SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Lengah


__ADS_3

"Kemenangan itu hanyalah sebuah keberuntungan. Jika kau kalah di awal pertempuran, maka berdoalah untuk beruntung di akhir pertempuran."


SANSEKERTA, 2021


Sena masih unggul dalam posisinya saat ini. Ia sangat senang melihat kemarahan yang tersirat dari wajah bengis lawannya. Nasib orang itu masih terancam di ujung keris tajam Sena yang berjarak hanya lima senti dari pangkal lehernya.


"Bagaimana ki? Apa aki sudah menyerah?" gertak Sena pada sosok itu.


Sosok besar itu adalah ketua dari komplotan yang telah membuat kegaduhan di rumah ini. Otak dari penyerangan yang melibatkan orang-orangnya itu adalah ki Marja, musuh besar Kerta.


Ia dan orang-orangnya menyatroni seisi rumah Kerta dengan niat untuk menghancurkan serta menghabisi seluruh anggota keluarga Kerta. Ki Marja nekad melakukannya karena rasa dendam yang masih belum padam, meski bertahun-tahun lamanya.


Mengetahui kondisi Kerta yang menurut kabar sedang kritis, maka ia tak lagi menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melancarkan tujuannya. Namun semua rencana yang telah ia susun dengan baik itu menjadi berantakan oleh perlawanan balik Sena dan para prajurit pasukan khusus yang membantunya. Hal itu kian membuatnya geram, marah dan gusar bukan main!


"Saya tahu betul alasan aki sampai berbuat seperti ini pada kang Kerta dan keluarganya. Tapi menurut saya, tidak sepatutnya dendam yang aki simpan itu di tujukan pada...."


"Berisik! Kau jangan banyak cakap dan berlagak sok tahu saat bicara kepadaku. Memangnya kau siapa, heh?" potong ki Marja gusar.


Sena hanya menyunggingkan ujung bibirnya untuk menyambut kalimat ki Marja. Ia sampai geleng-geleng kepala mengetahui orang tua yang masih tangguh ini memiliki kepala sekeras batu. Sangat di sayangkan mengingat kemampuan beladiri yang di kuasainya hanya berakhir untuk sebuah dendam.


"Kurang ajar! Beraninya kau mengejek-ku?" hardik ki Marja marah.


"Ah, aki jangan terlalu berlebihan! Mana mungkin saya berani mengejek orang yang lebih tua dari saya?"


"Hai kacung, sebaiknya kau jangan merasa senang dulu. Asal kau tahu, aku masih belum menyerah begitu saja! Aku masih punya cukup tenaga untuk membuatmu terkapar sama seperti Kerta. Kau mau?"


"Sudahlah ki. Sebaiknya aki berhenti sekarang sebelum saya berubah pikiran dan menghunuskan ujung keris ini di leher aki. Sejak tadi saya sudah berusaha menjinakkan benda ini agar posisinya tetap seperti ini." Sahut Sena mulai terpancing.


"Kau pikir aku takut, hah? Coba saja hunuskan sesuai kehendakmu kalau kau bisa." Tantang ki Marja tanpa ekspresi takut sedikitpun.


"Tidak, bukan itu tujuan saya."

__ADS_1


"Halah! Banyak omong kau... Hyatt jiiiaa.. "


Gradaaak! Tubuh Sena terjengkang ke belakang saat ki Marja tiba-tiba melancarkan serangannya. Ki Marja baru saja menendang perutnya dengan keras tanpa sempat ia hindari. Tendangan spontan itu mampu membuat perutnya terasa perih, hingga memuntahkan cairan merah kental.


"Jeblleerrr!"


Suara hentakan pecut ki Marja terdengar menggelegar di telinga Sena. Ia baru saja menyadari kesalahan besar yang telah di lakukannya. Dengan menyudutkan ki Marja di ujung kaki ranjang tadi, maka ia memberi orang itu kesempatan untuk meraih kembali senjatanya.



Sena langsung mengumpulkan tenaganya kembali dan segera berdiri untuk menghadang serangan ki Marja selanjutnya.


"Jeplleesss! Brrukk!"


Lagi-lagi Sena ambruk saat pecut itu berhasil melilit kakinya. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan begitu lilitan itu sengaja ki Marja hentakkan untuk membuatnya tumbang.


