Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Ternyata Kamu


__ADS_3

"Mas? Mas Abid?" panggil Talitha.


Gadis itu memanggil kakaknya berulang kali. Tapi Abidzar keburu menutup teleponnya dan itu membuat Talitha mulai cemas. Apa maksudnya barusan. Kenapa kakaknya mengatakan ibunya bukan orang baik. Dan kenapa dia harus pergi ke kantor polisi. Apa terjadi sesuatu?


"Ada apa sih?" gumam Talitha.


Meskipun tidak mengerti alasannya, tapi Talitha tetap menuruti perintah sang kakak. Sayangnya kantor polisi terdekat sudah dia lewati barusan, jadi Talitha harus putar balik.


"Pak kita ke kantor polisi sekarang!" kata Talitha pada sopirnya.


Sama seperti Talitha, sopir itu tampak bingung. Tapi dia menuruti perintah Talitha tanpa banyak protes.


"Baik, Non!" jawab sopir.


Mobil itu pun putar arah. Tapi dua menit kemudian, tepatnya saat mereka melintas di jalan yang cukup sepi tampak sebuah mobil berusaha mendahului mereka. Melihat gelagat aneh itu, sopir meminta Talitha mencari pegangan karena dia akan menambah kecepatan.


"Non, ada yang ngikutin di belakang. Pegangan ya, Non! Saya mau ngebut!" kata sopir.


Secara refleks Talitha mengikuti arahan sopirnya. Lalu memberanikan diri melihat kebelakang. Wajahnya memutih ketika melihat sebuah Jeep mencoba mendahuluinya. Untungnya sopirnya cukup tanggap, sehingga Talitha terbebas dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh ibu tirinya sendiri.


"Cepat, Pak!" kata Talitha.


"Iya, Non!" jawab sopir.


Jeep itu terus mengejar. Keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuh Talitha karena jarak yang semakin dekat. Sopir yang menyadari hal itu pun menambah kecepatan. Sayangnya seorang pria muncul dari gang sepi. Berlari sekuat tenaga untuk menghindari kejaran beberapa pria yang ada di belakangnya.


"Awas!" teriak Talitha.


Tapi terlambat. Karena meskipun sopir sudah berusaha mengerem, tapi dia tidak bisa menghindari tabrakan itu.


BRUAK


Benturan itu sangat keras. Membuat pria yang tak lain adalah Ral itu terpental dan berguling beberapa kali.


"P-pak! D-dia tidak mati, kan?" tanya Talitha.


Gadis itu begitu gugup. Ini adalah kali pertama dia menabrak orang. Sementara sopir hanya bisa mengelap keringatnya yang berukuran sebesar biji jagung. Apes sekali dia hari ini. Sudah dikejar-kejar penjahat, belum juga selamat. Tapi sudah nabrak orang. Mungkinkah setelah ini dia akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara?


"Bagaimana ini. Kalau kami turun, kami pasti tertangkap. Tapi kalau tidak turun bagaimana kalau orang itu mati?" gumam sopir.


Sopir itu berpikir keras. Pun dengan Talitha yang syok berat. Dua orang itu membeku di saat-saat genting. Sampai melihat pria yang baru saja dia tabrak bangkit dan menghampiri mobilnya.

__ADS_1


"Cepat buka pintunya!" teriak Ral.


Wajah itu begitu lusuh dan pakaiannya compang-camping lengkap dengan corak darah. Seandainya Talitha bukan penggemar berat Ral, dia pasti tidak bisa mengenalinya.


"Kak Ral? Ternyata itu kamu?"


Talitha tampak histeris. Tapi tidak lupa meminta sopirnya membuka pintu.


"Buka pintunya!" teriak Talitha.


Lagi-lagi sopir itu menurut. Bersyukur karena dia tidak menabrak orang sampai mati. Tapi juga takut karena di belakang sana orang-orang yang naik di mobil Jeep mulai turun.


"Ayo cepat!" kata sopir.


Yah, Ral memang segera naik. Tapi bukan naik ke sisi kiri seperti yang diharapkan sopir. Melainkan ke sisi kanan karena incarannya adalah posisi kemudi.


"Minggir sana!" perintah Ral.


Karena darurat, sopir itu pun minggir. Dia terlalu tua untuk kebut-kebutan. Jadi biarkan Ral saja yang melakukannya. Tanpa basa-basi, Ral langsung mengemudikan mobilnya. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghindari kejaran sekelompok pria yang tadi mengeroyoknya.


"Akhirnya mereka pergi!" gumam Ral.


Ral menghela nafas lega karena mengira dirinya sudah aman. Dia bahkan mengurangi kecepatan mobilnya dan itu membuatnya mendapatkan pukulan keras dari sopir yang duduk disampingnya.


