
"Sudah pagi?" gumam Abidzar ketika mendengar suara ayam berkokok.
Abidzar menggeliat, merenggangkan tubuhnya setelah tidur begitu pulas. Entah terlalu lelah atau terlalu banyak masalah, tapi malam tadi adalah tidur terlama abidzar sejak memiliki dua orang istri.
Selagi mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Abidzar sempat menguap. Tapi begitu menyadari sesuatu ekspresinya langsung berubah. Tepatnya saat melihat pakaiannya tidak lagi menempel di tubuhnya.
"T-tunggu, apa yang terjadi?" batin Abidzar.
Abidzar melihat sekeliling. Memastikan yang dia lihat benar atau salah. Tapi begitu melihat Nafisa tidur membelakanginya Abidzar tahu apa yang terjadi semalam. Rahang Abidzar mengeras. Sekarang dia tahu kenapa dia begitu mengantuk semalam. Itu semua pasti ulah Nafisa.
"Sialan!" umpat Abidzar.
Abidzar bangkit tanpa membangunkan Nafisa. Dengan cepat memakai pakaiannya dan meninggalkan rumah yang tanpa kehadiran Dzakiyya terasa seperti neraka.
"Apa kau tidak mengerti bahasa manusia. Bukankah aku sudah bilang lain kali. Tapi apa yang kau lakukan," omel Abidzar.
Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali mengumpat atas tindakan Nafisa yang tak tahu aturan. Bagaimana wanita itu jadi istrinya. Bagaimana bisa wanita dengan sifat seperti itu dipuji setinggi langit dan dibandingkan dengan Dzakiyya. Jangan bercanda. Karena level Dzakiyya dan Nafisa itu berbeda.
"Akh!" teriak Abidzar.
Pria itu memukul kemudinya. Membanting stir dan berhenti di tepi jalan. Menikmati semilir angin pagi sembari menunggu matahari terbit. Yah, meskipun keindahan itu tidak bisa dia rasakan nanti tapi berhenti di tempat seperti itu tidak buruk juga.
"Sayang, kamu ada dimana? Aku sangat merindukanmu!" ucap Abidzar.
Abidzar keluar dari mobil dengan memegang sebatang rokok yang baru dia bakar. Menghisap rokok itu dan menghembuskan asapnya ke udara. Seutas senyum sempat terukir di bibirnya. Bukan karena bahagia, tapi karena mengingat momen dramatisnya bersama Dzakiyya.
Jika Dzakiyya ada dia pasti akan mengomel tanpa henti. Jika istrinya itu ada pasti isi rokoknya akan berbeda. Dan jika Abidzar bersikeras membakarnya, hukuman untuknya pastilah tidur diluar. Sayangnya Dzakiyya sedang tidak ada. Sehingga Abidzar bisa membakar paru-parunya sepuas hati.
Cukup lama Abidzar menghabiskan waktu di tempat itu. Tidak peduli dengan matahari yang mulai naik ataupun pengendara yang memperhatikan tingkahnya. Beberapa pejalan kaki bahkan sempat mampir dan memastikan bahwa Abidzar tidak sedang melakukan percobaan bunuh diri.
"Apa sih yang mereka pikirkan. Istriku sangat cantik. Dia juga sangat baik. Jadi kenapa aku harus bunuh diri?" batin Abidzar.
Pria itu akhirnya masuk ke mobil, dan apartemen adalah tujuannya. Sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya sementara ini.
Sesampainya di apartemen Abidzar membersikan diri. Lalu menyempatkan diri untuk mencari Dzakiyya meskipun belum menemukannya. Dan ketika matahari telah sampai di atas kepala barulah Abidzar memutuskan pergi ke kantor.
.
.
.
Sesampainya di kantor.
__ADS_1
"Darimana saja kamu, brengsek!"
Umpatan itu menyambut kedatangan Abidzar. Membuat Abidzar mengerutkan dahi dan menerka siapa pria kurang ajar yang berani duduk di kursinya.
"Kamu siapa?" tanya Abidzar.
Pria berambut gondrong itu memutar kursinya. Melihat Abidzar dengan senyum sinis dan dua tangan terlipat. "Sudah ingat aku sekarang?"
"Rafael?" kata Abidzar.
"Panggil aku Ral," protes pria yang ternyata adalah Ral. Teman baik Dzakiyya dan Abidzar yang hilang setelah mereka menikah.
"Kapan kamu pulang?" tanya Abidzar.
"Itu nggak penting," jawab Ral.
Ral langsung berdiri. Lalu menarik Abidzar dan mendorongnya ke kursi. Sementara Ral sendiri duduk di meja dan menarik dasi Abidzar. "Kenapa ondel-ondel itu bisa disana?" tanya Ral.
