SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Ngambek!


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...!


Sani hanya diam dan membiarkan pintu kamarnya terus di ketuk dari luar.


Entah berapa kali ia mendengar pintu itu di ketuk? Sejak tadi ia terus mendengar nama-nya di panggil-panggil oleh Kerta, setiap pintunya di ketuk.


Mau apa lagi laki-laki itu?


Belum puas ia membuat Sani merasa malu di depan perempuan gila tadi.


Tok... Tok... Tok..!


Kali ini, suara ketukannya terdengar lebih lembut.


Tak sedikit-pun Sani berniat untuk membukakan pintu. Ia hanya asal menyahut dari atas tempat tidurnya.


"Pergilah! Aku mau tidur!"


"Ini bibik den putri... " Jawab suara dari balik pintu.


"Ada apa bik? Saya sedang tak mau di ganggu!"😤


"Ini, bibik bawakan makan malam untuk den putri!"


"Bibik bawa saja kembali. Saya tidak lapar!"


"Benar, tidak lapar? Den putri, kan hanya makan tadi pagi saja?"


Sani masih diam, enggan untuk menjawab!


😤


😤


😤


"Baik, kalau begitu. Makanannya bibik tinggal ya?"


"Tidak perlu! Bibik bawa saja makanannya sekalian!"


"Tapi.... "


"Sudahlah bik... Jangan ganggu saya sekarang! Saya mau tidur!"


"Baik...! " jawab bibik dari luar.


Huh!


Apa-apaan itu?


Sani sedikit kecewa dengan usaha bibik, yang hanya begitu saja untuk membujuknya keluar?


Padahal saat ini Sani sedang mati-matian menahan lapar.


😢😢😢


"Uuh... Perutku lapar sekali... "😭


"Semua ini, gara-gara perempuan gila itu!😤 Datang-datang hanya membuat mood orang menjadi jelek saja."


"Si Kerta juga, apa-apaan dia? Kenapa malah membela perempuan sinting yang tak tahu etika itu? Huh, jadi makin jengkel saja!"


😡😡😡


.


.


.


Sejak tadi Sani hanya berguling tak menentu di atas ranjangnya. Beberapa kali ia mencoba memejamkan mata, namun itu semakin membuatnya tak bisa menahan rasa lapar.


"Ah Bibik... Sebenarnya saat ini aku ingin sekali makan masakan bibik..."😭😭


.


.


.


Glondaaaang!


Sani mendengar bunyi gaduh, seperti sesuatu yang jatuh di depan pintu kamarnya.


"Aduh....! Toloooong!"


Ah, itu terdengar seperti suara bibik yang berteriak minta tolong. Suaranya sangat jelas, dari balik pintu.


"Den putri.... Tolong bibik...! " panggil bibik, dari luar.


😨


😨


😨


"Bik...?"


Sani mencoba memanggil bibik. Khawatir dengan apa yang terjadi.


"Tolooooong....! "


"Bik... Jangan bercanda! "


Tiba-tiba suasana menjadi hening...


.

__ADS_1


.


.


Glondaaaang....!!


Suara gaduh itu lagi.....


😰😰😰


Sani segera berlari menuju pintu begitu mendengar bunyi gaduh yang sama dari depan kamarnya. Pikirannya sudah membayangkan yang tidak-tidak.


Jangan-jangan... bibik!


Sani segera bergegas membuka pengunci yang menahan pintu-nya sedari tadi.


Ah... macet.


Kenapa harus macet di saat begini, sih?


"Bik... Tolong bertahanlah sebentar! Pintu kamar Sani macet! "


Sani masih berusaha mengotak-atik kunci yang tak bergerak sedikitpun. Ia terus memutar-mutar kunci yang menyangkut di lubangnya.


Kleek!


Yeah... akhirnya berhasil!


Tanpa menunggu waktu lama, Ia segera mendorong pintu dengan kuat begitu kuncinya terlepas.


Hah?


😱


😱


😱


😱


😱


Pluukk,


Tubuh Kerta langsung maju memeluk Sani, begitu pintu-nya terbuka.


Sani hanya bengong, melihat bibik yang nampak baik-baik saja berdiri di depannya. Sebuah piring besar dari bahan kuningan berada di tangan bibik. Sepertinya, piring itulah yang mengeluarkan suara berisik tadi.


Bibik hanya senyam-senyum melihat Sani berada dalam pelukan Kerta sambil melongo.


😝


😝


😝


😜


😜


Ia memberontak, berusaha melepaskan pelukan Kerta, begitu sadar ia sedang di kerjai.


"Bukan apa-apa...! Hanya ingin memelukmu saja... "


"Lepaskan... Aku tidak mau!"


Sani terus berusaha melepaskan pelukan Kerta yang semakin kuat.


"Kalau begitu bibik ke belakang dulu ya den? Tugas bibik sudah selesai... "


"Iya bik... " Kerta menjawab sambil terus mempererat pelukannya.


"Tunggu bik... Bibik sekongkol ya? Biiiikkk... "


Sani memanggil-manggil bibik yang sudah menghilang di balik pintu dapur.


