
Lamat-lamat suara gamelan mulai terdengar dari kereta kuda yang tengah melaju dengan kecepatan sedang sejak tiga puluh lima menit yang lalu. Dan selama itu pula Kerta, yang juga menikmati perjalanan kereta malam itu sejak tadi tak henti-hentinya menujukan pandangannya pada perempuan cantik yang berada di sampingnya.
Hari ini perempuan itu mengenakan baju pesta yang terdiri dari setelan kebaya berwarna merah marun yang terlihat sangat cocok dengan warna kulit langsatnya. Warna merah gaunnya seakan membuat dirinya nampak seperti bunga mawar yang sedang mekar. Manis sekali. Ditambah dengan riasan wajah ringan dan tatanan rambut yang rapi membuat Sani nampak anggun malam ini.
"Kau cantik sekali, sayang!"
"Haduuuhh.... Sudah berapa kali mas mengucapkan kalimat yang sama seperti itu?"
"Entahlah, sepertinya baru tiga kali."
"Yang benar tiga puluh kali."
"Hahaha, terserahlah! Intinya malam ini mas sangat terpesona dengan penampilanmu, sayang. Biasanya kau memang sudah cantik. Tapi hari ini kau terlihat jauh lebih can... "
"Cantik?" pungkas Sani menyelesaikan kalimat Kerta yang belum tuntas.
"Iya, hehehehe... Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau mas mau bilang 'cantik'?"
"Karena mas juga terus mengulang kalimat itu lebih dari dua puluh kali."
"Ah, sepertinya baru dua kali."
"Tidak, mas terus mengatakannya sejak kita keluar dari rumah tadi."
"Iya sayang, tapi itu belum sampai dua puluh kali. Mungkin jumlahnya sekitar tujuh atau delapan kali?"
"Ya, ya baiklah terserah mas saja!" sahut Sani dengan nada kesal yang di buat-buat.
Kerta semakin tak bisa mengalihkan pandangannya kala perempuan cantik itu memanyunkan bibir seksinya dan berlagak 'ngambek' di depan suaminya. Ah, bagaimana mungkin suaminya bisa berpaling jika bibir manyun itu membentuk huruf 'O' yang menggoda untuk di....
"Eh, mas mau apa?" bisik Sani agak tertahan saat tangan kekar suaminya menarik halus dagunya untuk di arahkan tepat di depan wajah tampannya.
Ccupp,
Sekilas Kerta baru saja menempelkan bibirnya tepat di atas bulatan 'O' yang kini nampak agak basah karenanya. Senyum manja Sani mengembang begitu Kerta mengusap pipi mulusnya. Semu merah tanpa blush on di tulang pipinya nampak semakin jelas saat Kerta juga memberikan kecupan hangat di sana. Itu sebuah kecupan lembut yang menghilangkan rasa dingin dari angin malam di dalam kereta ini.
"Kau tahu jika mas sangat mencintaimu, bukan?" bisik Kerta pelan.
__ADS_1
"Emmhh, "
"Hei, apa maksud dari kalimat 'emmh' itu? Kau berani menggodaku ya?"
Kerta sudah melingkarkan kedua tangannya di atas pinggang ramping Sani yang berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Sani terus berusaha untuk memberontak karena di balik modus pelukan itu diam-diam Kerta telah menelusupkan tangannya di atas perut ramping itu sambil menggelitikkan jemarinya di sana.
"Hahaha, mas! Sudah, hentikan! Hahhahaa.... "
"Tidak mau, "
"Hahhaa, geli mas! Sudah, hentikan... Ahahahhaahhaa. "
"Ini hukuman untuk istri nakal yang suka menggoda suaminya."
"Hhahaa, memang Sani menggoda mas bagaima.... Hahhaaa... Cukup, hentikan!"
"Bukankah kau seharusnya mengatakan 'aku juga cinta padamu' untuk membalas pernyataan mas tadi, hm?"
"Hahhaahha, itu namanya pemaksaan. Hhahahaha.... Sudah cukup, sekarang hentikan dulu... Hahaha. .."
TTok, tok, tok!
"Kita sudah sampai, Den!" ujar si kusir kereta yang mereka tumpangi sembari membungkukkan badannya.
.
.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Kerta dan Sani saling bergandeng tangan memasuki aula pesta yang sudah riuh dengan para tamu undangan yang seketika menatap heran ke arah mereka. Semua mata seakan tak mau melewatkan momen langka yang belum pernah mereka saksikan pada pesta manapun sebelumnya.
