
"Abidzar, aku memiliki seorang putri yang belum menikah. Jika kamu mau, aku akan sangat senang seandainya kamu jadi menantuku," tawar Pak Wijaya.
Ucapan dari pria berusia setengah abad yang begitu tiba-tiba itu membuat Abidzar tersenyum canggung. Setelah menandatangani kontrak kerja sama, seharusnya bukan hal ini yang mereka bicarakan bukan?
"Bagaimana? Kalau kamu tertarik, aku akan mengatur waktu untuk mengadakan makan malam bersama untuk memperkenalkan kalian. Putriku pasti tidak akan menolak," lanjut Pak Wijaya.
Dari sorot matanya, terlihat jelas bahwa pria tua itu begitu serius. Maklum saja, sudah enam tahun semenjak Farah dan Fauza lahir. Selama itu pula Abdizar berusaha keras membesarkan perusahaan sehingga menjadi salah satu perusahaan terbesar dalam negeri diusianya yang masih relatif muda. Dengan wajah yang tampan dan mapan, bahkan meskipun seorang duda sekalipun siapa yang tidak tertarik untuk menjadikannya sebagai menantu.
"Pak Wijaya, tolong jangan bercanda. Saya sudah memiliki seorang istri dan dua orang putri," tolak Abidzar.
Abdizar menolak perjodohan itu dengan sopan. Sementara Pak Wijaya tampak sedikit terkejut. Karena menurut kabar yang beredar selama ini, Abdizar sudah bercerai sejak enam tahun yang lalu. Bahkan yang menginginkannya jadi menantu bukan dirinya saja. Mungkinkah berita itu salah.
"Maaf, bukannya kalian sudah bercerai?" tanya Pak Wijaya.
Sekali lagi Abdizar menjawab dengan senyuman. Memang tidak ada perceraian diantara dirinya dan Dzakiyya. Tapi sebagai gantinya Abidzar harus rela tidak menemui Dzakiyya lagi. Bahkan untuk menemui anak-anaknya, Abidzar hanya memiliki satu kali kesempatan dalam setahun.
"Kalau begitu maaf atas tawaran yang barusan!" kata Pak Wijaya.
Pria paruh baya itu sedikit kecewa. Dan untuk menyembunyikan kekecewaannya dia pun mengalihkan pembicaraan dengan membahas kerjasama yang baru mereka sepakati. Setelah berbincang selama kurang lebih setengah jam mereka pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuannya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" pamit Abdizar.
Pria itu bangkit. Lalu menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Pak Wijaya.
"Silahkan, hati-hati di jalan!" kata Pak Wijaya.
Setelah berpamitan, Abidzar pun bergegas meninggalkan gedung. Sesekali melirik jam tangannya untuk melihat jam berapa sekarang. Berharap dia tidak terlambat untuk menemui Talitha yang sebenarnya baru dua hari tidak dia lihat.
"Abidzar akhirnya kamu keluar juga!" panggil seorang wanita begitu Abidzar sampai di parkiran.
Belum juga masuk mobil, tapi seorang wanita sudah memanggilnya. Abidzar pun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Abidzar begitu mengenali wanita yang tak lain adalah Prita.
Seorang rekan bisnis yang merupakan seorang janda karena ditinggal mati suaminya. Wanita itu tidak datang sendirian, tapi membawa anak laki-lakinya yang berumur sekitar empat tahun.
"Mobilku mogok. Bisa nggak aku dan anakku nebeng. Kita kan searah?" pinta Prita.
Abidzar tampak berpikir sejenak. Bukannya tidak ingin membantu, tapi Abidzar harus pintar-pintar memilah mana yang pantas dia bantu dan tidak. Lagipula begitu banyak taksi dan Prita tidak kekurangan uang. Daripada menunggunya sejak tadi kenapa kenapa tidak naik taksi saja.
"Maaf, aku harus menemui seseorang. Kamu naik taksi saja!" tolak Abidzar.
__ADS_1
"Bid, tidak masalah. Aku bisa ikut. Aku bisa beradaptasi dengan orang yang akan kamu temui nanti. Setelah itu kita baru pulang bersama!" kukuh Prita.
Prita pikir, dengan membawa anaknya Abdizar akan berbelas kasihan. Tapi perkiraannya salah karena Abidzar semakin risih dan memperjelas penolakannya.
"Kenapa aku harus membawamu denganku. Prita, aku sudah beristri dan memiliki anak. Lain kali, tolong jaga sikap dan kata-katamu agar orang lain tidak salah paham. Aku ini seorang suami. Jika ada orang yang harus kubawa, itu adalah istriku dan anakku. Bukan kamu dan anakmu," lanjut Abidzar
Prita tampak kecewa. Tapi Abidzar tidak peduli. Dia bahkan meninggalkan Prita dan anaknya begitu saja. Tujuannya kali ini tentu saja rumah adiknya, Talitha yang kini sudah resmi menjadi istri Rafael atau Ral. Mereka bahkan tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka.
"Mas Abid?" panggil Talitha.
Calon ibu begitu sumringah begitu melihat siapa yang datang. Dia bahkan langsung memeluk kakaknya sementara sang kakak mencium pucuk rambut dan mengelus perutnya.
"Ayo masuk. Mas Abid membawakan makanan kesukaan kamu!" kata Abidzar.
