SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Begadang


__ADS_3

"Tok... Tok... Tok..."


Sani dan Sena seketika menoleh bersamaan begitu mendengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Keduanya lalu saling berpandangan satu sama lain dengan tatapan heran.


Mereka penasaran dengan sosok orang yang mengetuk pintu kamarnya di tengah malam begini. Hal ini berhasil membuat Sani menjadi was-was dan curiga pada si pengetuk pintu itu. Namun sebisanya, ia mencoba terlihat biasa seolah tak terganggu dengan ketukan di tengah malam itu.


"Tok... Tok... Tok...!" suara ketukan itu terdengar kembali. Namun kali ini, intonasi ketukannya lebih cepat dari ketukan sebelumnya.


Sani yang semula sudah berhasil mengatur ekspresi wajahnya, kini tak bisa lagi menyembunyikan rasa panik itu di depan Sena. Dahi-nya berkerut ke atas dengan mata melirik, mengawasi pintu yang sudah terketuk dua kali itu.


Sena yang menyadari perubahan di wajah Sani, akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan cepat ke arah pintu kamar.


Sena memeriksa siapakah gerangan orang yang berdiri di depan pintu dengan menempelkan sebelah matanya di antara kedua sela-sela pintu.


"Sena?" panggil Sani setengah berbisik pada Sena yang belum juga memberi tanda-tanda aman padanya.


"Ppsst...! Sena...?" panggilnya lagi dengan volume suara yang agak di keraskan.


Sena sudah selesai melakukan pengintaiannya saat ia berbalik ke arah Sani dan mengacungkan jempolnya di ikuti sebuah senyuman.


"Fiiuuuhh.... " Lepasnya kemudian.


Seketika Sani merasa lega setelah Sena memberikan isyarat aman kepadanya. Hampir saja tadi ia berpikiran yang tidak-tidak tentang orang yang berada di balik pintu itu.


"Tok... Tok... Tok... " Suara ketukannya terdengar kembali.


"Sebentar!" sahut Sena sambil membuka pengunci pintunya dengan cepat.


Empat orang dengan seragam khas perwira sudah berjajar rapi di sana saat Sena berhasil membuka pintunya. Mereka semua nampak tegang dengan raut wajah serius dan garang.


"Ada apa?" tanya Sena tegas ke arah mereka.


Salah satu dari ke-empat orang tersebut mendekat ke arah Sena dan nampak membisikkan sesuatu kepadanya. Sani menangkap kesan tegang pada pembicaraan mereka yang nampak sangat penting itu. Ia melihat raut wajah Sena langsung berubah menjadi serius setelah mendengar penjelasan orang tersebut.


Sesekali Sena seperti terperangah dan manggut-manggut mendengar prajurit itu berbicara. Sani tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan disana. Ia hanya bisa mendengar beberapa kata yang terputus-putus seperti 'komplotan bertopeng', 'pembalasan mereka', dan beberapa kata yang terdengar samar-samar di telinganya.


"Baiklah! Sekarang kalian semua pergilah ke pos jaga secepatnya. Sebentar lagi aku segera menyusul kesana!" Seru Sena kemudian dengan suara lantang.


"Tapi kang, sekarang ini jumlah anggota kita hanya segelintir orang saja." Sahut si pembawa kabar.


"Kalau begitu besok tolong kalian kumpulkan beberapa pasukan khusus terbaik yang kita punya. Pagi-pagi sekali kita adakan rapat dadakan guna membahas masalah ini lebih lanjut!" jawab Sena tegas di ikuti tatapan matanya yang tajam.


Ke-empat orang tersebut langsung mengangguk paham dan segera pergi meninggalkan Sena yang masih mematung di depan kamar.


.

__ADS_1


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Hoooaaahhmmmm!" Sani menguap sambil menggeliatkan tubuhnya yang serasa remuk sampai ke dalam tulang-tulangnya.


Rasanya baru dua jam saja ia bisa tidur nyenyak setelah Sena berpamitan padanya semalam. Sena bilang, ia harus pergi untuk mengurus sesuatu yang penting dan berjanji akan segera kembali setelah urusannya selesai.


Namun sepeninggal Sena dari kamarnya, justru membuat Sani tak bisa tidur dengan cepat karena suasana yang ia rasakan tiba-tiba saja berubah tidak nyaman. Separuh malamnya ia habiskan hanya dengan menerka-nerka tentang permasalahan dan situasi yang sebenarnya terjadi.


Sani segera membenarkan posisinya dan kini berdiri di samping ranjang dengan mata lurus menatap suaminya. Ia lihat Kerta masih saja terbaring lemah di atas ranjangnya dengan nafas yang teratur.


Tangannya kini mulai membelai lembut kepala Kerta dan merapikan rambutnya yang nampak berantakan. Pelan, ia menyisirkan jari-jarinya membelah anak rambut Kerta yang berwarna hitam pekat.


