
"Oh, jadi anak itu benar-benar bukan anakku?" gumam Abidzar.
Sudah satu minggu sejak Abidzar menyerahkan sampel rambutnya. Hari ini hasil itu sudah keluar dan disana tertulis dengan jelas bahwa Abidzar bukanlah ayah biologis dari anak yang dilahirkan Nafisa.
"Seharusnya aku lebih peka sejak awal," sesal Abidzar.
Abidzar meremas kertas yang dia pegang. Marah karena waktunya terbuang percuma hanya untuk mengurus Nafisa dan bayi yang bukan darah dagingnya. Marah karena Nafisa berani menipunya. Tapi di sisi lain Abidzar bersyukur karena tidak memiliki anak dari Nafisa. Dengan begitu lebih mudah baginya untuk mengakhiri hubungan mereka.
Tanpa berpikir panjang, Abidzar meraih ponselnya untuk mengubungi pihak Bank. Tujuannya sudah pasti untuk mengamankan hartanya agar tidak digunakan Nafisa secara sembarangan.
"Halo, selamat siang! Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya petugas bank.
Petugas itu begitu sopan. Apalagi Abidzar masuk dalam kategori nasabah yang harus diprioritaskan.
"Selamat siang. Tolong bantu saya membekukan rekening atas nama Nafisa," jawab Abidzar.
"Maaf sebelumnya, apa ada masalah dengan pelayanan kami, Pak?" tanya petugas itu lagi.
Abidzar pun menjelaskan alasannya secara singkat. Setelah pihak Bank mengetahui alasannya, mereka pun langsung menyetujui permintaan Abidzar.
"Baik, kalau begitu kami akan segera memprosesnya. Kami akan menghubungi Bapak setelah semuanya diurus," kata petugas itu lagi.
"Baik, terimakasih!" kata Abidzar.
Abidzar pun menutup teleponnya, Lalu menyimpan kembali hasil test DNA itu. Satu fakta telah terungkap dan itu membuatnya semakin meragukan keberadaan orang-orang yang ada disekitarnya. Apa semua orang begitu, terlihat baik dan manis didepan hanya untuk menutupi perilaku aslinya di belakang. Dan yang paling membuat Abidzar penasaran sekarang adalah ibunya sendiri.
"Ma, Abid selalu menganggap mama seperti ibu kandung Abid. Tapi jika mama terbukti bersalah, sulit bagi Abid untuk memaafkan mama," batin Abidzar.
Abidzar mengacak-acak rambutnya. Memikirkan betapa rumitnya masalah yang dia hadapi sekarang. Sampai-sampai dia lupa bahwa siang nanti dia harus pergi menghadiri rapat penting di luar kota. Dan Abidzar baru mengingatnya ketika seorang sekretaris masuk ke ruangannya untuk memberikan laporan.
"Presdir, semua persiapan sudah beres. Rombongan akan berangkat dalam waktu satu jam. Jadi jam berapa Presdir akan memimpin briefing?" tanya seorang sekretaris.
"Tidak perlu briefing. Langsung pergi saja!" jawab Abidzar.
Jujur saja moodnya sedang buruk dan Abidzar tidak ingin pergi. Toh dia kan CEO-nya. Kalau sekali saja mangkir dan meminta seseorang mewakilinya rapat bukankah seharusnya tidak ada masalah.
__ADS_1
"Baik, Presdir!" jawab sekretaris itu.
Sekretaris itu pun undur diri. Tapi sebelum dia keluar Abidzar sudah memintanya untuk memberitahu Joshua agar dia mewakilinya.
"Tolong katakan pada Joshua untuk mewakili aku rapat kali ini!" pinta Abidzar.
Sebagai COO yang baru dan bakat yang dia miliki, sudah saatnya bagi Abidzar untuk memberikan panggung yang lebih besar dengan membiarkan Joshua mewakili rapat. Tapi Joshua sedang tidak ada di perusahaan sekarang.
"Presdir, Joshua masih sakit. Haruskah menghubunginya apakah dia bisa hadir?" tanya sektretaris itu.
"Oh, jadi dia belum masuk kerja?" tanya Abidzar.
"Belum," jawab sektretaris.
Sudah tiga hari sejak Joshua ijin sakit. Abidzar jadi penasaran sakit apa yang diderita Joshua sampai membuatnya tidak masuk kerja selama itu.
..."Hati-hati dengan Joshua. Dia bukan orang baik!"...
Pengingat yang dikatakan Ral akhirnya melintas di pikiran Abidzar. Abidzar mengetukkan jarinya ke meja. Menggunakan otaknya yang sudah kembali normal untuk berpikir. Jika Nafisa adalah wanita pilihan ibunya untuk dijadikan istri, maka Joshua adalah pria yang secara pribadi direkomendasikan oleh ibunya.
