
Sani baru saja menyelesaikan mandi-nya dengan bantuan bibik, seperti biasa. Kini ia sudah ganti baju dengan rapi, dan siap berangkat menuju tempat yang sudah di janjikan Kerta.
Selama berada di tempat ini, Sani berhasil menemukan style berpakaian yang nyaman menurutnya.
Ia memang masih memakai baju tradisional ala zaman dulu. Namun bagian jarik* yang memanjang sempit, ia pendek-kan untuk mempermudah langkahnya.
(*Jarik: kain panjang dengan corak batik yang sangat khas.)
"Hai.... Sudah siap?" Bisik Kerta sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Sani.
"Iya... Sebentar lagi mas!"
"Hmmm... Kamu wanginya seger, San?" Kerta menelusupkan kepala-nya dengan lembut, di leher jenjang Sani.
😐
😐
😐
😐
😐
"Mas sedang apa, sih? Seperti kucing saja mengendus-endus begitu... "😀
"Eehm... Mas sedang menikmati bau yang enak ini! Eemm... mmm"
Kerta masih saja menikmati bau tubuh Sani sambil terus menenggerkan kepala-nya di bahu Sani. Membuat kumis tipis-nya menggesek kulit halus Sani, sehingga menciptakan sensasi yang...
"Ahh... Mas! Berhenti melakukan itu. Mas membuat aku merasa geli.... Aahhahaa... Berhenti...!"
Sani tertawa lepas, merasa geli di bagian tengkuknya.
"Hehehe... Maaf maaf...! Habis, mas suka sekali mencium wangi yang menempel di tubuhmu ini"
"Wangi? Tapi aku tak memakai wewangian apapun?!"😓😓
"Ah... Benarkah? Tapi bagaimana bisa tubuh-mu seharum ini??" Ucap Kerta sambil tetap saja bermain-main di sana.
"Mas... Ahh... Hahahah, sudah cukup. Aku geli ih... "😫😫😫
Cuuup!!
Kerta memberi kecupan kilas pada leher jenjang itu sebelum akhirnya melepaskan dekapannya.
"Mas tunggu di luar ya?"
"He'em!"
Sani kembali mematut dirinya di depan cermin. Rambut yang sudah rapi di tata bibik tadi, ia lepas dan di biarkan terurai.
"Nah, sekarang terlihat lebih cantik. Aku lebih suka seperti ini daripada di sanggul seperti ibu Kartini."😕
😂😂😂😂😂
Ibu Kartini?
Hahahaha, yang benar saja...
😆
😆
😆
😆
😆
Ini pertama kalinya Sani pergi keluar setelah hampir satu minggu ia habiskan di dalam rumah. Uuumh, udara segar langsung menyambutnya begitu kakinya melangkah melewati pintu rumah.
"Wauu... Kamu terlihat berbeda, San?"
"Beda?"😟
"Iya. Rambutmu yang di biarkan terurai, jadi membuatmu terlihat lebih cantik dari
biasanya...."
"Oooo... Jadi, biasanya aku tidak cantik?"😠😠😠
"Kamu benar, biasanya kamu memang tidak cantik."
"Hah? Serius? "😥😥😥
"Karena biasanya kamu hanya terlihat mempesona... "😍
Bluushhh!
😳😳😳😳😳😳
Dasar, tukang gombal!
"Aaa... Aayo berangkat sekarang!"
"Baik. Ayo!"
Kerta menggandeng lengan Sani, mengajaknya berjalan bersama meninggalkan halaman rumah yang cukup luas.
Di halaman itu banyak ia jumpai berbagai macam tanaman bunga yang nampak ter-rawat dengan baik. Rumput-rumput yang di potong sependek mungkin, terlihat seperti karpet besar yang sedang di gelar.
Dari keseluruhan pengamatannya pada rumah ini, Sani bisa menyimpulkan bahwa pemiliknya benar-benar bukan dari golongan kasta rendah.
__ADS_1
"Ayo... Naiklah"
"Eh... "😰😰😰
"Kenapa San?"
"Serius, kita mau naik ini?"
"Apa kita pakai kereta kuda saja, ya? Tapi biasanya kau lebih suka bepergian dengan Mada daripada menggunakan kereta kuda."
"Mada?"
"Kau bahkan lupa dengan nama yang kau berikan padanya?!"
"Hah?"😧😧😧
Sani memperhatikan bentuk tumpangannya dengan seksama. Seekor kuda jantan dengan surai rambut berwarna coklat keemasan. Di antara kedua mata-nya terdapat sedikit bulu halus berwarna putih yang menarik.
il
ilustrasi gambar Mada.
"San? Kita jadi naik apa?"
"Aah... Baiklah. Kita naik Mada saja."
"Yuk....! " ucap Kerta sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Sani naik di atas punggung Mada.
Di saat seperti ini Sani sudah merasa tepat dengan style baju yang ia pilih. Membayangkan ia akan kesulitan untuk mengatur duduknya, jika saja tadi jariknya masih di biarkan memanjang. Mada hanya manggut-manggut saja begitu Sani berhasil naik di atas punggungnya.
Begitu Sani sudah menempatkan posisi duduk dengan nyaman, Kerta segera menyusulnya naik. Ia duduk dengan gagahnya di belakang Sani sambil memegang tali kemudi.
"Sudah siap?"
Sani mengangguk.
