Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Overdosis


__ADS_3

Keesokan harinya Abidzar membawa Dzakiyya pulang ke rumah. Sebelumnya Abidzar merasa perjalanan jauh ini sangat melelahkan. Tapi kali ini berbeda dengan adanya Dzakiyya disisinya. Perjalanan yang memakan waktu hingga tiga jam terasa begitu singkat. Bahkan Abidzar sedikit menyesal karena sudah sampai di rumah.


"Ayo, masuk!" ajak Abidzar begitu turun dari mobil.


"Ayo," kata Dzakiyya.


Abidzar menggenggam tangan Dzakiyya. Menciumnya beberapa kali sebelum membawanya masuk. Tapi begitu membuka pintu mereka disambut pemandangan yang tak biasa.


"I-ini apa, Mas?" tanya Dzakiyya.


"Mas Abid juga nggak tahu," jawab Abidzar.


Semua orang sangat sibuk. Sofa, meja dan beberapa perabot kecil di pindahkan ke ruangan lain karena ruang tamu digelar karpet. Karpetnya bahkan sudah diduduki tamu-tamu yang sibuk berbincang-bincang.


"Eh, kalian sudah pulang?" sambut Diana.


Wanita berwajah sumringah itu mendekati Abidzar dan Dzakiyya. Dzakiyya sempat mundur, masih ingat bagaimana mertuanya menyeret dan menjambak rambutnya hari itu. Tapi Abidzar menahannya agar tidak pergi.


"Kenapa tegang begitu?" tanya Diana sambil melihat Abidzar dan Dzakiyya secara bergiliran.


Tapi yang ditanya malah mengajukan pertanyaan lainnya.


"Ma, ini ada acara apa?" tanya Abidzar.


"Oh, itu. Selamat ya, sayang. Akhirnya apa yang kamu nantikan datang juga," jawab Diana.


"Maksud nama?" tanya Abidzar tidak mengerti.


Sementara itu, Nafisa yang sejatinya sudah melihat kedatangan Abidzar sejak tadi langsung menghampirinya. Dengan sengaja berbicara dengan volume keras agar Dzakiyya mendengarnya. "Mas Abid, Nafisa hamil!"


"A-apa?" tanya Abidzar.


Nafisa menghambur ke pelukan Abidzar. Memaksa Abidzar melepas genggaman tangannya pada Dzakiyya untuk memeluknya. "Mas, di perut Nafisa ada calon anak kita," jelas Nafisa.


Nafisa mengambil tangan Abidzar. Meminta Abidzar memegang perutnya seolah menimang bayi yang sebenarnya bukan anak Abidzar.


"Selamat ya, Nak! Sebentar lagi kamu akan jadi ayah," kata Diana tak kalah senang.


Ya, Diana memang senang. Tapi bukan senang karena mau menerima cucu. Yang membuatnya senang adalah perubahan ekspresi Dzakiyya. Sebelumnya Dzakiyya begitu berbunga-bunga. Tapi setelah melihat madu yang dinikahi suaminya telah berbadan dua, Dzakiyya menjadi tak berwarna.

__ADS_1


"H-hamil?" batin Dzakiyya.


Diana tersenyum tipis. Menahan diri agar tawanya tidak meledak. "Bagaimana. Apa itu sakit. Itulah yang kurasakan saat ayahmu menolakku waktu itu," batin Diana.


Puluhan tahun yang lalu. Hal inilah yang dirasakan Diana. Hatinya hancur karena cintanya ditolak. Tapi lebih hancur lagi begitu tahu alasan pria itu menolaknya. Yaitu sudah menikahi ibu Dzakiyya dan tengah menantikan kelahiran Dzakiyya.


Diana mendekati Abidzar yang masih memeluk Nafisa. Tangan yang biasanya dia gunakan untuk memukul Dzakiyya kini menyentuh Nafisa dengan lembut. Mencubit pipinya, mengelus perutnya dan masih banyak hal manis yang tidak pernah Dzakiyya rasakan selama ini.


Dzakiyya hanya bisa melihat dengan tatapan iri. Entah kehamilan Nafisa atau sikap manis mertuanya. Dzakiyya ingin merasakan semua itu juga.


"Dza, kamu ngapain masih berdiri disitu. Cepat bantu-bantu di dapur. Acaranya akan segera dimulai," kata Diana.


Abidzar yang sempat terlena kembali melihat Dzakiyya. Hanya melihat tanpa mengatakan apa-apa karena dia sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Karena Abidzar tidak mengatakan satu patah kata pun, akhirnya Dzakiyya undur diri. Bukan ke dapur tapi ke kamar untuk meluapkan sakit hatinya. Sayangnya meski Dzakiyya sudah berjalan secepat mungkin, dia masih sempat mendengar bisikan-bisikan itu.


"Jadi istri keduanya yang hamil?" bisik seorang tamu.


"Istri pertamanya kan mandul. Makanya Abidzar menikah lagi," bisik yang lain.


"Kasihan, ya?" timpal yang lain.