"Mungkinkah dia memiliki sifat yang sama dengan Nafisa?" batin Abidzar.
Kali ini, Abidzar yang pintar telah kembali. Karena Joshua sedang tidak ada, Abidzar ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali data Joshua.
"Presdir, bagaimana?" tanya sektretaris.
Terlalu fokus memikirkan Joshua rupanya membuat Abidzar lupa akan keberadaan sekretaris yang masih berdiri di depannya.
"Batalkan rapatnya. Katakan pada mereka hari ini bekerja seperti biasanya!" titah Abidzar.
Sebelumnya Abidzar tidak pernah membatalkan rapat secara mendadak seperti ini. Kalaupun dia tidak bisa menghadiri rapat, paling-paling dia hanya akan mengundur jadwalnya. Dan ini membuat sekretaris itu sedikit bingung. Tapi sebagai seorang bawahan sekretaris itu tidak berhak mengatakan apa-apa selain mengiyakannya.
"Baik, Presdir!" sahut wanita itu.
Sekretaris itupun keluar. Sementara Abidzar langsung bangkit untuk mencari satu map pemberian Ral untuk diperiksa ulang.
__ADS_1
Waktu itu Abidzar terlalu sibuk. Sibuk dengan pekerjaan hariannya. Lalu sibuk mengurus Nafisa serta ibunya yang penuh dengan drama sampai membuat berkas itu terlunta-lunta. Tapi sekarang Abidzar benar-benar serius. Dia bahkan juga memeriksa file berisikan kasus besar Dzakiyya waktu itu. Sepertinya kali ini Abidzar juga sudah kembali ke trek yang benar sama seperti Ral.
"Ral, hutangku padamu sepertinya tidak akan pernah bisa aku bayar!" gumam Abidzar setelah membaca semua isinya.
Kesimpulannya, memang ada kejanggalan soal kasus itu. Dan Joshua adalah salah satu orang yang pantas dicurigai mengingat dia adalah tangan kanannya Dzakiyya waktu itu. Tapi Abidzar butuh bukti yang lebih banyak lagi. Selain itu banyak lagi yang harus Abidzar periksa untuk memastikan Joshua benar-benar terlibat dalam kasus itu.
"Sial, sebenarnya ada apa denganku. Kenapa begitu bodoh dan ceroboh seperti ini!" umpat Abidzar.
Pria itu memukul mejanya sebagai ungkapan kekecewaan. Lalu bersandar di kursi untuk menenangkan dirinya. Tapi sepertinya Abidzar tidak ditakdirkan untuk istirahat hari ini. Karena saat ini ponselnya sudah berdering. Itu adalah panggilan dari kawan lama yang nyaris Abidzar lupakan.
"Halo!" jawab Abidzar.
Meskipun tidak tahu kenapa orang ini menghubunginya. Tapi Abidzar tetap menjawab teleponnya.
"Halo, Pak Abidzar! Maaf mengganggu waktu istirahat siang bapak. Kami dari pihak kepolisian. Apa Pak Abidzar bisa pergi ke kantor sekarang?" tanya seseorang yang tak lain adalah petugas kepolisian.
Abidzar langsung memperbaiki cara duduknya. Masalah Nafisa belum dia selesaikan, begitupun masalah Joshua. Apa sekarang sudah ada masalah lagi sampai polisi turun tangan. Tapi sebagai warga negara yang baik, Abidzar harus bekerjasama dan mematuhi perintah penegak hukum kan.
"Sekarang?" tanya Abidzar.
"Benar, Pak!" jawab polisi
Sial, suara polisi itu terdengar begitu serius. Membuat jantung Abidzar berdetak kencang saking nervousnya.
"Maaf, sebelumnya. Kalau boleh tahu ada masalah apa ya, Pak?" tanya Abidzar.
Abidzar begitu tegang. Berharap tidak ada masalah serius kali ini. Tapi lagi-lagi waktu sedang tidak berpihak pada Abidzar. Karena masalah yang ingin polisi bahas adalah masalah paling serius yang kasusnya hampir dia lupakan.
"Pak, kami berhasil mengungkap identitas wanita yang masuk ke kamar mertua Anda sebelum meninggal. Kami ingin mendiskusikan masalah itu dengan Anda," jawab polisi.
DEG
Sudah lebih dari satu tahun sejak kematian mertuanya. Selama itu pula tidak ada titik terang. Abidzar kira identitas wanita itu tidak akan terungkap selamanya. Tapi karena polisi sudah mengantongi identitas wanita itu. Abidzar pun memenuhi undangan dari polisi tanpa mengulur waktu.
"Baik, saya akan kesana sekarang juga!" kata Abidzar.
__ADS_1
...***...