SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Sisi tegas bibik


__ADS_3

Sani masih menundukkan kepalanya, merasa malu setelah mendapatkan pujian yang tak terduga dari Sena. Ia tak bisa mengangkat wajahnya, tak mau jika Sena sampai melihat pipinya yang kini tengah merona karena sanjungan cantik itu.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Sani mendapatkan pujian cantik, dari seorang lelaki. Bahkan ia terlalu sering mendengarnya dan membuat kata itu tak terdengar istimewa di telinganya.


Namun entah mengapa, Sani merasakan sensasi yang berbeda saat pujian itu keluar dari mulut Sena? Sedikitpun ia tak merasa risih, bahkan ada rasa nyaman saat berbicara dengan Sena. Ah, atau jangan-jangan...


"Nyimas?" panggil Sena, mencoba menetralkan suasana canggung di antara mereka berdua.


Sani mengangkat kepalanya dan berusaha untuk bersikap biasa saja. Sebisanya ia meredam hatinya yang masih terdengar sedang ber-disko ria. Ia melihat Sena di depan sana memasang wajah serius tanpa sedikit senyuman ke arahnya.


"Ya, Sena?" sahut Sani se-tenang mungkin pada Sena.


"Boleh saya bertanya sesuatu yang sedikit serius?"


"Tentu, Sena. Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan padaku?"


"Tidakkah nyimas mengingat sedikit saja tentang saya?" tanya Sena dengan tatapan misterius.


"Maksudmu?" sahut Sani agak bingung pada perubahan Sena yang semula santai, tiba-tiba saja menjadi sangat formal dan serius.


"Maksud saya, apakah nyimas tak ingat tentang masa-masa bersama kita meski hanya sedikit saja?"


"Kita?" ulang Sani terkejut saat mendengar kalimat Sena yang sedikit mengusik hatinya.


Mengapa Sena mengatakan kalimatnya dengan ekspresi, seolah mereka pernah memiliki moment spesial satu sama lain saja? Seakan mereka pernah memiliki hubungan lebih dari yang seperti sekarang ini? Sani merasakan ada maksud lain dari ucapan Sena padanya.


"Aaapp... Aapaa maksudmu tentang masa saat kita bersama? Apakah di antara kita pernah terjadi sesuu.....at"


"Tok... Tok... Tok!"


Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu yang menghentikan pembicaraan mereka.


Seketika pembicaraan mereka ter-alih pada sosok orang, yang seakan sengaja mengetuk pintu yang terbuka lebar sejak tadi


"Bibik?" ucap Sani agak terkejut, melihat bibik yang sudah di sana dengan wajah serius.


Bibik Gandari berdiri di tengah pintu kamar dengan baki di tangannya. Bibik hanya diam di sana dengan mata yang tak lepas menatap tajam ke arah Sena.


"Ini saya, den putri." Jawab bibik pelan.


"Bibik kenapa hanya berdiri saja disana? Ayo sini masuk!"


"Den putri, apakah bibik boleh masuk?" tanya bibik ragu.


"Tentu saja, kenapa tidak?"


"Karena tadi bibik dengar den putri dan Sena sedang berbincang-bincang serius. Saya tidak mengganggu, kan?"


"Bibik ini bicara apa? Masuk saja bik. Tidak usah sungkan begitu."

__ADS_1


"Baik den putri." sahut bibik dengan menyunggingkan senyum yang terlihat sedang di paksakan.


Setelah di persilahkan, bibik Gandari-pun masuk dengan tatapan dingin yang masih di arahkan pada Sena. Sebelumnya Sani tak pernah melihat sisi lain bibik yang seperti ini. Karena bibik yang ia kenal selama ini adalah sosok yang paling sering tersenyum dan lembut.


Ternyata seorang bibik Gandari yang biasanya selalu terlihat tenang itu, bisa berubah menjadi keras dan menakutkan begini?


Entah apa yang telah dilakukan oleh Sena? Sampai-sampai membuat bibik bersikap, seolah ia melihat anaknya itu telah bersikap buruk padanya. Pandangan tajam itu seakan mengatakan bahwa sekarang Sena sedang berada dalam masalah besar.


Bibik meletakkan baki-nya di atas meja tepat di sisi Sani. Terdapat sebuah kain dan baskom yang terisi air hangat di baki yang di bawanya.


Pelan-pelan bibik mencelupkan kain yang sudah ia persiapkan itu, ke dalam baskom berisi air yang masih terlihat mengeluarkan uap-nya. Kemudian ia meletakkan kain hangat itu di telapak tangan Sani setelah memeras sisa airnya terlebih dahulu.


