SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Setampan idol k-pop.


__ADS_3

Sani mematung, terkejut melihat seorang laki-laki yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya. Ia sampai tak menyadari sejak kapan laki-laki itu sudah berdiri disana dan menampar pipi Dasimah dengan keras.


Laki-laki itu masih disana, melotot pada Dasimah yang masih memegangi pipinya yang merah.


"Apa-apaan ini, Imah? Apa kau sadar dengan ucapanmu tadi?" cecar laki-laki itu dengan nada tinggi.


"Huh, sial! Ada apa Sena? Mengapa kau sampai se-marah itu padaku, heh?" teriak Dasimah lantang dengan nada yang tak kalah tinggi pula.


"Kau tidak boleh bersikap kurang ajar begitu pada istri kang Kerta! Kau juga harus tahu dan sadar sampai mana batasanmu!"


"Batasanku? Hah, yang benar saja... " sungut Dasimah kesal.


"Batasan mana yang kau maksud Sena? Aku hanya mengatakan kejadian yang sebenarnya. Kenapa kau yang sibuk, heh?"


"Sebenarnya apa tujuanmu mengatakan hal yang sudah berlalu itu pada nyimas Sani?"


Sani terkejut mendengar namanya di sebut-sebut. Tentu saja laki-laki ini mengenal dirinya. Sani ingat cerita bibik tentang bagian 'mempunyai seorang anak laki-laki'. Jadi, ini yang namanya Sena?


"Kenapa kau selalu bersikap sinis begitu di depan nyimas? Apakah karena dia adalah istri kang Kerta, dan itu menggangumu? Benar begitu?"


"Heh, Sena... Apa aku tidak boleh mengatakan kebenaran itu padanya? Harusnya ia sadar, bahwa disini dia hanyalah orang baru di antara aku dan kang Kerta. Aku yang lebih dulu mengenal kang Kerta. Jadi dia tidak boleh berlagak seakan kang Kerta hanya miliknya saja!"


"Tunggu, apakah kau cemburu?"


"Tttii... Tiidak! Aku tidak cemburu! Aku hanya tidak suka saat Sani bersikap egois dengan menyita semua waktu kang Kerta."


"Lalu kenapa? Mereka kan, suami istri?"


"Tapi itu tidak benar! "


"Tidak benar? Asal kau tahu Imah, aku menamparmu karena aku tahu bahwa tidak semua yang kau ucapkan tadi adalah kebenarannya. Kau jangan menambah-nambahi rentetan kejadian secara berlebihan


seperti itu."


"Apa maksudmu?" seru Dasimah dengan suara lebih lantang.


"Dengan mengatakan bahwa kau adalah satu-satunya perempuan yang pantas untuk kang Kerta, apakah kau yakin jika kang Kerta sependapat dengan hal itu?"


Seketika Dasimah terdiam, membiarkan kalimat-kalimatnya hanya tertahan di ujung lidahnya. Ia seperti orang yang tiba-tiba saja kehabisan kata-kata di depan laki-laki yang di panggil Sena itu.


"Jika memang sejak awal kang Kerta sependapat dengan ucapanmu itu, kenapa ia tak menikahimu saja? Kenapa malah menikahi nyimas Sani yang kau sebut-sebut tak pantas itu?"


Lagi-lagi Sena berhasil membuat Dasimah terbungkam untuk yang kedua kalinya. Sani dapat melihat raut wajah Dasimah yang semula nampak congkak dan penuh percaya diri itu, tiba-tiba saja berubah ciut seperti maling yang tertangkap basah saat sedang beraksi.


Dengan wajah merah menahan malu, Dasimah segera berpaling pergi meninggalkan Sani juga Sena begitu saja. Ia menyingkir dari sana secepatnya karena tahu, jika saja dirinya tetap berada disana, entah apa yang akan dikatakan Sena untuk membuatnya semakin malu.


Dasimah-pun pergi meninggalkan lirikan mata tajam dan mengancam ke arah Sani.


.


.

__ADS_1


.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sani duduk di sisi ranjang tempat tubuh Kerta yang penuh luka itu di baringkan. Dengan halus dan pelan, Sani membelai lembut kepala suaminya yang masih belum sadar. Entah mengapa hatinya terasa perih, melihat laki-laki yang gagah itu tiba-tiba terbaring tak berdaya di depannya.


Sedang di sisi ranjang lainnya, ada Sena yang juga duduk memandangi Kerta dengan tatapan iba. Nampaknya ia juga mengkhawatirkan Kerta yang tak kunjung membuka matanya itu.


"Nyimas?" sapa Sena mencoba mencairkan suasana.


"Aaakk... Aakku? Kau bicara padaku?" sahut Sani gelagapan ketika tiba-tiba saja laki-laki itu mengajaknya bicara.


"Iya. Siapa lagi? Disini hanya ada kita bertiga, kan?" jawab Sena sambil memamerkan senyumnya yang menawan.


Sani merasakan jantungnya yang tiba-tiba bergetar aneh melihat senyum itu. Sena benar-benar memiliki senyuman sempurna ala-ala oppa korea.


Ya, benar!


