SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Membuka portal


__ADS_3

(* Tiga jam sebelum kecelakaan )


Ddrrt.... Dddrrtt...


Ddrt.... Drrrt...!


Handphone di samping Sani bergetar dan berkedip-kedip tanda panggilan masuk.


Klik.


"Ya, halo?"


"Halo mbak Sani? Bisa kemari sebentar?" jawab suara perempuan di seberang.


"Ada apa Lin? Sudah kubilang Hari ini aku ada pekerjaan lain! Urusan butik, hari ini aku serahkan semua padamu."


"Tapi mbak, saya nggak bisa meng-handle masalah yang satu ini. Tolong mbak Sani mampir kesini sebentar! "


"Cck..! " Sani kesal "Tunggu sebentar, satu jam lagi aku kesana! "


"Baik mbak, saya tunggu!"


Tut!


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Sani hampir sampai di butik-nya saat ia melihat begitu banyak orang yang berkerumun di parkiran. Tanpa menghabiskan banyak waktu, Sani bergegas menuju kerumunan setelah memarkir motornya.


"Permisi....! Permisi, saya mau lewat."


Orang-orang yang berkumpul itu saling bergeser memberi jalan.


"Ya ampun..!" Sani terperangah melihat pemandangan tak menyenangkan di samping pintu masuk butik-nya.


Melihat Sani berada di antara kerumunan, seorang perempuan berlari keluar dari butik menghampiri Sani.


ย 


"Ini masalah yang saya bilang tadi, mbak! " kata si perempuan yang menghampirinya.


"Mana pak satpam, Lin? "


"Anu Mbak, pak satpam-nya belum datang!"


"Uuh...! " gerutu Sani kesal.


"Siapa dia?" Sani menunjuk seseorang yang menjadi tontonan di depan butiknya.


"Saya juga tidak tahu sejak kapan dia disana? Tadi pagi, saat saya sampai butik pemandangannya belum seperti ini. "


"Lalu? "


"Lalu saya melihat orang-orang ramai berkumpul di depan butik saat saya sedang membereskan kain-kain di meja. Begitu saya periksa keluar, orang itu sudah duduk disana!" jelas pegawai butik yang di panggilnya Lin tadi.


ย 


Sani melihat orang yang di maksud sedang duduk disana. Penampilannya lusuh dengan baju yang compang camping. Tubuhnya di penuhi lalat-lalat yang berterbangan, memberi kesan buruk pada bau badannya.


Orang itu terlihat seperti sosok seorang perempuan tua dengan warna rambutnya yang putih di penuhi uban. Kepalanya menunduk ke bawah dengan tubuh kurus yang di sandarkan di pintu kaca butik.


ย ย 


Sani tak punya pilihan lain. Ia terpaksa harus menyelesaikan masalah ini sendiri sebelum susananya semakin tak terkendali.


Sani berjalan mendekati sosok yang menjadi tontonan itu, lalu berjongkok tepat di depannya! Ia mendongak begitu menyadari kehadiran Sani.


ย 


"Akhirnya kamu datang juga! " katanya sambil tersenyum.


"Nenek kenal saya?" tanya Sani heran.

__ADS_1


Nenek itu mengangguk!


Tapi ia tak merasa mengenal ataupun pernah bertemu dengan nenek ini sebelumnya.


ย 


"Nenek ini siapa? "


Nenek itu tak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menarik tangan Sani dan meletakkan sesuatu ke dalam genggaman Sani!


ย 


"Apa ini Nek? "


"Pakailah! Ayo kita pulang!"


"Pulang?"


Nenek itu mengangguk lagi.


"Ooh, maksud nenek mau saya antar pulang?" tanya Sani kemudian.


Si nenek menggeleng!


"Ayo pulang denganku! " jawab nenek singkat dengan tatapan matanya yang tajam.


"Pulang kemana nek?" tanya Sani heran sambil mengernyitkan dahinya.


"Pakai saja benda yang ada dalam tanganmu. Nanti juga kamu akan tahu!"


Sani membuka genggamannya, memeriksa benda yang nenek itu maksud.


Seuntai kalung?!


Rantainya yang berwarna perak dengan bandul kecil berbentuk oval. Bandulnya di hiasi dengan batu bersinar berwarna ungu yang cantik.


"Maaf, Nenek pasti salah orang. Tapi benda ini bukan milik saya. "


"Tapi nek... "


๐Ÿ‘ฎ๐Ÿ‘ฎ๐Ÿ‘ฎ


Ppprriit... Prriit!


Terdengar bunyi nyaring peluit dari arah belakang. Orang-orang yang dari tadi berkerumun mulai berhamburan pergi meninggalkan parkiran butik begitu melihat satpam datang!


