
Seorang perempuan dengan perawakan kecil berdiri di depan Sani sambil tersenyum. Ia mengenakan setelan baju kebaya, seperti yang lainnya.
Namun yang membuat penampilannya terlihat berbeda adalah tata rambutnya.
Perempuan ini memiliki rambut pendek yang ujungnya melengkung lucu. Di padukan dengan pengikat kepala yang manis, terlihat seperti ia sedang memakai bandana saja.
"Sani? Itu betul kau, kan?"
Perempuan itu segera berlari menghambur ke dalam pelukan Sani. Tak henti-hentinya ia tertawa sambil terus menyebut nama Sani berulang-ulang.
"Ya gusti.... Sani? Aku tadi sampai pangling saat melihatmu! Kau makin cantik saja... "
Sani hanya bisa melongo, tidak tahu mengapa gadis ber-rambut pendek itu melonjak-lonjak kegirangan? Padahal ia sama sekali tak mengenali siapa sosok gadis yang masih memeluknya ini.
"Sani... Aku senang sekali akhirnya kau berkunjung kemari! Aku pikir kau melupakan kami, karena sudah hidup bahagia dengan pangeranmu ini.... Hahahhaha"
"Kau Asih, kan?" Kerta segera menyadari bahwa perempuan itu tengah menyindir dirinya.
"Ahahhaa... kau masih ingat padaku rupanya? Kupikir kau sudah lupa?"
"Mana mungkin aku lupa pada gadis bawel sepertimu, heh?"
"Hei Kerta...! Jika saja aku tidak bawel seperti ini, kau dan Sani juga tidak mungkin menikah?"😤
"Hahahaha.... Iya iya... Sampai kapanpun aku akan selalu mengingat jasa-mu pada kami berdua... "😇
"Nah, begitu baru benar!"
😁
😁
😆
😆
😂
"Sani, kenapa diam saja dari tadi? Apa kau sedang sakit?"
"Ahh... Emm, anu... " Sani kebingungan memberikan jawaban yang tepat padanya.
"Asih, maaf ya...? Tapi saat ini Sani sedang tak ingat siapa dirimu..."
Kerta membantu menjawab, begitu tahu Sani mulai terlihat panik.
"Hah? Kalian sedang bercanda ya?"
Sani melihat senyum perempuan itu berganti dengan wajah kaget dan nampak serius.
"Tidak! Aku tidak sedang bercanda. Saat ini Sani tak ingat kau ini siapa? Ia kehilangan ingatannya!"
Perempuan itu langsung memandangi Sani dengan tatapan tak percaya. Mulutnya menganga, seakan baru saja mendengar berita yang sangat mengejutkan!
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀
Sani dan Kerta terlihat tengah duduk-duduk santai di dalam sebuah rumah. Mereka duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu. Di depan mereka, terdapat sebuah meja kecil yang juga terbuat dari potongan bambu.
Rumah itu memiliki dinding yang terbuat dari gedeg* seperti kebanyakan rumah lain di sini. Atap-nya juga masih menggunakan susunan jerami, bukannya genteng seperti di rumah Kerta.
(*Gedeg: Anyaman bambu yang ber-ukuran lebih tebal dari anyaman sesek)
"Hai... Maaf, nunggu-nya kelamaan ya?" Ucap Asih sambil membawa dua gelas minuman di atas baki.
Pelan-pelan Asih meletakkan gelas-gelas berisi minuman itu di depan Sani dan Kerta.
"Ayo... Silahkan di minum. Maaf ya? Cuma seadanya... " Ucap Asih mempersilahkan, lalu duduk di seberang mereka berdua.
"Maaf, kami jadi merepotkan... 😥" ucap Sani mulai menyahuti pembicaraan Asih.
"Hahahaha... tidak kok! Justru aku yang minta maaf. Aku tak tahu kalau kalian akan mampir. Jadi aku tidak punya apa-apa untuk di persiapkan!"