Tanpa ampun, ki Marja kini terus menghujaninya dengan ayunan pecut mengkilapnya berkali-kali. Sedikitpun ia tak memberi Sena kesempatan untuk melawannya dengan terus mencambukkan benda itu di sekujur tubuh Sena. Cairan darah yang merah mulai merembes dari balik setelan surjan* yang ia kenakan.


*Surjan: Surjan adalah kependekan dari suraksa janma yang berarti menjadi manusia. Modelnya menyerupai kemeja dengan kerah tegak dan berlengan panjang. Surjan umumnya terbuat dari kain motif lurik khas Jawa, serta ada juga yang terbuat dari bahan bermotif bunga.


Sena sudah hampir lemas tak berdaya ketika rembesan darah yang keluar semakin menghitam kental. Tubuhnya bergetar ketakutan dengan emosi yang meluap-meluap dari dalam dadanya.


Ketakutan itu bukan keluar dari serangan yang di rasanya semakin intens itu. Sedikitpun ia tak gentar walau harus kehilangan nyawanya detik ini juga. Justru di saat-saat hembusan nafasnya yang mulai tersengal, ia takut karena merasa gagal menjaga Kerta dan keluarganya. Ia takut saat memikirkan kekecewaan yang akan biyungnya terima nanti.


"Maa... Maaff.. Kkan .. See.. Senaa, biiiyung," gumamnya dengan tubuh bergetar.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Pelan, Sani mulai mundur beberapa meter untuk menghindari sosok besar di depannya yang mulai mendekat. Ia bergidik ngeri melihat seringai geram dari pemilik tubuh kekar itu.


"Mmaa... Maafkan ssaa... Saaya," pinta Sani lirih.

__ADS_1


Namun sosok itu masih tak bergeming sembari terus memperdekat jarak antara dirinya dan posisi Sani.


Ggrrebb!


Tubuh Sani semakin gemetar saat tangan besarnya yang kasar itu berhasil meraih kakinya yang seakan membeku, tak bisa di gerakkan. 'Duh, Mati aku!' rutuknya dalam hati.


"Nyimas jangan coba-coba berteriak atau ku cabik paksa bibir nyimas yang menggoda itu!" bentak sosok itu dengan suara yang di atur se-pelan mungkin.


"Iii.... Iiyya! Bba... Baiklah, ssa... Saya janji tidak akan berteriak."


Sosok besar itu langsung tertawa lebar tanpa mengeluarkan suara. "Baguslah kalau begitu." Sahutnya kemudian.


Laki-laki itu lantas menyeret paksa tubuh Sani agak menjauh dari sisi rumah. Dada Sani berdegup sangat cepat saat sosok besar itu terus menarik tangannya dengan kuat. Pastilah laki-laki ini akan langsung menendangnya keluar padepokan tanpa ampun. Hal itulah yang saat ini terus terlintas di dalam benaknya.


"Ggguusrrakk! Buugh!" di luar dugaan, laki-laki besar itu justru mendorong kasar tubuh Sani hingga berdebam di atas tanah. Suaranya hanya tercekat di tenggorokan saat sosok itu mulai bereaksi untuk menindihnya dengan cepat.


Tangan kasarnya sudah menahan kedua tangan Sani di atas kepala. Dengan beringas sosok itu mulai menyerang Sani dengan ciuman-ciuman yang runtut di sekujur wajah cantiknya.


"Aaa... Appa yang kau lakukan?" pekik Sani jijik pada laki-laki kurang ajar itu.


"Apalagi, nyimas? Aku hanya mau menyelamatkanmu saja. Hhmmpph


"Hentikan! Aku tak su... "


Plaakkk!!


Tangan kasar itu mendaratkan keras tamparannya sebelum Sani menyelesaikan kalimatnya. Mata merah-nya yang besar terlihat hampir copot saat melotot marah.


"Aku hanya membantumu, dasar g*bl*k! Main saja denganku sebentar. Setelah itu, aku akan membantumu keluar dari padepokan ini dengan aman. Hahahaha... Bagaimana? Aku laki-laki yang baik, bukan?"


"Dasar gila! Tidak! Lepaskan aku." Bentak Sani sambil terus memberontak.

__ADS_1


"Hei, nyimas! Berhenti bergerak atau aku bisa memperlakukanmu dengan lebih kasar. Jika kau bisa menjadi rusa yang jinak sebentar saja, maka harimau yang kelaparan ini akan menerkam-mu dengan pelan. Hahahahaa..." Cecar laki-laki bertubuh besar itu di iringi dengan tawa yang membuat Sani semakin merinding.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2