SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Sepotong ingatan bagian dua


__ADS_3

"Uuhhhuukk... Uuhhuuk...! " Sani duduk dan terbatuk-batuk begitu ia kembali sadar. Tubuhnya yang basah kuyup, merasa kedinginan dengan kemben yang masih sama seperti yang ia kenakan sebelum mandi tadi.


Di depannya ada Asih yang duduk sambil menatapnya dengan khawatir. Sesekali Asih dengan telaten membersihkan sisa-sisa air di wajah Sani.


Secepat kilat, Sani segera menabrak tubuh kecil Asih dan memeluknya erat. Ia tahu bahwa apa yang baru saja di laluinya tadi


adalah ingatan masalalunya saat bersama Asih, di sungai ini.


Sani masih ingat bagaimana rasanya tubuh yang tak bertenaga itu hanyut, sehingga membuat dadanya sesak di penuhi air.


"Sani, apa kau baik-baik saja?" tanya Asih terdengar khawatir.


"Terimakasih Asih! Kau adalah teman terbaik yang pernah aku miliki. Aku sangat berterimakasih karena kau mau menjadi temanku selama ini." Jawab Sani yang terdengar tidak nyambung, dengan nada intonasi yang cepat seperti seorang petugas sales.


"Ah... Apa tadi kepalamu terbentur batu, ya? Kau jadi bertingkah aneh setelah sadar?" tanya Asih heran.


"Aku baik-baik saja Asih. Aku hanya... "


"Sudah kubilang jangan menyelam kan? Kau lihat apa yang terjadi kalau kau tak mau mendengarku, heh?"


"Asih, dengarkan aku dulu." balas Sani sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Asih.


"Apa lagi yang mau aku dengar? Kau tahu aku sangat takut melihatmu tak segera muncul ke permukaan begitu kau bilang melihat sesuatu di bawah sana? Dasar kau ini sudah gila ya? " cecar Asih tanpa ampun pada Sani.


"Asih, aku tadi meli... "


"Kau tahu betapa khawatirnya aku saat melihatmu lemas tak berdaya seperti tadi? Untung saja aku dan para nyimas yang lain tadi bisa mengangkatmu dan menyelamatkanmu dengan cepat."


"Iya iya, aku tahu kau sangat peduli padaku. Tapi ini tentang..."


"Tentang apa, Sani? Apa kau pikir tak ada yang lebih penting dari keselamatanmu itu? Apa yang harus aku katakan pada si Kerta kalau tahu kau celaka begini? Huh, bisa mampus aku!" omelnya sambil membuat gerakan menggorok leher dengan tangannya. "Kkhek!"


Sani sampai terpingkal-pingkal melihat ekspersi lucu Asih saat menyelesaikan kalimatnya.


"Hahahaha... Kau ini, benar-benar ya?! Aku kadang heran bagaimana kau bisa mengubah suasana hatimu secepat itu? Sebentar terlihat penuh perhatian dan sabar, lalu dengan cepatnya kau berubah menjadi sangat judas seperti itu?" keluh Sani sambil terus menertawai Asih yang semakin terlihat geram.


"Diamlah Sani! Kau diam saja kalau ada orang yang sedang menasehati dirimu, tahu?!"


"Wah hebat! Sekarang kau sudah berubah menjadi galak saja."


"Aku tidak galak! Aku hanya kesal saat kau selalu meremehkan peringatanku dan membuatku khawatir seperti tadi. Lagipula ada hal bagus apa yang kau lihat di dalam air sampai kau tak memperdulikan keselamatanmu, heh?" omel Asih kesal dengan nada bicara yang mulai merendah.


Sani tak segera menjawab pertanyaan dan omelan Asih padanya. Ia hanya tersenyum sambil membuka genggaman tangannya di depan Asih. Asih yang semula hanya mengomel dan terus bicara tanpa henti itu, seketika terdiam saat melihat isi benda di dalam genggaman Sani.


"Sani, ini kan....!" seru Asih kaget begitu mengetahui isi tangannya.


Sebuah japit rambut dengan batu-batuan cantik berwarna ungu berada di genggaman Sani. Ia tahu, bahwa benda itu adalah japit rambut Sani yang telah hilang.


"Tapi, bagaimana mungkin? Japit rambut ini sudah hilang selama tiga tahun lebih, kan?"


Sani hanya mengangguk dengan senyum yang mengembang di sudut pipinya.


"Kabar baiknya adalah, bahwasannya bukan hanya japit rambut ini yang kembali padaku, Asih. Tapi ingatanku juga ikut kembali bersamaan dengan aku menemukan japit ini."


"Aaap... Apa?" Asih langsung terperangah mendengar pernyataan-nya.


"Kini aku sudah mengingat kembali siapa kau dan ingat semua hal yang pernah kita lalui bersama. Aku ingat Asih, aku mengingatmu sebagai anak kecil yang menolongku mendapatkan kembali japit rambut ini... "

__ADS_1


"Bbee... Benarkah itu?"


Sani menganggukkan kepalanya cepat dengan mata yang berbinar.


Membuat Asih langsung menyerbu tubuh Sani dan mendekapnya dengan erat.


Pipi mereka basah, mengiringi perasaan bahagia yang tak terlihat dalam hati masing-masing.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Ini minumlah dulu. Kau tunggulah sebentar lagi. Sepertinya singkong yang aku rebus akan segera matang." Ucap Asih sambil menyerahkan segelas minuman pada Sani.


"Terimakasih Asih." Sahut Sani saat menerima gelas minuman-nya.


"Ya sudah. Aku ke dapur dulu. Aku mau melihat apa singkongnya sudah empuk. Kau istirahat saja dulu. Sebentar lagi aku kembali."


Sani mengangguk!


