SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Tetap utuh, meski tak mungkin tersentuh.


__ADS_3

Sena membuka mata dengan pelan lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia sedikit terkejut kala mendapati dirinya tengah terbaring di atas ranjang empuk yang sangat nyaman. Ia sama sekali tak mengenali tempat asing ini. Namun kabar baiknya adalah tubuhnya terasa amat ringan dan sehat sekarang.


Sambil membetulkan posisinya, Sena mulai mengingat kembali pertarungan sengitnya dengan ki Marja beberapa waktu yang lalu. Ia masih bisa mengingat rasa sakit dari hentakan cambuk yang di dapatkannya dari pendekar tua itu. Ternyata kekuatan bertarung ki Marja memang benar-benar tak bisa di remehkan.


Setelah menghujani dirinya dengan serangan yang bertubi-tubi, orang itu juga menguras habis sisa tenaganya dengan lucutan cambuk yang mem-'babi buta'. Dan sekarang Sena semakin yakin bahwa pertarungan itu berakhir dengan 'kematiannya' di tangan ki Marja.


Benar saja ia terbangun di tempat yang asing ini. Dugaannya tidak salah lagi. Pasti saat ini, arwahnya sudah berada di nirwana*. Dan kamar ini tentu saja salah satu kamar di nirwana yang di persiapkan untuknya.


*Nirwana: Sebutan lain dari kata 'surga' di masa kerajaan. Nirwana juga bisa di arti-kan sebagai tempat tinggal para dewa menurut kepercayaan beberapa agama.


"Kenapa nirwana sepi sekali?" gumamnya agak heran.


Sambil mencoba mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang, Sena mengamati ruangan tempatnya berada dengan seksama. Di tempat ini ia tak melihat suasana dan ornamen yang berbeda dari kamar biasa yang pernah ia lihat selama hidupnya. Ruangan ini tidak terlihat seperti kamar indah di nirwana yang pernah ia dari cerita-cerita masa kecilnya.


Dulu, romo-nya sering bercerita tentang bilik-bilik kamar di nirwana yang bercahaya dan luar biasa indah. Di dalam kamar itu akan ada banyak makanan enak juga perabot yang bagus dan berkilau seperti emas. Di nirwana ia juga akan di sambut oleh bidadari-bidadari cantik jelita dengan rambutnya yang panjang.


Sesuai cerita, sekawanan bidadari itu akan selalu menemaninya dan melayani semua yang ia ingin dan butuhkan selama di sana. Secara bergantian meraka akan mengajak Sena bermesraan dan menghabiskan waktu untuk bermanja selama yang ia butuhkan.


"Bermesraan? Hah, sepertinya tak mungkin aku bisa bermesraan dengan perempuan lain meski ia adalah seorang bidadari sekalipun. Sayang sekali, aku belum bisa melupakanmu hingga akhir hayatku ini..." Kenangnya sedih.


Selama lima tahun lamanya Sena telah menyimpan nama dan wajah perempuan itu dalam hatinya. Tak bisa ia gambarkan seberapa besar dan kuatnya perasaannya untuk perempuan itu. Sungguh, cintanya selalu utuh meski perempuannya tak lagi bisa tersentuh.


Kisah itu berawal dari pertemuan pertama mereka yang berkesan di hatinya. Suatu hari Sena melihat beberapa preman pasar yang sedang mengganggu seorang perempuan yang menjual dagangan sayurnya. Dan tanpa membutuhkan waktu yang lama akhirnya Sena memutuskan untuk menolong dan berhasil mengusir para preman itu.


Lalu Sena melihat perempuan cantik itu tersenyum padanya dan meninggalkan perasaan aneh di dalam hatinya. Entah mengapa sejak saat itu sedikitpun Sena tak bisa lupa pada bibir merah merekah yang tersenyum padanya?


Dan cerita-pun kian berlanjut setelah mereka menjadi akrab karena kunjungan yang rutin di lakukannya setiap hari.


Selama itu Sena selalu menikmati setiap pertemuan dan kebersamaan yang dapat mereka lalui. Ia mulai merasakan adanya getaran rindu yang kian hari terasa semakin dalam jika tak berjumpa. Ia mulai kasmaran dan suka pada semua yang ada perempunnya tanpa terkecuali.


