
Sani mendapati dirinya berada di antara semak rimbun yang menutupi pandangannya. Ia mengenakan setelan baju kebaya berwarna ungu yang koyak di mana-mana.Ia merasa penampilannya sangat acak-adul saat ini.
Tubuh Sani menggigil ketakutan, diam bersembunyi di balik semak-semak itu.
Sebenarnya ia juga tak tahu bersembunyi dari siapa? Yang ia tahu, nenek menunjukkan tentang ingatan ini padanya.
😨
😨
😨
😨
😨
Sani mengintip dari balik celah dedaunan. Ia melihat sesosok laki-laki dengan tubuh besar berdiri di ujung jalan.
Laki-laki itu celingak-celinguk, seperti sedang mencari sesuatu.
Grrasaak...!
Sani hampir memekik kaget, saat seekor ulat bulu tiba-tiba jatuh di atas tengkuknya.
"Hahaha... Rupanya kau bersembunyi disana? "
Laki-laki itu tertawa dengan pandangannya yang tertuju ke arah persembunyian Sani.
""Hei kalian, cepat kemari! Aku sudah menemukannya! "
😰
😰
😰
Sani melihat empat orang bertubuh besar lainnya berlari menyusul.
Astaga....!
Ternyata laki-laki itu memanggil teman-temannya...
Laki-laki besar dan ke empat temannya itu memakai topeng yang menutupi sebagian wajah mereka. Mereka semua bertubuh besar dengan penampilan sangar seperti preman.
Tidak...! Bukan seperti preman. Mereka semua memakai baju tradisional yang sama dengan pakaiannya. Namun mereka memegang alat tajam seperti sekomplot bandit kejam.
"Mana perempuan si*l*n itu, heh?"
"Aku tadi melihat semak di ujung sana bergoyang-goyang seperti ada gerakan di dalamnya. Kurasa perempuan itu bersembunyi disana! "
"Kalau begitu Ayo! Apalagi yang kita tunggu? "
Sani gemetar melihat komplotan para bandit itu berlari mendekat menuju persembunyiannya.
'Gawat! Aku harus kabur!'??
😰
😰
😰
Dap... Dap... Dap...
Dengan cepat Sani melarikan diri begitu tempat persembunyiannya ketahuan.
Sani berlari sekuat tenaga menghindari kejaran orang-orang yang tak di kenalinya.
Ingatan macam apa ini?
Kenapa dirinya sampai berurusan dengan orang-orang seperti ini?
"Hei... Dia berlari di sebelah sana! "
Sial!
Salah satu di antara mereka menyadari keberadaan Sani.
'Aah... Entahlah!
Lari saja terus sekuat tenaga.'
Dap... Dap.... Dap....
Sani terus berlari sekencang-kencangnya menerobos kegelapan malam. Kakinya terasa sakit, berlarian tanpa menggunakan alas kaki.
"Berhenti kau perempuan si*l!"
Gawat! Mereka masih mengejar di belakang.
Hah... Sumpah!
Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang?
😩
😩
😩
😩
😩
Sani menambah kecepatan lari-nya. Ia terus berlari mengikuti jalan yang nampak tak ada ujungnya ini. Rasanya sudah tak sanggup lagi. Kakinya mulai kecapek-an.
__ADS_1
"Hei.... berhenti atau ku lempar kau dengan *celurit di tanganku...?"
(*celurit; senjata tajam tradisional)
Tidak!
Ia tak akan berhenti berlari seperti yang mereka katakan. Ia harus bisa lolos dari situasi ini lalu secepatnya mencari pertolongan.
Ah, itu disana...
Ia sudah dapat melihat kelap-kelip lampu pedesaan di depannya.
Sedikit lagi...
Ya, hanya sedikit lagi ia bisa berlari menuju desa itu dan mencari pertolongan disana.
Bbuuggh!
Sani tersungkur.
Ia mendapat pukulan keras di bagian belakang kepalanya. Seorang anggota komplotan itu berhasil meringkus paksa tubuhnya.
"Kau tangguh juga ternyata, heh? "
"Aaduh... Kepalaku... " Kepala Sani terasa berputar-putar.
Sani melihat laki-laki itu melotot tajam ke arahnya. Tangannya terlihat mengayun-ayunkan sepotong kayu yang cukup besar.
Rupanya kayu inilah yang ia gunakan untuk menghantam kepalanya.
Satu per-satu para bandit itu telah berhasil menyusul. Mereka semua nampak terengah-engah seakan hampir kehabisan nafas.
"Si*l*n...! Cepat juga lari-nya!"
"Iya... Beruntung kau bisa cepat menangkapnya. "
"Hei kalian jangan banyak omong saja. Ayo, cepat kita selesaikan pekerjaan kita!"
Dua orang lain sudah bersiaga memegangi tangan Sani dengan erat.
"Lepaskan aku! "Sani berusaha memberontak.
" Nyai, sebaiknya kau jangan banyak tingkah... "
"Lepaas....! " Sani masih mencoba memberontak sebisa mungkin.
