Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
1001 Cara


__ADS_3

"Dza, Mas Abid pulang!" teriak Abidzar.


Abidzar menaruh tasnya di meja. Lalu mengeluarkan makanan kesukaan Dzakiyya yang sempat dia beli. Tapi karena yang dipanggil tidak kunjung datang, Abidzar pun mengecek ke kamar.


"Sayang?"


Sekali lagi Abidzar memanggil Dzakiyya. Tapi kamar itu kosong dengan lampu yang belum di nyalakan. Di kamar mandi juga tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ponsel milik Dzakiyya juga tergeletak di atas meja. Karena tidak berhasil menemukan Dzakiyya, Abidzar pun pergi ke kamar mamanya. Karena Diana dan Dzakiyya sama-sama di rumah. Seharusnya Diana tahu kemana Dzakiyya pergi.


"Ma, Dzakiyya mana?" tanya Abidzar.


Diana melihat Abidzar sekilas. Lalu berpaling sembari menarik selimutnya. "Dia pergi!" jawab Diana.


"Kemana?" tanya Abidzar.


Diana yang ingin tidur langsung bangkit. Ingin sekali langsung berteriak tapi di hadapan Abidzar Diana harus menjaga sikap. "Mama nggak tahu. Dia nggak pamit mau kemana," jawab Diana lembut.


"Masa ngga pamit?" tanya Abidzar.


Abidzar tahu betul perangai istrinya. Sedekat apapun tujuannya, dia pasti pamit. Sementara mendengar Abidzar yang selalu membela Dzakiyya membuat Diana semakin dongkol.


"Dzakiyya ngga bilang mau kemana. Mungkin ingin mengenang ibunya," jawab Diana.


Diana memegang tangan Abidzar. Tersenyum manis layaknya ibu yang baik dan memberikan wejangannya.


"Bid, mama tahu kamu sangat menyayangi Dzakiyya. Tapi istri kamu itu bukan cuma dia. Bisa nggak perhatian sama Nafisa juga. Kalau kamu terus begini kapan kamu mau punya anak. Lagipula Dzakiyya pasti kembali nanti. Dia cuma butuh waktu sendiri," ucap Diana.


Abidzar menghela nafas panjang. Dia sudah perhatian pada Nafisa meskipun levelnya berbeda dengan yang dia berikan pada Dzakiyya. Mau bagaimana lagi, Abidzar belum terbiasa. Selain itu dia juga tidak cinta. Tapi meskipun begitu Abidzar tidak membedakan sikap. Sebisa mungkin memperlakukan mereka dengan cara yang sama. Hanya saja untuk memiliki anak dengan Nafisa Abidzar sungguh belum siap.


Terlebih Dzakiyya baru kehilangan ibunya. Jadi Abidzar mengesampingkan dulu soal anak. Toh Diana semakin sehat belakangan ini. Tidak sakit-sakitan sampai enggan turun dari ranjang seperti dulu.


Karena tidak ingin berdebat dan membuat penyakit Diana kambuh lagi, Abidzar memutuskan keluar dari kamar Diana. "Ya sudah, Abidzar mau istirahat. Mama juga istirahat," pamit Abidzar.


Abidzar menuntun Diana naik ke ranjang. Lalu menemani ibunya sebentar sebelum keluar dari kamar itu. Di ambang pintu, Abidzar sempat melihat Diana sekali lagi. Diana memang sangat baik padanya. Tapi tidak terlalu baik pada Dzakiyya. Dengan kepribadian istrinya, Abidzar tahu alasan Dzakiyya pergi bukan ingin menyendiri atau mengenang ibunya. Tapi menuruti permintaan Diana seperti biasanya. Dan cara Diana meminta pergi pasti mengungkit masalah anak.

__ADS_1


"Maafkan Mas Abid, Dza. Kamu pasti menderita," gumam Abidzar.


Abidzar mengusap wajahnya dengan kasar. Memikirkan cara apa yang harus dia pakai agar tidak terjadi lagi hal seperti ini lagi di masa depan. Sayangnya ide itu tidak langsung muncul sehingga Abidzar memilih kembali ke kamar. Ingin mandi dan istirahat lalu mencari Dzakiyya keesokan harinya.


Tapi kamar mandi sedang dipakai Nafisa. Jelas terlihat dari suara gemericik air yang mengguyur lantai. Tanpa berpikir panjang Abidzar pergi ke kamar Dzakiyya dan mandi disana.


Selesai mandi Abidzar kembali ke kamar Nafisa. Baru juga masuk, Abidzar sudah dikejutkan dengan sosok Nafisa yang mulai melancarkan aksinya. Menyambut Abidzar dengan pakaian super tipis yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Wajah yang sengaja dibuat malu-malu itu mulai menggoda Abidzar. Melepas pakaian tipisnya dan melenggang manja untuk memancing Abidzar.


Tangan nakal Nafisa mulai bergerilya. Memberikan sentuhan yang dia kira akan mendapat sambutan hangat. Sayangnya tebakan Nafisa salah. Karena saat Nafisa mulai membuka kancing baju Abidzar, Abidzar menghentikannya.


