SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Pemuda dengan rambut indah.


__ADS_3

"Grrusskk.... Ggrrruussuuk..."


Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus, dedaunan di sekitar mereka masih terus bergerak dengan cepat. Keadaan yang semula memihak mereka, kini telah berbalik menjadi titik kelemahan untuk para komplotan bertopeng itu.


"Hei kau, cepat katakan apa yang sedang kau rencanakan?" teriak si pemimpin komplotan dengan suara yang lantang.


"Sabarlah! Sebentar lagi kau juga akan tahu." Sahut sosok si laki-laki berkebaya dengan santainya.


"Dasar bedebah! Untuk kalian semua, tetaplah waspada di posisi kalian masing-masing!" seru pemimpin komplotan menggema di antara bunyi dedaunan yang saling bergesekan.


Riuh-ramai suara semak rimbun yang tersibak membuat tubuh para komplotan bertopeng gemetar karena ketakutan. Entah apa yang akan mereka hadapi nanti. Namun mereka semua merasakan hal yang sama, 'menyesal' karena tak mematuhi perintah ketua komplotan dengan baik.


Dengan inisiatif sendiri, mereka mengambil keputusan untuk melakukan pengejaran tanpa persetujuan dari ki Marja yang mengetuai penyerangan ini. Padahal ki Marja sudah mewanti-wanti agar mereka tetap siaga di titik yang sudah di tentukan sejak awal.


Namun karena termakan umpan dan melakukan pengejaran yang sia-sia ini, mereka sampai memecah komplotan menjadi dua bagian. Adapun bagian yang pertama tetap berjaga di sekitar rumah Kerta sesuai dengan intruksi ki Marja. Lalu setengahnya membentuk sebuah komplotan dadakan dengan berlari memburu mangsa yang salah.


Inilah keputusan bodoh yang mereka ambil secara spontan di luar rencana dan perintah sang ketua. Mereka terlanjur jauh melakukan pengejaran sehingga kini mereka 'terjebak' dalam situasi yang kurang menguntungkan.


"Sambutlah teman-temanku yang sejak tadi menunggu untuk berkenalan dengan kalian." Ucap laki-laki berbaju kebaya di ikuti dengan kemunculan beberapa prajurit dari balik semak-semak.


Mereka adalah para prajurit pasukan khusus, yang sejak tadi sudah berada di sana dan bersembunyi sesuai dengan intruksi Sena. Sesuai dengan rencana yang telah Sena perhitungkan, para rajurit itu nantinya akan bertugas untuk mengepung musuh yang sudah memakan umpan-nya.


Pemimpin komplotan beserta seluruh anak buahnya nampak panik saat melihat jumlah para prajurit yang terus bermunculan. Mereka semua berbekal beberapa macam senjata sesuai dengan keahlian mereka menggunakan senjata tersebut. Mereka berjajar rapi mengelilingi komplotan bertopeng yang sudah terkepung di tengah.


Salah seorang dari prajurit nampak maju mendekati sosok laki-laki berbaju kebaya yang sejak tadi terus tersenyum girang melihat tingkah panik musuh. Prajurit itu lalu memberikan sebuah baju yang nampaknya memang sudah di persiapkan untuknya.


"Terimakasih!" ucapnya lirih, di ikuti anggukan kecil dari prajurit yang membawakan bajunya.


Begitu mendapatkan bajunya, laki-laki itu segera melucuti kebaya yang sudah berjasa untuk memperkuat samarannya sejak tadi. Postur tubuh langsing khas seorang perempuan itu langsung berubah, saat ia menanggalkan semua pakaiannya kecuali celananya yang sepanjang lutut. Celana itu tersembunyi dengan rapi di balik kain jarik yang menutupi bagian bawahnya.

__ADS_1


Setelah semua bagian potongan kebaya itu terpisah dari tubuhnya, terpampanglah tubuh panjang nan kekar dengan roti sobek yang melengkapi di bagian perut. Laki-laki itu segera mengganti bajunya dengan cepat sambil membuka cepol khas kartini yang sejak tadi masih bertengger di atas kepalanya.


Namun yang lebih mencengangkan dari seluruh penyamaran yang ia lakukan, laki-laki itu memang memiliki rambut panjang yang indah seperti rambut seorang perempuan. Penampilannya semakin terlihat 'nyentrik' dengan membiarkan rambut panjang-nya terurai cantik.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya pemimpin komplotan yang mewakili rasa penasaran dari seluruh anak buah yang di bawa-nya.


