SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Makan dengan bibik


__ADS_3

Sani dibuat penasaran dengan kalimat bibik yang masih menggantung. Ia tak sabar untuk mendengar penjelasan selanjutnya.


"Kecuali siapa, bik?"


Bibik diam tak menyahut.


"Saya nggak papa kok bik. Lagipula itu hal yang bagus, kan? Kalau bibik menceritakannya pada saya, nanti saya bisa lebih bisa menjaga sikap saat menghadapinya." Bujuk Sani kekeuh.


"Kecuali si Dasimah, teman den Kerta sejak kecil."


"Dasimah?"


"Betul den putri. Dasimah itu adalah teman se-permainan den Kerta sejak kecil. Mereka berdua sangat akrab sampai sekarang. Karena tumbuh besar bersama, mereka menjadi sangat dekat satu sama lain. Namun semenjak den Kerta menikahi den putri, si Dasimah... " Jelas bibik dengan kalimat yang masih menggantung.


"Memangnya ada apa dengan si Dasimah itu bik?"


"Sejak kalian berdua menikah, Dasimah sepertinya sangat membenci den putri. Saya bisa melihat dari caranya bersikap di depan den putri. Seperti, orang yang cemburu saja." Pungkas bibik penuh curiga di akhir kalimatnya.


Sani hanya diam saja sambil mencerna penjelasan bibik dengan baik.


"Saya pernah lihat beberapa kali, si Dasimah itu masih saja suka menempel pada den Kerta. Ya, meski den Kerta menganggapnya itu hal yang biasa saja, tapi saya tahu kalau Dasimah itu mempunyai perasaan lain untuk den Kerta."


Sani masih diam tak tahu harus bicara apa?


"Loh, kok den putri jadi diam saja? Bibik jadi tidak enak...."


"Ah, maaf bik... Saya cuma berusaha mendengar cerita bibik dengan baik.


Hehehe, santai saja bik."


"Baguslah kalau begitu, lagipula den putri tenang saja. Den putri tidak perlu terlalu mengkhawatirkan soal si Dasimah itu. Karena saya tahu bahwa orang yang sangat di cintai den Kerta adalah den putri. Dan saya tahu, tak pernah ada orang yang sangat berharga di dalam hidupnya selain den putri." Jelas bibik panjang lebar dengan kalimat yang terdengar manis.


Sani hanya bisa tersenyum mendengar kalimat terakhir bibik. Hal itu terdengar seperti sebuah peluang dan membawa sesuatu yang baik padanya.


"Terimakasih sudah mengatakannya, bik. Saya senang mendengarnya. " Balas Sani canggung.


"Tentu, den putri. Apapun yang berharga untuk den Kerta, pasti saya juga akan menjaganya. Saya tidak akan suka jika ada yang mengusik kebahagiaan dalam keluarga ini."


"Syukurlah! Suami saya itu sangat beruntung punya inang yang sangat baik seperti bibik. "


"Ah, tidak juga. Justru saya yang merasa sangat beruntung punya tuan yang baik seperti den Kerta. Saya yang tak henti-hentinya merasa bersyukur, karena kakek buyut saya dulu di tugaskan untuk melayani keluarga ini."


"Oh iya bik, bicara masalah keluarga, saya ingin tahu apakah suami saya tidak punya orang tua atau saudara lainnya? Karena selama disini saya hanya melihat bibik dan suami saya saja. " Celetuk Sani saat mulai terpikirkan sesuatu.


"Ehmm... Untuk masalah keluarga, sebaiknya den putri menanyakannya langsung pada den Kerta sendiri. Karena hal itu sudah berada di luar wilayah saya untuk menjelaskannya!" sahut bibik ragu.


Sani menangkap sinyal tak baik dengan kalimat terakhir bibik. Seperti ada sesuatu yang tidak menyenangkan tentang keluarga Kerta.


"Ah, baiklah kalau begitu, nanti saya akan tanya sendiri."


Bibik tak terdengar menyahut. Tangannya terus membersihkan tubuh Sani sambil mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Ah... Rasanya sangat segar.


Sani merasa lebih fresh dan tubuhnya serasa ringan setelah mandi tadi. Bukan hanya mandi, Sani juga sudah mengganti bajunya dengan setelah kebaya yang bersih dan nyaman.


Yaa... Sepertinya bukan hal yang buruk juga ia selama ada di tempat ini. Disini ia jadi bisa menikmati betapa senangnya menghabiskan waktu untuk bersantai. Tidak seperti waktu ia harus selalu bangun pagi, lalu tidur sampai larut untuk mengurus butiknya.


Disini juga, ia bisa mengerti rasanya punya keluarga sungguhan. Ada bibik yang terasa seperti sosok seorang ibu yang sangat perhatian. Ada Kerta, yang...


Yang apa ya?

__ADS_1


Sani juga masih bingung jika harus menjelaskan sosok Kerta untuk saat ini.


Sani benar-benar masih baru dalam urusan cinta. Ia tak pernah tahu bagaimana 'sesuatu' itu bisa terjadi, apalagi untuk menjalani sebuah rumah tangga? Ini sungguh hal yang terjadi di luar dugaan.


"Den putri, ini sarapannya sudah siap!"


Sani melihat bibik sudah di ambang pintu kamar, sambil membawa baki kayu berisi makanan.


"Wah kebetulan saya sudah lapar sekali."


"Den putri mau makan di sini atau di meja makan?"


"Sebenarnya saya bosan di dalam kamar terus, bik. Apa saya bisa makan di meja makan itu?"


