SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Tawaran Sena


__ADS_3

Dasimah sudah merusak mood pagi Sani, dengan kedatangannya yang telah mengganggu ketentraman di dalam rumah. Sani juga tak tahu mengapa setiap kali perempuan itu datang berkunjung, selalu saja berakhir dengan adu mulut yang sengit antara mereka berdua.


Sebenarnya Sani sendiri bukanlah tipe orang yang mudah membenci orang lain seperti ini. Namun karena kesan pertama yang buruk saat ia berjumpa dengan Dasimah, maka hal ini menjadikan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya menjadi sensitif dan tidak nyaman.


Terlebih, Dasimah sendiri selalu menunjukkan sikap tidak suka-nya secara terang-terangan pada Sani. Hingga Sani-pun turut tak bisa menahan diri untuk tidak meladeni ulah dan ucapan perempuan gila itu.


"Kau ini bagaimana menjalankan peranmu sebagai istri, hah? Matahari sudah hampir muncul tapi penampilanmu masih kusut begini? Bagaimana kau akan mengurus suamimu jika mengurus diri sendiri saja tidak becus seperti ini?" omel-nya ketus pada Sani.


Ya tuhan? Ini masih pagi buta, tapi perempuan ini sudah datang dan menguras kesabarannya dengan baik. Sani hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran, melihat kelakuan Dasimah yang menyebalkan seperti ini. Benar-benar mirip dengan orang yang memiliki gangguan mental saja.


"Nampaknya kau sangat peduli dengan penampilanku, ya?! Ah, kau baik sekali... " Sahut Sani santai, mencoba tak terpancing dengan omelan Dasimah.


"Ciih! Yang benar saja.... " Umpat Dasimah kesal saat tahu umpannya tidak di sambut baik oleh lawannya.


Sani sendiri langsung menoleh pada bibik. Ia ingin melihat ekspresi apa yang akan bibik tunjukkan setelah melihat reaksi Dasimah barusan.


Pas sekali! Ia lihat bibik sedang menahan tawa dengan wajah tertunduk. Nampaknya bibik tak tahan melihat ekspresi Dasimah yang seperti menahan malu, karena kehilangan kesempatan untuk mengajak Sani beradu mulut.


Sedangkan Sani sendiri hanya tersenyum kecil melihat Dasimah yang nampak sibuk sendiri mencari kesalahan lainnya sebagai bahan olokan selanjutnya. Kini ia tahu, harus bagaimana ketika berhadapan dengan perempuan tidak waras ini.


"Pagi-pagi sekali kau sudah datang ke rumah orang, ngomong-ngomong... Apa kau sudah sarapan?" tanya Sani kemudian.


"Terserah padaku sudah sarapan atau belum? Itu bukan urusanmu!" jawabnya ketus.


"Yaaaa.... Memang benar, hal itu bukan urusanku! Asal nanti kau tidak kemari hanya untuk meminta jatah sarapan kepadaku, kurasa aku juga tidak peduli!" sahut Sani tak kalah ketus.


Sani mengucapkan kalimatnya dengan nada mengejek yang anggun pada lawan bicaranya itu. Sebelah bibir kanan-nya di angkat sedikit, memamerkan seringai yang membuat Dasimah nampak jengkel.


"Aaa... Aapaa kau bilang?" balas Dasimah dengan mata terbelalak!


Sani hanya mengedikkan kedua bahunya menanggapi ucapan Dasimah.


"Sembarangan saja! Kau pikir aku pengemis, heh?!" teriaknya marah.


"Lalu sebutannya apa? Untuk seorang bangsawan terpandang yang selalu berkeliaran di rumah orang? Bukankah itu tak jauh beda, dengan seorang pengemis yang berkeliaran karena tak punya rumah?"


Bibik sepertinya tak bisa lagi menahan tawanya mendengar kalimat balasan Sani. Tubuhnya bergetar berturut-turut dengan tangan yang menutup garis bibirnya yang tertawa lebar.


Dasimah yang menyadari bahwa kini dirinya sedang menjadi bahan tertawaan, seketika wajahnya terlihat merah padam menahan ledakan kemarahan!


"Aappaaa? Berani-beraninya kau... "


Dasimah sudah bersiap menyerang Sani dengan mengacungkan sebelah tangannya untuk menampar Sani.


"Eehh... Eeh, eeh... Kau mau apa? Mau menamparku lagi?" tantang Sani berani.


"Kau pikir, tamparanmu ini bisa merubah sesuatu?" lajut Sani kemudian.

__ADS_1


"Aaa...apa urusanmu?" jawabnya terbata-bata.