"Apakah kau baru saja bertanya kepadaku?" sahutnya santai sambil menarik clurit yang masih menancap di kakinya sejak tadi.


"Kau tuli, ya? Tentu saja aku bertanya padamu bodoh!" sahut si pemimpin pasukan ketus.


Si lelaki hanya menanggapi kalimat kasar pemimpin komplotan dengan lirikan tajam serta senyum yang nampak di paksakan. Pemuda itu bersikap acuh tak acuh sambil terus membalut luka di kakinya dengan ikat kepala yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya.


"Hai! Kenapa diam saja? Cepat jawab jika ada orang sedang bertanya padamu, bodoh!" umpat pemimpin komplotan kesal saat tahu dirinya sedang tak di acuhkan.


"Ya gusti, kau pemarah sekali rupanya? Pantas saja aku selalu merasa sedang berhadapan dengan orang paling jelek sejagad raya setiap kali aku berada di depanmu. Jadi ini, alasannya?"


"Apa kau bilang? Beraninya kau mengataiku, hah?"


"Jjuh!! Aku tak butuh nasihat dari orang sepertimu!" seru si pemimpin pasukan geram.


"Aduh, bagaimana ya? Tapi aku akan tetap mengatakannya meski kau tidak membutuhkan ini sekarang. Jadi....."


Whhuutzz, whhutz....


"Kau dengarkan saja dengan baik apa yang akan aku katakan nanti!" ucapnya tegas dengan tangan mencengkeram kuat bahu si pemimpin komplotan.


Tiba-tiba saja laki-laki itu sudah berdiri di sebelahnya dalam waktu satu kedipan mata. Pemimpin komplotan sendiri bahkan tak menyadari kapan pemuda itu berpindah dari tempatnya yang semula berjauhan dari posisinya sekarang. Gerakannya benar-benar cepat sekali. "Tapi ini mustahil!" batinnya menolak.


"Dengar ya, aku memberikan nasihat ini karena kita sama-sama lelaki. Jadi kalau kau tidak punya wajah yang tampan atau harta yang banyak, setidaknya kau harus menjadi laki-laki baik yang menyenangkan. Kau tahu mengapa?"

__ADS_1


Whhutzz... Whuuttzz...


"Karena kau akan menjadi berharga saat kau memiliki salah satunya!" pungkasnya mantap sambil mencopot topeng dari wajah pemimpin komplotan secepat angin.


Sekarang ia bisa melihat dengan jelas guratan kemarahan yang tergambar dari raut wajah si pemimpin komplotan. Matanya 'mendelik' dengan warna merah yang menyempurnakan penampakan seram dari tatapannya.


"Baiklah perkenalkan! Aku adalah wakil satu dan orang nomor satu setelah ketua dari prajurit pasukan khusus. Dan apa kau tahu? Sebenarnya aku dipilih untuk menduduki posisi ini karena aku memiliki gerakan tubuh yang sangat gesit dan tangkas. Aku bisa me.... "


"Terserah! Memangnya aku peduli?" potong pemimpin komplotan mulai gusar.


"Ah, ternyata kau sangat lucu. Bukannya tadi kau yang ngotot menanyakan siapa aku ini?" jawab si pemuda dengan nada datar yang terdengar di buat-buat.


"Hei, aku hanya bertanya kau ini siapa? Aku tidak peduli dengan jabatan atau kedudukan yang tak penting itu! Dasar pemuda sinting!"


"Haahhaa... Lagi-lagi kau membuatku tertawa. Aku tak menyangka kalau kau punya selera humor juga. Aku mengatakannya karena kupikir penting untuk mengetahui lawanmu sebelum kita mulai bertarung?" sahut si lelaki sambil mengencangkan ikat tangannya dengan santai.


"Bedebah! Sebutkan saja siapa namamu, banci?!"


Laki-laki itu langsung menghentikan kesibukannya begitu mendengar kata 'banci' yang di tujukan kepadanya. Matanya yang tajam di sorotkan sepenuhnya pada orang yang baru saja mengatakan kata yang paling di bencinya itu. Ia benar-benar marah sekarang!


"Ah ya, aku hampir lupa! Aku Bayu Pawana. Senang berjumpa denganmu!" balasnya santai di ikuti senyum ejekan yang khas.


.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2