
Susana macam apa, ini?
Tiba-tiba saja Sani terjebak di antara perdebatan sengit antara ibu dan anak itu. Ia merasa tak nyaman mendengar kedua orang tersebut berselisih paham di depan Kerta yang masih tak berdaya.
"Eeehm.... Eehhhm!" Sani mencoba memotong perdebatan yang masih berlangsung itu, dengan berdehem pada tenggorokannya yang tidak gatal.
"Mmmm, bolehkah saya turut memberikan solusi untuk perdebatan kalian? Saya hanya tidak suka berada di tengah perdebatan panjang ini!" lanjut Sani kemudian.
Bibik yang semula nampak hampir meledak dengan amarahnya, seketika terlihat melunak begitu Sani melerai mereka. Sejak tadi bibik seakan lupa bahwa Sani masih di sana untuk mendengar dan menyaksikan mereka berseteru.
"Mmmaa... Mmaafkan saya, den putri. Saya tadi terlalu terbawa suasana karena Sena terus membantah ucapan saya." Sahut bibik menyesal, dengan wajah yang tertunduk ke bawah.
"Tidak apa bik, saya mengerti! Tapi lain kali tolong bibik lebih memerhatikan situasi yang ada sebelum memulai perdebatan. Saya hanya tidak suka kalian bertengkar di depan mas Kerta yang sedang sakit." Jelas Sani untuk menggambarkan sudut pandangnya pada bibik dan Sena saat ini.
"Sekali lagi kami minta maaf! Saya berjanji untuk mengingat nasihat den putri lain kali."
"Bagus! Sekarang lebih baik bibik pulang sesuai saran saya tadi. Dan untuk Sena, lebih baik kalian selesaikan pembicaraan kalian di luar. Saya hanya berharap bibik dan Sena bisa menyelesaikan perbincangan ini dengan baik."
Bibik mengangguk, dengan kepala yang masih tertunduk ke bawah. Jelas sekali, bibik sudah menyesali sikapnya tadi.
"Baiklah... Sekarang kalian berdua keluarlah! Saya mau menyeka tubuh mas Kerta sebelum air ini mulai dingin." Tutup Sani kemudian.
Lagi-lagi bibik hanya mengangguk dan meng-iyakan permintaan Sani dengan berjalan keluar di ikuti Sena di belakangnya.
"Tunggu Sena!" cegah Sani begitu ia lihat Sena hampir mencapai pintu kamar.
"Iya?" sahut Sena begitu ia membalikkan tubuhnya menghadap Sani.
"Ku harap kau tidak membuat bibik marah dengan membantah ucapan beliau lagi seperti tadi.
Aku tidak suka melihat sosok bibik yang begini. Sangat menyeramkan!"
ucap Sani serius.
Sena hanya tersenyum kecil, mendengar saran Sani yang terdengar lucu baginya.
"Baiklah nyi! Akan saya usahakan." Jawab Sena mantap.
"Dan sebaiknya... Sekarang kau ikut saja ajakan bibik untuk pulang dengannya. Kurasa itu solusi yang terbaik untuk saat ini!"
"Untuk yang satu ini, nanti akan saya pertimbangkan dan bicarakan dengan biyung di luar. Nyimas tidak usah khawatir. Saya sangat kenal biyung dengan baik. Sebentar lagi marahnya juga akan reda sendiri."
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
"Baiklah, aku percaya padamu Sena"
"Terimakasih. Kalau tidak ada lagi yang nyimas butuhkan, saya permisi ke belakang sekarang."
"Pergilah! Tapi usahakan untuk tidak membuat keributan seperti tadi."
Sena hanya membalasnya dengan anggukan, sambil memperlihatkan senyum mautnya sebelum menghilang di balik pintu kamar.
__ADS_1
Haduh... Lagi-lagi, senyum itu...
*
*
*
*
*
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Bibik Gandari berjalan dengan cepat menyusuri halaman depan rumah Kerta yang luas. Dadanya bergejolak ketika teringat kembali akan perdebatan sengit dengan putra semata wayangnya.
Tak jauh dari arah belakang, tampak Sena tengah mengejar bibik yang semakin mempercepat langkahnya. Sesekali ia memanggil-manggil ibunya itu, berharap supaya ibunya itu berhenti sebentar.
"Biyuuuung....!" panggil Sena setengah berteriak.
Sambil meneriaki ibunya, Sena terus berjalan dan menyusul bibik yang masih unggul di depannya. Ia turut mempercepat langkahnya, berusaha menyejajarkan dirinya di samping ibunya yang terlihat tak mempedulikan panggilannya.
"Biyung, tunggulah sebentar! Dengarlah dulu penjelasan Sena..."
Ulang Sena yang nampak belum jerah dengan usahanya.
Namun di sisi lain, bibik seperti sedang sengaja saja berpura-pura tidak mendengarkan panggilan putranya itu. Ia terus berjalan dan memper-cepat langkahnya di depan sana. Bibik tetap tak peduli dengan panggilan Sena, atau sekedar berhenti sejenak untuk menoleh putranya.
