
"Den putri..." Sayup-sayup Sani mendengar suara lembut bibik memanggilnya.
"Den putri, bangun...!" seru suara itu kembali terdengar, kali ini juga di sertai dengan goyangan pelan di bahunya.
"Hhhoaahhhmmm.... Ya..." Sahut Sani malas-malasan sambil menggeliatkan pelan tubuhnya.
Sani mengucek kedua matanya yang masih terasa sepat dan mengantuk. Ia mengatur gerakan tangannya selambat mungkin, berusaha untuk tidak melukai kornea yang berada di dalamnya.
Setelah itu, ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar yang terasa semakin suram dari sebelumnya. Sani melihat langit yang berwarna kuning kemerahan di luar rumah dari jendela kamarnya.
Ya ampun... Ternyata ini sudah hampir senja. Ia tak menyangka jika dirinya akan tertidur se-lama itu di atas kursi ini?
Matanya menatap sosok bibik yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Bibik sudah disana sambil membawa lampu teplok di tangan kanan-nya. Api kecil sudah bergeliatan di dalamnya dengan bahan bakar yang di peroleh dari minyak tanah.
Samar-samar ia lihat bibir bibik di tarik ke atas membentuk sebuah senyuman hangat di dalam pandangannya yang masih belum fokus seratus persen.
"Den putri, maaf kalau bibik sudah lancang membangunkan den putri yang nampaknya kelelahan. Tapi sebentar lagi hari akan gelap. Bibik harus segera pulang sebelum senja datang." Ucap bibik serius dengan raut wajah yang terlihat seperti menyesal.
"Iya bik, saya tahu! Saya juga minta maaf sudah membuat bibik jadi repot beberapa hari ini." Sahut Sani mencoba sesantai mungkin.
"Tidak, den putri! Saya tidak merasa di repotkan sama sekali. Kalau den putri mengizinkan, saya bisa menginap malam ini. Saya bisa membantu den putri menjaga den Kerta disini."
"Tidak tidak... Itu tidak perlu bik! Lebih baik bibik pulang saja sekarang. Saya tahu, bibik pasti capek sekali seharian sudah bekerja sendirian mengurus rumah. Saya pasti bisa menjaga mas Kerta dengan baik. Bibik tenang saja. " Tolak Sani halus.
"Benar, den putri tidak mau saya temani?" tanya bibik ragu.
"Iya, bik! Saya bisa sendiri, kok!"
"Baiklah kalau begitu bibik pamit,"
Sani hanya mengangguk pelan sambil memberikan senyum kecil pada bibik.
Bibik pergi setelah menyalakan lampu-lampu teplok lainnya yang di gantung di dinding-dinding kamar. Kamar yang semula terasa suram, kini menjadi terang dengan bantuan penerangan dari lampu-lampu itu.
Ah, tidak! Bibik melupakan sesuatu sebelum berpamitan pulang tadi. Sepertinya bibik lupa untuk menyiapkan makanannya. Ini sudah lewat jam makan-nya, bukan? Ah, sudahlah! Itu bisa di urus nanti setelah ia selesai mencuci muka.
Sani melangkah masuk kembali ke dalam kamar setelah selesai mencuci mukanya. Ia membasuh wajah mulusnya itu dengan air sejuk yang membuat rongga pori-porinya kembali segar.
"Nyimas?"
Sani hampir terlonjak kaget saat mendapati seorang laki-laki sudah duduk di samping ranjang Kerta. Laki-laki itu tersenyum sangat menawan dengan wajah cerah yang memikat.
"Sena? Kau disini?" sapa Sani senang.
Sena mengangguk ramah, namun dengan cepat ia langsung membuang muka dan menundukkan wajahnya ke bawah.
__ADS_1
Sani merasa aneh dengan perubahan ekspresi Sena yang spontan itu. Hal itu membuatnya memeriksa seluruh bagian tubuhnya, untuk memastikan apakah ada yang salah dengan penampilannya saat ini.
Hah? Ya ampun!
Sani hampir memekik kaget saat mendapati bagian dadanya yang terbuka lebar. Dengan jelas, kedua daging kenyal itu menyembul dari balik baju kebayanya.
Penyebabnya adalah, karena dua kancing kebayanya kini tidak terpasang semestinya di tempat semula. Ia lupa belum membenarkan bagian itu saat selesai mencuci muka-nya tadi.
Ya tuhan, apa tadi Sena melihatnya?
Secepat kilat, tangannya yang agak gemetar segera mengancingkan kembali ujung kebaya-nya. Kini ia sadar mengapa tadi Sena segera membuang muka begitu? Pasti ia melakukannya setelah menyadari ada sesuatu yang tidak boleh di lihat pada diri Sani.
Sani sudah duduk di samping ranjang Kerta yang lain setelah ia selesai merapikan bajunya dengan baik. Seketika, suasana langsung berubah canggung setelah terjadinya insiden yang memalukan tadi. Baik Sani maupun Sena, mereka sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Eehhhmm... Ehemm Sena?" suara Sani mencoba mencairkan suasana.
"Iya?" sahut Sena sambil tetap menundukkan pandangannya ke bawah.
"Eemm, anu... Kau sudah bisa mengangkat kepalamu sekarang!" seru Sani lirih.