Abidzar tersenyum tipis. Malam pertamanya dengan Dzakiyya dulu tidak seperti ini. Dzakiyya begitu gugup. Tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Bahkan sempat mendorong Abidzar karena takut. Tapi kenapa Nafisa berbeda. Kenapa dia begitu lincah dan profesional. Inikah sikap wanita yang katanya suci dan sempurna. Benarkah dia tidak pernah tidur dengan pria lain sebelumnya.


"Mas?" panggil Nafisa.


Nafisa menutup mata. Mengira Abidzar menyambut umpan yang dia berikan. Tapi Nafisa harus kecewa karena Abidzar hanya mengacak-acak rambut dan mencium keningnya. "Lain kali, ya?" kata Abidzar.


Abidzar mengambil baju transparan yang Nafisa lepaskan. Lalu menutup kembali tubuh Nafisa dengan kain lebar yang terlampir di kursi. Setelah itu Abidzar beranjak tidur tanpa mengatakan apa-apa. Sontak sikap Abidzar membuat Nafisa meradang.


"Lain kali lagi. Mas, aku mau sekarang!" kata Nafisa.


Abidzar enggan berdebat. Apalagi tentang hal semacam ini. Tapi ucapan Abidzar membuat Nafisa menunjukkan bagaimana sifat aslinya secara tidak sengaja. "Mas Abid lebih memilih tidur dengan Dzakiyya itu kan. Mas Abid, dia itu mandul. Sebanyak apapun kalian tidur bersama itu tidak akan membuatnya hamil, Mas!" teriaknya.


Mata Abidzar yang sempat menutup kembali terbuka. Ekspresi lembut yang selalu dia tunjukkan berubah sepenuhnya. Abidzar bangkit, mendekati Nafisa yang mulai cemas karena salah bicara. Harusnya dia tidak membangunkan macan yang sedang tidur.


"Jaga bicaramu, Nafisa! Apa kau tahu, tanpa ijin darinya tidak akan ada pernikahan diantara kita. Lain kali, jika aku masih mendengar kata-kata buruk seperti yang kau ucapkan barusan untuknya, aku tidak akan segan menceraikanmu saat itu juga," kata Abidzar.


"M-mas, aku tahu aku salah. A-aku tidak akan seperti itu lagi," kata Nafisa.


Nafisa mencoba membujuk Abidzar. Tapi Abidzar terlanjur marah. Tanpa mengatakan apapun lagi, Abidzar meninggalkan Nafisa dan memilih tidur di kamar Dzakiyya.


Sementara Nafisa, dia mengamuk sendirian. Tangannya menyapu meja rias hingga puluhan make up miliknya berserakan. Abidzar hanya tidak tahu. Kali ini Nafisa benar-benar tidak bisa menunggu lagi.


.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya.


Rencananya Abidzar akan mencari Dzakiyya. Tapi Nafisa sakit, begitupun dengan ibunya yang mengeluh tidak enak badan. Dengan berat hati Abidzar mengurungkan niatnya dan merawat dua wanita itu. Tapi karena hari sudah semakin siang dan Nafisa sudah baikan, muncul lagi keinginannya untuk mencari Dzakiyya.


"Mas, mau pergi?" tanya Nafisa.


Abidzar menoleh. Sepertinya pertengkaran kemarin sudah dia lupakan karena hari ini sudah bersikap manis seperti biasa. "Mas Abid ngga lama kok," jawab Abidzar.


Nafisa mengangguk. Senang Abidzar sudah kembali baik padanya. Tapi itu tidak membuat Nafisa aman. Karena perutnya yang menyimpan janin hasil hubungan gelap dengan pria lain akan semakin membesar. Jika Nafisa tidak segera tidur dengan Abidzar, bagaimana caranya membuat Abidzar jadi ayahnya.


"Mas Abid, anak ini harus jadi anakmu. Apapun caranya," batin Nafisa saat melihat punggung Abidzar keluar kamar.


Malam yang ditunggu Nafisa akhirnya datang juga. Dan Abidzar menepati janjinya pulang lebih awal. Wajahnya sedikit lesu tapi masih menunjukkan perhatiannya.


"Sudah baikan?" tanya Abidzar.


Abidzar memeriksa suhu Nafisa. Membantunya minum obat kemudian menarik selimut untuknya. "Sudah malam. Cepat istirahat," kata Abidzar.


"Ya," jawab Nafisa.


Nafisa menutup matanya. Sementara Abidzar pergi ke kamar mandi. Dan kesempatan itu digunakan Nafisa dengan baik. Sebuah obat dia masukkan ke dalam air putih Abidzar. Maklum, biasanya Abidzar akan minum air putih menjelang tidur.


Beberapa menit kemudian Abidzar keluar dari kamar mandi. Tanpa curiga menenggak habis air putihnya. Setelah itu mengambil ponsel dan melihat-lihat foto Dzakiyya. Istri yang belum berhasil dia temukan setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk mencarinya.


"Kenapa tiba-tiba mengantuk?" batin Abidzar.


Abidzar meletakkan ponsel yang dia genggam. Memijit kepalanya agar kantuknya hilang. Tapi matanya semakin berat. Dan yang ditunggu Nafisa akhirnya datang. Yaitu Abidzar yang mulai tertidur pulas di sampingnya.


"Jika kamu tidak menolakku, aku juga tidak perlu melakukan ini, Mas!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2