SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Perasaan itu


__ADS_3

Hhhap!


Dengan sigap Sena menangkap tubuh Sani yang hampir saja jatuh di atas nyala api di depannya. Tangan kokoh itu berhasil mencegah kemungkinan buruk yang terjadi saat menyadari tubuh Sani yang oleng tadi.


Bluussshhhh!


Pipi Sani terasa panas ketika wajah mereka saling bertemu pada jarak yang sangat dekat sekali. Sekarang Sani bisa mengamati dengan jelas wajah tampan Sena yang terpampang nyata di ujung hidungnya.


Posisi mereka kini persis seperti adegan dalam film-film romantis yang sering ia tonton dari jaringan internetnya. Jantungnya berdebar kencang saat mata mereka saling bertemu dengan tubuh yang saling menempel satu sama lain.


Sani merasakan dekapan kuat Sena berubah menjadi sengatan-sengatan hangat listrik yang menyaluri seluruh tubuhnya. Ia seakan tersihir untuk terus membiarkan tubuhnya bermanja dalam pelukan laki-laki tampan itu.


Tanpa Sani sadari, Sena semakin mendekatkan wajahnya ke arah Sani. Laki-laki itu seakan punya keberanian untuk melakukan hal yang lebih pada Sani dengan niat menempelkan bibirnya di atas bibir Sani. Matanya menatap tajam tanpa berkedip ke arah bibir merah Sani yang merekah.


Satu....


Dua.....


Tig....


Wwwwuuss...!


Sani segera memalingkan wajahnya begitu ia menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tak mau menerima ciuman laki-laki lain di saat dirinya tahu tentang statusnya sebagai istri orang. Sani tahu bahwa itu adalah kesalahan meski dirinya hampir tergoda untuk menerima ciuman itu.


Sani segera melepaskan diri dari pelukan Sena dan mundur beberapa langkah untuk menghindari laki-laki itu.


Suasana langsung terasa canggung seketika.


"Aduuh....!" pekik Sani tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.


Sani segera memeriksa apa yang terjadi dengan ujung tangannya yang terasa panas seakan terbakar. Dengan jelas ia lihat dua jarinya melepuh saat ia ingat baru saja menyerempet nanangan panas di atas tungku.


Sena yang mengetahuinya segera menyambar kedua jari melepuh Sani dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia menyesap lembut jari itu untuk meredakan rasa terbakar di ujung jari mulus Sani.


Sani sedikit terkejut saat menerima pertolongan Sena yang membuat tubuhnya bergetar. Ia bisa merasakan hasrat anehnya tumbuh begitu lidah Sena berputar-putar di sekitar jemarinya.


"Sseee.... Sseeenaaahh!" bisiknya lirih, hampir tak ada suara yang terdengar dari mulutnya.


Tubuhnya terasa panas, bergejolak penuh api selama Sena terus menyesap kedua ujung jarinya. Lidahnya terasa kelu, tak bisa mengucapkan apapun untuk menghentikan aktivitas Sena yang semakin membuat hasrat dalam tubuhnya meronta.


"Hheee... Hheenntikaaan! Henntikan itu, Sena!" bunyi kalimat-kalimat itu terus saja tertahan di tenggorokannya tanpa ada sesuatu yang bisa lolos keluar dari dalam mulutnya.


.

__ADS_1


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sani tengah duduk di depan meja makan sambil terus menyendokkan makanan dengan jarak jeda yang sangat cepat ke dalam mulutnya. Tanpa banyak bicara seperti biasa, Sani seolah mengabaikan keberadaan Sena yang sejak tadi duduk di seberang meja makan untuk menemaninya.


Setelah kejadian di dapur tadi, mereka berdua hanya duduk dan saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Baik Sani maupun Sena, sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana untuk bisa mencairkan suasana yang terasa sedingin es ini.


Tanpa membutuhkan waktu lama lagi Sani segera menghabiskan isi piringnya sampai bersih tak tersisa. Tak lupa ia juga menenggak habis isi gelasnya yang sebelumnya sudah Sena persiapkan dengan baik di samping piring makanan-nya.


Setelah sesi makan dan minum itu berlalu dengan singkat, Sani langsung membereskan piring dan gelas kotornya dan meletakkan kedua alat makan itu di dapur.


Sani berjalan sesantai mungkin melewati Sena yang masih duduk dan terdiam di balik meja makan. Ia bersikap seolah tak melihat Sena yang sejak tadi terus menatapnya hampir tanpa berkedip sedikit-pun.


Sani segera mempercepat jalannya menuju ke kamar saat ia tahu Sena mengikutinya dari belakang. Sebisa mungkin untuk saat ini Sani ingin menghindari laki-laki itu setiap ia mengingat kejadian di dapur tadi.


Ia merasakan begitu banyak gejolak dalam dadanya secara bersamaan setiap kali Sena berada di sekitarnya. Sani tak mau bersikap curang dengan perhatian Sena padanya di saat kondisi Kerta seperti ini.