Ragu-ragu Sena mulai mengangkat kepanya kembali. Namun sepertinya, Sena masih saja berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Sani. Ia menjaga pandangannya dengan mengedarkan penglihatan ke seluruh ruangan.
Sani sendiri tak tahu harus berbuat apa untuk kembali mencairkan suasana di antara mereka. Ia hanya memutar-mutarkan ujung bajunya untuk mengurangi rasa gugup dan kikuk di depan laki-laki itu.
"Kkrrruuyyuukkkk.... "
Sena langsung mengubah arah pandangannya dan seketika menatap Sani dengan ekspresi terkejut. Dengan jelas ia dengar bunyi nyaring yang berasal dari perut lapar perempuan cantik itu. Sena melihat Sani nampak menahan malu dengan pipi merah yang membuatnya terlihat lucu.
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sena nampak cekatan menggunakan pisau dapur saat memotong-motong kecil bawang merah dan daun seladri. Tangannya sangat terampil memainkan pisau dapur itu seolah ia sudah biasa melakukannya.
Setelah semua yang ia butuhkan terpotong, ia mulai mengocok tiga butir telur ayam yang sudah terpisah dari cangkangnya. Sena mengocok adonan telur itu dengan kecepatan sedang sambil membubuhkan sedikit garam di atas adonannya.
Sena memutuskan untuk membuat makanan sedanya untuk Sani setelah ia tertawa keras mendengar bunyi berisik perut perempuan itu. Dan di luar dugaannya, ternyata Sena sangat ahli dan terlihat santai dalam meracik bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Terlebih, Sena juga sangat terampil menggunakan semua peralatan dapur.
__ADS_1
Sedangkan Sani sendiri, sejak tadi ia hanya membantu Sena dengan duduk manis saja. Sena memintanya untuk duduk di atas amben yang di letakkan di sisi tungku api yang terbuat dari tanah liat.
"Sena? Aku bantu apa?" tanya Sani menawarkan bantuan.
Ia merasa sungkan melihat Sena yang terus sibuk menyiapkan semuanya sendirian. Sena melakukan semua hal sedangakan dirinya tidak melakukan apapun dan hanya duduk-duduk saja mengamati Sena bekerja.
"Nyimas tidak perlu melakukan apapun sekarang. Biarkan saya saja yang menyiapkan makanan untuk nyimas." Jawab Sena sambil memamerkan sebuah senyuman yang mematikan seperti biasa.
"Tidak, Sena! Aku tidak mau diam saja melihatmu melakukan sesuatu untukku. Tolong beri aku perintah supaya aku bisa membantumu!" Rajuk Sani gemas melihat dirinya sendiri yang tidak tahu banyak tentang urusan dapur.
Selama ini Sani tidak pernah menggunakan dapur rumahnya selain untuk merebus mi instan saat tengah malam. Ia lebih suka membeli semua makanannya daripada harus memasak sendiri di dapur. Karena menurutnya, hal tersebut akan lebih praktis sehingga ia tetap bisa fokus dengan baik pada pekerjaannya.
Tapi disini ia tidak mungkin membeli mi instan lalu memasaknya di atas tungku tradisional ini. Bahkan untuk menyalakan api-nya saja ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya?
Sungguh memalukan!
"Sena? Kau harus membuat aku berguna di dapur ini, atau aku tidak akan memakan sedikitpun masakan yang kau siapkan! Cepat putuskan sekarang juga!" ancam Sani tegas pada Sena.
"Nyimas tidak perlu pura-pura galak seperti itu untuk menggertak saya. Lagipula, saya rasa hal itu tidak sesuai dengan wajah cantik nyimas." Sahut Sena santai dengan tawa yang tertahan! Ia melakukannya agar tawanya tak meledak di depan Sani.
"Aaaapp... Aapppaa yang kau tertawakan? Aakk... Akkuu tidak sedang pura-pura, Sena!" balasnya dengan kata yang terbata-bata dan pipi merah malu.
Sena semakin tak bisa menahan tawanya setelah melihat wajah cantik Sani se-merah tomat. Tawanya lepas begitu saja di depan Sani yang terlihat semakin salah tingkah di depannya.
Sena masih terus tertawa sambil meletakkan *nanangan di atas tungku tanah liat yang penuh dengan api dari bakaran kayu kering di bawahnya.
*Nanangan: Sebuah alat masak tradisional yang terbuat dari tanah liat. Biasanya di gunakan untuk menge-pan adonan atau memasak sesuatu tanpa minyak.
Sedikit demi sedikit Sena mulai menuangkan adonannya tipis-tipis di atas nanangan yang sudah panas. Ia nampak sangat mahir dan cekatan melakukanya berulang-ulang sampai seluruh adonannya habis.
"Nyimas, bisa tolong bantu untuk mengambilkan piring itu?" kata Sena sambil menunjukkan tangannya ke arah rak piring.
Sani tertawa girang saat Sena meminta pertolongan-nya. Akhirnya ia merasa berguna setelah sekian lama hanya duduk-duduk santai sambil memandangi Sena yang sibuk menyiapkan makanan-nya.
"Nyimas, awas... Kakimu!" seru Sena setengah berteriak saat menyadari jarik Sani terlilit ujung amben yang kasar.
Tubuh Sani seketika oleng!
.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