
"Selamat pagi, Sani....?"
Asih menyapa Sani yang terlihat menggeliat malas, begitu ia masuk ke kamar.
"Pagi... Hoooaahm..."
"Hei... Ayo cepat bangun!"
"Bangun? Hhooaahmm... Tapi aku masih ngantuk sekali..."
"Dasar tuan putri... Kau pikir di sini sama dengan di rumah suamimu, heh?"
"Hahaha tidak, bukan begitu Asihh... "
"Wah... Sepertinya kau sudah terbiasa menjadi tuan putri selama menjadi istri Kerta, ya?"
"Duh Asih, kau meledekku terus ya? Bukan masalah itu, hanya saja ini masih terlalu pagi untuk bangun..."
"Ya tidur saja terus sana. Nanti begitu kau bangun, pasar-nya pasti sudah bubar... "
"Ah iya... Iya, aku bangun!"
"Bagus! Jadi kita bisa berangkat sekarang. Ayo...! "
"Eh tunggu...! Kita tidak mandi dulu, sebelum berangkat?
"Tidak perlu mandi, kau kan sudah cantik? hahahahha... "
"Asiiihhh, jangan bercanda... "
"Ahh... Iya, iya... nanti kita mandi di sungai seperti biasa... "
"Hah? Mandi dimana, kau bilang?"
"Aduh Sani... Biasanya kita juga begitu kok! Lagipula di sini aku tidak punya tempat penyimpanan air seperti di rumah Kerta."
"Tapi Asih, bagaimana ca...."
"Kau ini! Ayo cepat berangkat. Kita sudah tak punya banyak waktu lagi"
Setelah berhasil membangunkan Sani, Asih melangkah keluar dari kamarnya dan terdengar sedang sibuk mempersiapkan peralatan yang mereka butuhkan.
Sani segera bangun dan merapikan tempat tidurnya sebelum menyusul Asih, kemudian.
Sani melihat Asih sudah siap dengan semua peralatannya. Kedua tangannya nampak kesulitan membawa beberapa keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.
"Sini... Aku bantu!" Ucap Sani menawarkan pertolongan.
"Tidak perlu, Sani... Lagipula aku sudah biasa melakukannya sendiri, kok!"
"Bukan-nya kau bilang, dulu kita biasa melakukannya bersama?"
"Iya. Tapi itu dulu"
"Apa bedanya dengan sekarang?"
"Tentu saja sangat berbeda! Dulu kau hanya gadis desa biasa seperti-ku. Tapi, setelah kau menjadi istri Kerta.... "
"Memang-nya kenapa kalau sekarang aku menjadi istri mas Kerta? Apa itu berarti membuatku tidak boleh lagi membantumu?"
Asih menggeleng!
"Dengar Asih, baik dulu maupun sekarang... Selama aku sangat nyaman selama bersama dengan mu, menurutku itu tidak masalah kan? Aku hanya ingin membantumu... "
Sani melihat mata Asih yang mulai berkaca-kaca.
"Sudah, jangan menangis sekarang! Kau bilang kita sudah tak punya banyak waktu, kan? "
"Ya ampun Sani, kau benar.... Kita sudah terlambat! Ayo cepat berangkat!"
Sani hanya bisa geleng-geleng dan tersenyum melihat tingkah lucu Asih yang sangat labil emosinya. Asih bisa cepat sekali mengubah-ubah mood-nya.
'Gadis yang unik'....
.
.
.
.
__ADS_1
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Asihh, hhh... Toloooonghh pelan-pelanhhh jalannyahh... "
Sani berbicara dengan nafas ngos-ngosan, karena mengikuti langkah Asih yang cepat sekali
"Ah iya iya... Hehehehe... Maaf Sani. Aku terbiasa berjalan dengan cepat."
"Hhaah... Aku capek sekaliihhh... Masih jauh tidakkhh?"
"Itu, disana. Kita sudah hampir sampai. Kau mau istirahat dulu?"
Sani mengangguk dengan cepat!
"Baiklah, istirahat saja dulu di sini. Aku akan memetik sayur-nya duluan kalau begitu."
"Hah? Kau mau meninggalkan aku disini sendirian?"
"Tempat-ku memetik sayur sudah dekat, Sani. Nah, disitu!"
Sani memerhatikan tangan Asih yang menunjuk sebuah batu besar di balik pohon randu.
"Ah, ya ya.. Aku bisa melihatnya! Kalau begitu, kau duluanlah! Nanti aku menyusul."
Asih mengangguk dan segera pergi menuju tempat yang ia maksud.
Sani mengedarkan pandangan di sekitar tempatnya beristirahat. Di sekitarnya hanya ada beberapa pohon besar yang meneduhkan tempat itu. Hutan ini terasa sangat sejuk dan sangat terang.
Dari kejauhan ia lihat Asih dengan cekatan mengumpulkan beberapa macam sayur di tangannya. Entah mengapa, ia merasa tak asing dengan pemandangan dan suasana ini.
Dengan suasana hutan-nya... Deretan pohon-pohonnya, Lalu suara kicauan burung-nya? Sani merasa sangat mengenal tempat ini.
