
Kerta segera bergegas menemui kedua utusan yang sudah menunggunya untuk beberapa saat di ruang tamu. Berkali-kali batinnya merutuk kesal dengan datangnya tamu-tamu yang tak di undang itu pada waktu yang kurang tepat. Apakah mereka tidak sadar bahwa mereka baru saja mengganggu momen ritualnya dengan Sani?
"Loh... Bayu?"
Kerta langsung mengenali utusan yang di maksud oleh bibik adalah si pemuda tampan dengan rambutnya yang panjang nan indah. Pemuda itu lalu mengibaskan rambut sutranya seperti model iklan shampoo untuk membalas panggilan Kerta.
"Halah... Ternyata hanya kau! Kenapa kau suka sekali menggangguku, hm?"
"Hei 'kumis'! Asal kau tahu ya, kalau saja bukan tuan senopati sendiri yang menyuruhku menemuimu secara langsung, aku juga tak akan sudi datang kemari panas-panas begini. Padahal aku baru saja pulang dari berburu."
"Itu kan salahmu sendiri? Lagipula siapa yang menyuruhmu untuk menjadi pemburu maniak seperti itu? Mentang-mentang punya waktu bebas tugas selama satu minggu kau langsung menghilang ke hutan begitu saja."
"Memangnya kenapa kalau aku suka berburu? Bukannya itu juga bagus untuk melatih dan meningkatkan ketangkasanku?"
"Ya.... Ya, aku tahu. Tapi mau sampai kapan kau akan terus mengejar hewan-hewan itu? Apa kau tidak ingin sesekali memburu beberapa perempuan sebagai gantinya?"
"Hahahaaa... Buat apa aku susah-susah memburu mereka? Tanpa aku kejar-pun mereka sudah berebut untuk memikatku."
"Huh... Omong kosong! Lalu sekarang mana perempuan itu? "
"Masih dalam tahap seleksi!"
"Jiiiaaah.... Seleksi? Hahaha... Kau ini ada-ada saja. Memangnya kau mau pilih yang bagaimana? Yang cantik dan bohay? Yang kaya? Atau yang paket lengkap seperti si Imah?"
"Imah? Ppuuuih, aku alergi dengan spesies yang satu ini. Aku tidak suka dengan perempuan yang tidak bisa di andalkan."
"Memang kau akan mengandalkannya dalam hal apa, hm?"
"Aaagh, sudahlah! Kenapa kita malah membahas hal yang tidak penting seperti ini?"
"Hahahaha... Terserah kau saja. Asal jangan terlalu lama sampai 'terong-mu' menjadi lemas dan kisut!"
"Kurang ajar, kemari kau kumis!"
Bibik Gandari keluar tepat sebelum candaan mereka menjadi kian tak terkendali. Di tangannya sudah tertata nampan yang berisikan tiga buah cangkir berisi minuman untuk masing-masing ketiga orang tersebut. Hati-hati bibik meletakkan minuman-minuman itu dan menyuguhkannya di atas meja kayu panjang yang mengkilat. Bibik lalu meletakkan minuman itu tepat di depan Kerta dan kedua tamunya masing-masing.
"Terimakasih bik, " ucap Kerta lembut.
"Sama-sama den." Sahut bibik tulus sebelum menghilang kembali di balik pintu ruang tengah.
"Sst, kumis! Apa wedang*nya boleh di minum sekarang?"
*Wedang; Sebutan untuk minuman yang terbuat dari seduhan beberapa jenis tanaman yang di rebus dengan air mendidih. Adapun tanaman yang biasa di gunakan untuk wedang ini juga bervariasi. Bisa dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, sereh dan juga tanaman lain yang di percaya memoliki khasiat yang baik untuk tubuh. Bahkan sebagian masyarakat jawa juga biasa menyebut seduhan bubuk kopi yang di campur dengan gula pasir sebagai 'wedang kopi'.
__ADS_1
"Kau bodoh ya? Kenapa begitu saja kau tanyakan padaku? Cepat minum dan habiskan sekarang sebelum aku berubah pikiran!"
Kerta hanya tersenyum menang saat melihat Bayu membalas ucapannya dengan pelototan kesal. Di ikuti dengan tawa pemuda berseragam pasukan khusus yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia.
Sedikit demi sedikit mereka mulai menyeruput wedang jahe buatan bibik yang masih hangat. Paduan pas antara rempah jahe dan gula merah yang telah di seduh bersamaan telah menghasilkan cita rasa unik pada minumannya. Sensasi hangat yang keluar dari 'si jahe' itu sendiri benar-benar berpadu sempurna dengan rasa pekat 'si gula merah'.
Setelah beberapa saat berbincang santai sambil menghabiskan minuman mereka, kini Bayu mulai mengganti topik pembicaraan selanjutnya dengan mimik wajah yang lebih serius. Sesekali ia juga tampak membuat gerakan dengan kedua tangannya untuk membuat Kerta paham dengan maksud dan tujuan dari kabar yang di bawanya.
