SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
De javu


__ADS_3

"Hah? Nyiii... Nyimas?" seru Sena kaget begitu menyadari Sani sudah duduk di sampingnya.


Antara percaya dan tak percaya, Sena hanya bisa melongo sambil terus memandangi perempuan pemilik bibir merah merekah itu dengan tanpa berkedip. Sani terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang terurai, lengkap dengan setelan kebaya putih yang di potong memanjang.


Jadi, apakah benar tempat ini adalah nirwana?


"Ada apa Sena? Kenapa kau nampak kaget begitu?"


"Tii... Tiiddak, bukan begitu. Saya hanya terkejut saat melihat nyimas yang tiba-tiba duduk di samping saya."


"Terkejut?"


"Betul. Saya terkejut karena tidak melihat nyimas datang, jadi saya pikir... "


"Wah, aku tersinggung Sena.Bisa-bisanya kau tak menyadari kedatanganku hanya karena sedang melamun?" potong Sani dengan nada bicara memanja.


"Melamun? Saya tidak melamun, nyimas."


"Oh, benarkah?"


"Sungguh! Tadi itu tanpa sengaja saya teringat tentang beberapa kenangan kit... " Sena segera menghentikan kalimatnya begitu sadar dirinya tak boleh mengatakan hal itu di depan Sani.


"Kenangan, maksudmu?" buru Sani merasa di buat penasaran.


"Ah tidak, lupakan saja! Saya hanya asal bicara."


"Kau ini, selalu saja aneh begitu. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?"


"Iya. Hari ini saya terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa segar dan lebih sehat. Saya pikir, saya akan merasa kesepian begitu terbangun di kamar nirwana ini. Tapi untunglah, ada nyimas juga di sini."


"Tunggu Sena, apakah kau baru saja bilang tentang kamar nirwana?"


Sena hanya menjawabnya dengan anggukan kecil sambil menatap mata Sani dengan polosnya.


"Ppfft... Kau ini ada-ada saja. Kau nglindur ya?"


"Hah? Nglindur bagaimana maksud nyimas?"


"Dengar baik-baik ya? Entah kenapa kau berpikir begitu, tapi ini adalah kamar biasa dan bukannya kamar di nirwana seperti yang kau pikirkan tadi. Saat ini kau seratus persen masih hidup dan bernyawa untuk menjalani perawatan khusus di tempat ini, Sena. Apa kau mengerti dengan penjelasanku?"


"Apa? Jadi ternyata tempat ini bukan salah satu kamar di nirwana?"


"Hahahaahahahaa... " Sani lantas menjawab pertanyaan aneh Sena dengan tawa keras yang membuatnya semakin kebingungan.


Wajah tampan itu terlihat sangat menggemaskan saat menunjukkan ekspresi heran seperti saat ini. Ada-ada saja...


"Jadi kau pikir seperti it?"


Sena mengangguk cepat.

__ADS_1


"Ah, baiklah. Aku tahu apa yang bisa membuatmu berhenti berkhayal dan berpikiran aneh begitu." Ucap Sani sambil menempatkan posisinya untuk lebih dekat ke arah Sena.


"Tunggu, apa yang akan nyimas lakukan?"


"Aku hanya ingin memberikanmu sebuah kejutan." Balas Sani singkat.


"Nyimas, tungg.... Hhmpph, mmmphh... " Sena belum lagi menyelesaikan kalimatnya saat Sani menyambar bibir tipisnya dengan cepat.


Tanpa ragu-ragu lagi Sani kini mulai ******* pelan bibir Sena dengan lembut. Lidahnya naik-turun berirama di dalam hangatnya nafas yang beradu di antara mereka berdua. Sani mengatur pagutan yang di mainkannya dengan sangat lembut, namun tetap panas.


Sena yang mulai teraliri dengan hawa panas yang telah Sani ciptakan, kini mulai bereaksi membalas permainan bibir itu agar lebih seimbang. Ia tak ragu-ragu untuk memperdalam ciumannya hingga membuat tubuh Sani menggelinjang merasakan kenikmatan. Sumpah, ini dua kali lebih ajaib dan indah daripada kenikmatan di nirwana sekalipun.


.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Jadi yang tadi itu cuma mimpi ya?" bisiknya lirih sambil tersenyum kecut.


Hatinya sedikit kecewa menerima kenyataan tentang mimpi yang baru saja ia alami itu. Ada sedikit rasa kesal kala ia ingat ciuman yang baru saja ia lakukan bukanlah suatu hal yang nyata. Seakan dirinya masih bisa merasakan bagaimana kecupan-kecupan itu bermain dan membasahi bibirnya.