Sena memiliki tipe wajah tampan seperti para bintang k-pop yang sering ia lihat di berbagai saluran televisi dan internet. Tidak seperti Kerta yang berkulit coklat, Sena justru memiliki kulit putih yang membuatnya nampak bersinar. Tubuh yang jangkung dan berisi membuat penampilannya kontras dengan setelan baju tradisional itu.


Saat ini Sani seperti melihat seorang idol dari korea, yang ikut memeriahkan karnaval dengan memakai setelan baju adat. Benar-benar sebuah pemandangan yang langka!


"Nyimas? Apakah nyimas baik-baik saja?" tanya Sena membuyarkan lamunan Sani.


"Ah, eh... Aku, " Sani kebingungan memilih kata yang tepat untuk membalas pertanyaan Sena.


Sani tak mau ketahuan bahwa sejak tadi, dirinya tengah memandangi Sena dengan tatapan kagum.


"Ah, tidak! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja."


"Ooh, apakah nyimas masih kepikiran dengan ucapan si Imah tadi?" tebak Sena kemudian.


"Tentu saja tidak. Untuk apa aku harus memikirkan ucapan perempuan gila sepertinya? Hanya buang-buang energi, saja!" jawab Sani ketus begitu mendengar nama Dasimah di sebut-sebut lagi.


"Ternyata benar ya? Hahahahaha"


Sani merasa heran melihat Sena yang sejak tadi nampak tenang, tiba-tiba saja bisa tertawa lepas seperti itu di depannya. Tawa-nya terdengar ringan dan sangat renyah di telinga. Sani seakan melihat kelap-kelip beterbangan di sekitar laki-laki itu. Sangat, sangat tampan dan bersinar.


Sani tak mau ketahuan sedang melamun untuk yang kedua kalinya. Secepatnya ia berusaha mengendalikan diri dan juga pandangan matanya dari pesona Sena yang mematikan.


"Tunggu, apanya yang benar?" tanya Sani kemudian.


"Ah, bukan apa-apa! Saya hanya tiba-tiba saja teringat pada cerita *biyung tentang nyimas!" jawab Sena setelah tawanya reda.


*Biyung: Sebutan ibu untuk masyarakat jawa.


"Hah, tentang aku?"


Sena mengangguk mantap.


"Memangnya bibik cerita apa saja padamu?"

__ADS_1


"Yang saya dengar dari cerita biyung adalah, nyimas sudah sangat berubah sekarang!"


"Berubah?" ulang Sani heran.


"Iya, benar! Biyung bilang bahwa istri kang Kerta ini sudah mengalami banyak perubahan yang baik setelah kehilangan ingatannya."


"Aku masih tidak paham Sena. Bisa tolong kau jelaskan saja intinya padaku? "


"Apakah nyimas tidak bisa merasakan perbedaan itu?"


Sani menggeleng!


"Maaf jika saya lancang! Namun nyimas yang saya kenal dulu adalah seorang gadis lembut yang tak pernah marah atau mengumpat seperti tadi. Lalu saat saya lihat nyimas yang kini nampak lebih tegas dan berani, sepertinya cocok juga!"


"Ah, benarkah? Memangnya aku dulu seperti apa?"


"Dulu nyimas sangat pendiam dan terkesan mau saja di tindas oleh orang judas semacam Dasimah. Saya juga ingat dulu nyimas sering pingsan, dan selalu terlihat tak bersemangat juga lesu. Tapi sekarang... " Sena menggantung kalimatnya sambil memamerkan senyuman maut itu lagi.


"Bbbee...bberrhenti senyam-senyum terus dari tadi. Katakan saja, ada apa dengan aku yang sekarang?" ucap Sani terbata-bata meredakan dadanya yang mulai bergetar aneh kembali.


"Ah maaf. Saya hanya merasa lancang jika mengucapkan kalimat berikutnya di depan nyimas."


"Katakan saja. Kau sudah terlanjur membuatku penasaran, Sena!"


Sena masih terlihat ragu untuk melanjutkan kalimat selanjutnya di depan Sani. Bibirnya yang berwarna pink, terlihat sangat menggoda saat ia menunda-nunda untuk meneruskan kalimatnya.


Aaw, pemandangan indah apa itu....


"Nyimas... "


"Iya, katakan saja."


"Entahlah apa yang saya katakan nanti berlebihan atau terkesan lancang. Tapi menurut saya, sekarang ini nyimas terlihat lebih matang dan... "


"Dan apa?"


"Dan sangat cantik!"


Blluusshhh!


Sani merasakan ada semburat hangat mulai menjalar di seluruh pipinya. Antara berdebar dan rasa senang, Sani menyukai kata 'cantik' yang keluar dari mulut Sena. Ia sadar sepenuhnya bahwa ini perasaan yang salah. Mana boleh ia mengambil kesempatan di saat seperti ini?


'Sadarlah Sani. Kau bukan lagi seorang gadis lajang di sini. Suamimu sedang sakit sekarang!' batinnya berteriak mengingatkan Sani, sebelum semuanya menjadi semakin tak terkendali.


.


.


.


.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2