Mulai sekarang ia harus tahu, tentang apa dan seperti apa sikap yang harus ia tunjukkan pada laki-laki itu. Pesona Sena memang menggoda hatinya, namun perasaannya pada Kerta juga nyata tanpa paksa.


Dengan cepat Sena segera menarik tangan Sani yang hampir saja menggapai pintu kamar. Tangan kokohnya menahan kuat lengan Sani yang berusaha berontak dari genggaman Sena.


"Lepaskan, Sena! Apa yang kau lakukan?" tegur Sani ketus sambil terus berusaha untuk melepaskan tangannya dari Sena.


"Kau jangan berbuat kurang ajar Sena! Berhenti menahanku dan lepaskan tanganku sekarang juga!" seru Sani dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Tolong nyimas dengarkan penjelasan saya sebentar." Tawarnya memelas pada Sani.


"Tidak! Aku tidak mau mendengar apapun darimu sekarang! Aku tidak akan membiarkan kau berbuat hal yang kurang ajar lagi Sena! Mulai sekarang berhentilah membantuku dan jangan pernah berada di sekitarku lagi. Kau mengerti?" gertak Sani ketus dengan raut wajah yang nampak serius.


"Dengarkan saya, nyimas... Saya tadi hanya,"


Plaaakkkk!


Sani menampar keras pipi Sena sebelum laki-laki itu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Sani sendiri tak tahu mengapa ia harus se-marah ini pada Sena?


"Kubilang jangan berbuat kurang ajar lagi padaku, bukan?" tegas Sani mengulangi perintahnya.

__ADS_1


Perlahan-lahan Sena mulai melepaskan tangannya yang sejak tadi menahan Sani. Wajahnya tertunduk lesu menatap lantai yang diam membeku di sana.


Sani yang berhasil melepaskan dirinya kini kembali menggapai pintu kamar yang tertutup rapat. Tangannya baru saja memutar gagang pintu itu saat Sena menarik tubuhnya ke dalam pelukannya yang tak terduga.


Deg... Deg... Deg...


Irama jantung mereka saling berkejaran dalam kehangatan pelukan di antara dinginnya malam. Sena semakin memper-erat pelukannya seolah tak mau melepaskan Sani yang mulai terhanyut dalam dekapannya.


Sani semakin tak bisa mengendalikan perasaannya saat Sena mulai mengangkat dagunya dan mengecup bibir merah itu dengan lembut. Otaknya tak bisa berfikir jernih dan justru mulai membalas kecupan Sena yang mulai memburu.


Mereka berdua saling memagut di antara desahan nafas yang tak beraturan satu sama lain. Jauh di hatinya ia sangat menyesali perbuatannya saat ini. Namun rasa sesal itu tetap tak bisa menghentikan pagutan yang memanas di antara mereka.


Bibir merahnya ia biarkan di ***** habis dengan sesapan lembut dari lidah kenyal Sena. Perasaannya senang, namun entah mengapa kini air matanya justru saling berkejaran di atas pipinya?


Perlahan ia mulai mendorong pelan tubuh Sena untuk melepaskan ciuman yang penuh kegilaan di antara mereka berdua. Di depannya ia tatap mata sendu Sena dengan air mata yang masih deras membanjiri rasa bersalahnya.


"Kenapa kau lakukan ini kepadaku, Sena? Kenapa kau biarkan aku melakukan kesalahan ini denganmu? Kenapa Sena? Kenapa?" cecar Sani pada laki-laki itu di tengah tangisnya.


"Katakan Sena! Katakan kenapa....?" ceracaunya terus sambil memukul-mukul dada Sena yang masih memeluknya dengan erat.


Ccuuupp!


Sena mengecup pelan pipi Sani yang basah dengan air mata. Kedua tangannya kini sudah berada di sana untuk menyeka penyesalan Sani dengan lembut.


"Maafkan saya, nyimas! Saya juga tidak tahu mengapa hari ini saya tidak bisa menahan perasaan yang sudah saya sembunyikan dengan rapi selama tiga tahun ini? Maafkan saya karena hari ini sangat bodoh sekali... Maaf, nyimas... " bisik Sena pelan di telinga Sani.


"Kau bicara apa, Sena? Perasaan apa yang kau sembunyikan selama tiga tahun itu? Katakan, jangan membuatku bingung... " sahut Sani lirih di dalam pelukan Sena.


"Nyimas, dengarlah! Sebebarnya, aku dan nyimas tiga tahun yang lalu.... "


Bbrruuakkk... Brruaakkk... Brrakk!!


Tiba-tiba saja mereka mendengar suara gaduh saat Sena belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Suara itu terdengar jelas dari arah dapur seperti suara pintu kayu yang di buka secara paksa!


Bbrrruaakkk!!! Brrakk!


.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2