Belaian itu lalu turun ke bawah melewati kumis tipis Kerta dan berakhir di atas bibir bulat Kerta yang terkatup. Sani memutar-mutarkan telunjuknya di atas bibir itu mengikuti garis bibir Kerta yang masih terlihat menggoda di matanya. Ccuupp! Tanpa permisi, Sani tiba-tiba bereaksi mengecup kilas bibir bulat itu.


"Cepatlah pulih, mas... Aku sudah rindu... " Bisiknya pelan di telinga Kerta


"Tok... Tok... Tok...!" lagi-lagi ia dengar suara ketukan pintu dari arah luar.


Sebelum pergi dari kamar kemarin Sena berpesan agar dirinya selalu mengunci pintu kamar dan tidak membiarkan sembarang orang masuk ke dalam. Sena bilang yang boleh keluar-masuk kamar dalam beberapa waktu ke depan hanya beberapa orang dalam seperti, para abdi ndalem, beberapa pasukan khusus, dan juga para tabib yang bertugas untuk mengurus serta merawat luka Kerta.


"Tok... Tok... Tok... " Suara ketukannya kembali terdengar.


"Siapa?" tanya Sani dengan suara setengah berteriak pada si pengetuk pintu.


"Saya, den putri... " Sahut suara lembut itu dari luar.


Sani langsung tahu dan hafal dengan pemilik suara ini. Ia segera bergerak menuju pintu dan dengan cepat membuka kuncinya untuk bibik di luar.


Bibik menyambut Sani dengan wajah sumringah dan cerah begitu Sani keluar dari dalam kamar. Bibik tersenyum ramah seperti biasa seolah ia sudah lupa akan perdebatan sengit dengan putranya kemarin.


"Saya kira den putri belum bangun, tadi?" tanya bibik kemudian.


"Saya juga baru bangun kok bik! Saya hampir terjaga sepanjang malam, kemarin!" jawab Sani sambil tersenyum, membalas senyuman bibik padanya.


"Den putri tidak bisa tidur, ya?" tanya bibik lagi dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


"Ya, begitulah.... Untungnya kemarin bibik meninggalkan makanan untuk saya. Kalau tidak? Hhmmm.... Mungkin saya akan terjaga sampai pagi karena menahan lapar pula... Hehehehe... " Canda Sani mencoba mencairkan suasana.


"Ah, den putri! Bagi bibik itu sesuatu yang biasa saja, kok." Sahut bibik dengan merendahkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Tidak bik! Saya sangat berterimakasih atas perhatian bibik. Dan saya juga senang melihat bibik sudah kembali subuh-subuh begini!"


Bibik hanya menjawab pertanyaan Sani dengan anggukan dan senyum kecil.


"Sebenarnya alasan saya tidak bisa tidur semalam karena, Sena tiba-tiba pergi meninggalkan saya yang penasaran karenanya. Jadi, semalam kami..."


"Sena?" putus bibik dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah datar.


"Iya... Sena! Ada apa, bik?" tanya Sani penasaran.


"Apakah semalaman anak itu berada di kamar ini bersama den putri?" bibik menjawab pertanyaan Sani dengan pertanyaan baru.


"Loh, saya pikir dia sudah meminta izin biyungnya untuk membantu saya menunggui mas Kerta?"


"Iya... Memang! Tapi saya tidak tahu kalau dia akan berada disini sepanjang malam. Saya kira dia hanya mengantar makanan den putri, lalu berjaga di luar?"


Sani menangkap ekspresi bibik yang nampak tidak suka dengan pengakuan Sani. Entah mengapa bibik selalu terlihat sensitif saat tahu Sena berada di sekitar dirinya.


"Ada apa, bik? Sepertinya bibik terlihat tidak suka jika Sena dekat-dekat dengan saya, ya?"


Bibik nampak terperanjat dengan pertanyaan Sani yang seperti sedang tersinggung dengan ucapannya.


"Bbuu... Bbukan begitu den putri..." Sambung bibik sungkan.


"Lalu?"


"Saya hanya.... "


Ssrrekk... Srrekkk!


Tiba-tiba saja pembicaraan Sani dan bibik berhenti seketika, saat mereka mendengar suara langkah seseorang dari arah belakang.


"Wah... Wah... Wah... Sepertinya hari ini nasibku jelek sekali, ya? Masih pagi begini aku harus melihat wajah orang yang tidak aku sukai. Hhuh! Menyebalkan!" seru suara seorang perempuan dari arah belakang!


Sani tahu siapa pemilik suara ini. Pemilik suara nyaring ini selalu berhasil membuat sesuatu dalam dirinya hampir meledak dan panas. Omaigat? Kenapa harus sekarang perempuan gila ini muncul?


"Selamat pagi, Imah?" sapanya kemudian dengan senyuman yang nampak di paksakan.


.


.


.


.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2