
Dua puluh satu tahun yang lalu.
"Hhuu... Huuu... "
Seorang anak laki-laki yang tubuhnya terlihat sangat kurus tengah meringkuk di sudut kamar yang gelap. Anak itu menekuk kedua kakinya di depan dada lalu menundukkan kepalanya di ujung lututnya yang kecil. Ia tengah menangis tersedu di samping amben yang reyot.
"Huu... Huuu.... Romo*.... " Desisnya lirih di tengah tangis yang masih berlangsung.
*Romo: Sebutan atau panggilan untuk ayah pada masyarakat jawa.
"Kenapa begini? Huu...huuu... Kenapa romo harus pergi sendiri saja? Huuu... Huuu... Apa tidak boleh kalau aku ikut romo saja?" sambungnya dengan suara yang parau.
Sesekali anak itu nampak menyeka air matanya yang deras dengan ujung kerah baju yang terlihat kusut namun bersih. Tubuh kurusnya selalu bergetar setiap kali ia sesenggukan menahan suaranya yang mulai parau.
Anak itu terus menangis semenjak si ayah meninggal karena sakit yang tidak di ketahui apa penyebabnya? Bahkan semua tetangga dan juga warga sekitar sama sekali tak menyangka jika laki-laki yang di kenal baik dan ramah itu harus pergi secepat ini? Dan dua hari setelah kepergian ayahnya yang mendadak, tak pernah sekalipun anak itu nampak keluar dari kamarnya.
Sanak saudara juga biyungnya sendiri juga tak bisa membujuknya untuk makan atau sekedar minum sesuatu. Nasi ataupun makanan lain yang selalu biyungnya siapakan tak lagi membuat perutnya terasa lapar atau haus. Kondisinya benar-benar menghawatirkan.
Dalam pikirannya, sama sekali tak pernah terbayangkan bahwa kebersamaannya bersama sang romo hanya akan dirasa sesingkat ini saja. Usianya baru tujuh tahun sekarang. Masih banyak yang ingin ia lakukan dan lalui bersama sosok seorang ayah yang seperti anak-anak lainnya.
Ia masih ingin romonya menemani tidur dan menceritakan beberapa kisah para prajurit hebat kesukaannya seperti biasa. Ia masih ingin bercanda bersama atau hanya sekedar mengobrol panjang lebar tentang keinginan dan cita-citanya kelak jika ia besar nanti.
Namun sekarang, siapakah orang yang akan mau melakukan semua itu untuknya? Siapakah orang yang bersedia mendengarkan cerita ataupun angannya tentang impiannya? Siapa pula orang yang akan melindungi dirinya serta si biyung nanti? Semua ini benar-benar...
"Hai cengeng! Mau sampai kapan kau akan terus menangis seperti itu?"
Sebuah suara yang amat di kenalnya itu tiba-tiba saja membuyarkan lamunannya.
"Kenapa menangis terus? Ayo seka air matamu sekarang juga. Aku sedang ingin mengajakmu bermain sekarang!" sambung si anak laki-laki lainnya.
Si anak kurus yang sejak tadi masih tertunduk itu langsung mendongakkan kepalanya begitu ajakan bermain itu di lontarkan padanya. Didepannya telah berdiri sesosok anak laki-laki dengan warna kulit sawo tengah tersenyum kecut padanya.
"Hhuu.... Hhuu... Maafkan saya den! Tapi saya tak bisa ikut bermain dengan aden sekarang ini." Sahutnya lirih.
"Haah, kau ini." Balas si kulit sawo seraya mengambil posisi duduk di samping si anak kurus. "Kau masih sedih, ya?" tanyanya kemudian.
"Iya den, maaf.... Hhhuu... Hhuuu... "
__ADS_1
"Kudengar dari bibik kau belum makan sejak kemarin, kan?"
Si kurus hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan pelan yang nampak di paksakan.
"Ayolah... Kau sangat tidak cocok memasang wajah muram begini. Cerialah seperti biasa, ya?"
