
Sani terbangun dari ranjang tempurnya dengan kondisi lelah juga remuk yang ia rasakan hampir di seluruh bagian tubuhnya saat ini. Entah berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan untuk mencetak 'gol' berkali-kali dalam permainan yang mereka nikmati beberapa jam lalu.
Jika ditanya berapa kali atau berapa lama perang itu terjadi? Sungguh, Sani sendiri tak akan bisa mengingat secara pasti berapa jumlah dan durasi-nya. Ia tak akan sanggup menghitung berapa kali getaran yang telah di hasilkan tubuhnya setiap kali Kerta melakukan bidikan ampuh yang tepat mengenai sasaran.
Tak terbilang lagi seberapa tangguhnya tubuh mereka saling mengejang bersamaan demi mengeluarkan sesuatu yang menuntut untuk di 'tuntaskan' pada saat itu juga. Lenguhan juga racauan yang tak beraturan-pun kerap kali terdengar sampai keluar kamar meski pintunya sudah di tutup dengan rapat. Keduanya seolah tak bisa mengontrol volume suara yang terlanjur ter-ekspos saat merasakan kenikmatan demi kenikmatan yang berhasil mereka raih berkali-kali.
Baik Kerta maupun Sani, mereka berdua saling bergantian mengatur ulang posisi masing-masing untuk menempatkan sasaran di dalam jangkauan yang tepat dengan arah tembakan. Mereka bahkan tak peduli lagi dengan suara decit dan gaduh dari ranjang besar yang terus bergemeretak menahan tubuh keduanya sekaligus. 'Permainan' kali ini benar-benar gila, rasanya.
Hingga akhirnya pergulatan berakhir saat Kerta dan Sani sama-sama kelelahan dan ambruk tak bertenaga di atas ranjang. Lalu keduanya terlelap tanpa busana yang sempat mereka gunakan kembali begitu mereka memungkasinya dengan ciuman penutup yang masih beraroma panas.
Dan saat ini Sani hanya bisa senyam-senyum sendiri mengingat tentang betapa liar-nya 'macan' yang tersembunyi di dalam dirinya itu. Baik itu gerakan tarian pembuka yang menggoda ataupun gerakan tubuhnya yang erotis, ia sama sekali tak pernah mempelajari semua hal itu sebelumnya. Semuanya benar-benar mengalir begitu saja tanpa ia sadari.
Seolah ada sesuatu yang telah memandu tubuhnya untuk bertingkah 'aneh' bak cacing kepanasan. Seakan rasa panas yang tiba-tiba menyembul itu adalah bahan bakar dari energi cintanya yang harus tersalurkan. Selarang ia tahu bahwa predikatnya di dalam hal menggoda bukan lagi mampu, tapi mahir.
"Emmhh, San? Kau sudah bangun?"
Tiba-tiba saja Sani di kejutkan oleh suara berat Kerta yang terdengar dari balik punggungnya. Dengan manja Kerta mengusap lembut pinggang ramping itu sebelum menelusupkan tangannya disana.
Lalu pelan sekali tangan besar itu mulai menarik tubuh polos Sani untuk jatuh di atas dadanya. Sedang Sani hanya menurut saja saat laki-laki itu akhirnya menempatkan dirinya ke dalam pelukan yang hangat itu.
"Ah, mas juga sudah bangun? Sudah lama, kah? "
"Tidak, mas baru saja bangun. Tapi yang tadi itu benar-benar hebat, sayang! Kau sangat pintar membuat suasana menjadi penuh tantangan yang mendebarkan."
"Hhhmmm, benarkah?"
"Sungguh! Seperti yang kau bilang, hari ini kau telah berhasil membuat mas tak berkutik sedikitpun! Kau bermain dengan sangat baik sampai membuat mas ingin lagi dan lagi. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya saat ini mas sudah ingin lagi. Hehehe... "
"Hah, lagi? Sekarang?"
Kerta langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban dari pertanyaan Sani.
"Iiiyyuuhh, ogah ah! Sani capek, mau mandi!"
"Waduh, sayang sekali! Padahal sekarang 'si tole' sudah bangun lagi."
"Si tole?"
"Benar, si tole yang nakal. Hanya karena kita saling menempel seperti ini saja dia sudah meronta-ronta ingin diajak main bersama lagi."
__ADS_1
Kerta lantas menggiring tangan Sani ke bagian terlarang 'miliknya' yang sudah keras menantang. Lama sekali sampai Sani menyadari bahwa yang di genggamnya sekarang adalah tongkat sakti Kerta yang sudah tegak lurus. Dengan cepat ia segera menarik tangannya kembali saat menyadari ukuran 'milik' Kerta yang tidak main-main besarnya.