Sani segera merebahkan tubuhnya begitu Asih keluar dari kamar membawa gelas kosong. Ia mencoba untuk merileks-kan tubuhnya sebentar dengan memejamkan kedua matanya.


Pikirannya melayang, memikirkan rentetan kejadian yang tiba-tiba kembali datang dalam ingatannya. Dadanya masih terasa sesak saat mengingat tubuhnya yang hanyut beberapa waktu lalu.


Dan juga tentang sosok orang yang menolongnya. Ia sangat yakin bahwa orang yang menolongnya adalah Kerta, suaminya.


Kerta yang itu memiliki model rambut gondrong yang panjang, dengan tubuh kurus tak terurus. Kumis tipis yang menjadi ciri khasnya-pun tidak ada. Hanya karena bibir bulatnya-lah yang membuat Sani yakin bahwa sosok laki-laki yang dilihatnya memang benar suaminya.


Tapi bagaimana mungkin, laki-laki yang biasanya terlihat tampan dengan tubuh kekar dan atletis itu dulunya adalah laki-laki kurus yang terlihat biasa-biasa saja, ya? Apakah mungkin ia salah orang?


"San, ayo cepat bangun. Ini aku sudah bawakan singkong rebusnya. " Kata Asih yang datang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


"Ah, iya...!" sahut Sani.


Sepiring singkong rebus dengan asap yang masih mengepul telah Asih siapkan. Tanpa membutuhkan waktu lama, Asih dan Sani langsung saja mencomot dan menghabiskan isi piringnya.


"Asih, kau ingat tidak? Dulu saat kita masih kecil, kita sering mencuri singkong di kebun milik warga? Kita bahkan pernah di kejar salah satu dari mereka saat ketahuan sedang mencabut singkong-nya?"


"Hahahaha... Iya ya? Kok bisa ya, kita dulu sangat nakal begitu?"


"Aku tidak nakal kok, kan aku hanya mengikutimu saja?" jawab Sani dengan nada bercanda.


"Apa?! Jadi maksudmu, kau jadi nakal begitu karena aku?"


"Ya... Begitulahh... " Jawab Sani dengan ekspresi yang terlihat seperti dibuat-buat.


"Hei, dasar kau ya? Sini cepat, aku tidak akan mengampunimu!"


Asih segera menyerang Sani dengan tanpa ampun menggunakan jurus kitik-kitiknya. Sani sampai tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa kaku.


"Aahahahhaha... Berhenti! Berhenti melakulannya Asih. Aku menyerah... Hahahhaha"

__ADS_1


"Aku sudah bilang tidak akan mengampunimu, kan?"


"Hahahaha, iya iya aku minta... Hahahaa maaf... "


Asih sudah puas melihat Sani yang menyerah sambil meminta maaf. Ia menghentikan serangannya, begitu melihat wajah Sani yang merah karena perutnya yang kaku.


"Eehhmm, Ahheem... " Sani segera mengatur ulang suaranya begitu tawanya mereda.


"Keterlaluan kau, Asih? Kau selalu saja memakai jurus itu untuk membuatku menyerah."


"Hahaha... Salahmu sendiri berani macam-macam denganku. Tapi kau harus bersyukur karena aku punya jiwa jurus ini. Karena berkat jurus kitik-ku itu pulalah, kau akhirnya mau berangkat kencan dengan Kerta. Kau ingat kan?"


Sani menggeleng pelan!


"Loh, bukankah kau bilang ingatanmu sudah kembali?" tanya Asih nampak bingung.


"Memang benar, bahwa ingatanku sudah kembali Asih. Tapi ingatan itu hanya sebatas saat aku memiliki japit rambut ini saja. Jadi selebihnya, aku masih belum bisa mengingatnya dengan benar." Jawab Sani agak lesu.


"Jadi itu berarti, ingatan tentang pertemuanmu dengan Kerta, kau masih belum mengingatnya ya? Karena seingatku, waktu pertama kalian bertemu adalah setelah japit rambutmu hilang di sungai."


"Iya, kau betul... " Jawab Sani murung.


"Aahh... Sudahlah jangan terlihat sedih begitu. Lama-lama juga ingatanmu akan kembali, bukan?"


"Ya, semoga saja begitu! Hanya saja, terkadang aku merasa aneh saat aku bersama dengan mas Kerta, namun aku tidak ingat dengan masalalu kami berdua... "


"Aku tahu perasaanmu Sani. Aku akan selalu mendoakan apa yang terbaik untukmu."


"Terimakasih ya?"


Asih mengangguk tulus.


"Oh ya Asih, aku teringat sesuatu. Ketika aku pernah hanyut saat sedang mencari japit rambut ini, apakah laki-laki yang menolongku adalah mas Kerta?"


"Itu benar Sani. Apakah kau mengingatnya hanya sampai bagian itu?"


"Iya. Aku hanya mengingat bahwa yang menyelamatkanku, adalah seorang laki-laki kurus dengan rambut yang gondrong! Aku sampai ragu, kalau orang itu adalah suamiku saat ini."


"Kau tidak salah. Itu memang Kerta, suamimu." Jawab Asih membenarkan ucapan Sani.


"Kalau itu memang orang yang sama, kenapa penampilannya sangat beda sekali dengan sekarang?"


"Mmm, bagaimana ya? Bukannya aku tak mau menjawabnya. Tapi menurutku, lebih baik kau menanyakannya langsung pada Kerta."


"Memangnya kenapa kalau aku mendengarnya darimu?"


"Aku tidak bisa mengatakannya karena aku sadar itu bukanlah wilayahku. Kau mengerti maksudku?"


Sani hanya menganggukkan kepalanya asal, dengan perasaan yang masih terasa mengganjal di hatinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2