SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Japit rambut bagian dua


__ADS_3


Ilustrasi gambar japit rambut Sani.


Dua belas tahun kemudian, setelah Sani dan Asih bertemu....


"Sani... Aku sangat kedinginan! Aku sampai tidak bisa merasakan kakiku saat ini." Kata Asih dengan suara bergetar.


Sani melihat sahabatnya itu nampak sedang menggigil kedinginan, dengan bibir yang sudah berubah menjadi biru. Sebenarnya Sani sendiri juga sudah kedinginan sejak tadi. Entah sudah berapa lama tubuh mereka terendam di dalam air sungai itu?


Ah, kalau saja tadi ia tak menjatuhkan japit rambutnya, tentu Asih dan dirinya tak akan lama-lama berendam mencari japit itu.


"Asih... Kau pulanglah dulu, ya?" ucap Sani dengan nada penuh rasa bersalah.


"Lalu, kau?"


"Jangan pikirkan itu, kau pulang saja sekarang!" perintah Sani.


"Tapi aku ingin tidak mungkin membiarkanmu mencari japit itu sendirian."


"Sejak tadi kau sudah membantuku mencarinya. Itu sudah cukup, aku akan mencarinya sendiri sekarang."


"Sani, ini sudah hampir sore. Menurutku, sebaiknya sekarang kita pulang saja dulu. Bagaimana kalau pencarian ini kita teruskan lagi besok?" usul Asih


"Aku tidak bisa, Asih. Kau juga tahu kan? Japit rambut ini sangat penting untukku."


"Memangnya kesehatanmu juga bukan hal yang penting, hah?" bentak Asih kesal.


Asih terlihat menyeramkan, jika sudah seperti itu. Pandangan matanya tajam. Seakan siap untuk menelan Sani bulat-bulat.


"Kau pasti sangat mengkhawatirkan aku, kan?" jawab Sani merendah.


" Tentu saja bodoh!" ucap Asih, ketus!


Sani hanya tersenyum, menanggapi ucapan Asih padanya. Selama dua belas tahun Sani mengenal Asih, ia tahu betul bagaimana karakter gadis manis itu.


Meski terkadang ucapannya terdengar pedas dan ketus, namun sebenarnya ia adalah orang yang berhati lembut.


Asih benar-benar sosok sahabat yang sangat baik dan pengertian di matanya. Asih bisa menjadi orang yang sangat cerewet dan bawel, jika itu berhubungan dengan kebaikan serta keselamatannya.


Dan sebaliknya, Asih juga bisa berubah menjadi sosok yang sangat sabar dan keibuan, jika dirinya sedang jatuh, dan benar-benar membutuhkan dukungan.


Sani masih sangat ingat saat Asih pernah menantang para bandit pasar untuknya.


Alasannya karena pada saat itu Asih merasa jengkel, melihat para bandit itu selalu menggoda Sani di setiap kesempatan. Puncaknya terjadi ketika salah satu bandit yang sengaja menyenggol bokong Sani, saat mereka sibuk melayani pembeli.


Asih yang sangat marah melihat kejadian itu, langsung saja bereaksi menendang bandit itu di depan banyak orang.


Lalu keesokan harinya, si bandit datang kembali membawa teman-temannya yang lain. Ia datang beramai-ramai untuk membalas Asih, yang telah berani mempermalukannya di depan banyak orang.


Bukannya takut, Asih justru maju dan menantang para bandit itu untuk bertarung.


Bukan bukan... Bukan bertarung!


Lebih tepatnya, menantang para bandit itu untuk bertarung di arena panah. Sedangkan taruhannya adalah, siapa saja yang berhasil tiga kali membidik sasaran dengan tepat, maka ia berhak mengajukan syarat pada yang kalah.

__ADS_1


Hei, tentu saja Asih adalah pemenangnya. Dengan mudah, ia dapat melepaskan ketiga anak panahnya tepat sasaran.


Semenjak kejadian itu, para bandit itu tak pernah lagi mengganggu Sani seperti sebelumnya. Justru sekarang mereka lebih suka mengganggu Asih, berupaya membujuknya supaya bersedia menjadi guru panah mereka.


Ya begitulah.


Nampaknya semua hal akan berjalan dengan baik, saat ada Asih bersamanya.


"Hei... Kau jadi pulang atau tidak? Malah ngelamun,..." tegur Asih membuyarkan lamunannya.


"Baiklah bawel, aku akan naik sebentar lagi. Sekarang kau pulang saja dulu. Sejak tadi kau sudah membantuku mencarinya. Kau pasti capek sekali?"


"Aku tidak akan pulang, sebelum


kau juga pu... Aaattsyuuuuh, aatshhyyuh!"


"Asih, apa kau baik-baik saja?" tanya Sani khawatir.


Asih terlihat kacau, dengan wajah pucat dan mata merah. Terlihat jelas sekali, kondisi tubuhnya yang menggigil sudah tidak bisa lagi di ajak kompromi.


