
Dari kejauhan nampak tiga anak laki-laki yang tengah berkumpul, sambil sesekali bersorak seperti sedang menertawakan sesuatu. Mereka bertiga berkerumun mengelilingi seorang anak perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Kembalikan... Hikss.. Hiks..." Rengek anak perempuan itu pada mereka.
Seorang anak yang berbadan paling besar maju, dan mengacungkan sebuah japit rambut yang cantik di depannya.
"Kau mau ini kembali?"
Gadis kecil itu mengangguk.
"Ambil, kalau kau bisa!" lanjutnya dengan wajah menyeringai.
Gadis kecil itu berusaha mengambil japit rambutnya dari tangan si besar. Ia melompat-lompat mencoba meraih jarak ketinggian tangan si besar.
"Hahahaha," tawa mereka terdengar bersamaan!
Mereka terlihat puas, melihat gadis kecil itu belum juga berhasil mendapatkan benda miliknya.
"Tidak! Tolong kembalikan japit rambut-ku... "
"Hahahaha... Sudahlah, kau menyerah saja."
"Aku tidak mau... Kalian jahat!" bentaknya dengan suara bergetar.
"Hahaha, memangnya aku peduli? Lagipupa aku tadi sudah memberimu kesempatan untuk merebutnya kembali, kan? Tapi karena kau tidak berhasil, maka benda ini sekarang sudah menjadi milik kami!"
"Ya, benar! Dan sekarang, kami akan pergi ke pasar untuk menjualnya!" sahut anak yang lain.
"Tidak boleh! Kalian tidak boleh menjualnya. Japit rambut itu adalah satu-satunya benda milikku yang berharga! Tolong, kembalikan..."
"Hah, kau pikir kami percaya kalau japit indah ini milik-mu? Mana mungkin seorang anak yatim yang miskin sepertimu punya barang sebagus ini? Paling juga, kau mencurinya dari para bangsawan?"
"Aku tidak pernah mencurinya, sungguh..."
"Kau bohong!" bentak si besar marah.
"Aku tidak bohong, hiks hiks hiks. Benda itu peninggalan satu-satunya dari orang tuaku." jawab gadis kecil itu berusaha mendapatkan simpati mereka.
Bletaaakk!!!
"Aduh!" pekik si anak besar sambil meringis kesakitan.
Ia mengusap-usap kepalanya yang terasa benjol, seperti baru saja di lempar dengan sesuatu yang keras.
Si besar menoleh ke belakang dan memandangi kedua temannya dengan tatapan curiga.
"Siapa tadi yang menjitak kepalaku? Kau?" tuduhnya pada salah satu temannya.
"Tidak! Bukan aku... "
"Kalau begitu kau?"
"Itu juga bukan aku!" jawab temannya yang lain.
Bletaaakkk!!
__ADS_1
"Aadduuuh!"
Ia lihat dua kerikil sekaligus, melayang bersamaan mengenai dahi-nya. Sekarang ia tahu, ternyata yang menyerangnya tadi bukan kedua temannya.
"Hei.... Siapa itu?"
Tidak ada jawaban.
"Keluar kau kalau berani!" bentaknya marah.
Bletak, bletak, bletak!
Bertubi-tubi kerikil mulai berterbangan menyerang mereka bertiga sekaligus. Kerikil-kerikil itu keluar begitu saja dari balik semak yang rimbun, tanpa mereka tahu siapa pelakunya?
Serangan mendadak yang seperti tak ada habisnya itu terus berlanjut, sampai mereka menjerit-jerit kesakitan. Mereka mulai kewalahan dengan banyaknya jumlah kerikil yang terus berterbangan.
"Aamm... Aampuunn!" teriak salah satu dari mereka.
"Aakhh, tolong hentikan! Kami menyerah..."
"Iiiya.... Kami menyerah! Tolong jangan melempari kami lagi... " jawab yang lain meyakinkan.
Dan serangan itu benar-benar berhenti di ikuti suara dari balik semak semak.
"Janji ya, kalian sudah menyerah?" sahut suara yang terdengar sangat kecil itu.
"Iyaaa... Kami janji! "
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya keluarlah seorang gadis kecil lain setelah bunyi 'grasak-grusuk' dari balik semak.
Tangannya nampak sedang menenteng sebuah ketapel, lengkap dengan peluru yang sudah siap di tembak-kan!
