
Kerta segera berlari masuk ke dalam kamar begitu mendengar teriakan Sani. Ia khawatir kalau saja terjadi apa-apa pada istrinya itu.
"Loh? Masih tidur toh? " gumam Kerta sedikit heran. Karena sesampainya ia di dalam kamar, yang ia dapati hanyalah Sani yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya.
"Aneh sekali....!"
Kerta baru saja berniat kembali keluar saat Sani mulai berteriak-teriak tak jelas lagi. Kerta segera mengambil posisi duduk di sisi Sani. Sebisa mungkin ia berupaya membuat Sani bangun.
"San... Bangun San!" Sergah Kerta sambil menggoyang pelan tubuh Sani untuk membangunkannya!
"San..!? Hei, "
Sani masih tak bergeming sedikitpun. Justru teriakan-teriakan Sani sudah berubah menjadi tangisan yang membuat Kerta semakin khawatir. Kerta langsung saja berusaha lebih keras untuk membangunkan Sani. Ia mengguncang tubuh Sani dengan lebih keras begitu Sani semakin berteriak-teriak tak beraturan.
"Aaaaaaaaa...!" teriak Sani kencang sembari l menghambur ke dalam pelukan Kerta. Ia langsung mendekap tubuh laki-laki itu begitu teriakan terakhirnya berhasil membangunkan dirinya.
"Hei..... Ada apa, San? Tenanglah, kau mimpi buruk ya?" Ucap Kerta sambil mengelus lembut punggung Sani untuk menenangkannya.
Sani tak segera menjawab pertanyaan Kerta. Ia hanya makin memper-erat pelukannya. Ia masih terbayang-bayang dengan beberapa rentetan kejadian yang terasa baru saja ia alami. Ia merasa yang ia lihat tadi benar-benar nyata. Mengerikan!
"Tidak apa-apa San. Itu hanya mimpi. Tenanglah... Kau sudah aman sekarang... "
"Maaf! Sebentar saja, tolong jangan lepaskan! Tetaplah memelukku sebentar saja!" ucap Sani memelas dalam pelukan Kerta.
"Tentu, San. Tentu! Kau boleh melakukannya selama yang kau butuhkan!" sahut Kerta tegas sambil mempererat dekapannya pada Sani!
'Hhm... Ternyata, sebuah pelukan itu.... Benar-benar terasa hangat dan nyaman!' Batin Sani mengakuinya. Dalam dekapan yang hangat itu, pikiran Sani masih belum melupakan tentang ingatan yang nenek perlihatkan padanya.
Tentang orang-orang yang terlibat di dalamnya, tentang situasinya, dan tentang perasaan takut yang nyata itu, Ia masih belum bisa menyimpulkannya.
Ia hanya bisa menyimpulkan bahwa, Sani yang ada dalam masalalu itu meninggal karena serangan orang yang tak di kenal.
Dan orang yang berada di sisi-nya di saat terakhir itu adalah Kerta, suaminya.
Itulah mengapa sekarang ia tahu bahwa, suara seseorang yang pernah menyuruhnya kembali saat ia masih di rawat di rumah sakit itu, adalah suara Kerta.
Ya benar, sementara seperti ini saja sudah cukup.
.
.
.
.
"San? Apa kau baik-baik saja?" tanya suara tegas Kerta yang memecah keheningan.
Sani hanya mengangguk! Ia sudah merasa lebih baik sekarang. Perlahan Sani mulai mengendurkan pelukannya dari tubuh hangat Kerta.
"Nah, bagaimana sekarang? Apa kau sudah merasa lebih baik?"
"Ya, sudah lumayan!" sahut Sani singkat.
"Mau mas ambilkan minum? "
__ADS_1
"Ah, tidak perlu! Aku baik-baik saja. "
"Kalau begitu, Mau mas peluk lagi?"
"Hah? "
"Hehehe, bercanda kok... "
"Aah.. "
Kerta berhasil membuat Sani mengulas senyum dengan candaannya. Benar-benar sosok suami yang cukup menghibur.
'Ah, dasar laki-laki ini... ' batinnya berbunga.
"Wah... Senyum yang cantik..."
"Hmm... ?"
"Iya, senyuman yang sangat cantik. Secantik orangnya. "
blusshh....! Sani merasa pipinya panas.
"Hei lihatlah, wajahmu sudah terlihat seperti tomat sekarang... "
"Heeh? Wajahku tidak bulat seperti tomat. Enak saja... " Sahut Sani ketus. Ia sama sekali tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengejeknya.
"Hahaaaa..... Kau ini lucu sekali? Maksud mas bukan bentuknya, tapi warna merahnya... "
"Aap.. Aapaa? Tidak kok... "
"Hahaha... Kenapa malu-malu begitu? Sini... "
"Iihh... Kau ini, selalu saja seenaknya, " ucap Sani risih sambil mendorong mundur tubuh Kerta.