"Aku baik-baik saja. Ayo, aku bantu mencari lag..., aassyyiiuuh!" sahutnya, terpotong lagi.


"Nah, kau sudah bersin-bersin begitu? Pulang saja dulu sebelum kau demam."


"Tapi, aattsiiuuuhh... "


"Sudahlah Asih, kau jangan keras kepala. Aku janji akan segera menyusulmu pulang sebentar lagi." Bujuk Sani meyakinkan.


Asih diam sebentar, memikirkan ucapan Sani yang ada benarnya juga. Jika ia jatuh sakit, lalu siapa yang akan berjualan sayur kalau saja Sani pun jatuh sakit?


Mungkin lebih baik, hanya salah satu dari mereka saja yang sakit. Dengan begitu mereka besok tetap bisa makan.


"Iya, janji... "


"Awas saja kalau kau bohh...oo.. Aatssshhiing!"


"Iya iya.... Aduh, kau ini. Sekarang cepat pulang sana!"


Tak butuh waktu lama bagi Asih untuk menepi, dan mengenakan kembali kebayanya. Ia juga memasang kancingnya dengan cepat, supaya rasa dingin di sekujur badannya sedikit berkurang.


Asih melambaikan tangannya pada Sani sebelum pulang. Sani hanya membalasnya dengan angguk-an, dan tersenyum puas begitu bayangan Asih mulai tak terlihat di antara bebatuan sungai yang besar.


Ah, Asih... Kau yang terbaik!


Sani merasa beruntung, Asih adalah anak yang menolongnya saat itu. Karena hari itulah, ia bisa mengenal dan mendapatkan sahabat yang sangat baik seperti Asih.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Matahari sudah semakin turun, bersiap menyembunyikan dirinya di balik peraduan. Sementara itu, Sani masih belum berhasil juga menemukan apa yang di carinya sejak tadi. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan dimana japit rambutnya berada?


"Mungkin memang sudah saatnya hilang?" gumam Sani dengan suara berat.


Tubuhnya sudah sangat capek, dan juga kedinginan. Usahanya untuk menemukan benda berharganya itu, ternyata tak memberikan hasil apapun.


Kalau saja japit rambut itu bukanlah satu-satunya kenang-kenangan dari ibunya, mungkin saja ia sudah menerima tawaran Asih untuk pulang sejak tadi. 'Ah Asih... Maafkan aku!' gumamnya pelan.


"Aku harus segera pulang sebelum senja datang. Asih pasti akan sangat marah, jika ia tahu aku belum berada di rumah!"


Pelan, Sani mulai berjalan memotong aliran sungai supaya ia bisa sampai tepian dengan cepat. Kakinya yang sudah mati rasa, tak bisa lagi mengenali pijakannya di bawah sana.


Sani sudah hampir mencapai tepi, saat ia merasakan sesuatu seperti mengenai ujung kemben-nya. Ia mencoba memeriksa dan memastikan benda apakah yang sebenarnya menyangkut di kembennya.


Byyyuurr.....!


Namun karena kaki yang licin justru membuat tubuhnya oleng, maka gerakan itu berhasil membuat Sani kehilangan keseimbangan tubuhnya. Arus sungai yang semula tenang, tiba-tiba saja menjadi deras dan membawanya hanyut karena tak sempat mencari pegangan.


Sani terus berusaha menggapai bebatuan untuk menahan tubuhnya supaya tidak terus-menerus terseret arus sungai. Namun karena kondisinya yang sudah kelelahan, air sungai itu justru membuatnya seperti papan kayu yang hanyut di sungai. Sangat ringan!


'Tidaakk! Aku harus bagaimana?'


.


.


.


.


.


Sani tak tahu lagi harus berbuat apa? Tubuhnya yang sudah tak bertenaga membuatnya pasrah, dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekarang ia menyesal karena telah menolak ajakan Asih untuk pulang. Asih, tolong aak...


Gyyyuut!!


Tiba-tiba saja Sani merasa ada yang menariknya keluar dari arus sungai. Ia merasa ada sepasang tangan yang menggendongnya naik, lalu merebahkan tubuhnya di atas batu.


Antara sadar dan tidak, Sani memastikan siapakah pemilik sepasang tangan itu?


Samar-samar ia melihat sosok tegap yang duduk disampingnya dengan baju basah kuyup. Sosok itu sedang menekan-nekan bagian dadanya, berusaha mengeluarkan sisa air yang masuk ke dalam paru-parunya.


"Uuhhhuukk... Uhuuuk..."


Sani terbatuk-batuk, mengeluarkan air yang mengganggu pernafasannya.


"Nyimas baik-baik, saja?" tanya sosok itu sambil mengusap-usap punggungnya.


"Iyaaahh... Sssayaah baik-baik saja. Terimakasih sudah menolo.... " Kalimatnya langsung terputus karena kaget melihat siapakah sosok yang baru saja menolongnya?


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2