"Oh ya, Asih... Kau masih menjual sayuran seperti dulu?" Kerta juga mulai ikut menyahut.
"Memangnya apalagi yang bisa aku kerjakan di sini? Tapi, ya... Begitulah! Semenjak Sani kau ambil, aku jadi berjualan sayur sendiri di pasar."😭😭
"Asih, apakah dulu kita menjual sayur bersama?"
__ADS_1
"Iya San. Sejak kecil kita sudah menjadi teman dekat, karena kita sama-sama tak mempunyai orang tua. Jadi, semenjak itu... kita berdua bertahan hidup hanya dengan memetik sayur dan menjualnya di pasar."
"😯😯😦"
"Saat masih sangat pagi sekali, kita berdua berangkat memetik sayur di tempat biasa. Setelah terkumpul cukup banyak, barulah kita berdua membawanya ke pasar untuk di jual. Ya... Begitu terus setiap hari... "
"Wahh, benarkah? Kedengarannya seru?"
"Oh... Tentu! Kau sangat suka sekali setiap kita selesai berjualan dan pulang dari pasar. Karena di saat itulah, akhirnya kita berdua bisa makan."
"😅😅😅"
"Kau tahu Kerta? Mengapa Sani sangat menyukai bagian itu?"
Kerta menggeleng!
"Karena aku tahu, bahwa Sani adalah orang yang paling tidak bisa menahan lapar.... Hahahaaaa"😜😜😜
"Ahaaa... Sekarang aku tahu, mengapa Sani tak pernah bisa berlama-lama dalam perut kosong.... " 😂😂😂😂
Tawa mereka pecah bersamaan.
"Ah... Hentikan... Kalian berdua membuatku malu. "😥😥😥
"Ahahahaa.. Iya iya, aku minta maaf!"
"Uumm, Asih... Sayur yang kita cabut untuk dijual itu, apakah kita menanamnya atau hanya tumbuhan liar saja?"
"Sayur-sayuran itu adalah tanaman yang sengaja kita tanam setiap tiga bulan sekali, Sani. Jadi setiap tiga bulan itu nanti kita akan memanen-nya, dan kembali menanami-nya tiga bulan kemudian"
Sani manggut-manggut mendengar penjelasan Asih.
"Lalu apakah aktifitas sehari-hari kita hanya seputar memanen sayur dan menjualnya? Maksudku... Apa kita punya kegiatan lain yang di lakukan bersama selain itu?" Sani mulai penasaran mendengar cerita Asih.
"Aduh Sani... Sayang sekali kau kehilangan ingatanmu. Kalau saja kau ingat betapa dulu kita selalu bersama hampir dalam segala
hal..." 😢😢😢
"Ah... Aku minta maaf... " 😥😥
"Tidak perlu sampai meminta maaf begitu... Lagipula aku sangat senang mengetahui kau baik-baik saja... "
"Terimakasih, Asih! Kau baik sekali"
"Sudah diam, jangan hanya banyak omong terus. Cepat sini... "
Pluuuk...!
Sani akhirnya menyambar tubuh kecil itu dan memeluknya.
"Nah begitu... Hiks... Hiks... Hiks.." Ucap Asih dengan suara bergetar menangis di bahu Sani.
"Kau tahu, Sani? Semenjak kau pergi dari sini, kau membuatku repot dengan meninggalkan aku di ganggu sendirian oleh para bandit pasar itu. Kau jahat sekali membiarkan aku berlari-lari sendirian mengusir burung-burung di sawah.... "
"Kita mengusir burung?" Jawab Sani dengan suara yang juga mulai bergetar.
"Iya Sani. Kita sudah melewati banyak hal bersama. Lalu tiba-tiba kau pergi, dan tinggallah aku sendirian melakukan semuanya... Hiks... Hiks... "
"Ya ampun Asih, maafkan aku... "
Entah mengapa Sani merasakan ada percikan emosi di dalam hatinya. Seperti ada sesuatu yang meledak-ledak setiap Asih menceritakan masalalu mereka.Tubuh Sani bergetar saat buliran air mata itu mulai jatuh di pipinya.
