Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Cacat


__ADS_3

"Ah, sakit!" keluh Nafisa.


Sekeras apapun Nafisa berteriak, tidak ada satupun yang memperdulikannya. Diana yang muak memilih keluar ruangan dengan bantuan Talitha. Sementara Abidzar tidak ada di tempat karena sekarang ini sedang menemui dokter untuk mendiskusikan langkah apa yang harus mereka ambil. Karena setelah dilakukan pemeriksaan apa yang dialami Nafisa bukan tanda-tanda akan melahirkan.


Dzakiyya yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya mendekat. Menyentuh perut Nafisa dengan lembut dan memanjatkan doa terbaiknya. Dzakiyya juga mengeluarkan sapu tangannya, lalu mengusap peluh yang membanjir di dahi Nafisa dengan lembut.


"Sabar ya, Naf! Istighfar!" ucap Dzakiyya.


Hanya itu yang bisa Dzakiyya katakan. Niatnya ingin menghibur madunya yang sedang kesakitan. Tapi Dzakiyya malah mendapatkan umpatan kasar. Entah perutnya yang terlalu sakit atau hatinya yang terlalu cemburu karena Abidzar baru menemui Dzakiyya. Tapi yang pasti umpatan yang keluar dari mulut Nafisa membuat Dzakiyya enggan lagi peduli.


"Kamu itu mandul, Dzakiyya! Kamu ngerti apa? Kamu tuh nggak tahu gimana rasanya orang hamil. Jadi lebih baik kamu diam. Satu lagi, jangan memasang wajah memelas seperti itu. Aku tahu kamu pasti senang. Aku tahu kamu pasti nyumpahin aku agar mati sekalian kan!" teriak Nafisa.


Tidak hanya berteriak. Nafisa juga menghalau tangan Dzakiyya dengan kasar. Matanya melotot seperti orang kerasukan sementara nafasnya terengah-engah saking emosinya. Sementara Dzakiyya yang dimaki hanya menyunggingkan senyum tipis. Lalu mengibaskan bajunya yang sempat Nafisa sentuh. Tidak hanya itu, Dzakiyya bahkan membuang sapu tangan bekas keringat Nafisa ke tong sampah.


"Oke, mulai sekarang urus urusanmu sendiri. Aku tidak akan peduli lagi," kata Dzakiyya.


Dzakiyya akhirnya pergi dengan elegan. Meninggalkan ruangan perawatan itu bahkan tanpa menoleh ataupun meninggalkan penyesalan. Kasihani yang perlu di kasihani. Ulurkan tangan untuk mereka yang membutuhkan. Sementara untuk mereka yang tak tahu diri, jangan pedulikan mereka. Yah, itulah hidup yang ingin Dzakiyya jalani sekarang. Karena terus berkorban atau mengalah pada mereka yang tak tahu diri itu terasa sangat menyebalkan.


Di persimpangan lorong tidak jauh di depannya, Dzakiyya melihat Abidzar sedang berbincang dengan Talitha. Meskipun cukup jauh, tapi Dzakiyya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Bagaimana, Mas?" tanya Talitha.


"Dokter akan melakukan operasi sekarang juga," jawab Abidzar.


"Apa ada masalah dengan bayinya?" tanya Dzakiyya begitu bergabung.


Abidzar menggeleng karena dia sendiri juga tidak tahu pastinya. Tapi dokter meminta mereka bersiap dengan kemungkinan terburuk.


"Sepertinya begitu," jawab Abidzar dengan wajah kusut.


Setelah itu tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Untuk Abidzar dan Talitha, mereka saling diam sambil merapal doa agar tidak ada hal buruk yang menimpa keduanya. Dan untuk Dzakiyya, dia melihat sekitar. Mengira-ngira kemana perginya ibu mertua yang kejamnya seperti setan.


"Mama mana?" tanya Dzakiyya.


"Mama ke kamar mandi diantar maid," jawab Talitha.


"Oh," kata Dzakiyya.

__ADS_1


Sementara itu, Diana yang sedang di dalam kamar mandi bukannya tidak memiliki kesibukan. Dia sangat sibuk sekarang. Lebih tepatnya sibuk memeriksa laporan yang baru saja dikirim oleh Joshua ke ponselnya.


Mulai dari kegiatan harian Dzakiyya, kemana saja perginya dan siapa saja yang ditemuinya. Tentu saja ada catatan Dzakiyya yang menemui dokter kandungan beserta bukti kehamilannya.


"Oh, benar-benar hamil?" batin Diana.


