SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Penjelasan


__ADS_3

"Jangan sedih, semua hal pasti mempunyai waktunya sendiri untuk kembali. Kau hanya perlu menemukan cara untuk mengembalikannya di sana."


(Nini tabib, SANSEKERTA 1401 M)


"Nenek?"


Sani tak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu menyadari sosok di depannya adalah nenek itu. Ya, Nenek yang pernah ia temui dalam ingatan tentang kecelakaannya.


"Bukannya nenek adalah nenek yang....."


"Ya. Aku orang sama yang pernah kau temui sebelum kau berada di tempat ini." Sahut nenek cepat, seakan ia bisa membaca pikiran Sani dengan benar.


"Ttapp... Tapi bbba... Bagaimana mungkin?" ucap Sani terbata-bata karena rasa tak percaya.


Jelas sekali mereka adalah orang yang sama. Namun perbedaan yang sangat mencolok terlihat dari penampilan si nenek sekarang. Dibandingkan dengan yang pernah Sani lihat di depan butiknya, nenek itu terlihat lebih sehat dan bersih.


Tubuhnya pun nampak lebih tegap, dengan langkah kaki yang lancar untuk berjalan. Rambut putihnya terlihat rapi dengan cepol kecil di atas kepala.


Nenek mengenakan setelan baju kebaya tradisional yang terlihat sedap di pandang. Penampilannya terlihat sangat berkharisma dalam pandangan Sani. Rasanya benar-benar seperti melihat orang yang berbeda saja sekarang.


 


"Tapi bagaimana mungkin?" tanya Sani terheran, dengan kenyataan yang ia temui saat ini.


Semua kejadian yang ia alami selama beberapa waktu ini, benar-benar tak dapat di terima dengan akal sehat. Antara merasakan keajaiban, dan ke-tidak mungkinan telah membuatnya terus berfikir bahwa semua ini tak nyata.


Sani takut kalau yang di alaminya hanyalah bayangannya saja, atau bahkan yang lebih buruk, mungkin saat ini dirinya hanya sedang menjadi target prank dari sebuah acara reality show?


Sani melihat sosok nenek di depannya tengah tersenyum. Senyuman itu seolah menyembunyikan sesuatu yang misterius dari Sani.


"Tak ada yang tak mungkin bagi kehendak dewa yang agung!" seru nenek sambil memasang wajah yang mulai serius.


"Sungguh Sani, kau sangat beruntung bisa mendapat kesempatan ini. Berbahagialah, karena kau bisa kembali ke tempat ini untuk memperbaiki semua yang pernah kau lalui dengan buruk. " Pungkas nenek kemudian.


"Kesempatan? " Sani masih tidak paham dengan situasi yang di hadapinya sekarang. "Maksud nenek?" tanyanya kemudian.


"Hhmm...! Nampaknya ingatanmu belum kembali seutuhnya."


"Hah, ingatan? Tapi sepertinya saya masih mengingat dengan baik bagaimana kita berdua bertemu, nek. Bahkan saya ingat dengan mobil yang menabrak motor yang saya dan nenek kendarai. Kemudian opname di rumah sakit, lalu.... " Sani berhenti sebentar, nampak berusaha mengingat-ingat potongan kejadian selanjutnya dengan keras.


"Lalu? " tanya nenek memastikan.


Sani hanya diam. Ia tak bisa menemukan runtutan kejadian yang pas dalam ingatannya. Memorinya seakan sudah tercerai-berai entah kemana?


"Saya rasa nenek benar! Sepertinya ingatan saya memang sedang bermasalah dan belum kembali seutuhnya." Sahut Sani nampak lesu.


"Jangan sedih, nak! Aku yakin semua hal pasti punya waktunya sendiri untuk kembali. Kau hanya perlu menemukan cara untuk mengembalikannya pada tempatnya."


"Entahlah nek, saya hanya merasa 'aneh' karena tiba-tiba terbangun di temat asing ini. Untuk itu, bisakah nenek sedikit saja memberikan penjelasan mengenai hal itu kepada saya?" mohon Sani pada nenek.


"Hhmm... Kau mau aku menjelaskan apa?"


"Yaaa... Mungkin saja kita bisa mulai dengan pertanyaan, kenapa saya sekarang bisa berada di tempat ini?" tanya Sani langsung, dengan level penasaran tingkat tinggi.

__ADS_1


"Bukankah sudah jelas? Kau kembali karena memang keinginanmu sendiri untuk kembali?" sahut nenek singkat.


"Hah, karena keinginan kembali? Maksud nenek ke tempat ini?" Sani mengulang kalimat terakhir nenek seakan masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Nenek hanya menjawabnya sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Tapi nek, untuk apa saya kembali ke tempat ini? Saya bahkan tidak mengenali tempat asing ini sebelumnya." Sambung Sani tak puas.


"Kurasa kau ingin kembali untuk seseorang di sini."


"Seseorang siapa nek? Sungguh, nenek benar-benar telah membuat saya semakin bingung sekarang."


"Entahlah. Mungkin suamimu?"


"Suami saya? Uuh, apa maksud nenek orang itu adalah Kerta? Si laki-laki kurang ajar yang terus mengaku sebagai suami saya itu?" cecar Sani mulai kesal begitu mendengar nama itu.