"Kau harus tahu, bahwa sebanyak dan sekeras apapun kau menamparku, keadaan-nya akan selalu begini! Selamanya kau hanya akan sebatas itu di mata suamiku! Belum sadar juga, heh?" sahutnya pantang mundur.


"Kkaaa... Kaauu..." Ceracau Dasimah yang kesulitan untuk menyelesaikan kata-katanya dengan baik.


Matanya terlihat berkaca-kaca dengan genangan air, di pelupuknya yang memandang Sani penuh kebencian.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sani mengibas-ngibaskan pelan rambut basahnya yang ber-aroma segar jeruk nipis ke udara. Seluruh tubuhnya terasa bugar setelah menyelesaikan mandi pagi-nya dengan bantuan bibik.


Sani senyum-senyum sendiri mengingat pertengkaran-nya dengan Dasimah tadi. Ia senang sekali saat melihat wajah merah Dasimah yang sudah mirip seperti kepiting rebus itu.


Untung saja para tabib itu ada disana saat suasana sudah semakin tak terkendali. Kedatangan para tabib itu langsung saja berhasil membubarkan tawuran antara dua perempuan cantik yang nampak sudah siap saling mengadakan baku hantam.


"Kkrruyyuuukk... " Bunyi nyaring perut Sani yang keroncongan menahan lapar.


"Ah... Menyebalkan!" gumamnya pelan sambil terus mengibas-ngibaskan ekor rambutnya yang panjang.


"Pplaaaakk!"


Uuupps!


Sepertinya kibasan rambutnya baru saja mengenai sesuatu?


"Hah? Aduh... Aduh, aku minta maaf ya? Aku tadi tidak tahu kalau di belakangku ada orang... " Ucap Sani malu-malu, begitu tahu bahwa rambutnya baru saja mengenai wajah seseorang.


Korban-nya sendiri hanya membalas permintaan maafnya dengan senyuman maut yang khas di mata Sani.


"Sena? Apa itu tadi sakit?" tanya Sani kemudian.


"Hahahahaaa.... Saya baik-baik saja! Lagipula salah saya sendiri yang berjalan se-enaknya di belakang nyimas." Jawab Sena ramah.


"Ha.... Kau ini... "


"Hehehehe... Sebenarnya, kedatangan saya tadi karena ingin menawarkan sesuatu pada nyimas!"


"Hah? Apa itu?" sahut Sani heran dengan dahi yang mengernyit.

__ADS_1


"Saya berencana mengajak nyimas untuk turut serta dalam sebuah rencana penting!"


"Hah? Rencana penting apa maksudmu?"


"Sebuah strategi yang sudah saya janjikan untuk saya ceritakan kepada nyimas kemarin!"


"Apa kau serius?"


"Saya sangat serius dengan ucapan saya!"


Sani masih mengernyitkan dahi-nya tak paham dengan tawaran Sena yang datang tiba-tiba.


"Memangnya, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu rencanamu itu?" tanya Sani kemudian.


"Saya butuh bantuan nyimas untuk menjalankan rencana kedua saya. Jadi rencana ini nantinya sebagai antisipasi, jika saja rencana pertama saya tidak berjalan dengan lancar!"


Sani hanya diam tak tahu harus bicara apa untuk menyahuti penjelasan Sena kepadanya. Sepertinya ini bukan perkara yang main-main mengingat dari keseriusan Sena saat mengucapkan kalimat-kalimatnya sejak tadi.


"Nyimas?" panggil Sena, menyadarkan Sani yang nampak sedang melamun memikirkan sesuatu.


"Bagaimana, apakah nyimas bersedia membantu?" tanya Sena kemudian.


"Aah... Emmm, entahlah Sena. Aku hanya... " Sani menggantung ucapannya, terlihat ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Ada apa, nyimas?"


"Aku hanya takut jika nantinya aku sendiri yang akan jadi pengacau pada rencana pentingmu ini! Karena sepertinya ini adalah masalah yang sangat serius." Jawab Sani ragu.


"Saya yakin nyimas adalah orang yang tepat untuk menjalankan rencana ini. Percaya saja pada saya! Karena ini juga bergantung pada keselamatan kang Kerta ke depannya!" pungkas Sena mantap.


Sani tak perlu berpikir panjang lagi jika hal itu sudah mengacu pada keselamatan suaminya. Ia segera menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu lagi seperti sebelumnya.


"Baiklah... Aku ikut! Sekarang katakan rencananya!" seru Sani lantang.


Sena mengangguk senang melihat Sani bersedia bergabung dengan rencana besarnya.


"Itu keputusan yang bagus, nyi! Sekarang dengarkan baik-baik apa yang akan saya jelaskan selanjutnya."


"Baik, aku siap mendengarkan!" sanggup Sani mantap.


.


.


.


.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2