SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Lari


__ADS_3

Brruuakkk!


Sena segera menggandeng tangan Sani untuk masuk ke dalam kamar dan secepatnya mengunci pintu itu dari dalam. Sani yang panik kini hanya bisa berdiri mematung di sisi Sena sambil serius memikirkan sesuatu.


Gedebrraaakk!


Sepertinya itu suara pintu dapur yang telah berhasil mereka dobrak paksa. Sani masih menerka-nerka orang gila manakah yang merusak pintu orang lain di saat hampir tengah malam begini?


Ataukah ini adalah penyerangan yang Sena bicarakan tadi siang?


Deg... Deg... Deg...


Suara detak jantung Sani seketika berpacu tak teratur, begitu ia mendengar derap langkah yang semakin mendekat di balik pintu kamar.


Sena yang sejak tadi sudah lebih dulu berjaga di belakang pintu, nampak sedang sibuk mencari celah dengan menempatkan posisinya untuk mengintip ke luar kamar.


Setelah beberapa lama ia menempelkan sebelah matanya di sela kedua pintu itu, kini mulai memberinya isyarat untuk tenang dengan menempelkan telunjuk kanannya di atas bibir. Sedangkan tangannya yang lain di gerakkan naik-turun perlahan secara bergantian.


"Graddaaakk.... Grradaaak!!!"


Sani mendengar suara gesekan kayu dari arah luar. Sepertinya mereka sedang mencoba membuka pintu kamar secara paksa pula.


Mengetahui hal itu, Sena segera bertindak cekatan menempatkan beberapa benda-benda berat di depan pintu. Ia mencoba menghambat dan memperlambat upaya mereka untuk masuk ke dalam kamar dengan benda-benda itu. Satu per-satu perabotan dalam kamar itu sudah berpindah dari tempatnya semula, dan berhamburan memenuhi pintu kamar.


Sani yang mulai bisa menguasai rasa paniknya, kini juga ikut membantu Sena yang nampak kesulitan mendorong lemari pakaian ke depan pintu. Mereka berdua saling bekerjasama untuk memindahkan lemari kayu yang berat itu sebagai penahan pintu kamar.


"Nyimas, tolong dengarkan ucapan saya baik-baik!" seru Sena setengah berbisik di sela-sela nafasnya yang memburu.


Sani hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat untuk menyahuti kalimat Sena.


"Kita harus menjalankan rencana yang sudah saya jelaskan sekarang juga. Di luar sana saya lihat lebih dari lima orang bersenjata sudah berjejer dan berusaha untuk mendobrak pintu ini." Lanjutnya masih dengan berbisik sambil mengarahkan ujung tangannya pada pintu kamar.


"Baik, aku mengerti!" jawab Sani mantap.


"Saya ingin nyimas berhati-hati dalam menjalankan rencana ini. Saya tidak mau nyimas terluka hanya karena membantu keberhasilan misi ini."


Sani mengangguk paham mendengar penjelasan Sena.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Sani mulai berjalan cepat ke arah jendela kamar yang merupakan satu-satunya jalan keluarnya saat ini. Pertama-tama ia mulai membuka pengunci jendelanya se-pelan mungkin tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Setelah berhasil melakukannya, kini Sani mulai membuka daun jendela itu setenang mungkin.


Ia menarik sebuah kursi anyaman di sampingnya, lalu menjadikan kursi itu sebagai pijakan untuk menaiki kusenan jendela yang lumayan tinggi. Namun ketika salah satu kakinya sudah berhasil naik ke atas kusenan itu, Sani hampir memekik kaget saat Sena tiba-tiba saja datang menghampiri dan menarik tangan-nya.


"Ada apa, Sena?" tanya Sani spontan dengan mata membulat, kaget.


"Saya tidak berharap ada sesuatu buruk yang akan nyimas temui nanti. Namun seandainya nanti nyimas menemui masalah yang saya maksud, maka saya harap nyimas bisa menggunakan benda ini dengan baik!" ucap Sena sambil meletakkan sebuah benda di atas telapak tangannya.


