
"Jadi, mau kita lanjutkan sekarang?"
Sani tak segera menyanggupi ajakan suaminya yang terlihat sudah menegang pada saat itu juga. Perempuan langsing itu justru menjawab pertanyaan Kerta dengan tatapan 'nakal' yang tak ia lepas sedikitpun sembari berjalan ke arah ranjang mereka.
Di atas ranjang besar itulah Sani kini mulai menyiapkan dirinya dengan baik sambil memasang pose yang amat menggoda di depan Kerta. Satu persatu tangannya mulai melepaskan kancing kebaya yang sebelumnya masih ia kenakan dengan rapi untuk menutup tubuhnya.
Setelah semua kancing kebaya-nya berhasil lolos dengan singkat, Sani tak buang-buang waktu lagi untuk melucuti pakaiannya sendiri di hadapan Kerta. Ia menanggalkan semua yang menutupi tubuhnya hingga tampaklah pemandangan indah yang membuat mata Kerta susah untuk berkedip.
"Waw?"
"Kenapa mas? Apa mas mau Sani menutupnya lagi?"
"Haah? Emmm, tidak sayang. Bukan begitu... "
"Hahahaha, baiklah kalau begitu mari kita lanjutkan permainannya!" pungkas Sani di tutup dengan kerlingan mata manja yang kian membuatnya terlihat menggemaskan.
Kerta semakin di buat untuk menelan ludahnya sendiri saat tanpa sengaja matanya tertuju pada dua gundukan kenyal di atas dada istrinya. Tak bisa di sembunyikan lagi bahwa Kerta amat terpesona dengan bentuknya yang kini semakin terlihat indah saat Sani mulai memainkan tangannya di sekitar gundukan itu beberapa saat kemudian. Tak lupa ia juga membuat suara-suara lenguhan yang berhasil menambah rangsangan untuk suaminya yang terlihat sudah tak sabar ingin menyerang!
Setelah itu Sani mulai menggerai rambutnya untuk menutup sebagian tubuhnya yang sudah berhasil membangkitkan 'sesuatu' milik suaminya yang terlihat mengembang di balik celananya. Tatapan matanya di atur se-nakal mungkin sehingga berhasil membuat tubuh Kerta terasa semakin memanas dalam waktu singkat.
"Istriku sudah pintar menggoda, rupanya?" puji Kerta melihat pertunjukan singkat yang Sani tampilkan.
Begitu mendapatkan reaksi baik dari Kerta, kini Sani tak segan-segan untuk menampilkan gerakan erotis lainnya di depan laki-laki yang makin menegang itu. Sambil menari tanpa irama Sani kini mulai melenggat-lenggut di atas ranjang besar itu hingga membuat pakaian yang ia kenakan semula telah berserakan di lantai begitu saja.
Tak tanggung-tanggung, Kerta sampai harus menelan ludahnya berkali-kali saat melihat Sani beberapa kali membuat gerakan yang sungguh amat memanjakan matanya. Gerakan tubuhnya yang lentur persis sekali dengan penari ular yang sangat profesional di acara pertunjukannya. Rasanya baru kali ini ia melihat sosok 'liar' Sani yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Luar biasa... " bisiknya kagum.
Kerta terlihat masih asyik menikmati pertunjukan yang telah istrinya suguhkan. Kedua matanya seakan tak pernah berkedip untuk menyaksikan penampilan istrinya yang heboh dengan tariannya. Sebenarnya Sani sendiri juga tidak tahu bagaimana dirinya bisa se-lihai ini sekarang? Padahal semua yang ia lakukan saat ini sama sekali tak pernah terpikirkan ataupun di pelajari dari manapun. Aneh sekali?
Beberapa saat kemudian Sani akhirnya menutup tariannya pada malam itu dengan lenguhan panjang setelah tubuhnya di penuhi dengan peluh yang saling berjatuhan. Ia merasa puas begitu melihat tatapan mata Kerta yang terlihat kelaparan dengan pertunjukan yang telah ia berikan.
"Bbbrrrukk!" Sani langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang begitu saja tanpa sehelai benangpun yang menutup tubuhnya. Jelas saja buliran keringat langsung mengucur deras dari pori-pori kulitnya yang putih dan mulus itu.
Mengetahui hal itu, suaminya-pun langsung mengerti bahwa sesi pemanasan yang membuatnya 'kepanasan' telah selesai sudah. Maka sekarang adalah gilirannya yang bertugas untuk melakukan 'atraksi' selanjutnya.
Kerta segera menghampiri istrinya yang masih terengah-engah di atas ranjang dengan posisi terlentang. Sani nampak sedang sibuk menghirup udara dengan cepat agar ia berhasil mendapatkan pasokan udara yang cukup. Dan Kerta hanya bisa membelai-belai tubuh itu sambil menunggu agar pernafasannya kembali stabil.
