
Bibik Gandari belum juga melepaskan dekapan kuatnya dari badan tegap anaknya, Sena. Entah mengapa ia menjadi se-goyah ini sekarang? Kemana perginya si perempuan tegar yang ber-hati baja itu? Alasannya adalah perasaan takut dan sedih selama sekian lama kini telah bercampur dan beradu menjadi satu.
Sudah cukup dengan semua penderitaan yang ia dapatkan setelah ayah Sena meninggal. Ia telah kenyang dengan rasa sepi melalui tahun-tahun panjang penuh kerinduan yang sangat menyesakkan. Seolah hidupnya berubah menjadi kelabu saat melihat jasad laki-laki yang di cintainya telah terbujur kaku.
Saat itu, di malam sebelum kepergian suaminya, mereka berdua menghabiskan waktu yang singkat itu dengan bercengkrama bahagia hingga larut. Banyak hal yang mereka bicarakan di mulai dari urusan rumah tangga sehari-hari hingga cita-cita mereka untuk kelanjutan hidup bersama.
Tak luput, mereka juga membahas serta membuat rancangan untuk rencana masa depan Sena yang kala itu masih delapan tahun. Gandari ingat betul apa yang suaminya katakan pada saat itu.Laki-laki tercintanya ingin melihat si anak mengikuti akademi militer prajurit kerajaan, dan berhasil menjadi anggota pasukan khusus yang hebat, kelak.
"Ah, kakang... Kenapa harus menjadi prajurit? Apa kakang tidak ingin Sena kita belajar ilmu pengetahuan saja? Ya, siapa tahu nanti dia bisa jadi seorang cendekiawan atau mahaguru para anak bangsawan itu?"
Dan matanya semakin memerah mengingat penggalan percakannya dengan sang suami bertahun-tahun yang lalu.
"Tidak, Gandari. Aku tidak suka melihat putraku tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Jika dia tidak bisa menjaga keselamatannya sendiri, lalu bagaimana dia akan menjaga keluarganya nanti?"
"Bukan begitu, kang. Hanya saja... "
"Ada apa Gandari? Kulihat kau tidak begitu senang saat aku mengutarakan hal ini? Sebenarnya ada apa? Aku tahu, kau bukan tipe orang yang tidak memiliki alasan saat tidak setuju akan suatu hal!"
"Mmm, apa kakang tidak takut?" bisik Gandari ragu.
"Takut?" sahut suminya dengan dahi mengernyit. "Takut dengan apa?"
"Takut akan konsekuensi yang akan di tanggungnya kelak."
"Maksudmu?"
"Entahlah. Ndari hanya tak mau terjadi hal-hal yang tidak di harapkan pada putra kita. Rasanya tak siap jika nanti Ndari harus melihat Sena yang.... "
"Buanglah pikiran-pikiran semacam itu untuk kebaiakan masa depannya. Ingatlah, bahwa yang di lakukannya kelak sangat berarti bagi orang yang di sayanginya. Percayalah bahwa niat baik akan membuahkan hasil baik bagi pemiliknya."
"Tapi kang,"
"Kau tahu, setiap yang ada di atas bumi ini pasti akan mati kapanpun waktunya. Namun alangkah beruntungnya jika kita bisa pergi sambil membawa kebaikan dan juga berkah bagi orang lain?"
Saat itu ia lihat mata suaminya tengah menatapnya penuh keyakinan saat menyelesaikan kalimatnya. Dan perlahan, rasa takut dan ragu di dalam hatinya mulai memudar kala mata itu memandangnya penuh cinta.
Lalu apa yang terjadi sekarang? Bagaimana caranya ia menanggung semua rasa sedih itu di saat kedua matanya akhirnya menyaksikan semua rasa takutnya menjadi nyata? Hatinya-pun menjadi lemah ketika melihat putra tampan-nya itu sudah terkulai tak sadarkan diri. Gandari masih belum siap di tinggalkan orang terkasihnya lagi. Tapi kini...
Tok tok tok!
Suara nyaring dari ketukan pintu berhasil membuyarkan lamunan nostalgia bibik Gandari tentang cerita masalalu. Bibik segera melepaskan pelukannya pada Sena saat melihat seorang laki-laki sudah berdiri di ambang pintu kamar. Bibik lantas bangkit sambil mengusap pipinya yang basah.
"Den Kerta? Mari, silahkan masuk!" sambut bibik ramah, seolah tak terjadi apa-apa tadi.
"Duh, apakah kedatangan saya mengganggu?"
"Ah, den Kerta bisa saja. Justru saya sangat senang den Kerta menjenguk dan menyempatkan waktu untuk kemari. Baiklah, kalau begitu bibik permisi dulu."
"Loh, kenapa buru-buru bik?"