Untuk sejenak, mereka masih saling memeluk dan menangis bersama.
.
.
.
.
.
"Aheemm... Ehmm!"
Suara dehem Kerta sedikit memecah kesunyian di antara mereka. Sani dan Asih melepaskan pelukan mereka begitu menyadari bahwa Kerta masih berdiri di sana.
"Kalian berdua asyik sendiri ya? Sampai lupa, dan membiarkan aku menonton saja..."😂😂
"Hahahaha... Ya maaf, " ucap Asih sambil senyum-senyum, merasa bersalah.
"Mmm, Sani... Sebenarnya ini sudah saat-nya kita pergi"
"Ah, iya... Baiklah." jawab Sani sedikit lesu.
"Kok jadi kelihatan sedih?" ucap Kerta sambil mengelus lembut pipi Sani.
__ADS_1
"Entahlah... Aku hanya merasa,..."
"Katakan saja pada mas, ada apa?"
"Mmm, aku ingin lebih lama berada di sini dengan Asih... "
Sani menoleh pada Asih, melihat mata sembab-nya yang nampak berkaca-kaca.
"Kau mau tinggal di sini untuk beberapa hari?"
Sani mendongak, berganti menatap Kerta.
"Boleh?"😯
"Tentu saja!"
"Apa tidak masalah?"
"Boleh, kan Asih?" Kerta bertanya, meminta persetujuan Asih.
"Kalian bercanda? 😩😩 Tentu saja boleh.... Hiks... Hiks... Sangat boleh... " Asih kembali menangis, namun kali ini adalah tangisan yang terlihat bahagia.
"Dasar cengeng! Begitu saja menangis?"😆😆
"Diam kau, Kerta!"😤
"Ahahaha... iya iya, aku diam!😂 Oh ya... Sani, tapi mas tidak bisa menemanimu di sini ya? Ada sedikit urusan yang harus di selesaikan di padepokan utama! Jadi, Mas harus pulang! Kau tidak pa-pa, kan?"
Sani mengangguk-angguk dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, aku titip Sani padamu ya, Asih? Awas kalau sampai kau hilangkan! Tiga hari lagi aku akan menjemputnya kembali... "
"Siap!!! Kau pulang saja sana. Serahkan urusan Sani padaku tiga hari ke depan. Nanti pasti akan aku kembalikan dia kepadamu lagi dengan utuh... 😂😂😂"
"Janji, ya?"
"Iya... Iya...! Sudah cepat pergi sana! "
Kerta menarik pelan tubuh Sani ke dalam pelukan-nya. Lalu menciumi pipi mulus Sani beberapa kali dan berbisik di telinga-nya,
"Jaga diri baik-baik, ya? Mas pasti akan rindu sekali padamu."
"Iya mas... "😊😊😊
"Mas pulang dulu!"
Ccuuupp!
Kerta mengecup bibir merah Sani sekilas.
"Aduh aduh... Yang mau berpisah? Padahal hanya berpisah tiga hari saja, kok?"😝😝
"Dasar... !😆 Kamu saja yang belum tahu bagaimana rasanya orang yang jatuh cinta? Meski hanya tak bertemu sebentar, tapi rasanya lama sekali... 😥😥😢."
"Ah.... Ya ya... Terserah kau saja... "😒😒
"Makanya, cepat cari suami sana!"
😝😝😝😝😝
" Hei Kerta, lama-lama kau menyebalkan juga ya? Sudah cepat pergi...!"😡😡
"Iya.. Iya.. Aku pergi sekarang!"
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀
Hai semua...!
Aku sudah berusaha keras sampai bab dua puluh ini, lho...!
Oleh karena itu,...
Like, comment, dan favorit dari kalian akan sangat membuatku bersemangat!
👍👍👍👍
ku tunggu jejak kalian.
__ADS_1