akan takut hah? " jawab perempuan itu sambil tersenyum licik.
"Kauu... "
Sani kembali mengangkat kedua tangannya dan bersiap menyerang!
"Hentikan!" Suara lantang Kerta langsung mengurungkan niatnya. "San, kau ini kenapa?"
Sani menoleh dan menatap tajam pada Kerta. Seakan tak percaya bahwa Kerta baru saja mencegahnya membalas perempuan itu.
"Hah, serius kau sekarang membelanya?"
"Tidak San, bukan begitu maksud mas... "
Mata Sani tiba-tiba terasa perih tanpa ia tahu sebabnya. Rasanya seperti ada butiran air yang akan jatuh dari matanya sekarang juga.
Nafasnya terasa sesak dan tak teratur."Terserah! " pungkasnya dengan suara bergetar.
Brrakk!
Sani langsung meninggalkan ruang tamu dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1