Ral menoleh. Satu alis pria itu langsung terangkat begitu melihat wajah sang sopir.


"Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?" gumam Ral.


Pria itu rupanya belum menyadari siapa pemilik mobil yang dia bajak. Dia juga belum menyadari bahaya apa yang sedang mengincar mereka. Sekelompok pria yang menghajarnya memang sudah tidak terlihat. Tapi mobil Jeep yang mengejar Talitha masih mengikutinya.


"Apa kamu bodoh. Cepat tambah kecepatannya kalau tidak ingin kita mati!" kata Talitha.


"Oh, ternyata itu kamu?" tanya Ral.


Talitha dan sopir itu benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. Talitha bahkan malu sampai ubun-ubun. Bukankah dia sudah memanggilnya tadi. Tapi tidak ada gunanya marah sekarang karena yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan nyawa mereka.


"Cepat, mobil itu mengejar kita!" kata Talitha.


"Mereka siapa?" tanya Ral sembari melirik ke belakang.


"Kami tidak tahu. Dia sudah mengejar kami dari tadi. Mungkin Non Talitha yang mereka incar," jawab sopir.

__ADS_1


"Oh!" kata Ral.


Jawaban itu begitu singkat dan wajahnya begitu acuh. Tapi apa yang dia lakukan sangat berbanding terbalik dengan apa yang terlihat. Karena saat mereka melewati tebing, Ral mengurangi kecepatan mobilnya agar Jeep itu mendahului mereka.


Tapi sebelum penumpang Jeep itu turun, Ral kembali menambah kecepatannya dan menubruk mobil penjahat itu hingga jatuh ke jurang.


"Mau membunuh Talitha di depanku? Kalian benar-benar cari mati!" batin Ral.


Pria itu begitu tenang. Sedikitpun tidak merasa bersalah karena telah mendorong mobil itu ke jurang. Sementara itu Talitha hanya bisa menutup mulutnya dan sopir hanya bisa melongo sejadi-jadinya.


"K-kamu kamu membunuh orang!" kata Talitha.


Sangat wajar Talitha mengatakan itu. Karena mobil penjahat itu tidak hanya jatuh ke jurang. Tapi juga meledak dan terbakar sesampainya di dasar jurang.


"Hanya ada dua pilihan. Kalau bukan mereka yang mati, maka kita yang mati. Kalian mengerti maksudku, kan?" kata Ral.


Tatapan pria itu begitu dingin. Hanya dengan melihatnya saja Talitha sudah tidak berani berbicara. Sementara si sopir hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar tapi menarik nafas lega diwaktu yang bersamaan. Karena kali ini mereka benar-benar selamat.


"Tumben Abidzar meneleponku. Ada apa?" gumam Ral.


Pria itu akhirnya memiliki kesempatan untuk mengecek ponselnya dan melihat panggilan tak terjawab dari Abidzar. Ral pun menghubungi Abidzar kembali. Sayangnya tidak ada jawaban meskipun Ral menghubunginya beberapa kali.


"Mas Abid nggak akan mengangkat teleponnya!" kata Talitha.


Akhirnya gadis itu kembali bersuara dan jawaban Talitha membuat Ral menoleh.


"Kenapa tidak?" tanya Ral.


"Karena Mas Abid nggak mengangkat teleponku. Padahal sebelumnya dia memintaku pergi ke kantor polisi," jawab Talitha.


Oh tidak. Mata Talitha membesar begitu mengingat bahwa dia lupa pergi ke kantor polisi seperti pesan sang kakak. Tapi karena mobil yang mengejar mereka sudah jatuh ke jurang, Talitha pikir tidak masalah meskipun dia tidak pergi.


"Kenapa dia memintamu ke kantor polisi?" tanya Ral.


"Aku juga nggak tahu. Mas Abid hanya bilang kalau mama bukan orang baik dan menyuruhku pergi ke kantor polisi. Mas Abid juga bilang di kantor polisi aku akan aman," jawab Talitha.


Ral tampak berpikir. Abidzar meminta Talitha pergi ke kantor polisi agar dia aman. Selain itu Abidzar juga menghubunginya. Tapi dimana dia sekarang. Kalau tahu adiknya berada dalam bahaya, kenapa tidak menolongnya?


"Gawat, mungkinkah terjadi sesuatu pada Dzakiyya sehingga Abidzar lebih memprioritaskan Dzakiyya dan meminta adiknya pergi ke kantor polisi?" batin Ral.


Seperti biasa, otak Ral begitu encer. Detik itu juga Ral menuju rumah Dzakiyya dengan kecepatan super. Takut Dzakiyya dalam bahaya. Takut terjadi sesuatu pada dua bayi yang seharusnya lahir dua bulan dari sekarang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2