"Mau bagaimana lagi, Jeng! Bagaimanapun juga Abidzar ingin punya anak. Karena istrinya tidak bisa memberikan keturunan, jadi pantas dong kalau Abidzar nikah lagi!"


"Ma, bisa nggak jangan ngomong seperti itu?" protes Abidzar setengah berbisik.


"Apa sih, Bid? Emang kenyataannya gitu kan?" sahut Diana.


"Tapi, Ma?"


Abidzar hampir menyusul Dzakiyya yang sudah masuk ke kamar. Tapi Diana menghalanginya. "Mau kemana kamu, Bid?"


"Abid mau lihat Dzakiyya," jawab Abidzar.


"Acaranya mau di mulai. Jadi jangan bikin malu!" kata Diana.


Abidzar melihat sekeliling. Memang tidak pantas jika dia tidak terlihat di acara syukuran istrinya. Tapi istrinya yang lain sedang sedih. Haruskah dia membagi tubuhnya agar dia bisa mengikuti acara syukuran dan menemani Dzakiyya secara bersamaan?


"Mas Abid, biar Talitha aja yang lihat Mbak Dza di kamar. Mas Abid ikut mama aja," kata Talitha.

__ADS_1


Talitha yang awalnya sibuk di dapur akhirnya muncul. Dadanya ikut sesak. Terlebih ketika tamu-tamu dan mamanya menyindir kakak iparnya.


Saat Talitha masuk, Dzakiyya sudah duduk meringkuk bersandarkan kaki ranjang. Memang tidak ada suara apapun, tapi Talitha tahu kakak iparnya sedang menangis. Talitha berinisiatif duduk di sampingnya. Lalu menyentuh tangan Dzakiyya untuk menghiburnya. Tapi reaksi Dzakiyya sungguh tidak terduga.


"Keluar!" kata Dzakiyya.


Tidak hanya mengusir Thalita. Dzakiyya juga menolak disentuh Talitha.


"Mbak, Ini Talitha!" ucap Talitha.


"Mbak tahu itu kamu," kata Dzakiyya.


"Tapi kenapa Mbak Dza meminta Talitha keluar?" tanya Talitha.


Dzakiyya mengangkat wajahnya. Matanya sangat merah lengkap dengan wajah yang basah. Tapi sorot mata itu bukan lagi kesedihan, melainkan kemarahan. Selama mengenal Dzakiyya, ini adalah pertama kalinya Talitha melihat Dzakiyya marah.


"Mbak?" panggil Talitha. Ragu dan takut itulah yang dirasakan Talitha. Ragu untuk pergi tapi takut Dzakiyya semakin marah jika dia tetap tinggal.


"Mbak Dza ingin sendiri. Jadi tolong keluar!" ucap Dzakiyya.


Setelah mengatakan itu, Dzakiyya kembali menyembunyikan wajahnya. Sementara itu Talitha mengambil ponsel Dzakiyya dan meletakkannya di tempat yang bisa dijangkau Dzakiyya.


"Telepon Talitha kalau Mbak Dza berubah pikiran."


Thalita akhirnya pergi. Tapi tidak sepenuhnya pergi karena dia masih berdiri di depan pintu. Beberapa detik kemudian Talitha mendengar pintu dikunci dibarengi tangisan Dzakiyya yang memilukan.


Talitha memegang pintu dengan mata berair. Sementara di balik pintu Dzakiyya menangis tersedu.


Dzakiyya tahu hal seperti ini pasti terjadi. Tapi Dzakiyya tidak menyangka akan secepat ini. Dan melihat cara Diana memperlakukan Nafisa, itu sangat membuatnya iri.


"Jika aku hamil, mama mungkin akan menyukaiku kan?" gumam Dzakiyya.


Dzakiyya menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir. Dalam kesedihannya Dzakiyya tak sengaja melihat meja rias. Dan diatas meja rias itu ada sebotol obat yang tidak Dzakiyya konsumsi lagi karena tertinggal saat Diana memintanya pergi.


"Aku lupa minum obatku. Kalau aku menambah jumlahnya, seharusnya aku bisa hamil kan?"


Dzakiyya segera bangkit. Mengambil obat yang dia konsumsi selama lima tahun terakhir. Biasanya Dzakiyya hanya meminumnya sebutir setiap hari. Tapi karena Dzakiyya sedang tidak baik-baik saja akhirnya dia kalap. Mengambil obat itu dalam jumlah besar dan menelannya sekaligus.


"Setelah ini aku bisa hamil, kan?"

__ADS_1


Dzakiyya tersenyum dan menangis. Tersenyum dengan nasibnya sendiri. Menangis pun karena menangisi nasibnya sendiri. Talitha yang masih berdiri di depan pintu semakin iba mendengarnya. Lalu berinisiatif memanggil Dzakiyya agar membuka pintu. Sayangnya Dzakiyya tidak bisa menjawab panggilan Talitha. Karena sekarang ini dia mulai merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


...***...


__ADS_2