Mata Sani terbelalak kaget saat menyadari benda apa yang telah Sena berikan kepadanya. Tubuhnya seketika bergetar melihat benda itu.Sebuah keris berukuran kecil berada di tangan-nya sekarang.


"Tttaaa.... Ttaaapii Sena... " ucap Sani terpurus-putus gugup.


"Sudah tidak ada waktu lagi! Nyimas harus segera pergi sekarang juga!"


"Hhaaaa...? Aaahh iiiyy... Iiyyaa baiklah!"


Ccuuupp!


Sena kembali mengecup kilas bibir kenyal Sani setelah memberikan keris itu padanya. Sena melakukannya dengan cepat dan lembut sebelum Sani sadar bibir mereka saling menyesap dalam waktu yang singkat.


Sena mulai melepaskan kecupannya lalu mengusap pelan pipi merah Sani. Tatapan matanya seolah mengatakan tentang kecemasan keselamatan Sani di luar sana.


Sani yang seolah tersadar akan misinya segera kembali melanjutkan aksi kaburnya dari jendela secepatnya. Pelan-pelan akhirnya Sani berhasil menuruni kusenan jendela itu dengan mulus. Sani sudah berada di sisi luar kamarnya sekarang.


Namun tiba-tiba pandangannya teralih pada Kerta yang masih diam terbaring di atas ranjangnya. Seketika Sani merasa nyeri melihat laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa pada situasi seperti ini.


Rasanya perih melihat laki-laki itu hanya terbaring tak berdaya di sana tanpa tahu apa yang telah ia lakukan. Dadanya bergejolak penuh rasa bersalah atas tindakan yang telah ia terima dari Sena tanpa adanya penolakan. Apakah mungkin ia baru saja menyelingkuhi suaminya yang sangat baik itu?


"Nyimas! Cepatlah!" suara bisikan Sena langsung membuyarkan lamunannya.


Sani mengangguk mantap lalu segera berlari menyusuri halaman rumah yang luas dengan penerangan yang minim. Ia terus berlari secepat mungkin dan menghilang di balik semak-semak taman halaman rumah.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Hei lihatlah! Aku lihat ada yang sedang berlari ke arah sana!" teriak salah satu laki-laki bertopeng pada komplotannya.


"Siapa?" tanya laki-laki bertopeng lainnya.


"Entahlah? Tapi aku yakin yang baru saja kulihat tadi adalah sosok seorang perempuan! Dia berlari ke arah semak-semak di sana!" jawabnya sambil menunjukkan tangannya ke arah yang ia maksud.


"Lalu kenapa kita hanya diam saja? Ayo kita kejar dia!"


"Tapi bukankah ki Marjo bilang, kita semua harus tetap menunggu disini sesuai rencananya? Jadi selama mereka mengurus semuanya di dalam, kita harus berjaga disini untuk menunggu aba-aba dari mereka."


"Aah! Kau ini bagaimana? Ki Marjo hanya bilang untuk menunggu aba-aba disini, kan? Orang kita sekarang berjumlah lebih dari tiga puluh orang! Lagipula kita sudah melumpuhkan semua penjaga di rumah ini!" kilah temannya membantah.


"Tapi,"


"Sudahlah! Kita hanya perlu menangkap seorang perempuan saja, kan! Kita harus segera menangkapnya karena bisa saja perempuan yang kau lihat tadi adalah salah satu ahli ndalem rumah ini. Bisa gawat kalau sampai dia berhasil keluar untuk meminta pertolongan! Kita bisa gagal menjalankan perintah ki Marjo!"


"Kau benar juga! Lalu bagaimana sekarang?"


"Gampang saja! Kita bisa membagi jumlah anggota menjadi dua kelompok untuk menjalankan keduanya. Sebagian berjaga disini, dan sisanya ikut aku mengejar perempuan itu! Bagaimana?"


"Baiklah! Sepertinya itu ide bagus!"


"Kalau begitu ayo!"


"Ayo!"


Dan lima belas orang-pun segera berlari menembus semak-semak mengikuti jejak perempuan yang mereka maksud. Mereka berlari secepat mungkin untuk menyusul di tengah malam yang gelap dan mulai terasa dingin.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2