SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Para tabib


__ADS_3

Spesial ucapan terimakasih:


Hai, semuanya...


Terimakasih atas dukungan dan doa kalian semua.


Terimakasih atas ucapan baik untuk meninggalnya saudara saya kemarin.


Saya banyak mendapatkan pesan bela sungkawa dari WA, sms, dan juga dari teman-teman di platform ini.


Saya tidak bisa menyebut kalian satu persatu! Pokoknya terimakasih!


.


.


.


.


πŸ‚πŸŒΏπŸπŸŒΌπŸŒΈπŸŒ·πŸŒΊπŸŒΎπŸ€πŸŒ³


"Den putri, bibik perhatikan dari tadi kok makanannya cuma di mainkan saja?" celetuk bibik tiba-tiba dari arah belakang.


Sani yang asyik melamun langsung terlonjak begitu ia mendengar teguran halus itu. Sejak tadi ia juga tidak sadar dengan perbuatan tangannya sendiri. Entah mengapa ia terus memainkan makanan lezat itu sambil bengong seperti orang bodoh?


"Bbbii... Bbbibik? Sejak kapan bibik berdiri di situ?" ucapnya terbata-bata saat melihat bibik sudah berdiri di sampingnya.


Bibik hanya tersenyum sambil melongok ke dalam piring Sani.


"Den putri ini bagaimana? Bibik sudah berdiri di sini sejak tadi kok! Den putri saja yang terlalu sibuk melamun sampai tidak sadar dengan kedatangan bibik." Jawab bibik lembut.


Sani sendiri hanya bisa nyengir tanpa komentar apapun. Ia merasa sungkan karena tertangkap sedang melamun di meja makan.


"Ada apa, den putri? Apa masakan bibik pagi ini tidak sesuai dengan selera den putri?" tanya bibik kemudian.


"Bibik ini bicara apa? Mana ada orang yang bisa menandingi kelezatan masakan bibik?"


"Ah... Den putri bisa saja...! Kalau memang masakan bibik selezat itu, kenapa den putri terlihat kurang menikmati makanan yang sudah saya siapkan?"


Lagi-lagi Sani hanya bisa nyengir tanpa tahu harus bagaimana untuk menjawab pertanyaan bibik. Ia tak mungkin memberi tahu bibik tentang sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini.


Sani tak bisa menceritakannya pada bibik karena ia tahu hal itu akan berpengaruh jelek pada mood bibik. Terakhir kali ia menyinggung-nyinggung nama Sena, suasana akan langsung berubah menjadi mencekam seketika.


"Den putri?" tegur bibik pelan.


"Iya, bik?"

__ADS_1


"Kok melamun lagi? Sebenarnya ada masalah apa? Bibik perhatikan sejak tadi sepertinya den putri sedang memikirkan sesuatu?" cecar bibik penasaran.


"Ah, bibik benar! Saat ini saya memang sedang terganggu dengan sesuatu! Tapi bibik tenang saja, karena masalah yang mengganggu pikiran saya ini bukanlah sesuatu yang penting kok!" Jawab Sani setenang mungkin.


"Tapi, den putri... "


Percakapan mereka seketika berhenti begitu Sani dan bibik melihat para tabib baru saja keluar dari dalam kamar. Tanpa komando, Sani segera menghampiri mereka yang kemudian di susul bibik di belakangnya.


"Jadi, bagaimana kondisi suami saya ki?" tanya Sani mulai memburu pada para tabib di sana.


"Nyimas tenang saja! Kami lihat luka serius di beberapa bagian tubuh dimas Kerta sudah tak perlu di khawatirkan lagi. Perkiraan saya, sekitar dua sampai tiga hari mendatang luka-nya sudah kering!" jelas seorang tabib yang terlihat paling sepuh di antara mereka.


"Baguslah kalau begitu! Tapi ki, kenapa sampai sekarang mas Kerta belum sadar juga?"


"Nyimas tidak perlu terlalu menghawatirkan hal itu! Jika kondisi tubuh dimas Kerta terus membaik seperti ini, hari ini juga beliau akan sadar! Kami tadi juga sudah membantu dengan menyalurkan tenaga dalam untuk mempercepat pemulihannya." Jelas tabib tersebut panjang lebar.


"Ah, jadi begitu?" sahut Sani sambil manggut-manggut paham.


"Oh ya.... Saran saya sebaiknya nyimas sering-sering mengompres beberapa bagian tubuh yang terlihat memar, guna memperlancar peredaran darahnya! Dan juga rasa hangat dari air kompresan-nya nanti akan merangsang suhu tubuh menjadi stabil."


"Baik ki, akan saya lakukan sesuai saran aki!"