"Yuk, San?"
"Eh... "
Sani terlalu lama beristirahat, sampai tak menyadari jika keranjang sayur Asih sudah penuh.
"Ini sudah cukup. Sekarang ayo kita berangkat ke pasar!"
"Tidak masalah, Sani... Aku juga sudah sangat senang kau mau menemani-ku di sini..."
"Ah... Aku jadi tidak enak padamu?"
"Sudah aku bilang, tidak masalah. Ayo..."
Sani segera berdiri dan berlari menyusul Asih yang sudah jauh di depan! Lagi-lagi ia ketinggalan?
.
.
.
.
.
"Ayo... Ayo, silahkan di pilih-pilih... "
Sani sudah duduk kelelahan di belakang meja besar, yang di gunakan untuk meletakkan semua sayur yang tadi di petik Asih. Sedangkan Asih yang berdiri di sampingnya masih terlihat semangat, tak terlihat lelah sama sekali.
Bahkan daritadi ia berteriak-teriak pada orang-orang yang lalu-lalang, untuk menawarkan sayuran yang mereka bawa.
"Ayo... Ayo, sayur-nya masih segar-segar... Ayooo... Silahkan dipilih... "
"Asih... Sstt?"
"Ada apa, Sani?"
"Apa harus berteriak-teriak begitu, terus ya?"
Asih tertawa sebelum menjawab pertanyaan Sani,
"Ya memang harus, lah Sani. Kalau kita tidak menawarkan dagangan kita, kapan laku-nya?"
"Ah, begitu? "
Sani baru mengetahui alasannya sekarang. Baheasannya orang-orang yang berjualan di pasar tradisional itu, selalu berteriak menawarkan dagangan mereka hanya untuk menarik pelanggan seperti ini?
__ADS_1
"Hai Asih, kau bawa sayur apa saja hari ini?"
Syukurlah, akhirnya ada seorang pembeli juga hari ini.
"Maaf ya *nyimas, tapi hari ini yang Asih bawa tidak se-lengkap biasa-nya. Hanya ada kangkung, labu, timun, juga daun singkong... "
(*Nyimas: Semacam panggilan untuk nyonya atau orang yang di hormati )
"Kalau begitu tolong ikatkan tiga *unting sayur kangkung untukku, ya?"
"Ah iya, siaaapp!"
(*Unting: sebutan untuk per-ikat nya sebuah sayur berjenis dedaunan/ bahasa jawa)
Asih terlihat gembira dan bersemangat menyiapkan pesanan perempuan itu. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia.
"Nah, ini.... " Asih menyerahkan tiga ikat
kangkung pada pembeli-nya.
"Terimakasih. Ini uangnya seperti biasa, kan?"
"Ah, iya betul... "
Perempuan itu memberikan dua keping uang logam kepada Asih.
ilustrasi uang logam yang di gunakan
"Wah, terimakasih nyimas...! Mampir lagi, ya?"
"Iya... sama-sama. Kapan-kapan saya mampir lagi. Saya duluan ya? Mari... "
Perempuan itu tersenyum pada Asih dan Sani sebelum pergi.
"Eh, tunggu sebentar... "
Perempuan yang baru saja pergi itu, ternyata kembali lagi.
"Ada apa, nyimas? Apakah ada barang yang ketinggalan? "
"Ah tidak, bukan begitu!"
"Lalu? "
"Asih, bukannya ini Sani... Ya?"
Deg!
Sani kaget, begitu perempuan itu mengenali-nya.
"Iiiya, betul... Saya Sani,"
"Lohalaaahhh.... Aku pangling lo? Kau tambah cantik saja sekarang... "
"Ah, tidak... Biasa saja... "
"Lama, tidak jumpa? Ku dengar kau sakit-sakitan ya selama di rumah suamimu?"
"Eh, anu... Itu... Kalau soal itu, saya... "
"Syukurlah, kalau sekarang kau sudah sehat Sani. Karena dari berita yang kudengar, sakit yang kau derita ini sangat aneh! Tabib dari tempat-tempat yang jauh bahkan tak bisa membuat kondisimu membaik."
"Hah, benarkah?"
"Sungguh Sani, begitulah kata orang-orang yang menyebarkan kabar itu. Justru aku sangat terkejut, begitu melihatmu hari ini nampak segar dan sehat-sehat saja."
"Ah, itu... "
"Sudah kuduga, itu hanyalah kabar burung saja....! Dasar mereka, selalu saja menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya..."
"Anu, tapi... "
"Yahh... Tapi aku lega melihatmu baik-baik saja, sekarang. Oh ya, aku harus pergi sekarang. Aku sudah terlalu banyak omong tak jelas di sini. Aku duluan ya?"
Sani benar-benar tak di berikan kesempatan sedikitpun untuk menyahuti perkataan perempuan itu. Bahkan sebenarnya kini Sani penasaran tentang kebenaran dari kabar yang di dengarnya?
Benarkah, selama ini tubuh lama-nya sakit-sakitan seperti kata perempuan itu? Namun jika kabar itu memang benar, bagaimana mungkin tubuhnya sekarang tak pernah merasakan gejala apa-apa?
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1