__ADS_1
"Capek, ya?" bisik Kerta sambil membantu mengusap peluh yang nampak menetes dari dahi istrinya.
"Mmmhh, capek? Masa belum mulai sudah capek?"
"Hahaha, staminamu benar-benar luar biasa ternyata? Tapi, ya... Mungkin saja kau sudah kecapekan setelah meliuk-liuk heboh seperti tadi. Mas sampai tidak bisa berkedip melihat tarianmu yang membuat mabuk kepayang itu. Istriku memang hebat!"
"Benarkah?"
"Sungguh, yang tadi itu sangat luar biasa. Ayo katakan pada mas kau belajar yang seperti itu darimana, hm?"
"Mas mau tahu?"
"Kenapa tidak?" sahut Kerta sambil ikut tidur dan menyilangkan tangannya di pinggang Sani.
"Tapi sebelumnya Sani akan buktikan kehebatan yang lainnya dulu pada mas."
"Oh, jadi masih ada yang lain? Apa it.... Hhmmph, "
Tanpa menunggu Kerta menyelesaikan kalimatnya, Sani sudah menyambar bibir tipis itu dengan pagutan yang bersemangat tanpa jeda sedikitpun. Ia lahap seluruhnya bibir tipis itu hingga kumis tipis yang bertengger di atasnya tak nampak sedikitpun. Sani sudah mulai terbiasa dan lihai bermain-main dengan berbagai macam cumbuan yang mampu membuat lawannya kepanasan.
Di dalam sana, lidahnya sangat lincah menyapu seisi rongga mulut Kerta dengan tarian lembut dan manja. Sesekali Sani bahkan menggigit-gigit pelan ujung lidah suaminya itu sebelum ia kulum kembali dalam waktu yang bersamaan. Tak lupa Sani juga memberi 'ekstra' servis di bagian 'bawah' dengan diam-diam menelusupkan tangannya di balik celana yang masih utuh itu.
"Mmmhhmm... " lenguh Sani mengakhiri pagutannya sambil menarik kepalanya untuk mengambil nafas beberapa saat.
"Wow? Apa itu tadi San? Entah bagaimana kau melakukannya, tapi yang barusan itu rasanya sangat lain."
"Hahahaha, sangat lain bagaimana mas?"
"Mas juga tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata tentang rasanya. Tapi sensasi yang kau berikan benar-benar membuat mas.... Ah, entahlah!"
"Haahahha, mas terlihat lucu kalau seperti itu. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya?"
"Rasanya? Ah, jangan di tanya lagi,"
"Loh, kenapa?"
"Karena rasanya benar-benar, amat, sangat... "
__ADS_1
"Enak?"
"Hehehehe, iya sayang."
"Hahahaha... Mau bilang enak saja susah sekali. "
"Ya, mau bagaimana lagi? Kau benar-benar sudah memanjakan mas hari ini."
"Tunggu sampai kita masuk ke gerakan inti, Sani jamin mas pasti tak akan bisa berkutik."
"San, kau baru saja membuat mas merinding."
"Hahahhaa, masa sampai merinding?"
Cccuuuuuuuuuuuuupppppp! Kerta baru saja memberikan kecup tanda sayangnya dengan dalam, tepat di atas bibir Sani yang tertutup. Seolah ada pesan yang sedang ia selipkan lewat kecupan yang panjang itu.
"Mas tak tahu harus berbuat apa untuk menunjukkan rasa cinta yang mas miliki untukmu. Tapi kau harus tahu San, bahwa jika bukan kau, maka tidak akan ada yang lainnya. Mas janji, tak akan pernah ada yang lain selain kau sampai kapanpun. Kau mengerti, kan?"
Sani hanya mengangguk, sambil menatap mata Kerta yang berbinar tulus saat mengucapkan kalimat itu padanya. Pandangan lembut itu serasa menusuk, hingga berhasil menghujam hatinya dengan amat dalam.
Tiba-tiba saja rasa bersalah, muncul menyeruak dari dalam dadanya begitu ia ingat apa yang telah dirinya dan Sena lakukan di belakang Kerta. Bagaiman mungkin ia telah tega melukai orang setulus ini hanya karena godaan dari pesona Sena yang mematikan?
"Sudah, jangan memasang wajah sedih begitu. Bukannya tadi kau bilang mau menakluk-kan mas sampai tak bisa berkutik? Kau ingat, kan?"
"Ah, tentu saja Sani ingat!" sahut Sani seraya mengambil posisi merayap di atas perut kotak suaminya. "Jadi bagaimana, bisa kita mulai sekarang?"
Tanpa pikir panjang lagi Kerta langsung menyahuti pertanyaan istrinya dengan lantang,
"Oke, siapa takut?"
.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