"Dia memang suamimu Sani! Dialah orang yang membuatmu ingin kembali dalam kehidupan yang pernah kau tinggalkan ini." Jawab nenek tegas dengan mantapnya.


"Tapi itu tidak mungkin, nek!" sangkalnya mencoba berfikir rasional.


"Kenapa tidak mungkin? Inilah yang terjadi padamu sekarang. Ku harap kau tidak terlalu memikirkannya dengan rasa takut, Sani. Karena kau hanya perlu mengingat apa yang telah kau lupakan selama ini."


"Tapi..... "


"Kau tenang saja Sani, ingatan itu akan segera kembali dengan sendirinya setelah kau menghabiskan banyak waktu bersama dengannya."


"Maksud nenek, si Kerta?


"Ya, Kerta! Kurasa dialah orang yang membuatmu sangat ingin kembali ke tempat ini." Sahut nenek yakin.


"Baiklah, aku akan memberimu sedikit penjelasan. Jadi sampai mana kau bisa mengingat tentang kejadian itu?"


"Mmmm... terakhir yang saya ingat adalah bangun di atas ranjang rumah sakit, lalu pulang ke rumah dan tidur. Dan entah bagaimana caranya tiba-tiba saya sudah bangun dan mendapati diri saya yang berada di tempat ini!" jelas Sani sejauh yang bisa ia ingat.


"Nampaknya, kau melewatkan satu ingatan kecil yang membuatmu berada di tempat ini."


"Apa itu?" tanya Sani semakin penasaran.


"Kau bisa sampai kemari karena benda ini." Jawab nenek sambil menunjuk sesuatu yang tergantung pada leher Sani.


Secepatnya Sani segera memeriksa lehernya untuk memastikan benda apa yang di maksudkan nenek? Haaa?


Sani terkejut mendapati sebuah kalung dengan bandul oval tergantung di lehernya.


Ia bahkan tak pernah menyadari sejak kapan ia memakai accesoris seperti itu?


 


Oh, benar....!


Sekarang Sani ingat dengan kalung ini. Ia menemukan kalung ini bersama dengan barang-barang yang di kembalikan dari pihak kepolisian. Sani hanya iseng mencobanya begitu ia sampai rumah.


"Bukankah kalung ini adalah kalung yang.... "

__ADS_1


"Yang aku berikan padamu, bukan?"


Sani mengangguk.


"Ya, kau benar Sani. Itu memang kalung yang sama! Aku lega, kau sudah menggunakannya dengan baik." Sahut nenek sambil meninggalkan senyum misterius.


"Aaa..apa yang sudah saya lakukan dengan kalung ini?"


"Kau sudah banyak bertanya Sani! Sekarang tinggal tugasmu untuk menyatukan semua ingatan-ingatan itu, dan segera menemukan tujuanmu datang kemari secepatnya!"


"Tapi nek?"


"Maaf Sani, tapi aku tak di perkenankan untuk menjelaskan atau memberi tahu apapun selain memberi pengarahan saja. "


"Hah? Lalu, apakah saya bisa pulang kembali ke kehidupan normal saya? Mmaa...mmaksud saya, kehidupan normal yang saya jalani sebelum datang ke tempat ini... ?" tanya Sani gugup, takut akan kenyataan bahwa ia kini berada di tempat asing sendirian.


"Oh.... Sungguh mengejutkan! Kupikir kau sudah bersusah payah melintasi dimensi yang berbeda demi kembali ke tempat ini?" sahut nenek membuatnya tak tahu lagi harus berbuat apa?


"Entahlah. Saya hanya tidak begitu menyukai berada disini, namun juga tidak membenci tempat ini."


 Nenek diam sebentar sambil memperhatikan Sani yang nampak panik dan ketakutan.  


"Semua tergantung keinginan-mu Sani. Kau mau pergi atau tinggal, hanya kau sendiri yang bisa memutuskan!" ucapnya kemudian.


"Lalu, bagaimana dengan kehidupan yang saya tinggalkan sebelum datang ke tempat ini, nek?"


"Di kehidupan itu, kau sudah tak di ingat lagi oleh siapapun. Kau seperti tak pernah terlahir di kehidupan itu."


"Aaa... Aaappa?" sahut Sani nampak terkejut degan penjelasan yang nenek berikan padanya.


"Kenapa kau nampak kaget begitu, Sani?"


"Ah... saya hanya bingung dengan cara saya untuk kembali ke sana jika saya ingin?"


"Ingin kembali? Benarkah?" tanya nenek memburu.


"Saya juga tidak tahu nek! Hanya seandainya saja... "


Nenek menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sani yang seolah tak ada habisnya.


"Seandainya kau kembali ke sana lagi, maka kehidupan-mu akan kembali sama seperti saat kau tinggalkan!"


Sani serius menyimak dan memerhatikan dengan baik, apa yang nenek itu katakan padanya.


 


"Tapi kau harus tahu Sani, begitu kau memutuskan untuk kembali ke sana, maka tidak akan ada jalan untukmu untuk kembali ke tempat ini! "


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2