"Siapa maksudmu?" tanya Abidzar bingung.
"Menurutmu siapa lagi. Tentu saja ondel-ondel yang duduk di kursi Dzakiyya itu," jawab Ral emosi.
"Ral, itu nggak penting. Jadi jangan membahasnya. Ada hal yang lebih penting dari itu," kata Abidzar.
"Apa itu?" tanya Ral.
Jangankan memberi solusi, yang ada Ral malah memojokkannya. Tentu saja dengan melepaskan cengkeramannya pada Abidzar. "Itu pantas untukmu," kata Ral berkomentar.
"Ral, jangan bercanda. Aku sedang serius," kata Abidzar.
"Kamu pikir aku nggak serius. Tahu nggak, kalau aku jadi Dzakiyya aku pasti sudah menceraikanmu. Kamu ini benar-benar brengsek. Bisa-bisanya mendua dengan barang rongsokan seperti itu," umpat Ral.
Abidzar tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa. Apa yang dikatakan Ral memang benar. Tapi dia tidak punya pilihan waktu itu.
Untuk beberapa saat dua sahabat itu saling diam. Diam karena Ral sedang memikirkan cara untuk menyingkirkan Nafisa dan Abidzar yang berpikir kemana harus mencari Dzakiyya.
Tapi suasana hening itu tidak berlangsung lama karena dua orang tamu masuk. Mereka adalah Joshua dan Nafisa yang kebetulan ingin bertemu dengan Abidzar.
"Ada apa?" tanya Abidzar datar.
"Bisakah mereka pergi dulu?" tanya Nafisa.
"Katakan saja jika ada hal yang ingin dikatakan. Aku ada urusan dengannya," tolak Abidzar.
__ADS_1
"Mas Abid, aku ingin membahas masalah pribadi!" kukuh Nafisa.
Abidzar mulai meradang. Tapi Ral lebih meradang lagi. Pria itu bahkan tidak bisa menahan diri untuk menceramahi Nafisa. "Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan. Kami ada urusan. Kalau yang ingin kau katakan tidak penting maka pergi sana. Satu lagi, ini perusahaan. Jadi panggil dia Presdir!"
"Tapi aku ini,-"
Nafisa belum selesai bicara. Tapi Abidzar sudah mengabaikannya dan memilih berbicara dengan Joshua. Tentu saja hal itu membuat Nafisa marah dan pergi.
"Ada apa?" tanya Abidzar
"Presdir, Perusahaan XX ingin bertemu dengan Anda untuk mengajukan kerja sama," jawab Joshua sembari menyerahkan proposal.
"Atur jadwal untuk itu," kata Abidzar.
"Baik, Presdir!" kata Joshua.
Sementara itu, Ral melihat tanda pengenal yang melingkar di leher Joshua. Bagi Ral, Nafisa adalah orang asing. Tapi Joshua berbeda karena Dzakiyya pernah bercerita bahwa dia punya orang kepercayaan bernama Joshua.
"Oh, jadi dia yang namanya Joshua?" batin Ral.
Ral dan Joshua tak sengaja saling memandang. Ral tersenyum begitu pun dengan Joshua. Abidzar pun memperkenalkan mereka.
"Ral, dia Joshua. Dia orang yang rajin dan sangat berbakat. Kamu harus belajar darinya. Karena jika kamu malas begitu aku tidak akan segan memberikan surat pemberhentian kerja untukmu," kata Abidzar.
"Aku tahu. Aku akan banyak belajar darinya," jawab Ral.
"Jo, dia Ral. Dia hanya berandalan yang masuk ke perusahaan melalui jalur orang dalam. Jadi abaikan saja dia," kata Abidzar.
Ral dan Joshua saling menjabat tangan dan melempar senyum. Lalu menyudahi basa-basi mereka karena sama-sama memiliki kesibukan.
Di luar pintu Joshua tersenyum sinis. "Aku kira siapa. Rupanya hanya orang yang masuk lewat jalur dalam. Orang sepertimu itu sangat mudah disingkirkan," batin Joshua.
Sementara di dalam sana, Ral mengingatkan Abidzar untuk tidak membocorkan jabatan miliknya yang cukup mentereng.
"Ingat, COO disini adalah Rafael. Bukan Ral," kata Ral.
"Aku tahu," jawab Abidzar.
"Ngomong-ngomong, Joshua itu terlihat seperti pria brengsek!" kata Ral.
"Jangan bicara sembarangan. Kamulah yang brengsek," ralat Abidzar.
Ral tertawa lebar. Yah dia memang brengsek. Tapi sifat brengsek itulah yang membuatnya bisa mencium aroma brengsek milik orang lain.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Cepat atur posisi untukku. Ingat, jangan lebih tinggi dari Joshua itu," kata Ral sembari berlalu.
...***...