"Biyung... Tunggu sebentar!" seru Sena masih mencoba menghentikan langkah ibunya.
Sena akhirnya berhasil menghentikan bibik dengan bersimpuh seketika di depan kaki ibunya.
"Biyung, tolong maafkan Sena! Sungguh, Sena tak punya maksud lain disini... "
Bibik masih diam dengan membentuk gestur wajah tegas, menahan marah.
"Maaf jika Sena melakukan sesuatu yang salah di mata biyung"
Lagi-lagi bibik hanya diam saja.Seolah ia enggan untuk mengatakan, apa yang membuatnya bersikap demikian pada putranya itu?
Dadanya terlihat naik turun, dengan mata sembab yang membuat Sena semakin merasa bersalah.
"Dasar anak tidak tahu balas budi!" Kurang baik apa, kang Kerta padamu?" ucap bibik dengan suara yang bergetar.
Pandangannya lurus hanya menuju satu titik, yakni mata cantik Sena yang masih bersimpuh di hadapannya.
"Bisakah biyung jelaskan dimanakah letak kesalahan saya saat ini?" sahut Sena cepat.
"Kau kira aku lupa, dengan sesuatu antara kau dengan den putri dulu?"
"Tidak. Bukan begitu, biyung... "
"Ada apa dengan kau, Sena? Kenapa kau menanyakan hal semacam itu kepada den putri?
__ADS_1
Apakah sekarang kau ingin di ingat sebagai..."
"Tidak, biyun... " Potong Sena tak setuju dengan asumsi ibunya.
"Oh... Aku tahu. Pasti saat ini kau sedang mengambil kesempatan atas kondisi kakang-mu yang belum sadar juga. Betul?" lanjut bibik dengan intonasi suara yang mulai terdengar tinggi.
Sena mulai mengerti kemana arah pembicaraan yang akan di bahas selanjutnya. Sena menggeleng dan membalas tatapan ibunya dengan pasrah. Ia memberikan isyarat pada tatapannya dengan menolak tuduhan itu.
"Jawab Sena!" bentak bibik kemudian.
"Sena harus menjawab apa, biyung? Sementara Sena sendiri juga masih bingung, bagaimana biyung bisa menyimpulkan semuanya sampai seperti itu?"
"Lalu apa yang kau lakukan tadi, hah?! Memuji kecantikan den putri, lalu menanyakan ingatannya tentang kalian berdua? Apa itu tadi Sena?"
"Saya bertanya tanpa ada maksud lain, biyung. Sedikitpun di dalam hati, saya tidak pernah bermaksud mengambil kesempatan atas kondisi kang Kerta saat ini. Sungguh!"
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang juga!"
"Maaf, tapi Sena tidak bisa menurut pada permintaan biyung yang satu ini. Saya tidak mau mengambil resiko pada keselamatan kang Kerta dan nyimas Sani di sini."
"Lihat? Kau mulai lagi?"
Dada Sena tertahan, menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali menjelaskan kalimat selanjutnya pada bibik.
"Biyung... Sena tahu, dan sangat paham dengan kekhawatiran biyung sekarang. Namun ada hal penting yang harus kita utamakan selain itu semua!"
Bibik hanya diam, tak terlihat ingin menyahuti ucapan putranya.
"Saya ada di sana, saat kang Kerta tiba-tiba ambruk, dengan dua anak panah yang menembus dada dan perutnya. Pemilik senjata ini nampaknya sudah sangat mempertimbangkan lepasan anak panahnya, dan seberapa dalam-kah senjata itu akan melukai kang Kerta?"
Bibik masih tak bergeming.
"Sepertinya, musuh yang akang Kerta hadapi saat ini bukan orang biasa, biyung? Pelakunya pastilah orang yang sudah sangat terlatih dan berhati-hati dalam melakukan penyerangan!" lanjut Sena kemudian.
Bibik yang sejak tadi tak acuh padanya, nampak mulai menyimak penjelasan putranya tentang penyerangan tadi siang.
"Musuh kita saat ini seoalah sudah tahu dan memiliki banyak informasi tentang kelemahan kang Kerta, biyung. Dia bukan orang sembarangan." Pungkas Sena menggantung kalimatnya dan menunggu reaksi bibik selanjutnya.
"Lalu?" sahut bibik yang mulai menanggapi ucapannya karena penasaran.
"Jadi mungkin untuk sementara waktu, lebih baik Sena sering berjaga disini demi menghindari sesuatu yang tidak kita inginkan. Saya yakin biyung juga mengharapkan hal yang sama jika itu berhubungan dengan keselamatan kang Kerta, bukan?"
Perlahan Sena melihat mimik wajah bibik yang semula tegang karena emosinya, kini mulai melunak seperti biasanya. Ia hafal betul, jika ibunya sudah mengubah ekspresi wajahnya begini, pasti lebih mudah untuk menjelaskan situasi dan kondisi saat ini.
Sena bangkit dari posisi semula, dan berdiri menghadap ibunya.
"Jadi, biyung? Bolehkah malam ini Sena menginap?"
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