Alasannya adalah Kerta, yang tak lain adalah satu-satunya bangsawan besar nomor satu yang sekalipun tak pernah terlihat menginjakkan kakinya di aula pesta sejak dulu. Laki-laki yang mewarisi seluruh kekayaan orang tuanya itu terkenal sombong dan angkuh karena dinilai tak pernah mau berbaur dengan bangsawan lain sebelumnya.
Dan anehnya, bahkan untuk pertama kalinya ia datang untuk menghadiri pesta, justru ia datang dengan membawa seorang perempuan yang sama sekali asing di mata para bangsawan. Memang benar jika kabar tentang pernikahannya dengan seorang 'gadis kampung' telah tersebar luas di seluruh penjuru wilayah ini.
Namun benarkah, jika perempuan itulah yang di maksud sebagai 'gadis kampung' yang di gambarkan sebagai perempuan tak berpendidikan yang sudah tersebar luas selama ini? Tapi dia terlihat sangat berkelas sekali. Cara berjalannya, penampilannya, bahkan sorot matanya yang 'ayu' sangat mustahil jika perempuan sepertinya adalah gadis kampung biasa? Rasanya tidak mungkin jika perempuan secantik itu adalah gadis kampung?
Sesekali Sani juga terlihat memamerkan senyum cantiknya di depan orang-orang yang seakan tak bisa berkedip memandanginya berjalan di antara kerumunan yang menatapnya penuh tanya. Ia memberikan senyumnya secara tulus untuk memenangkan perhatian para tamu undangan, yang tak lain adalah mereka yang selama ini menjelek-jelekkan namanya karena status kasta yang ia miliki sebelumnya.
Tak jarang ia mendengar cerita-cerita yang tak mengenakkan dari bibik Gandari mengenai cemoohan dan hinaan dari para bangsawan sejak dirinya secara resmi menjadi istri Kerta. Sani disebut-sebut sebagai parasit yang hanya mau menikah dengan Kerta untuk mendapatkan gelar bangsawan secara instant dan hidup bergelimang harta. Begitulah yang di dengarnya selama ini.
Oleh karena itu dalam kesempatan kali ini Sani ingin membuktikan dirinya di depan semua orang yang pernah menghinanya dengan menunjukkan penampilan sempurna yang membuat semua orang kagum pada pesonanya. Ia sengaja menonjolkan kesan 'cantik dan anggun' pada pemilihan busana yang ia kenakan demi menarik perhatian semua orang di aula ini. Ia juga melakukan praktik penerapan pelajaran etika bangsawan yang ia pelajari dari bibik secara singkat beberapa jam yang lalu.
Dan rupanya usaha itu nampak membuahkan hasil mengingat hampir semua orang yang hadir di ruangan ini saling membalas lemparan senyumnya dengan anggukan kecil yang disertai simpul di sudut pipi mereka. Bahkan beberapa pemuda secara terang-terangan membalas senyum itu dengan lambaian tangan dan bahasa tubuh yang terlihat salah tingkah. Lucu sekali.
"Mas bisa merasakan tatapan yang dipenuhi rasa iri itu dari para pemuda yang hadir di pesta ini." Bisik Kerta di tengah-tengah suara gending yang mengalun.
"Jangan membuat Sani semakin besar kepala, ah."
"Mas jadi merasa sangat beruntung dan terhormat bisa menjadi laki-laki yang berjalan bersama dan menggandeng tanganmu di depan semua orang ini, sayang."
"Mas mulai membual lagi?"
"Hahhahaa, terserah kau saja. Nah, sekarang ayo kita temui si pemilik pesta ini untuk menyapanya sebentar. Itu dia disana." Kerta menaikkan dagunya sedikit ke arah beberapa orang yang nampak berkerumun di sudut ruangan.
Kerta segera menyikukan lengannya dengan gagah sambil melirik manja Sani untuk memberinya isyarat hati. Saat mata mereka saling bertemu itulah Sani seakan sudah tahu apa yang Kerta harapkan meski bibir tipisnya tak mengatakan apapun.
"Baiklah, ayo!" ujarnya sambil tersenyum manja lalu menggapai lengan kekar itu dengan kedua tangannya untuk berjalan bersama layaknya sepasang pengantin baru.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