"Heeh! Perempuan ini merepotkan juga ternyata? "
"Tenanglah nyai, kami ini tidak akan menyakitimu! Kami hanya sedang menjalankan tugas sambil mengajak nyai bersenang-senang ..."
"Hwahaha... Hahahhaa... "
Mereka menertawai Sani bersama.
"Aku tidak mau...! Cepat lepaskan aku! "
Laki-laki lainnya menampar keras pipi Sani. Sani meringis kesakitan. Sudut pipinya terasa sangat perih.
"Sudahlah nyai, berhenti saja melawan. Kami hanya ingin bersenang-senang sebentar saja dengan nyai... "
"Ciih... Aku tak sudi...! "
"Wah, nyai kita jual mahal sekali rupanya? Cepat kemarikan perempuan itu...! "
Dua orang laki-laki yang memeganginya sedari tadi mengoper Sani pada temannya.
"Tolooong....! " Teriak Sani meminta pertolongan.
"Hahahaha... Percuma nyai teriak-teriak seperti itu . Nyai mau minta tolong pada siapa di tengah hutan yang sepi begini?"
"Hahahaa Benar nyai! Tidak akan ada orang yang datang menolong.... Ayo,,, layani saja kami dengan tenang... "
Dengan kasar laki-laki itu mendorong mundur tubuh Sani. Tangan besarnya dengan cepat melucuti pakaian yang ia kenakan.
Beberapa saat kemudian laki-laki itu sudah bersiap di atas tubuh Sani yang sudah setengah telanjang. Ia menahan dan mencengkeram kuat bahu Sani.
Dengan kasar ia mulai melahap bibir merahnya. Laki-laki itu menggigit-gigit bibir Sani dengan rakus.
Ddduuaghh!
Sani berhasil dengan tepat menendang bagian tengah laki-laki itu. Ia menendangnya se-keras mungkin dan membuatnya mundur kesakitan.
"Aahh... Kurrang ajar.... "
Sani cepat berlari lagi begitu ada kesempatan. Ia mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk kabur dari mereka.
.
.
.
"Tolooonggg....!" Sani terus berlari dan berteriak-teriak minta tolong.
"Tolooooooooong.... "
Sani mengeraskan suaranya saat ia melihat sosok seorang laki-laki dari kejauhan yang nampak berlari ke arahnya.
"Sani.... "
Nah.. Itu dia!
Sosok itu memanggil namanya.
"Sani... ? Saaan.. "
__ADS_1
Ah, Sani mengenali suara itu.
Itu suaminya, Kerta.
😍😍😍😍
😍😍
.
.
.
.
.
Sani terus berlari menyongsong sosok yang di kenalnya itu. Ia merasa lega tak lagi mendengar suara derap kaki yang mengejarnya dari arah belakang. Hah.. Tentu saja, pasti para bandit itu sudah kabur!
Jjleeb...!
Tiba-tiba Sani merasa punggungnya di hantam oleh sesuatu. Benda itu sepertinya sebuah benda tajam yang menancap di atas punggungnya!
"Aah... Punggungku perih sekali"
Gerakan Sani mulai melambat. Ia merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Berangsur-angsur,badannya mulai terasa lemas tak bertenaga.
Sani meraba punggungnya yang terasa makin perih. Basah?
Ia memeriksa tangannya yang basah oleh cairan merah dari balik punggungnya. Ah... Itu darah.
😰
😰
😰
😰😰😰
"Sani... "
Ah.. itu dia Kerta. Ia sudah hampir berhasil mendekati Sani.
.
.
.
Kaki Sani sudah sangat lemas. Ia tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
"Tidak..." Kerta berlari menyongsong tubuh Sani yang nampak sempoyongan.
Ssrrrukkk!
Sani ambruk, tepat saat kerta berhasil menangkap tubuhnya.
"San... Apa yang terjadi? "
Samar-samar Sani melihat mata kerta memerah. Tangannya memeriksa punggung Sani dan mencabut sesuatu di sana.
"Aahh..... "
Sani kesakitan saat benda itu berhasil tercabut.
Kerta mengacungkan sebuah celurit yang berlumuran darah.
"San... Sadarlah... "
"Siapa yang melakukan ini San?... Katakan siapa... "
"Aaa... Aa.. Kku... "
Sani tak bisa mengeluarkan kata-katanya dengan benar. Terasa sakit sekali di punggungnya.
Matanya mulai terasa berat...
Perlahan pandangannya mulai kabur...
"Tidak Sani... Kumohon bertahanlah"
Sani melihat mata Kerta yang basah. Mata itu terlihat sangat tulus menatapnya. Hal itu membuat sesuatu di dadanya terasa sakit.
"Mmaa... Maa... Aaff... " Sani terbata-bata. Mata-nya terpejam lemah merasakan sakit yang luar biasa.
Tapi ia masih bisa mendengar suara Kerta memanggilnya untuk kembali.
"Kembalilah San. Kumohon kembalilah......"
"Sani.... Tolong jangan meninggalkanku seperti ini. Kumohon kembalilah.... "
"Kembali.... "
"Lah... "
.
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