"Hehehhe... Maaf, kebiasaan! "
Sebenarnya, bukan karena Sani masih tidak suka dengan perlakuan manis Kerta padanya. Ia hanya belum terbiasa dengan semua ini.
Sejak kecil, Sani tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya kasih sayang kedua orang tua. Ia melewati masa kecilnya di panti asuhan hingga tamat SMA.
Begitu lulus sekolah, Sani mendapat kesempatan untuk kursus menjahit gratis selama dua tahun.
Selama dua tahun di tempat kursus, Sani benar-benar menggunakan kesempatannya dengan baik. Bahkan semua pola untuk membuat pattern yang sulit, sudah ia kuasai dengan cepat di tahun pertama.
Maka dengan usaha keras dan prestasinya selama di sana, ia di berikan modal usaha untuk mendirikan home seewing yang kini sudah menjadi butik itu.
Ya... Begitulah perjalanan hidup yang telah ia lalui. Benar-benar tak ada waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak penting menurutnya. terrmasuk memikirkan hal semacam cinta-cintaan atau apalah itu namanya.
Sani memang bisa dikatakan cukup sukses dengan karirnya. Ia berhasil membuat orang-orang mengingatnya, meski dulu ia bukan siapa-siapa. Akan tetapi jauh di dalam hatinya, ia merasa hampa. Sangat kosong....
"San? Kok ngelamun?"
"Hah?"
"Nah kan, lagi-lagi kau tak mendengarkan ucapan mas, ya? Memangnya apa yang sedang mengganggu pikiran itu, hhm?"
__ADS_1
"Uum... Tidak! Bukan apa-apa kok! Oh ya, nenek mana? " sahut Sani mencoba mengalihkan bahasan.
"Nini tabib, maksudmu?"
Sani hanya menjawabnya dengan anggukan mantap!
"Nini tabib sudah pulang dari tadi. Mas hanya mengantarnya sampai luar sebentar. Namun karena begitu kembali kau sudah tidur, jadilah mas mengurungkan niat untuk menungguimu. Mas memang sengaja membiarkanmu istirahat tadi. Mas tak ingin mengganggumu."
Sani hanya manggut-manggut seolah memahami penjelasan panjang lebar Kerta.
"Gggrrruyyuuuuukkk...!" tiba-tiba saja suara nyaring terdengar jelas di antara mereka berdua. Dan sepertinya Kerta tahu dari mana suara itu berasal?
"Eem, San... Apakah suara itu?"
"Aaa.. Aanu...."
"Oh, pantas! Mas kira ada kecoa yang nylempit di bantal-mu tadi...!"
"Kecoa? Huh, enaj saja!"
"Hahahhaa... Hahahhaa... "
Kerta tertawa lepas, tak tahan untuk tidak menertawakan wajah malu Sani yang terlihat lucu.
ππππππ
Ini sudah hari ke-empat Sani berada di rumah ini. Sekarang ia sudah terbiasa dengan suasana-nya dan juga dengan orang-orangnya.
Benar, ucapan nenek waktu itu. Kerta memang sosok seorang suami yang baik. Kerta selalu menyiapkan juga menyediakan semua yang ia butuhkan kapanpun itu. Laki-laki itu seperti tak pernah terlihat lelah saat mengurusnya.
Lalu juga ada bibik Gandari. Bibik yang menjadi *inang dari suaminya ini adalah orang yang juga mengabdi pada keluarga Kerta secara turun temurun.
*(Inang: pengasuh anak atau bayi di masa itu)
Di zaman ini, para bangsawan atau orang penting seperti Kerta hidup dengan layak dan punya orang yang berkerja di rumah mereka menjadi pembantu.
Namun di masa ini, seorang pembantu atau yang di sebut abdi ndalem di pilih secara turun temurun. Jadi bibik Gandari ini, sejak masih kecil dan para kakek buyutnya sudah di tempatkan untuk menjadi abdi ndalem keluarga Kerta.
Sedangkan keluarga Kerta sendiri, Sani belum tahu pasti keberadaannya. Ia hanya selalu melihat Kerta dan juga bibik selama berada di rumah ini. Ia masih belum mempunyai kesempatan untuk menanyakannya pada Kerta.
"Den ayu sudah bangun?"
"Hha... Iya bik, baru saja!"
Sani terlalu asyik melamun sampai tak menyadari bibik sudah berdiri di sampingnya.
"Bagaimana kakinya den ayu? Bibik lihat lukanya sudah banyak yang kering."
"Sudah tidak sakit bik. Saya juga sudah bisa menggerak-gerakkan-nya sedikit. "
"Syukurlah, kalau begitu den ayu sudah bisa mandi sekarang. Mari, bibik bantu mandi... "
"Hah? Di bantu mandi?"
"Iya den ayu, bibik bantu mandi seperti biasa, ya? "
__ADS_1
"Eh, tapi.... "
πππππ²ππ³π³πΈπ±π·π²π²ππ