"Ada apa ini? Ayo... Bubar... Bubar! "


usir pak satpam pada orang-orang yang membuat kerumunan.


"Maaf Bu, saya terlambat."


Sani hanya mengangguk menanggapi pak satpam dengan mata yang masih mengawasi si nenek.


"Ibu masuk saja, nenek ini biar saya yang urus. "


ย 


Benar juga, ia sampai lupa bahwa dirinya masih punya pekerjaan lain yang tertunda karena masalah ini.


ย 


"Baiklah, kalau begitu! Saya juga tidak bisa lama-lama disini. Masih banyak urusan yang harus saya selesaikan hari ini! " sahut Sani sambil berdiri, bersiap untuk pergi!


"Dan, pak satpam..... Tolong nanti bapak antar nenek ini pulang! Sepertinya nenek ini sedang tersesat"


"Baik, bu!"


"Lin, tolong jaga butik ya?" Sani melirik sebentar ke arah pegawainya.


"Iya mbak!" Sahut si pegawai cepat.

__ADS_1


Baiklah, sekarang sudah beres! Sani mulai melangkah berniat pergi dari tempat itu. Namun ia merasa ada sesuatu yang menahannya. Ia menunduk, memeriksa sesuatu yang menahan langkahnya. Benar saja, ternyata di bawah sana tangan nenek menahan Sani dengan menarik ujung bajunya.


"Kau mau kemana?" tanya si nenek dingin.


"Oh iya maaf, saya hampir lupa! Ini, saya kembalikan kalung nenek. Saya buru-buru nek, nanti satpam saya yang antar nenek pulang ya?" jawab Sani sopan sambil menyerahkan kembali kalung di tangannya.


"Tidak! Kalung itu milikmu!" sahut nenek kekeuh tak mau menerima kalung itu.


"Maaf ya nek, tapi saya harus pergi sekarang juga."


"Ayo pulang, Iriasa Ningsih! "


Sani tercekat, mendengar nenek itu menyebutkan nama lengkapnya dengan benar.


"Bagaimana nenek tahu nama lengkap saya?"


Nenek itu tak langsung menjawab! Ia hanya diam saja dengan menyunggingkan senyuman misterius di sudut pipinya.


"Sudah cukup main-mainnya. Nenek dari tadi hanya mengganggu bos kami saja! Ayo... saya antar pulang sekarang juga! " pak satpam yang mulai tak sabar mulai menghampiri nenek sambil marah-marah.


"Tunggu Pak!" cegah Sani seraya menghentikan tangan pak satpam yang terlihat menarik paksa lengan nenek.


"Kenapa bu?"


"Biar saya yang antar nenek ini. Bapak bisa urus pekerjaan yang lain!" sahutnya sedikit kesal melihat sikap kasar pak satpam pada nenek.


"Tapi bu.... "


Sani tampak tak mau berdebat, hanya memberi isyarat dengan mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh pak satpam pergi.


"Mari nek, saya yang antar nenek pulang!" ujar Sani sambil memapah nenek di bantu Lin.


ย 


Beberapa menit kemudian, dengan sedikit kesusahan akhirnya Lin berhasil membantu nenek naik ke boncengan motor maticnya. Sani sudah memasukkan kontak, bersiap untuk menghidupkan motornya.


"Oke Lin, Terimakasih. Sekarang masuklah!"


"Mbak yakin, ga papa?"


ย Sani hanya mengangguk sambil tersenyum !


"Kalau begitu mbak ati-ati ya?"


"Iya iya... Sudah sana cepet masuk! "


Lin bergegas masuk begitu mendapat perintah dari Sani.


"Bbrrruumm! "


Sani mulai menstarter motornya! Setelah starter di nyalakan, ia menarik gas-nya perlahan. Motor Sani mulai melaju meninggalkan parkiran. Sani mengemudikan motornya dengan pelan, menjaga supaya si nenek merasa aman.


Setelah di rasa cukup aman, ia menyalakan lampu riting dan membelokkan stir-nya ke arah kanan menuju jalan raya.


"Ccciit...! Bbrruaaaakkk!" Tiba-tiba saja sisi depan motornya di hantam mobil dari arah berlawanan. Tubuhnya terpental keras lalu berguling di atas aspal.


Kepala-nya terasa sakit berdenyut-denyut.Darah segar mulai merembes dari balik helm-nya. Ia hanya melihat banyak orang yang berlari ke arahnya.


ย 


Lalu semua gelap.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Author;


Mau dong, di kasih like dan comment-nya! ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Yang suka novel ku, klik favorit juga ya.


Makasih sudah mampir ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2