Lalu hanya butuh waktu beberapa bulan saja untuk membuat Sena dan perempuan itu akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih. Mereka sepakat untuk mengambil keputusan itu setelah Sena mengutarakan perasaannya dengan cara yang manis dan penuh kejutan. Dan hari-hari penuh bahagia terus terjadi padanya setelah itu.


Terkadang Sena mengajak perempuannya itu berkuda ke suatu tempat yang baru dan menghabiskan waktu berdua di tempat itu seharian. Selain menggelar kain untuk duduk, mereka juga membawa bekal makanan untuk di nikmati bersama.


Pada kesempatan ini tak jarang, tingkah jahil Sena muncul untuk menggoda perempuannya.

__ADS_1


"Aduh!" pekik Sena tiba-tiba terdengar mengejutkan suatu ketika.


"Aaa... Ada apa?" sahut si perempuan panik.


"Entahlah! Tapi sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mataku!"


"Ah, kemarilah! Aku akan membantu mengeluarkannya dari sana." Seru si perempuan sambil mendekatkan posisi duduknya.


Sena yang masih memegangi matanya itu hanya menurut saja saat tangan lembut itu meraih matanya. Sena bisa melihat dengan jelas bibir merah itu mendekat ke wajahnya dengan pelan.


Ccuppp!


"Iiih, Sena?" pekik si perempuan kesal.


Sena hanya membalasnya dengan tawa keras saat ia berhasil mengelabuhi perempuannya. Ia memang sengaja melakukannya supaya ia punya kesempatan untuk mengecup bibir yang nampak menggoda itu. Sena semakin bersemangat kala mengetahui pemiliknya tengah kesal namun dengan pipi yang bersemu merah.


"Kenapa melakukannya dengan tiba-tiba seperti itu?" sungut si perempuan dengan nada kesal yang di buat-buat.


"Hehehe, maaf. Aku hanya ingin menggodamu saja tadi."


"Huh, sebal!"


Namun si perempuan hanya menjawab pertanyaan Sena dengan mengedikkan kedua bahunya.


"Ah, kau sering marah begitu, memangnya tidak takut?"


"Takut? Kenapa aku harus takut?"


"Ya... Mungkin nanti akan membuatmu terlihat se..."


"Apa kau mau bilang kalau itu akan membuatku terlihat semakin jelek? Atau semakin menambah tua? Itu, maksudmu?" potong si perempuan semakin kesal.


"Hahahaha.... "


"Iihh, Sena... Jangan menertawaiku begitu. Dasar menyebalkan!"

__ADS_1


"Kau salah paham, sebenarnya aku cuma mau bilang... "


Ssrreett!


Sena menarik spontan tubuh ramping itu kedalam pelukannya sambil berbisik, "aku ingin bilang kalau marah hanya akan membuatmu terlihat semakin cantik. Sungguh... "


Cccup, dan ciuman hangat dari bibirnya kembali mendarat untuk menutup kalimatnya.


"Dasar... "


"Ah, imutnya! Lihatlah pipimu yang sudah semerah tomat itu sekarang. Lagipula kalau aku minta, aku ragu kalau kau akan memberikannya."


"Oh, siapa bilang?"


"Jadi maksudmu,... Kau juga mahhump... Hhmmp... Mmphh"


Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut Sena setelah perempuan itu menempelkan bibir merahnya di atas sana. Sena sedikit terkejut saat menerima kecupan mendadak yang langsung membuat tubuhnya terasa panas.


Tanpa komando lagi, Sena mulai membalas ciuman itu dengan lembut dan berirama. Mereka mulai saling menyesap dan terus berpagutan mesra dalam waktu yang cukup lama. Rasa panas, geli, dan menantang melebur menjadi satu saat bibir mereka terus memacu satu sama lain.


"Hentikan! Kenapa justru hal itu yang kupikirkan sekarang?" gumam Sena pelan saat bibirnya mulai terasa basah begitu mengingat lintasan kenangan yang masih membara itu.


"Ah, andai saja aku punya lebih banyak waktu untuk bersama denganmu. Aku janji akan memberikan semua yang aku mampu berikan meski aku tahu pada akhirnya tak pernah ada kata 'kita' selamanya."


Tap! Sena hampir terlonjak saat punggungnya tiba-tiba di tepuk pelan dari arah belakang. Mulutnya hanya bisa menganga tak percaya begitu melihat siapakah orang yang telah membuyarkan lamunannya tadi.


"Hah? Nyyiii... Nyimas?"


.


.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2