Namun yang membuat ke-tiga anak laki-laki itu takut, bukanlah karena siapa yang keluar dari sana. Melainkan karena besarnya batu yang di bawa-nya sebagai peluru ketapel nya.
Batu peluru-nya sebesar jambu biji yang berukuran sedang! Bisa di bayangkan jika nanti batu itu di lemparkan, dan melukai salah satu dari mereka.
Gadis kecil itu mulai berjalan menuju mereka, denga senjata dari ketapel yang di bawanya. Ia tak peduli melihat lawannya yang ketakutan dengan benda yang di bawanya!
"Aaap... Aapa yang akan kau lakukan dengan ketapel dan batu itu pada kami?" tanya si besar yang ketakutan.
"Aku akan membuat batu besar ini melayang, dan mengenai salah satu dari kalian... " jawabnya dengan mantap.
"Kkaa... Kami minta maaf, sungguh! Tolong maafkan kami... "
"Jangan minta maaf padaku! Minta maaflah pada anak yang kalian ganggu itu!" cecarnya sambil terus berjalan mendekat ke arah mereka.
"Bba... Baik! Kami akan minta maaf padanya!"
"Cepat!"
"Hhei, anu.. Kami minta maaf ya?" ucap si besar lirih, mewakili teman-temannya.
"Iya. Aku maafkan! Hiks... Hiks... " Jawab si gadis kecil, pemilik japit rambut yang mereka rampas.
"Tapi jangan ulangi lagi ya?! Kalian tidak boleh mengambil sesuatu atau barang yang bukan milik kalian... " lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Mereka bertiga mengangguk, namun terlihat jelas bahwa mereka sedang ketakutan!
"Sekarang letakkan jepit rambut itu di bawah kaki kalian!" ucap si gadis pembawa ketapel pada mereka.
"Setelah itu lebih baik kalian segera pergi, atau lari saja dari sini, sebelum batu di ketapel-ku ini melayang!" pungkasnya kemudian.
Si badan besar yang dari tadi terlihat paling sok itu, hanya menundukkan kepalanya. Ia sendiri yang memimpin kedua temannya pergi setelah meletakkan japit rambut rampasannya.
Gadis pembawa ketapel itu tersenyum puas, karena berhasil membuat lawannya lari ketakutan!
"Nah, ini punyamu kan?" sapa-nya lembut sambil mengulurkan tangannya untuk mengembalikan japit rambut yang indah itu ke tangan pemiliknya.
"Sudah, jangan menangis! Kau tadi ketakutan ya?" sambungnya mencoba menghibur.
Pemilik japit itu tak memberi sahutan. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil terus menundukkan kepalanya ke bawah. Ia masih takut dan tak begitu percaya dengan sosok asing gadis kecil yang baru saja menolongnya.
"Lain kali kalau ada orang yang mengganggumu, kau tidak boleh diam saja seperti tadi! Kau harus melawannya sebisa yang kau lakukan. Mengerti?" ucap si gadis penolong tegas.
Gadis pemilik japit itu lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab. Pelan ia mulai berani mendongakkan kepalanya sambil memamerkan senyum cantik dari sudut bibirnya yang merah.
"Terimakasih sudah menolongku. Maaf jika aku tidak bisa memberikan imbalan apapun padamu!" bisiknya kemudian.
"Aduuh kau ini lucu sekali! Iya, sama-sama! Lagipula aku menolongmu bukan karena aku menginginkan imbalan! Ngomong-ngiming,kenapa kau bisa ada di tempat ini sendirian? Mana teman-temanmu?"
Gadis pemilik japit itu langsung terlihat sedih mendengarnya.
"Ada apa?"
"Tidak, bukan apa-apa! Hanya saja aku tidak pernah punya teman." Jawabnya terdengar ragu.
"Ah, baiklah! Jangan tampakkan wajah sedihmu yang jelek itu. Aku tidak suka melihatnya. Kalau begitu, mulai sekarang aku temanmu ya? Kau mau jadi temanku, kan?"
"Hah, benarkah? Tentu saja aku mau!" sahutnya dengan mata berbinar.
"Bagus! Jadi mulai sekarang kita berteman ya?"
"Iya... "
Gadis pembawa ketapel itu kemudian mengulurkan tangan, dan menunggu teman baru-nya itu membalas jabat tangannya.
"Perkenalkan, namaku Asih. Kau siapa?"
Malu-malu, ia menjawab,...
"Namaku Sani!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