"Tidak apa-apa den! Saya harus segera kembali untuk menyelesaikan pekerjaan rumah di ndalem. Jadi, kalau di izinkan saya pamit sekarang."
__ADS_1
"Begitu, ya? Baiklah, bibik boleh pergi. Biar saya yang menggantikan bibik untuk menunggui Sena di sini."
"Terimakasih. Saya permisi!"
"Silahkan!" sahut Kerta di ikuti dengan senyuman dan anggukan kepalanya.
Jjttooos! "Agghhh!" pekik Sena kesakitan saat Kerta sengaja menjotos pelan lengannya begitu bibik menghilang di balik pintu.
"Kau ini cengeng sekali? Hanya begitu saja kau sudah menjerit kesakitan?"
"Menjerit? Sial! Kakang selalu saja seperti itu di belakang biyung?"
"Haahahahaha.... Seperti itu bagaimana maksudmu?"
"Lihat saja kelakuan kakang yang menyebalkan itu? Di depan biyung kakang selalu bertingkah seperti anak manis dan santun? Tapi di belakang semua sikap manis itu... "
"Hahaha, lagipula kalau bukan kau siapa lagi? Aku hanya bisa berbuat nakal padamu saja, kan?"
"Hhhhh... Terserah!"
"Hei, Sena! Memangnya siapa kau, berani mengambil keputusan seperti itu tanpa izinku, heh?"
"Keputusan? Keputusan apa yang kakang maksud?"
"Memangnya apalagi? Tentu saja keputusan untuk menyerahkan hidupmu di tangan bandit tua itu!" sungut Kerta kesal.
"Bandit tua?"
"Kenapa kau berpikirnya lama sekali? Apa kau tidak ingat saat bandit tua itu menghujani tubuhmu dengan cambuknya? Apa kau benar-benar berniat menghabisi hidupmu yang berharga itu begitu saja, hm?"
"Ki Marja?"
"Ya, siapa lagi?"
"Memangnya aku bisa apa, kang? Mana mungkin aku menyerah begitu saja? Aku selalu mengingat pesan kakang agar berjuang sekuat tenaga. Bukan melakukan perjuangan sesuai kemampuan kita."
"Ah, tapi tetap saja kenapa kau melakukannya untukku, bodoh? Kenapa membahayakan nyawamu sendiri hanya untukku? Dasar kau ini, selalu saja seperti itu."
"Lihatlah, kakang mulai mengejekku lagi sekarang? Huh, memangnya aku bisa apa? Aku tak bisa melihat keluargaku berada dalam bahaya. Aku akan melakukan semua yang ku bisa untuk menyelamatkan mereka apapun caranya!"
"Sena, terimakasih!" ucap Kerta kemudian dengan nada lembut.
"Ya, sama-sama!"
"Perlakuanmu itu membuatku sangat tersentuh, Sena. Aku beruntung bisa mempunyai adik yang sangat baik sepertimu. Sekali lagi terimakasih."
"Tidak kang! Justru aku-lah orang yang paling beruntung itu. Makannya cepat traktir aku makan di warung begitu aku sembuh."
Bblletaakk!!
"Aagghh... Kakang, lagi-lagi? Kenapa menjitak kepalaku sekeras itu?" sungut Sena yang sibuk mengusuk-usuk kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Hahahha... Rasakan! Itu hukuman karena kau selalu saja main-main di saat orang lain sedang serius. Mau kutambah lagi?"
"Tidak mau! Itu tadi sakit sekali, kang. Tapi ngomong-ngomong saya lihat kang Kerta datang sendiri saja, ya?"
"Memangnya kau menghrapkan aku datang bersama siapa? Si Bayu?"
"Ah, tidak lupakan saja." Jawab Sena cepat. Rasanya sedikit kecewa saat tahu bahwa orang yang kau harapkan justru tak bisa kau lihat saat kau benar-benar ingin menatapnya. Tapi mau bagaimana lagi? Memangnya ia punya pilihan lain, sekarang?
.
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Holaa semua?
Senang rasanya bisa menyelesaikan 'up' lagi.
Terus terang saya sangat senang saat banyak teman-teman sesama author juga beberapa pembaca yang chat secara langsung untuk menanyakan kabar saya.
"Kak Nur, kapan SANSEKERTA up?"
"Nih, author semedi apa kek gimana ya? Kadang up, terus se-abad ngilang?"
Adalagi yang lucu,
"Halo Sena? Kamu kemana aja kok nggak pernah up? Kamu lagi semedi ya?"
😂😂😂😂
Ya, begitulah beberapa diantaranya.
But, thank's a lot for everyone who support this novel. I can't do much for you're in everywhen.
Thank you,
Makasih,
Maturnuwun,
Syukron katsir,
Merci....
__ADS_1
Semoga sukses dimanapun kalian berada!