Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Takut Gelap


__ADS_3

"Kamu salah jalan!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya tampak protes karena Abidzar belok ke kanan. Bukannya ke kiri karena itulah jalan pulang ke rumah Dzakiyya.


"Tidak!" kukuh Abidzar.


Pria itu tetap lanjut. Dia memang berencana mengantar Dzakiyya dan anak-anak pulang. Tapi bukan rumah Dzakiyya, melainkan ke rumah baru yang Abidzar tempati sendiri selama lima tahun terakhir.


"Kamu mau membawa kami kemana?" tanya Dzakiyya.


"Kamu akan tahu nanti," jawab Abidzar.


Jawaban itu membuat Dzakiyya semakin jengkel. Karena hari ini semuanya berjalan tidak sesuai dengan harapannya. Awalnya Dzakiyya hanya ingin mengantar Fa Fa tapi kenyataannya lebih dari itu.


Dzakiyya terpaksa melakukan banyak hal bersama Abdizar. Menemaninya makan dan bermain dengan anak-anak dan masih banyak hal lainnya. Dzakiyya bahkan sempat mengelilingi perusahaan sampai menjadi pusat perhatian. Dan Dzakiyya tidak bisa menolak karena Farah dan Fauza yang menginginkannya dengan dalih papi akan pergi.


"Mas?" panggil Dzakiyya. Tidak puas sebelum Abidzar memberitahu kemana tujuan mereka.


"Pulang ke rumah kita!" jawab Abidzar.


"Apa?" tanya Dzakiyya.


Apa maksudnya dengan rumah kita. Tapi Farah dan Fauza yang duduk di belakang lebih cepat memberikan reaksi.


"Papi, apa itu rumah baru kita?" tanya Farah.


"Papi, apa kita akan tinggal bersama mulai sekarang?" tanya Fauza.


"Kalau mami mau, mulai sekarang kita bisa tinggal bersama di rumah itu!" jawab Abidzar.


Dua bocah itu pun bersorak kegirangan. Sementara Abidzar hanya menanggapi dengan senyuman karena belum tentu Dzakiyya menyetujuinya. Dan disisi lain Dzakiyya mengalihkan pandangannya karena semakin kesal dengan Abidzar yang sengaja memanfaatkan Farah dan Fauza.


"Ayo turun, kita sudah sampai!" kata Abdizar begitu memasuki pelataran.


Ya, mereka sudah sampai di rumah baru itu. Sebuah rumah mewah di kawasan elite di tengah kota. Meskipun berada di tengah kota tapi memiliki halaman super luas. Luas bangunan dan halamannya bahkan jauh lebih besar dari rumah Abidzar yang sebelumnya dan rumah Dzakiyya jika digabungkan.


"Dza, apa kamu suka?" tanya Abidzar.


Pria itu begitu percaya diri. Abidzar sangat mengenal Dzakiyya, jadi bagaimana mungkin Abidzar tidak tahu apa yang Dzakiyya suka.


Dzakiyya enggan menjawab. Tapi Farah dan Fauza sudah mewakili ibunya dengan mengatakan bahwa mereka menyukainya. Dua anak kecil itu bahkan menarik papinya untuk masuk ke rumah.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya!" sambut sepasang maid.


Dua orang menyambut mereka di depan pintu dan itu membuat Dzakiyya sedikit kaget.

__ADS_1


"Tolong beritahu koki untuk menyiapkan makan malam untuk nyonya dan anak-anak!" kata Abidzar.


"Baik, Tuan!" jawab mereka.


Mereka pun undur diri. Disaat yang bersamaan, Farah dan Fauza yang awalnya memegangi tangan papi dan maminya pun berhamburan mengejar mereka.


"Farah! Fauza! Jangan lari, kalian bisa tersesat!" teriak Dzakiyya.


Sementara itu Farah dan Fauza tidak mendengar kata-kata ibunya. Siapa yang bilang mereka akan tersesat. Karena tanpa sepengetahuan mami, Om Ral sudah pernah membawanya kemari beberapa kali.


"Jangan khawatir, mereka tidak akan tersesat!" kata Abidzar.


"Kamu begitu percaya diri. Apa kamu tidak takut kalau,-"


"Dzakiyya, aku ini ayahnya. Sesekali aku memang khawatir. Tapi apa kamu pikir aku akan membiarkan anak-anak dalam bahaya? Lebih baik kamu duduk dan beristirahat. Aku akan menjaga mereka!" potong Abidzar.


Abdizar mempersilahkan Dzakiyya duduk. Tidak lupa membawakan beberapa camilan untuknya. Sementara itu, Farah dan Fauza tampak sedang berdiskusi.


"Fauza, ingat tidak. Kata Om Ral ramalan cuaca malam ini akan turun hujan. Mungkin lampunya akan mati," kata Farah.


"Aku ingat kok. Jadi kita harus menyembunyikan semua lilin dan lampu emergency agar mami takut kan?" tanya Fauza.