"Ini benar-benar gila!" gumamnya kesal sambil membetulkan posisi duduknya.


Kkrreeek! Sena lantas refleks menoleh saat ia lihat pintu di ujung ranjangnya tiba-tiba terbuka. Disana ia lihat seorang perempuan paruh usia tengah berdiri sambil tersenyum menatapnya. Perempuan itu lalu berjalan ke arahnya dengan kedua tangan menumpu baki berisikan sebuah mangkuk yang isi-nya terlihat masih mengepul.


"Biyung?" sapa Sena seraya membalas senyum bibik.


Dengan cekatan bibik mulai merapikan meja kecil di samping ranjang lalu meletakkan nampannya disana. Ia lalu bergabung dengan Sena di atas ranjangnya sambil mengusap pelan kepala anak semata wayangnya dengan lembut.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya bibik untuk memastikan keadaan putranya.


"Iya, biyung! Sena sudah merasa lebih sehat."


"Syukurlah... " Sahut bibik dengan suara yang serak.


Sena melihat binar mata perempuan itu mulai berkaca-kaca sedih. Seperti ada yang mengganggu pikirannya saat ini.


"Ada apa, biyung? Baru saja Sena melihat biyung hampir menangis?"


"Maaf, karena biyung tak mempercayaimu sejak awal. Malam itu biyung benar-benar khawatir melihatmu terluka sedemikian parahnya. Biyung tak bisa melakukan apa-apa selain terus memanjatkan doa agar anaknya di berikan keselamatan. Biyung takut, jika saja kau... "

__ADS_1


"Sst, jangan bicara seperti itu. Sena tak akan pergi kemana-pun tanpa izin dari biyung. Justru Sena yang harusnya minta maaf karena sudah membuat biyung khawatir."


Tess... Tesss... Tesss...


"Loh, biyung kenapa menangis? Apa Sena baru saja mengatakan hal yang telah membuat biyung jadi sedih?"


"Hhhh... Tidak Sena! Biyung hanya ingin kau berjanji satu hal pada biyung."


"Berjanji untuk hal apa biyung?"


"Berjanjilah agar kau tidak akan membuat biyung khawatir lagi seperti sekarang. Kau tahu bahwa aku sudah pernah kehilangan orang yang aku cintai satu kali, dulu. Dan kini aku tak ingin kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya, Sena."


"Biyung... "


"Katakan Sena! Katakan kalau kau bisa melakukannya untuk biyung." kalimat bibik mulai terdengar tegas, dengan bulir-bulir air mata yang semakin membuat Sena bingung harus menjawab apa.


Bagaimana mungkin ia bisa berjanji untuk menuruti perintah ibunya yang satu ini. Sedangkan tugasnya sebagai seorang prajurit pasukan khusus sangat beresiko tinggi untuk membahayakan nyawanya? Lalu ia harus menjawab apa sekarang?


Bukankah pekerjaannya ini adalah cita-cita biyung dan mendiang romo-nya sejak dulu?


"Tapi biyung...


"Biyung mohon, bersumpahlah untuk keselamatanmu Sena. Biyung mohon.... Biyung tak mau melihat pemakaman anaknya sendiri. Tolong, Sena..."


Kini Sena semakin bingung dan juga merasa bersalah melihat pipi biyungnya yang kian basah dengan air mata yang berderai deras. Ia tak tahu harus bicara apa? Kata-katanya seolah tertahan di depan perempuan yang telah membesarkan dirinya seorang diri selama dua puluh satu tahun itu.


"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat janji pada biyung sekarang juga. Hhhuuu... Hhuuu... " Sergah bibik dengan tangis yang semakin pecah.


"Sena! "


"Iya biyung! Sena berjanji tak akan melakukannya lagi. Sena janji tak akan membuat biyung khawatir seperti ini lagi... "


"Hhuuu... Hhuuu, anakku... Kemarilah!"


Lalu bibik merentangkan lebar-lebar kedua tangannya untuk Sena. Ia lantas meraih bahu besar dan merangkul putranya itu ke dalam peluk hangatnya. Air mata yang berderai nampak saling berlomba untuk turun membasahi kelopak matanya yang mulai keriput. Sungguh, ia tak mau bersedih lagi nanti.


Sena sendiri juga tak tahu apakah ia boleh menjanjikan hal yang tak mungkin seperti itu? Ia tak tega kala melihat air mata ibunya yang membuat hatinya terasa sakit. 'Sebenarnya ada apa dengan biyung? Kenapa tiba-tiba bersikap aneh begini?' batin Sena penuh rasa bimbang.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2