Diana tersenyum sinis. Dia tahu pasti ada alasannya kenapa Abidzar sering muntah. Untungnya dia sudah melakukan antisipasi sebelumnya. Sengaja mencampurkan sesuatu ke susu Nafisa agar dia kesakitan sehingga Abidzar sibuk. Dengan begitu Dzakiyya tidak memiliki kesempatan untuk menceritakan seputar kehamilannya. Dan belum terlambat bagi Diana untuk mengacaukan semuanya.


"Yang terpenting adalah membawanya pulang kerumah. Dengan begitu aku bisa menyiksanya dan membuat anak itu tidak selamat," batin Diana.


Setelah dirasa cukup, Diana pun segera keluar dari kamar mandi. Lalu bergabung dengan yang lainnya karena operasi akan segera dimulai. Dan posisi yang dia pilih adalah yang paling dekat dengan Dzakiyya.


Dzakiyya enggan bicara. Tapi Diana secara sengaja memegang tangan Dzakiyya dan mengusapnya beberapa kali. Abidzar hanya melihat, sementara Talitha tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dan mereka senang melihat pemandangan itu.


"Sayang, anggota keluarga kita akan bertambah satu lagi. Jadi nanti kita pulang ke rumah sama-sama, ya?" pinta Diana.


Sebuah senyuman terukir. Tapi kali ini Dzakiyya tidak langsung mengiyakan. Melainkan memperhatikan ibu mertuanya untuk sesaat. Mata itu tidak sama dengan mata ibunya yang memancarkan ketulusan. Sentuhan tangannya juga tidak hangat dan memberikan rasa aman. Jadi tanpa ragu Dzakiyya memutuskan untuk menolaknya.


"Lain kali ya, Ma!" tolak Dzakiyya sopan.


"Kenapa harus lain kali?" tanya Diana.


"Dzakiyya masih ada beberapa urusan," jawab Dzakiyya.


"Baiklah, terserah kamu saja!" kata Diana sembari membelai rambut Dzakiyya.


Setelah itu, Diana memilih pergi ke sisi yang lain. Lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Joshua agar menyiapkan rencana berikutnya. Karena Dzakiyya enggan pulang bersamanya, maka sudah pasti Dzakiyya akan pulang sendirian. Dan itu adalah waktu yang tepat untuk mencelakainya.


.


.


.


Satu jam telah berlalu. Selama itu pula keluarga Abidzar masih menunggu. Tidak lama kemudian lampu tanda operasi dimatikan dan seorang dokter tampak keluar dari ruangan.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Abidzar.

__ADS_1


Semua orang berdiri kecuali Diana. Menantikan jawaban dari dokter dengan harap-harap cemas.


"Ibunya selamat. Tapi maaf ada masalah dengan bayinya," jawab Dokter.


"Masalah? Apa maksudnya, Dokter?" tanya Abidzar.


"Bayinya cacat," jawab dokter.


"C-cacat?" tanya mereka bersamaan.


"Bagaimana bisa lahir cacat. Selama ini hasil USG nya tidak mendeteksi adanya kecacatan," batin Abidzar.


Jelas terlihat raut kesedihan di wajah mereka termasuk Diana. Wanita itu bahkan memulai akting yang lebih menjiwai dengan berpura-pura menangis sambil memegangi tangan Abidzar.


"Bid, kenapa bisa begini?" tanya Diana.


Sementara Talitha tidak kalah terkejutnya. Yang dia lakukan hanyalah memeluk Dzakiyya tanpa kata-kata.


"Satu kakinya mengalami kelainan. Untungnya bukan cacat permanen. Tapi dibutuhkan pengobatan dan terapi khusus untuk bisa sembuh," lanjut Dokter.


"Maksud Dokter, masih ada harapan untuk sembuh?" tanya Abidzar.


Abidzar sedikit bersemangat. Dan Dokter itu menjawab dengan anggukan kepala yang membuat semua orang lega. Menurut dokter setidaknya anak itu harus memakai sepatu khusus dan melakukan berbagai macam terapi selama dua tahun.


"Tidak masalah, Dokter! Asal bisa kembali normal itu sangat bagus," kata Abidzar.


"Syukurlah!" kata yang lainnya.


"Kalau begitu silahkan masuk, Pak! Bayinya berjenis kelamin laki-laki," kata Dokter.


"Baik, Dok!" jawab Abidzar.


Wajah itu begitu sumringah. Terlepas dari kondisi bayi yang tidak sempurna, Abidzar tidak keberatan dengan itu. Dengan langkah pasti, Abidzar masuk ke dalam. Tidak sabar melihat wajah bayi yang dia kira adalah anak kandungnya.


Sementara Dzakiyya, dia juga tersenyum dari tempatnya berdiri. Menyentuh perutnya yang belum terlihat sembari membayangkan bahwa suatu hari nanti Abidzar akan menyambut anak mereka dengan wajah yang sama bahagianya seperti hari ini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2