"Den putri, ini sudah bibik rebuskan air hangat untuk den Kerta." Kata bibik sambil .


"Apa yang harus saya lakukan dengan air ini bik?"


"Saya dengar dari para tabib tadi, bahwa air hangat bisa membantu melancarkan peredaran darah. Jadi hal ini bisa sangat berguna dan baik untuk den Kerta." Jelas bibik singkat.


"Oh, baiklah bik. Terimakasih sudah memberitahu saya."


"Iya, sama-sama."


"Jadi saya hanya harus mengusap-usapkan kain ini, kan bik?"


"Betul, den putri. Terlebih di samping bagian-bagian yang terluka. Den putri bisa mengompreskan kain itu pada kulit yang tidak di bubuhi ramuan obat."


Bibik mengangguk mantap untuk menjawabnya.


"Ah, baiklah saya mengerti, bik. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih."


"Tidak masalah, itu memang sudah menjadi tugas saya den putri."


Sani mengangguk dan tersenyum, merasa beruntung dan terbantu dengan kehadiran bibik disini.


"Den putri, kalau tidak ada lagi yang di butuhkan, bibik pamit ke belakang dulu."


"Sebaiknya bibik pulang saja sekarang. Lagipula ini juga sudah larut malam. Bibik harus istirahat supaya besok bisa kembali ke sini lebih pagi."


"Kalau den putri izinkan, malam ini saya mau menginap di sini saja. Saya bisa tidur di ruang tamu atau di amben yang ada di dapur. Saya mau menemani den putri menjaga den Kerta." Tolak bibik halus namun tetap memasang mimik wajah yang serius.


"Tidak perlu, bik. Saya bisa menjaga mas Kerta sendiri malam ini. Bibik tidak perlu khawa... "


"Tidak boleh!" seru Sena yang tiba-tiba saja memotong kalimat Sani.


Seketika Sani dan bibik langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Sena bersamaan. Wajah bibik yang sejak tadi sudah terlihat tak ramah pada Sena, kini semakin terlihat garang dan seram saja.


Bibik dan Sena saling menatap tajam satu sama lain. Pandangan mereka bertemu pada sebuah titik yang tak sedap di saksikan.


"Lancang sekali kau Sena! Beraninya kau bersikap tak sopan pada den putri?" tegur bibik dengan ketus pada putranya.

__ADS_1


"Maaf biyung! Bukan maksud Sena tidak hormat pada nyimas Sani. Tapi sekarang ini Sena sedang mempertimbangkan keselamatan kang Kerta dan nyimas di sini."


"Bicara yang jelas Sena! Keselamatan apa yang kau maksud?! Apa kau tidak melihat keberadaan para penjaga di rumah ini?"


"Tapi mereka hanya penjaga biasa, biyung. Dengan keberadaan Sena di sini, akan membuat keamanan menjadi meningkat dan lebih terjamin."


"Oh, jadi menurutmu para penjaga itu tidak cukup kuat untuk menjaga rumah den Kerta selama ini? Begitu maksudmu?"


"Bukan begitu, biyung. Dengarkan alasan Sena dulu... "


"Memangnya kau sehebat apa Sena? Kenapa harus kau yang membantu menjaga di sini? Mengapa bukan prajurit pasukan khusus yang lain saja?" sahut bibik dengan nada bicara yang mulai meninggi.


Sedikitpun bibik seakan tak memberikan kesempatan pada Sena untuk menjelaskan. Bibik benar-benar terlihat lebih ekspresif daripada biasanya.


Sani tak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang? Ia tak tahu harus bagaimana untuk bisa meredakan kemarahan bibik yang di rasa terlalu berlebihan.


Padahal maksud Sena baik?


Sena hanya ingin tinggal untuk memastikan keamanan dirinya dan Kerta saja. Dan rasanya itu wajar-wajar saja di lakukan sebagai penerus ahli ndalem rumah ini.


Lalu apa masalahnya?


Sani tak bisa diam saja melihat ibu dan anak ini saling berdebat di depan suaminya yang masih belum juga sadar. Ia harus menghentikan perselisihan ini secepatnya.


.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Readers tersayang.


Terus semangati author dengan tinggalkan jejak kalian ya?


Berikan author inspirasi lebih dengan vote, like, rate, dan juga komentar sebanyak-banyaknya.


Terimakasih sudah mampir.


Salam,


Nur Al-Wahidah.

__ADS_1


__ADS_2