Dua bocah itu melakukan tos sambil tertawa. Memanfaatkan kelemahan mami untuk membuat papi seperti seorang pahlawan di mata mami. Tapi karena mereka terlalu kecil dan lelah, mereka pun bersikap manja kepada beberapa om pelayan dan bibi maid untuk membantunya.


"Paman, bisakah membantu Fa Fa menyembunyikan semua lilin dan lampu emergency?" tanya Fauza.


Farah dan Fauza tampak memohon dengan memegangi tangan sepasang pelayan itu. Dan itu membuat dua pelayan itu tersenyum canggung. Memangnya untuk apa barang-barang seperti itu disembunyikan. Tapi begitu melihat Abidzar mengangguk dari belakang sana, mereka pun tidak menolak.


"Oke, paman dan bibi akan membantu kalian. Tapi untuk apa?" tanya seorang pelayan.


"Rahasia!" jawab Farah dan Fauza bersamaan.


Dua bocah kecil itupun menarik tangan bibi pelayan. Sementara paman pelayan tadi menoleh ke arah tuannya.


"Pak, apa begini tidak masalah?"


"Tidak. Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka mau!" kata Abidzar.


Pria itu tampak mengawasi Farah dan Fauza dari kejauhan. Menertawakan tingkah lucu mereka untuk menjebak ibunya sendiri. Sayangnya hal itu tidak berguna. Karena tanpa lilin dan lampu emergency, rumah ini akan tetap terang meskipun mati lampu sekalipun.


.


.


.

__ADS_1


Tiga jam kemudian.


"Sayang, bereskan barang-barang kalian. Sudah waktunya pulang!" kata Dzakiyya.


Farah dan Fauza yang menggelar mainannya di lantai menoleh ke arah maminya. Lalu merangkak mendekati papinya yang sedang tengkurap di sampingnya.


"Papi, Fauza ngantuk!" kata Fauza.


Fauza memeluk punggung papinya. Farah tak ingin ketinggalan. Dia juga rebahan di sisi Abidzar dan mulai memejamkan matanya.


"Mami, Farah mau bobok sama papi!" kata Farah.


Abidzar yang nyaris tertidur akhirnya bangun. Melihat anak-anaknya sudah berebut posisi tidur dengan memeluknya. Lalu melirik Dzakiyya yang merasa di khianati anak-anaknya sendiri.


"Dia semakin cantik!" batin Abidzar.


Pria itu memperbaiki posisi tidurnya. Mencuri pandang pada kecantikan istri yang sudah lama tidak dia sentuh. Sungguh, awalnya Abidzar hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Dzakiyya. Tapi tiba-tiba antenanya mulai berdiri. Mengisyaratkan bahwa dia menginginkan sesuatu yang lebih liar hari ini.


"Sayang, ayo pindah. Tidur di kamar kalian ya?" kata Abidzar.


Dua anak itu menurut. Mengikuti perintah papinya dan berjalan ke arah kamar mereka.


"Apa kamu senang mereka tidak menuruti kata-kataku?" tanya Dzakiyya ketika anak-anak hilang dari pandangan matanya.


"Sayang, jangan terlalu keras. Mereka masih anak-anak!" kata Abidzar.


"Tapi kamu terlalu memanjakan mereka. Ini sudah waktunya mereka pulang. Besok mereka harus sekolah!" kata Dzakiyya.


"Memangnya kenapa kalau besok mereka sekolah. Apa mereka tidak bisa berangkat dari sini?" tanya Abidzar.


Dzakiyya ingin lanjut memarahi Abidzar. Tapi yang ditunggu Farah dan Fauza datang juga. Karena lampu di rumah itu benar-benar mati setelah hujan lebat yang mengguyur kota. Dzakiyya yang takut gelap menutup matanya sendiri dan itu membuat Abidzar tertawa karena salah satu tangan Dzakiyya nyatanya memegangi ujung baju milik Abidzar.


"Apa mami sudah memeluk papi sekarang?" tanya Farah.


Anak-anak yang sudah berdiri di balik tembok itu sepertinya turunan Abidzar sepenuhnya. Jangankan takut gelap, mereka bahkan mulai tertawa karena mengira maminya memeluk papi.


"Ayo kita intip!" kata Fauza.


Mereka baru akan mengintip, tapi tiba-tiba seisi rumah sudah kembali terang.


"Kenapa masih ada lampu?" tanya Farah.


"Bukankah kita sudah menyembunyikan semua lilin dan lampunya?" tanya Fauza.


Dua anak kecil itu mulai kesal. Sementara Abidzar langsung memegang tangan Dzakiyya untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu takut gelap. Makanya aku merancang sedemikian rupa agar rumah ini tidak akan gelap. Jadi buka matamu dan tenangkan dirimu. Aku akan menidurkan anak-anak, aku akan menemuimu setelah itu," bisik Abidzar.


...***...


__ADS_2