Kakak beradik itupun masuk ke rumah. Abidzar membantu Talitha duduk di posisi yang nyaman. Lalu mengeluarkan beberapa potong makanan kesukaan Talitha dan menyuapinya. Perlakuan manis itu tidak hanya sampai disitu saja. Sangat banyak yang Abidzar lakukan. Termasuk membuat jus sampai memijit kaki Talitha yang sedikit bengkak.
"Mas Abid, seandainya waktu bisa diputar, kamu pasti ingin mengulang masa-masa saat Mbak Dza hamil dan memanjakannya seperti ini kan?" tanya Talitha.
Abidzar tersenyum simpul. Jika bisa, tentu saja dia ingin mengulang semuanya dari awal dan melakukan yang terbaik. Tapi sayangnya waktu tidak bisa diputar kembali.
"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Semuanya sudah baik-baik saja sekarang!" hibur Abidzar.
"Sudah, jangan sedih lagi. Bisa-bisa pria brengsek itu menuduhku menyakitimu," hibur Abdizar.
Abdizar tampak menyeka air mata Talitha lalu memeluknya sekali lagi agar Talitha tenang. Dan pelukan mereka berakhir ketika Ral datang. Pria yang akan menyusul Abidzar menjadi seorang ayah itu tidak datang sendirian, melainkan membawa Farah dan Fauza bersamanya.
"Papi!"
"Papi!"
Begitu membuka pintu, dua wanita kecil yang tahu papinya ada di dalam itu pun berlarian ke pelukan Abidzar. Bergelayut manja di tangan ayah yang sudah hampir satu tahun tidak mereka lihat. Abidzar tampak kaget, tapi tidak dengan Ral karena dia memang sengaja mencuri Farah dan Fauza.
"Sayang, papi sangat merindukan kalian. Kalian kangen papi nggak?" tanya Abidzar.
Abidzar menyambut pelukan kedua bocah itu lalu mencium mereka satu persatu dan mendekapnya erat-erat. Farah dan Fauza tampak tersenyum manis, tentu saja mereka rindu tapi mereka tidak bisa membantah kata-kata mami. Untung saja Ral, pamannya datang. Sehingga mereka bisa bertemu dengan ayahnya.
"Papi, Fauza kangen papi!" kata Fauza.
"Farah juga kangen!" kata Farah.
Mereka tampak berlomba mencurahkan kerinduannya pada sang ayah. Membuat Abidzar semakin memeluk mereka untuk mengobati kerinduan mereka. Sementara itu, Ral duduk di samping Talitha. Tersenyum bersama melihat pertemuan antara ayah dan anak itu.
__ADS_1
"Apa Mbak Dza tahu kamu membawa mereka kemari?" tanya Talitha.
"Tidak," jawab Ral.
"Dia pasti marah nanti. Apalagi kalau dia tahu Farah dan Fauza bertemu Mas Abid sebelum waktunya," kata Talitha.
"Jangan khawatir, dia tidak akan marah asalkan tidak tahu kan?" tanya Ral.
Ral mengedipkan salah satu matanya. Sebagai tanda bahwa Talitha harus menutup mulutnya. Talitha pun mengangguk tanda mengerti. Setelah itu Ral tampak mencium kening Talitha dan memeluknya. Adegan mereka tidak luput dari penglihatan Farah dan Fauza yang langsung melayangkan protes untuk Abidzar
"Papi, kenapa papi tidak pernah mencium mami seperti itu?" tanya Farah.
"Papi juga tidak pernah pulang dan tidur bareng kita!" timpal Fauza.
Pertanyaan dua malaikat kecil itu membuat Abidzar tersenyum. Dia juga ingin melakukan semua itu sayangnya tidak bisa. Tapi untuk menghibur mereka, Abidzar sengaja berbohong.
"Papi mencium mami kok. Kalian saja yang tidak pernah melihatnya," bohong Abidzar.
"Sungguh?" tanya Farah dan Fauza.
Abidzar mengangguk. Mengira anak-anaknya akan diam setelah mendapatkan jawabannya. Tapi nyatanya mereka malah meminta sesuatu yang sepertinya mustahil untuk Abidzar berikan sebagai kado ulangtahun mereka yang keenam.
Dua wanita kecil itu saling melihat. Lalu tersenyum lebar kearah papinya dan mengatakan secara serentak. "Papi, Fa Fa mau adik bayi sebagai kado ulangtahun!"
Sekarang bukan hanya Abidzar yang terdiam. Tapi Talitha juga, apalagi Ral. Sungguh bukan Ral yang mengajari anak-anak itu meminta adik.
"Bid, bukan aku yang mengajari mereka seperti itu. Sumpah!" kata Ral.
Pria itu tampak cemas. Takut Abidzar menuduhnya yang bukan-bukan lagi. Tapi Abidzar sudah tidak begitu lagi. Abidzar tampak mencubit hidung Farah dan Fauza lalu mencoba memberikan penjelasan sebisanya.
"Sayang, minta hadiah yang lain saja, ya?" pinta Abdizar.
"Apa Fa Fa tidak boleh punya adik?" tanya Farah.
"Bukan seperti itu. Hanya saja tidak bisa," jawab Abidzar.
"Kenapa tidak bisa. Teman-teman Fa Fa semuanya punya adik!" protes Fauza.
Lagi-lagi Abidzar hanya tersenyum. Lalu mencium mereka sekali lagi. "Papi akan menceritakan semuanya saat kalian besar nanti. Jadi jangan bilang minta adik lagi apalagi di depan mami. Mami bisa marah oke?" kata Abidzar.
...***...
__ADS_1