"Hhuuu... Huuu... Den kecil tidak akan mengerti kesedihan yang saya rasakan sekarang. Sekarang saya sudah yatim juga miskin, den. Saya sangat takut dan merasa kehilangan. Huu... Huuu.. Saya yang masih kecil ini juga belum tahu cara untuk melindungi diri dan menjaga biyung." Sahut si kurus masih tersedu.
"Memangnya kenapa kalau kau tidak bisa menjaga dan melindungi bibik? Bukankah masih ada aku? Aku yang akan menggantikan semua tugas paman untukmu."
"Tapi den, "
"Sudah kubilang untuk jangan memanggilku dengan sebutan 'den kecil' atau apalah itu semacamnya? Kau tahu, telingaku ini sangat risih setiap kali kau memanggilku begitu. Biasakan untuk memanggil namaku saja mulai sekarang!"
"Hhuu... Hhuu, kenapa den kecil selalu bicara seperti itu pada saya? Tentu saja saya tidak boleh memanggil nama den kecil sembarangan. Bagaimana kalau den besar memarahi saya nanti?"
"Ah, dasar bodoh! Kau tahu romoku bukan orang yang seperti itu, bukan? Lagipula ini adalah perintahku! Kau tak boleh menolaknya."
"Tapi, "
"Baiklah, baiklah... Panggil aku kakang saja kalau begitu. Aku akan menjadi kakang yang baik dengan melindungi dan menjaga kau dan bibik. Bagaimana? Kau mau jadi adikku kan?"
Namun lagi-lagi perasaan ragu itu muncul menghalangi niatnya untuk menjawab 'iya'. Ia sadar sepenuhnya bahwa keinginan itu bukan sesuatu yang di anggap baik di mata masyarakat. Bagaimana mungkin seorang anak abdi ndalem sepertinya akan....
"Hai Sena? Kenapa kau lama sekali untuk mengatakan iya? Apakah kau tidak suka jika aku jadi kakangmu?"
"Bukan! Bukan begitu, den..."
"Sssttt...! Panggil kakang saja!"
"Bolehkah?" Tanya si kurus ragu.
Si kulit sawo hanya menjawab dengan aganggukkan kepala sambil tersenyum simpul kepadanya.
"Ah, kau lama sekali! Sudahlah, ayo kita keluar sekarang! Aku mau membelikan semua makanan yang kau inginkan di warung. Aku tidak suka melihat adikku yang tampan ini terlihat kurus dan tak terurus begini. Ayo!" Serunya sambil mengulurkan tangan pada si kurus.
Dengan ragu ia mulai menyambut uluran tangan itu seraya mengusap sisa rembesan air mata dan berbisik, "Terimakasih... Ka... Kakang!"
__ADS_1
"Kenapa memanggilku malu-malu begitu? Coba kau ulangi lagi, aku belum mendengarnya dengan jelas tadi."
"Mmm... "
"Ayolah, Sena! "
"Mmmm... Terimakasih kang, "
"Hanya begitu saja? Apa kau tidak mau menambahkan namaku di balik panggilan 'kang' itu?"
"Bolehkah?"
"Ya. Kenapa tidak?"
"Mmm... Apa itu sopan? Apakah saya nanti tidak akan mendapatkan masalah karena hal ini?"
"Memangnya siapa yang berani memberimu masalah? Kau adikku sekarang! Siapapun yang memberimu masalah, akan aku hajar sampai kapok!"
Ada sesuatu yang membuat perasaan Sena kecil senang setelah mendengar kalimat itu. Tiba-tiba ada rasa nyaman dan aman saat mengetahui seseorang yang akan menjagamu seperti itu. Senyum Sena kecil lalu mengembang di antara kedua tulang pipinya yang menonjol.
"Aku senang sekali melihatmu mulai tertawa lagi. Aku sudah bilang kalau wajah murung itu tak pantas untukmu. Sekarang, ayo cepat sebut namaku sekali lagi! Ingat, kali ini kau tidak boleh salah menyebutnya lagi."
"Ii... Iiya kang Ke... Kerta!"
"Nah. Itu baru adikku! Apa kau mau pergi sekarang?"
Sambil tersenyum ia menjawab, "Iya! Aku mau!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