"Baiklah, bibik tinggal menyiapkan meja-nya dulu. Permisi! "


Sani mengangguk setuju.


.


.


.


.


.


Sani sudah duduk di depan meja makan yang terbuat dari kayu yang ditutupi dengan taplak kain di atasnya. Bibik mulai sibuk menyiapkan hidangan untuk Sani, juga peralatan makannya. Satu per-satu bibik meletakkan macam-macam masakan di atas mangkuk dan piring, yang terbuat dari kuningan itu.


"Loh, bik? Kenapa makanannya sebanyak ini?" tanya Sani heran.


"Iya den putri. Tata krama saat makan di atas meja makan adalah menempatkan setiap jenis makanan di dalam tempat yang berbeda-beda. Jadi karena itu meja ini nampak penuh." Jelas bibik dengan ramahnya.


"Hehehe, lalu saya sekarang harus bagaimana den putri?"


"Kalau begitu, bibik harus ikut makan bersama saya di sini... "


"Wah, saya mana berani.... "


"Apakah ini juga larangan dari paduka raja?" dengus Sani seakan kesal.


"Bu... Bukaan begitu den putri. Hal ini tidak ada kaitannya dengan larangan atau peraturan. Bibik hanya merasa kurang pantas untuk menuruti keinginan den putri yang satu ini!"


"Kalau begitu ini perintah saya!"


"Tapi nanti..."


"Kenapa? Apa nanti suami saya marah?"


"Ah, Tidak juga. "


"Ya sudah... Tunggu apa lagi? Ayo bibik temani saya makan"


Bibik masih nampak ragu-ragu untuk menerima tawaran Sani.


"Bibik Gandari...?! " Sani memanggil nama lengkap bibik sambil membuat sorot mata tajam.


"Ah, ii... Iya den putri... "


Sani tersenyum menang melihat bibik yang akhirnya mau menuruti keinginannya. Yaa... Meskipun dengan sedikit gertakan. Tapi akhirnya ia berhasil membuat bibik duduk di sampingnya.


Mereka berdua mulai menikmati makanan yang di hidangkan, sambil sesekali nampak membicarakan sesuatu.

__ADS_1


Sani merasa sangat senang, karena baru kali ini ia makan di rumah dengan seseorang.


"Masakan bibik selalu enak ya? Sani suka."


"Syukurlah kalau den putri suka."


"Ngomong-ngomong, ada siapa saja di keluarga bibik?"


"Ada saya, suami, lalu anak semata wayang saya saja den putri..."


"Oh, bagus! Apa anak bibik perempuan? Kok tidak di ajak kesini?"


"Hehehe, den putri ini benar-benar lupa semua hal ya?"


"Hihihi, iya maaf, bik."


"Anak saya laki-laki. Dia juga teman den Kerta sejak kecil. Saya beruntung, den Kerta sangat baik pada anak saya. Beliau memperlakukan anak saya seperti beliau memperlakukan anak-anak bangsawan lain."


Mata bibik terlihat berbinar saat mengucapkan sesuatu yang nampak membuatnya senang itu.


"Tak jarang den Kerta membagi mainannya pada anak saya. Selain itu, den Kerta tak pernah malu untuk mengajak anak saya bermain bersama. Padahal, dia hanya seorang anak dari abdi dalemnya. " Sambung bibik penuh penghayatan pada ceritanya.


"Bik? Bibik kenapa selalu bicara seolah bibik ini bukan orang yang pantas untuk menerima semua itu, hm?" tanya Sani gemas.


"Ya... Karena memang sudah seharusnya begitu, bukan? Saya ini hanya abdi ndalem yang tidak punya apa-apa selain kebaikan keluarga ini. Bisa mengabdikan diri pada keluarga yang baik ini sudah lebih dari cukup untuk saya." Sahut bibik dengan mata berkaca-kaca.


Sani terdiam sejenak memikirkan ucapan bibik. Memang benar pada zaman ini perbedaan kasta sangat berpengaruh pada perlakuan sosial masyarakatnya. Sani tak bisa memberikan komentar apapun supaya ia tak merubah sejarah apapun disini.


"Ah, kalau begitu bagaimana dengan suami bibik? Kenapa tidak ikut membantu di sini?" celetuk Sani mencoba mengalihkan bahasan.


"Suami bibik sudah lama meninggal den putri. Saya sekarang hanya hidup berdua dengan anak laki-laki saya satu-satunya."


'Aduh, sepertinya aku salah memilih pertanyaan!' gumamnya dalam hati. "Saya minta maaf bik. Tapi saya benar-benar tak sengaja menyinggung soal itu."


Sani sedikit menyesal telah menanyakan tentang urusan keluarga pada bibik. Karena saat bibik menjawabnya, nada suaranya terdengar berubah sedih.


"Tidak masalah den putri... Saya memakluminya karena kondisi ingatan den putri. Lagipula itu sudah sangat lama sekali. "


Suasana menjadi sedikit canggung untuk beberapa saat.


"Saya hanya bisa banyak bersyukur karena Sena berhasil tumbuh dengan baik dan mengerti keadaan saya. Sena tak pernah membuat saya sedih, bahkan sekali saja."


"Sena? Apa itu nama anak bibik?"


Bibik mengangguk.


Klontaaang...!


Piring berisi makanan bibik itu tiba-tiba saja jatuh terlempar jauh ke kolong meja.Sani tersentak kaget, melihat siapakah sosok orang yang telah melakukannya?


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀


😆😆😆

__ADS_1


ayo... ayo... jangan lupa comment dan like ya


__ADS_2