"Mada, berlarilah sekencang angiiinnn... "
"Kkkhhiiiikkkk.....! "🐴🐴🐴
Mada mulai berjingkat-jingkat dan siap untuk berlari. Kerta segera menarik tali kekangnya, dan menghentakkan kedua kakinya bersamaan!
"Hhiyyyaaaaaaatth....!!!"
.
.
.
.
.
Keteplak.... Keteplak.... Keteplak!
Mada berlari dengan kencang-nya menerobos jalanan hutan yang panjang.
Kerta, dengan sangat lihai nampak santai saja saat mengemudikan Mada. Hanya dengan satu tangan saja, Kerta berhasil mengendalikan kuda yang lari-nya sangat cepat itu.
Sementara itu selama perjalanan berlangsung, Kerta menempatkan tangan-nya yang lain melingkar dengan erat di pinggang Sani. Sesekali tangan-nya mengelus lembut punggung tangan Sani. Seolah menenangkan Sani saat Mada berlari terlalu cepat, atau saat Mada membawa mereka melewati jalanan yang terjal berbatu.
"Mas? Masih jauh?"
"Ah, tidak! Sebentar lagi kita sampai. Kau capek, ya? "
"He'emmm..."
Sani mengangguk!
"Mau berhenti sebentar?"
"Tidak perlu... Tadi mas bilang, kan sudah dekat?"
"Iya. Nah, kau lihat *gapura yang ada di ujung itu?"
Sani memerhatikan sebuah gapura kembar yang di tunjuk oleh Kerta.
(*Gapura: Semacam sebutan untuk pintu gerbang memasuki sebuah desa atau wilayah)
i
ilustrasi gambar gapura.
"Ya, aku lihat!"
"Disana-lah desa tempat tinggalmu berasal. Nanti kita mampir kesana dulu ya? Baru nanti aku ajak kau ke tempat biasa."
"Aku kira tempat biasanya itu, ada di tempat itu?"
"Tidak, masih sedikit jauh. Tunggu saja nanti, kau pasti akan suka."
"Ya... Baiklah... "
"Hhiyyyaaaaaaatth....!!!"
Kerta kembali mengencangkan tali kekang-nya, dan berlarilah Mada secepat angin. Wwwuusss...
.
__ADS_1
.
.
.
.
Mereka sudah sampai di sebuah gubuk reyot yang nampak hampir roboh.
Di gubuk ada sebuah *amben yang di tempatkan di samping pintu masuk. Amben itu sangat berdebu dan kotor, karena daun-daun kering yang berserakan di atasnya.
(*Amben: Balai-balai bambu yang di gunakan sebagai tempat tidur atau tempat untuk duduk)
"Rumah siapa ini, mas?"
Kerta hanya tersenyum.
"Mas?"😐
"Kau lupa, San? Ini rumah-mu... "
"Apa... ?"😨
"Sudah, jangan kaget begitu... Ayo sini duduk!"
Kerta segera menggaet tangan Sani dan mengajaknya duduk di atas amben yang penuh dedaunan berserakan. Sani menurut saja saat Kerta mempersilahkan-nya sebuah tempat untuk duduk di sisi Kerta.
"Masih belum mengingat sesuatu tentang tempat ini?"
Sani menggeleng.
"Rumah ini adalah rumah peninggalan satu-satunya dari orang tua-mu. Ya.... Begitulah yang ku dengar darimu, dulu!"
"Peninggalan orang tua? Jadi, aku tidak punya... "
"Aku bertemu dengan-mu tepat dua tahun yang lalu. Kau adalah seorang gadis yatim-piatu yang sangat baik juga cantik."
"Ooh... "😥😥😥
Sani menunduk lemas. Tak terbayangkan, betapa tak beruntung-nya kehidupan yang ia jalani selama ini? 😔
Dua kali sudah ia menjalani hidup sebagai seorang anak yatim-piatu. Maka berarti dua kali itu juga-lah ia tak mengenal bagaimana itu kasih sayang seorang ayah atau ibu?
"Loh, kok jadi sedih?"
Kerta mengusap lembut pipi Sani begitu menyadari perubahan wajahnya yang tiba-tiba terlihat murung.
"Apa mau pulang saja?"
"Tidak mas! Aku baik-baik saja!"
"Kau yakin?"
"Iya!"😢 Sani mengangguk.
"Jangan nangis ya?"
"Iih, mas ini apa-apaan? Siapa juga yang nangis?"
"Hehehe, bagus kalau begitu! Mas khawatir karena melihatmu yang tiba-tiba saja
murung... "
"Hahahaha... benarkah? Aku tidak murung kok.. 😅"
"Kau tadi murung, Sani... "😑
"Terserah-lah.😂😂😂 Eh mas, setelah ini kita mau kemana?"
"Ah... Nanti mas ada tempat spesial untuk ditunjukkan! Mau pergi sekarang?"
"Boleh...!"
"Kau tersenyumlah dulu kalau begitu... "
"😁...nah, sudah!"
"Kau serius, tadi itu senyuman?"
"Aahahahahahaha....."
😂😂😂😂😂
Dan Kerta-pun berhasil membuat Sani tertawa lepas kembali!
"Sani...?"
Sani dan Kerta menoleh bersamaan begitu mendengar suara seseorang memanggil namanya.
"Benar... Kau Sani, kan?"
"Iya, aku Sani. Tapi kau ini siapa? "
😧😧😧
.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