"Nah nyimas, kalau tidak ada lagi sesuatu yang nyimas ingin ketahui, kami mau pamit undur diri sekarang. Karena tugas kami disini hari ini sudah selesai! Dan kami harus kembali ke istana untuk berjaga di sana. " Kata salah seorang tabib yang terlihat lebih muda dari yang lainnya.


"Ke istana?" ulang Sani tak percaya.


"Jadi, kalian ini... "


"Benar nyimas! Kami semua adalah tabib utama istana. Paduka raja-lah yang mengirim kami secara khusus untuk merawat dan menyembuhkan dimas Kerta!" Jawab tabib sepuh itu mantap.


Sani masih belum bisa percaya tentang penghormatan yang di berikan kerajaan pada suaminya. Sebenarnya, apa posisi Kerta di istana sampai ia di perhatikan paduka raja sampai seperti ini?


"Nyimas?" tegur seorang tabib yang menyadari tentang keterkejutan di wajah Sani.


"Ya ya, silahkan kalau begitu! Saya ucapkan banyak terimakasih pada aki sekalian atas kedatangannya hari ini. Saya sangat bersyukur, mas Kerta bisa di rawat oleh tabib-tabib yang bisa di andalkan dan sangat berpengalaman. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih!" seru Sani sambil membungkuk-kan punggung-nya sedikit, untuk memberi hormat pada mereka.


"Tidak perlu sungkan begitu, nyimas! Kami merasa terhormat sudah di tugaskan kemari untuk merawat dimas Kerta. Kami semua melakukannya dengan senang hati karena dimas Kerta adalah orang yang sangat baik." Imbuh aki tabib yang lainnya.


Sani hanya mengangguk sambil tersenyum bangga mendengar para tabib ini nampak memerhatikan Kerta dengan baik. Bahkan salah seorang dari mereka secara terang-terangan memuji-muji kebaikan Kerta secara langsung di depannya.


Para tabib itu lalu pergi setelah mengucapakan salam singkat pada Sani dan bibik. Mereka pergi meninggalkan kelegaan di hati Sani tentang kemajuan kondisi suaminya. Rasanya tak sabar menunggu laki-laki berkumis tipis itu bangun, dan kembali melihat Sani dengan tatapan cintanya seperti biasa.


.


.


.

__ADS_1


.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Matahari sudah meninggi saat Sani selesai mengelap dan mengompres tubuh Kerta dengan air hangat. Ia menyandarkan punggungnya ke atas sandaran kursi di sisi ranjang untuk melepas lelah sebentar.


Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang menampakkan jejeran genteng dengan reng bambu yang kokoh. Pikirannya kembali berkelana menjelajahi ingatan tentang percakapannya dengan Sena tadi pagi.


Sena bilang, beberapa pasukan khusus ahli mata-mata telah berhasil menyelidiki tentang penyerangan kedua yang akan mereka lakukan di rumah ini. Orang-orang itu nampaknya tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas menyerang rumah ini.


Mereka tahu rumah ini akan jauh dari kata aman dengan kondisi Kerta saat ini. Itulah mengapa sebabnya Sena bersikeras untuk tinggal di sini beberapa waktu demi menjaga keamanan dan keselamatan penghuni rumah.


"Tapi Sena, untuk apa orang-orang itu sampai melakukan penyerangan di rumah juga? Bukannya mereka sudah mencelakai mas Kerta sampai seperti itu? Lalu mau apalagi mereka ke rumah ini sekarang?" tanya Sani kemudian dengan nada jengkel.


"Nyimas belum mengerti, rupanya!" Sahut Sena dengan nada tinggi.


Sani terlihat agak terkejut dengan tanggapan Sena yang nampak berlebihan.


"Ada apa Sena? Apakah ada sesuatu yang salah dengan pertanyaanku tadi?" tanya Sani bingung.


Sena menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sani.


"Sejak awal niat ki Marjo bukan untuk mencelakai. Orang itu ingin menghabisi dan membunuh habis seluruh anggota keluarga ini, nyi!"


Sani hanya diam tak tahu harus bicara apa?


"Dan itu berarti... " Lagi-lagi Sena memberi jeda pada kalimatnya.


"Ada apa Sena?" buru Sani penasaran.


Sena nampak ragu-ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Kenapa kau diam saja, Sena? Katakan saja ada apa?"


"Itu berarti mereka kini mengincar nyimas untuk di musnahkan juga!"


Sani terperangah mendengar kalimat terakhir Sena. Lidahnya kelu tak bisa bergerak ataupun mengucapkan sepatah kata.


"Itu lah alasan mengapa malam ini kami sudah mempersiapkan sebuah rencana besar!" bisik Sena pelan menutup kalimat seramnya di telinga Sani.


.


.


.


.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2