Brraak...!


Kerta berhasil menutup kembali pintu kamar Sani hanya dengan kaki kanannya saja.


Dengan tanpa mengendurkan pelukannya, ia menggiring tubuh Sani mundur ke tempat tidur.


Ccccuup!


Kerta segera membubuhkan ciumannya di seluruh wajah Sani.


Tak luput, Kerta juga berhasil melahap bibir Sani yang sudah basah karena kecupannya.


Begitu ia berhasil membuat Sani menyerah dan tak berdaya di atas ranjang, dengan tanpa ampun, Kerta ******* habis bibir Sani yang merah dan penuh. Ia terus mengunci mulut Sani dengan cumbuannya saat itu.


Tangan Sani yang tertahan di atas kepalanya, perlahan mulai berhenti tak lagi melakukan pemberontakan. Tanpa sadar ia justru membalas ciuman Kerta, dan melupakan kemarahannya pada laki-laki itu.


😍


😍


😍


😍


😛


"Uummhh... " Sani mendesah, begitu Kerta melepaskan cumbuannya.


"Masih marah?" Kerta bertanya dengan posisi tubuhnya yang masih menindih Sani.


Sani memandang wajah tampan di atasnya. Matanya tertuju pada bibir bulat yang terlihat basah itu. Aww,,, bibirnya seksi sekali....

__ADS_1


"Kok diam? Mau mas cium lagi ya? "


😳


😳


😳


Kerta kembali mendekatkan wajahnya, seolah bersiap mencium Sani. Segera Sani memejamkan matanya, sudah siap untuk mendapatkan ciuman keduanya.


Stoop...!


Kerta berhenti, dan membisikkan sesuatu di telinga Sani.


"Jawab dulu.... Masih marah atau tidak? Hehehe...."


😐


😐


😐


😤


😤


Dengan kesal Sani berhasil mendorong kuat tubuh Kerta. Ia sangat malu mengetahui bahwa suaminya mengerjainya lagi.


"San.... " Ucap Kerta sambil mengusap lembut kepala Sani.


"Masih marah ya?"


"Hmmm... "😒😒 Jawab Sani asal-asalan.


"Mas minta maaf ya tentang masalah tadi pagi?"


"😑😑😑"


"Tadi mas sudah dengar kejadian yang sebenarnya dari bibik, kok! "


"Terussss? "


"Sepertinya kamu salah paham San! Mas tadi meneriakimu bukan karena membelanya. Mas hanya ingin menjauhkan dirimu dari masalah!"


"Bohong!"😒


"Tidak San, mas berkata yang sejujurnya! Kau ingat, Imah itu siapa?"


"Mana kutahu? Memangnya aku peduli?"😤


"Dasimah itu seseorang yang sangat berpengaruh di sini. Ia salah satu bangsawan paling terpandang dan berpengaruh di masyarakat. "


"Lalu kenapa?"


"Aku khawatir sikap-mu padanya tadi pagi, akan menjadi bahan pergunjingan orang-orang sekitar. Dan aku sangat yakin, bahwa hal itu akan membuatmu merasa tak nyaman sebagai seorang pendatang di tempat ini."


"Hah, Pendatang?"😧


"Kenapa ekspresimu aneh begitu San?"


Sani sedikit heran dengan pernyataan Kerta tentang dirinya sebagai pendatang!


Apakah Kerta sudah tahu, bahwa sebenarnya ia sedang menjalani time travel di tempat ini? Ataukah ada alasan lain di balik ucapan itu?


"San? Hei... Kok ngelamun?"


Sani terlalu terhanyut dalam pikirannya. Sampai ia tak sadar, bahwa Kerta sudah duduk di sisinya dan memeluk mesra pinggangnya.


Cuupp!


Pipi Kerta mendarat begitu saja di kening Sani.


"Ada apa? Mas salah ngomong lagi ya?" bisik Kerta yang nampak menyesali ucapannya.


"Apa maksudnya saat mengatakan bahwa aku adalah pendatang?"


"Tak ada maksud apa-apa, sungguh... Mas mengatakannya karena memang kau tidak berasal dari tempat ini, kan?"


"Aap... Apakah mas sudah tahu semuanya?"


Sepertinya Kerta tahu bahwa dirinya memang datang dari dimensi lain.


"Tentu saja mas tahu! Kan, mas sendiri yang memboyongmu kemari setelah kita menikah? Mas-lah yang sudah mengambil Sani dari tempat asalnya, setelah Sani sah menjadi istri mas. Kau bahkan lupa akan hal itu, kan?"


Oh, sial....!


Hampir saja Sani mengira, bahwa Kerta sudah tahu jika dirinya tak berasal dari dimensi ini.


"Oo.. Ooh, ii... Iya aku lupa..."


"Baiklah. Besok aku akan mengantarmu berkunjung kesana.Tapi dengan satu syarat! "


"Apa itu?"


Kerta hanya menjawabnya dengan senyuman nakal. Matanya mengerling, seperti memberi kode pada Sani.


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2