Mereka berbincang cukup lama dengan nada suara yang di atur se-rendah mungkin untuk meminimalisir adanya pendengar lain yang tidak di harapkan. Bayu sudah berbicara panajng lebar hingga masing-masing orang di ruang itu akhirnya menganggukkan kepala dan sepakat untuk melakukannya.
"Baiklah, sekarang aku mulai memahami arah pemikiran paman senopati. Jadi untuk sementara ini apa yang bisa aku lakukan untuk membantu paman menyelesaikan tugasnya?"
"Sebenarnya aku juga belum tahu apa yang akan beliau rencanakan untuk mengatasi masalah ini. Tapi sepertinya beliau sendiri sudah mempertimbangkan langkah awal yang harus kita ambil untuk saat ini."
"Langkah awal maksudmu?"
"Jadi begini kumis, sepertinya untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan beliau sedang berusaha untuk memasukkan kau sebagai umpan untuk mendekati para bangsawan itu."
"Umpan?"
"Ya, kurasa beliau mengatur cara agar kau bisa berbaur dan mendapat pengakuan kembali di mata para bangsawan besar."
"Tunggu, jadi maksudmu aku harus bergaul dengan para 'demit darat' itu?"
"Bayu, kau tahu jika sejak dulu aku sangat tidak nyaman saat berdekatan dengan orang-orang semacam itu. Apakah tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain itu?"
"Kalau ada yang bisa melakukannya aku juga tidak akan menyuruhmu. Aku tahu kau pasti akan mengeluh saat aku menjelaskan rencananya. Tapi kau adalah satu-satunya bangsawan besar dalam anggota pasukan khusus. Selain kau tidak ada yang bisa!"
Kerta diam dan nampak memikirkan sesuatu untuk beberapa saat. "Baiklah, kalau begitu katakan apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Cepat jelaskan padanya!" ucap Bayu memberi perintah pada pemuda yang duduk di sampingnya.
"Seperti yang sudah beliau rencanakan sebelumnya, untuk malam ini ketua harus datang menghadiri pesta jamuan yang sudah di tentukan! Disana ketua akan bertemu dengan banyak bangsawan besar untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan."
"Pesta?"
"Benar, ketua!"
"Aku benci pesta!"
"Tenanglah kumis, lagipula pesta itu tidak akan berlangsung semalaman kan?" sahut Bayu menengahi pembicaraan Kerta dengan pemuda yang di bawanya.
"Kenapa kau cemberut begitu? Seharusnya kau senang karena akhirnya kau punya kesempatan untuk mengenalkan Sani pada mereka."
__ADS_1
"Sani?"
"Betul, ketua!"
"Tapi kenapa Sani juga harus ikut ke dalam misi? Kau bilang aku hanya harus menghadiri sebuah pesta perjamuan, kan?"
"Justru karena ini adalah pesta perjamuan, maka ketua harus datang bersama pasangan untuk meminimalkan kecurigaan target kita malam ini."
"Maaf, bukannya aku lancang! Tapi kalau aku sampai harus melibatkan Sani dalam hal seperti ini lebih baik aku mundur saja."
"Mohon dengarkan dulu penjelasan saya, ketua! Sebenarnya senopati agung sendiri juga tidak akan mengambil resiko dengan melibatkan nyimas Sani dalam hal ini. Untuk itu, beliau juga sudah menyiapkan pengawal khusus yang akan bertugas untuk menjadi pengawal pribadi nyimas Sani kelak."
"Pengawal pribadi?"
"Betul, ketua! Dia adalah satu-satunya perempuan yang bergabung ke dalam pasukan khusus kita beberapa hari lalu. Bahkan senopati sendiri yang menguji hingga meluluskan seleksinya karena kemampuan yang di milikinya."
"Tapi kenapa paman senopati tidak pernah memberitahuku soal ini?"
"Beliau mulai mengambil tindakan tersebut setelah terjadinya insiden penyerangan yang menimpa ketua beserta keluarga beberapa waktu lalu. Jadi selama ketua dan dimas Sena berada dalam masa pemulihan kemarin, diam-diam beliau sudah mempersiapkan semuanya dengan matang."
Kerta hanya manggut-manggut paham dengan penjelasan singkat yang baru saja di dengarnya. Ia sendiri tak menyangka bahwa paman senopati-nya itu benar-benar memperhatikan keluarganya sampai sedemikian jauh. Bahkan beliau juga sudah menyiapkan pengawal pribadi untuk Sani?
"Jadi bagaimana kumis? Apa kau bersedia untuk bergabung?" ajak Bayu sejurus kemudian.
"Baiklah, aku ikut! Lalu siapa lagi yang ikut bergabung dalam misi malam ini?"
"Ketua tenang saja, karena senopati sendiri juga sudah menyuruh dimas Sena bersama pasangannya untuk membantu ketua mendapatkan informasi malam ini."
"Sebentar, apa barusan kau bilang Sena akan datang bersama dengan pasangannya?"
Bayu dan si pemuda hanya tersenyum sambil mengangguk mantap.
"Tunggu, pasangan maksudmu?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