"Iiihh, mas... "
"Hahaha, wajahmu terlihat lucu sekal. Ada apa? Kenapa kau terlihat panik begitu, hm?"
"Mas itu yang apa-apaan? Apa mas tidak malu menyuruh Sani memeriksa si to... Ahhh, entahlah!"
"Hahahaaa, sumpah ekspresimu itu lucu sekali, San! Lagipula kenapa juga mas harus malu? Bukankah benda itu juga yang barusan keluar-masuk ke dalam mi.... Mmmhhh... Mmpphhh... "
Sani segera menyambar bibir tipis suaminya sebelum Kerta semakin membuatnya malu dengan kalimat yang akan ia katakan selanjutnya. Namun tidak lama kemudian ia kembali menarik ciumannya begitu ia rasa ada sesuatu yang panas mulai menyembul dari pagutannya yang semakin liar.
"Waw, hari ini kau ganas juga rupanya?" ledek Kerta menggoda.
"Ccih... Sani seperti itu juga kan, karena kelakuan mas?"
"Loh, kok jadi salah mas?"
"Ya pokoknya apa yang sudah terjadi hari ini, semuanya salah mas!"
"Dasar curang,"
"Hahhaahaa... Eh, tapi hari ini mas juga sangat luar biasa! Sani baru menyadari tentang kehebatan stamina yang mas miliki itu benar-benar luar biasa!"
"Ya, stamina bertempur!"
"Hahahhaa, dasar kau ini ada-ada saja! Jadi bagaimana, apa kau suka?"
"Tentu saja Sani suka! Mas benar-benar paket komplit untuk pelayanan yang memanjakan dan memuaskan. Punya wajah tampan, tubuh kekar yang enak di pandang, lalu... "
"Lalu?"
"Mmm... Anu, itu... " Potong Sani yang nampak malu-malu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Itu apa, sayang?"
"Itu, ukurannya si tole benar-benar mantap. Dia sangat bes... Mmmph, mmmphhm..."
Kini giliran Sani yang tak bisa melanjutkan kalimatnya dengan benar. Hal itu terjadi karena ulah Kerta yang tiba-tiba saja menyambar bibir merekah istrinya untuk dilumat tanpa ampun. Kerta melahap hampir semua bagian bibir seksi itu seolah hendak di telannya bulat-bulat.
__ADS_1
Maju-mundur kepala mereka bergantian mengikuti irama yang mereka ciptakan tanpa jeda. Di dalam sana mereka terlihat sedang sibuk saling menggigit, menjil*t bahkan meng*l*m satu sama lain untuk beberapa saat.
Tok... Tok... Tok...!
Glek, Kerta dan Sani langsung menyudahi sesi pemanasan mereka begitu mendengar suara ketukan pintu di luar kamar. Secepatnya mereka langsung memunguti kembali pakaian yang terlanjur berserakan di sana-sini akibat pertempuran sengit yang telah berlangsung.
"Den Kerta?" panggil bibik dari balik pintu. "Maaf den, tapi di luar ada utusan dari padepokan agung yang ingin bertemu aden!"
"Ehhmm, ehhemm suruh mereka masuk bik, sebentar lagi saya menyusul."
"Baik den!" sahut bibik di ikuti suara langkah yang menjauh dari pintu kamar.
Ccuupp, cuup, cupp.
"Ah, mas?"
Sani segera mendorong tubuh Kerta mundur setelah laki-laki itu memberi kecupan kilat di atas busungan dadanya yang belum tertutup dengan baik. Sani menampilkan ekspresi pura-pura marah pada suaminya yang masih saja berusaha untuk meraih dua gundukan itu dengan tangannya.
"Sudah, cepat keluar sana! Apa mas tidak kasihan dengan para utusan padepokan yang sudah menunggu di luar?"
"Hhm, itu salah mereka sendiri. Kenapa juga mereka harus bertamu di saat-saat sibuk seperti ini?"
"Sibuk? Hhahaha... Sibuk mengatur posisi, maksud mas?"
"Hehehe, iya... Begitulah! Lagipula mas juga malu menemui mereka jika masih dalam keadaan seperti ini."
"Hah? Keadaan seperti ini bagaimana, maksudnya?"
"Ya, apalagi kalau bukan karena ini!" jawab Kerta mmal-malu sambil menunjuk ke arah celananya yang nampak mengembang.
"Ya ampun, tole?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